Wawancara merupakan salah satu cara untuk mendapatkan informasi mengenai suatu hal. Wawancara memiliki unsur-unsur yang harus terpenuhi. Jika salah satu unsur tersebut tidak ada, maka wawancara tersebut tidak dapat dilakukan. Wawanacara seringkali diberikan oleh guru untuk tugas siswa di rumah. Wawancara tidak dilakukan begitu saja, namun juga dengan tema-tema tertentu.

Seorang pewawancara dibebaskan untuk mewawancarai siapa pun yang dikehendaki dan yang dibutuhkan. Jika ingin mendapat informasi mengenai pengelolaan usaha rumah makan, maka seorang pewawanacara harus mencari sumber seseorang yang mengelola rumah makan, pertanyaan tersebut bisa meliputi kenapa memilih usaha ini, sejak kapan berdirinya, kiat sukses sehingga usaha rumah makan menjadi usaha yang menjanjikan dan menguntungkan.

Unsur Penting dalam Wawancara

Selain itu, perlu diketahui unsur-unsur yang ada ketika berwawancara. Adapun unsur-unsur tersebut sebagai berikut.

  1. Pewawancara atau orang yang mencari informasi yang berkedudukan sebagai penanya. Pewawancara bertugas mencari informasi yang dibutuhkan dari narasumber. Sehingga berapa banyaknya informasi yang didapat tergantung kepada pewawancara itu sendiri.
  2. Narasumber atau informan adalah orang yang diwawancarai. Dalam hal ini, narasumber atau informan berkedudukan sebagai pemberi informasi. Narasumber yang diwawancarai biasanya merupakan seseorang yang memiliki keterkaitan dengan perihal informasi yang diperlukan. Dalam hal ini, narasumber dapat berupa tokoh, ahli atau orang biasa.
  3. Tema atau hal yang diwawancarakan. Tema sangat berperan dalam kegiatan wawancara. Dalam hal ini tema menjadi pokok sekaligus pembatasan hal-hal yang dibicarakan.
  4. Waktu atau kesempatan dan tempat.

Sebelum bertemu dengan narasumber, pewawancara tidak begitu saja datang dengan tangan kosong. Sehingga ketika bertemu dengan narasumber, pewawancara tahu apa yang harus dia lakukan. Beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum berwawancara dengan narasumber adalah sebagai berikut.

  1. Penguasaan materi, berkenaan dengan tema dan poin-poin permasalahan penting yang akan ditanyakan.

Tidak boleh seseorang yang hendak mewawancarai namun sedikitpun tidak menguasai materi yang akan ditanyakan. Selain wawancara akan tidak kondusif dan terkesan tidak serius untuk mencari informasi. Selain itu informasi yang diperoleh nantinya pun tidak maksimal karena kurangnya dalam penguasaan materi.

  1. Mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan informasi yang diperlukan.

Agar tetap menguasai materi dan wawancara yang dilakukan tidak menyimpang dari informasi yang diperlukan, perlunya membuat daftar pertanyaan, yang berisi pertanyaan apa saja yang akan ditanyakan nantinya. Pertanyaan hendaknya dibuat yang sesingkat mungkin namun berisi. Bisa diartikan, dalam membuat pertanyaan jangan bertele-tele dan langsung kepada pokok permasalahannya saja.

Pergunakan pertanyaan yang singkat. Karena pertanyaan yang panjang akan membuat narasumber sulit memahami maksud dari pertanyaan tersebut dan akan menjawab seperlunya saja. Bila petanyaan yang diajukan tersebut singkat dan mudah dimengerti, maka narasumber pun akan memberikan jawaban yang diketahuinya. Daftar pertanyaan boleh dihafal, namun boleh juga dibaca. Pertanyaan yang ada dalam daftar pertanyaan tersebut bukan pertanyaan yang mutlak dan tidak bisa diubah. Pewawancara dapat dengan inisiaif sendiri, mengembangkan daftar pertanyaan, asal tidak melenceng dari tema awal.

