Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa bahasan pokok dari studi sosiolinguistik adalah variasi atau ragam bahasa yang ada dan digunakan di dalam masyarakat atau lingkungan sosial. Hal ini sejalan dengan pendapat Kridalaksana yang mendefinisikan sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang berusaha menjelaskan ciri-ciri variasi bahasa tersebut dengan ciri-ciri sosial kemasyarakatan. Kemudian mengutip dari Fishman (1971:4), Kridalaksana mengatakan bahwa sosiolinguistik adalah ilmu yang mempelajari ciri dan fungsi pelbagai variasi bahasa, serta hubungan di antara bahasa dengan ciri dan fungsi itu dalam suatu masyarakat bahasa.

Variasi Bahasa

Parole yang digunakan dalam masyarakat tidaklah seragam karena langue yang memiliki sistem dan subsistem tersebut hadir di antara kumpulan manusia yang homogen. Hal inilah yang menyebabkan bahasa memiliki variasi. Selain itu bahasa menjadi bervariasi karena kegiatan interaksi sosial yang dilakukan pun beragam.

Dalam hal ini, variasi atau ragam bahasa ada dua pandangan. Pertama, variasi bahasa atau ragam bahasa itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi, variasi atau ragam bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial keragaman fungsi bahasa. Kedua, variasi bahasa atau ragam bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. Berikut akan dijelaskan variasi bahasa tersebut;

A. Variasi dari Segi Penutur

Dari sisi variasi bahasa pertama, yang kita lihat berdasarkan penuturnya adalah idiolek. Idiolek, yakni variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Variasi idiolek ini berkenaan dengan ‘warna’ suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dan lain sebagainya. Namun dari semuanya, yang paling dominan adalah ‘warna’ suara. Sehingga jika kita cukup akrab dengan seseorang, hanya dengan mendengar suaranya, kita akan mengenali ‘warna’ suara itu milik siapa. Dua orang kembar sekalipun, memiliki idiolek yang berbeda. Ini artinya, jika ada 10 orang, akan ada 10 idiolek juga.

Variasi kedua berdasarkan penuturnya adalah yang biasa disebut dengan dialek. Dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada satu tempat, wilayah, atau area tertentu. Ada pula yang menyebut dialek ini sebagai dialek areal, dialek regional, atau dialek geografi.

Para penutur dalam satu dialek tetap memiliki idiolek masing-masing individu. Misalnya bahasa Jawa dialek Banyuwangi akan berbeda dengan bahasa Jawa dialek Jember atau juga bahasa Jawa dialek Lumajang. Namun antara dialek Banyuwangi, Jember, dan Lumajang, masih dapat berkomunikasi dengan baik dan saling mengerti karena mereka masih dalam satu bahasa yang sama, yaitu bahasa Jawa.

Tak menutup kemungkinan walaupun berada dalam satu jenis bahasa, mereka memiliki peluang ketidakmengertian yang lebih besar sehingga sulit terjadi komunikasi yang baik. Sebut saja bahasa Jawa dialek Banten dan bahasa Jawa dialek Cirebon. Kedua bahasa ini telah berdiri sendiri-sendiri. Kedua pihak bahasa tidak saling mengerti itu menyebabkan kedua bahasa ini sebenarnya bukan dari bahasa yang sama. Tetapi secara historis keduanya berasal dari bahasa Jawa, maka keduanya juga dapat dianggap dialek-dialek dari bahasa Jawa.

Secara linguistik jika masyarakat tutur masih saling mengerti, alat komunikasinya adalah dua dialek yang berasal dari satu bahasa. Namun, secara politis, walaupun dua masyarakat berasal dari satu bahasa, jika mereka saling mengerti karena persamaan sistem dan subsistem, bahasa itu tetap dianggap menjadi dua bahasa. Dalam kasus ini adalah bahasa Malaysia dan bahasa Indonesia.

Variasi bahasa yang ketiga berdasarkan penutur adalah kronolek atau dialek temporal, yaitu variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok sosial pada masa tertentu. Jadi, variasi bahasa ini hanya berlaku pada jangka waktu yang tidak lama. Misalnya variasi yang digunakan pada masa tahun tiga puluhan, lima puluhan, dan variasi yang digunakan pada saat ini. Ketiga variasi bahasa ini berbeda, baik dari segi lafal, ejaan, morfolgi, maupun sintaksis.

Variasi bahasa yang keempat berdasarkan penutur adalah sosiolek atau dialek sosial, yakni bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya. Variasi ini menyangkut banyak hal, misalnya usia, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi, dan lain sebagainya. Perbedaan variasi bahasa dalam konteks ini bukanlah yang berkenaan dengan isi pembicaraan, melainkan perbedaan dalam bidang morfologi, sintaksis, dan kosakata.