  1. Mempersiapkan diri secara mental untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, misal grogi atau nervous.

Hal ini juga harus dipersiapkan secara matang. Pewawancara yang mampu menguasai materi namun tidak mempersiapkan diri secara mental, akan mengalami kendala ketika hendak berwawancara.

  1. Mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk berwawancara, misal: alat rekam atau tulis.

Alat rekam dan alat tulis adalah dua alat yang tidak bisa diabaikan ketika hendak berwawancara. Karena seorang pewawancara tidak bisa hanya mengandalkan ingatannya saja untuk menyerap semua informasi yang telah dikatakan oleh narasumber. Bila terlalu mengandalkan ingatan, akan banyak informasi yang akan tidak dapat diingat dan harus mewawancarai ulang narasumber. Hal tersebut tentu saja akan membuang-buang waktu. Untuk mengatasi itu semua, maka boleh digunakan alat perekam. Alat perekam yang digunakan bisa bermacam-macam tergantung alat apa yang dipunyainya. Bisa menggunakan telepon genggam, walkman, Mp4, dan alat rekam yang lain. 

Etika Melakukan Wawancara

Saat melakukan wawancara kita harus memperhatikan etika berwawancara. Etika berwawancara di antaranya sebagai berikut.

  1. Mengucapkan salam, memperkenalkan diri, dan berterimakasih atas kesempatan yang diberikan.
  2. Menggunakan bahasa yang santun.
  3. Menyampaikan pertanyaan secara sistematis dan urut.
  4. Fokus pada materi wawancara.
  5. Tidak menyudutkan narasumber dan tidak membuat tersinggung.
  6. Tidak memancing pertanyaan yang menjurus pada fitnah atau mengadu domba.
  7. Bersikap objektif dan simpatik.

Dengan berbekal hal semacam ini, kalian akan lebih mudah untuk menanyakan kepada masing-masing pihak (narasumber). Kebanyakan dari kalian kebingungan harus menanyakan apa kepada narasumber yang berbeda. Hal ini akan dapat teratasi jika kalian telah mempersiapkan tema dan poin-poin permasalahan penting yang akan ditanyakan kepada masing-masing narasumber.

Contoh Skrip Wawancara

Berikut contoh wawancara Majalah Ekspresi tahun 2008 dengan Budayawan Air, Romo V. Kirjito tentang hidrogen generator untuk menghemat BBM.

Kapan awal Romo Kirjito menemukan Hidrogen Generator?

Awalnya pada tahun 2003. Sebenarnya ini bukan penemuan karena pengetahuan air dengan 2H+1O adalah pelajaran SMA. Saya hanya mencari dan kebetulan pethuk (bertemu). Kalau di rumah sakit, sudah menggunakan oksigennya, sekarang hidrogennya yang dimanfaatkan. Mungkin kita tahu NASA sudah menggunakan hidrogen akan tetapi pak Joko membuat rangkaian yang sederhana.

Sebenarnya Hidrogen Generator ini menggantikan BBM atau meminimalisir penggunaan BBM?

Ini masih suplemen, jadi bahan bakar utama masih tetap. Hanya pada tingkat kerja atau pembakaran ditambah dengan hidrogen sehingga pembakarannya hampir sempurna. Kalau bahan bakar itu mudah terbakar, maka akan menjadi tenaga, dan tenaga yang tersisa jadi rendah sekali. Nah, kalau tenaganya bertambah, mesin pun jadi bagus dan dengan sendirinya akan menghemat bahan bakar. Putaran mesin akan jadi lancar karena tidak ada kerak-kerak. Dari air, akan kembali ke air lagi dan yang mendaur ulang itu alam.

Hasil Hidrogen Generator berarti sangat ekonomis, peralatan apa saja yang dibutuhkan?

Murah sekali. Tempat hanya dari plastik atau bambu kecuali logam. Airnya hanya perlu sedikit, yaitu seperempat liter. Kita juga membutuhkan selang plastik. Secara keseluruhan untuk motor habis Rp50.000,- dan untuk mobil Rp100.000,-. Tapi kalau sudah disempurnakan, harganya berbeda.

Lalu, sistem kerja Hidrogen seperti apa?

Kekuatan arus listrik dua ampere diambil dari Accu (aki), lantas dialirkan lewat elektrode ke dalam botol air, sehingga memecah elemen H2O menjadi 2H dan 1O. Gas itulah yang kemudian disalurkan melalui selang kecil ke in take filter (mesin kendaraan), sedangkan untuk menampung airnya cukup menggunakan botol bekas air mineral, termos anak, toples, kecuali bahan yang terbuat dari logam.

Apa alasan Romo memilih air sebagai media penelitian?

Mulanya mengamati masyarakat lereng merapi yang sangat menghargai air dan kemudian mendirikan GMCA (Gerakan Masyarakat Cinta Air). Akhirnya muncul kesadaran bahwa tanpa air tidak ada kehidupan karena semua berawal dari air. Semua agama menilai air itu suci.

Jenis air apa saja yang bisa digunakan?

Pada prinsipnya semua jenis air bisa, tapi jika air terlalu banyak mengandung mineral, maka harus sering menggantinya karena lebih cepat terjadi endapan. Kita sarankan untuk memakai aquades atau air murni yang biasa disebut air suling.

Bekerjasama dengan siapa saja Romo Kirjito melakukan penelitian ini?

Hanya dengan Joko Sutrisno, peneliti dari Yogyakarta. Saya hanya menuangkan ide mengenai air saja dan yang melakukan penelitian adalah pak Joko. Ia yang menciptakan rangkaian sederhana agar bisa dimengerti dan ditiru. Sekarang, di Desa Sumber ada tutornya, yaitu Harko dan Sugi. Kemudian mereka membagikan ilmunya dengan yang lain.

Lalu bagaimana dengan hak paten penelitian Romo?

Kami tidak menemukan hasil penelitian ini, hanya mengembangkan ilmu elektrolisa saja. Penelitian ini untuk rakyat, tidak usah dipatenkan. Ini sudah kesepakatan dengan pak Joko Sutrisno.

Tanggapan masyarakat sekitar mengenai Hidrogen Generator sendiri seperti apa, Romo?

Di masyarakat sudah terbentuk pemahaman bahwa air itu tidak mungkin jadi bahan bakar. Kalau mesin kena air pasti rusak dan itu memang betul. Ketika mengetahui air bisa jadi bahan bakar, tentu saja mereka tidak mudah percaya. Tapi setelah melihat prospeknya, kemudian mereka mencoba, akhirnya mereka percaya, dan sampai sekarang sudah banyak yang memakai. Ini justru kesempatan untuk mendidik masyarakat. Mereka bisa membuat sendiri dan memodifikasi sesuai dengan yang diinginkan.

Selain air, apalagi yang ingin dikembangkan oleh Romo kedepannya?

Masih tetap ke air, tapi dalam bidang kebudayaan. Artinya, bagaimana masyarakat itu tidak punya pikiran negatif. Mengajak masyarakat terutama generasi muda, membangun sikap positif terhadap air karena sebenarnya air itu ujung-ujungnya menyelamatkan.

Lantas apa pendapat Romo mengenai Global Warming dan makin maraknya penemuan energi alternatif akhir-akhir ini?

Ini adalah akibat dari perbuatan manusia, dan saya kira itu wajar. Bayangkan, setiap hari kita menggunakan bahan bakar fosil. Wajar kalau bumi mulai panas. Di desa Sumber sekarang pun terasa panas. Jadi, bukan hanya di kota saja. Bahan bakar semakin mahal dan kita harus mencari alternatif. Tentu saja ada yang berhasil dan ada yang gagal.