Sehubungan dengan adanya variasi bahasa yang berdasarkan tingkat, golongan status, dan kelas sosial para penuturnya, lahirlah istilah-istilah kebahasaan, orang menyebutnya akrolek, basilek, vulgar, slang, kolokial, jargon, argot, dan ken. Bahkan ada pula yang menambahkannya dengan sebutan prokem.

Akrolek adalah variasi sosial yang dianggap lebih tinggi atau lebih bergengsi daripada variasi bahasa sosial lainnya. Sebagai contoh akrolek ini, sebut saja bahasa bagongan, yakni bahasa Jawa yang khusus yang digunakanoleh bangsawan kraton Jawa. Dewasa ini, disadari ataupun tidak, dialek Jakarta cenderung menjadi bergengsi, hal ini disebabkan rasa bangga para remaja yang pernah ke Jakarta dan mampu berbicara dalam dialek Jakarta itu.

Basilek adalah variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi atau bahkan dianggap rendah. Bahasa Jawa ‘krama ndesa’ dapat dikatakan basilek.

Vulgar adalah variasi bahasa sosial yang ciri-cirinya tampak pada pemakaian bahasa oleh mereka yang kurang terpelajar, atau dari kalangan mereka yang tidak berpendidikan. Contoh kasus ini ada pada saat zaman Romawi sampai zaman pertengahan, bahasa-bahasa di Eropa dianggap sebagai bahasa vulgar sebab saat itu para golongan intelek menggunakan bahasa Latin dalam kegiatan mereka.

Slang adalah variasi bahasa sosial yang bersifat khusus dan rahasia. Artinya, variasi jenis ini digunakan oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas dan tidak boleh diketahui oleh kalangan di luar kelompok tersebut. Oleh karena itulah, kosakata yang digunakan selalu berubah-ubah. Slang bersifat temporal, lebih umum digunakan oleh kaum muda. Karahasiaan yang disandang oleh slang menyebabkan adanya perubahan-perubahan dalam kosakatanya. Hal ini yang disebut bahasa prokem.

Kolokial adalah variasi sosial yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kata kolokial berasal dari kata colloquium, yang artinya percakapan, konversasi. Jadi, kolokial berarti bahasa percakapan, bukan bahasa tulis. Contoh kasus terdapat pembicaraan yang dijadikan kolokial, misalnya ndak ada (tidak ada), ndak mau (tidak mau), prof (profesor), dan lain sebagainya. Dalam pembicaraan atau tulisan formal ungkapan-ungkapan seperti contoh kasus tersebut harus dihindarkan.

Jargon adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompok-kelompok sosial tertentu. Ungkapan yang digunakan seringkali tidak dapat dipahami oleh masyarakat umum atau masyarakat yang berada di luar wilayahnya. Namun berbeda dengan slang, jargon tidak bersifat rahasia. Contoh masyarakat yang menggunakan jargon dapat dilihat dari adanya kelompok pecinta alam, kelompok panjat tebing, kelompok tukang batu, kelompok montir, dan lain sebagainya.

Argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas pada profesi-profesi tertentu. Jika jargon yang juga berdasarkan kelompok namun bersifat umum, argot bersifat rahasia walaupun melekat pada profesi tertentu. Letak kekhususan argot ada pada kosakata. Contoh kasus ini misalnya kelompok penjahat, menggunakan kosakata ‘barang’ untuk menunjukkan ‘target’, ‘kacamata’ untuk menunjukkan ‘polisi’, dan lain-lain.

Ken adalah variasi sosial tertentu yang bernada ‘memelas’, dibuat merengek-rengek, penuh dengan kepura-puraan. Biasanya digunakan oleh para pengemis, seperti tercermin dalam ungkapan bahasa pengemis.

B. Variasi dari Segi Pemakaian

Variasi dari segi ini biasa disebut fungsiolek, ragam, atau register. Variasi ini biasanya dibahas berdasarkan bidang penggunaan, gaya, atau tingkat keformalan, dan sarana penggunaan. Variasi bahasa berdasarkan bidang pemakaian ini menyangkut untuk keperluan dan bidang apa bahasa itu digunakan. Misalnya, bidang jurnalistik, pertanian, pendidikan, dan lain sebagainya. Variasi bahasa berdasarkan bidang kegiatan ini ciri-cirinya tampak pada bidang kosakata, tampak pula dalam tataran morfologi dan sintaksis.

Ragam bahasa jurnalistik juga mempunyai ciri tertentu, yakni bersifat sederhana, komunikatif, dan ringkas. Dalam bahasa Indonesia, bahasa jurnalistik ini sering menanggalkan awalan me- atau ber-, yang dalam ragam bahasa baku harus digunakan. Contoh kasus pada kalimat, ‘Gubernur tinjau daerah banjir’, dalam bahasa baku, seharusnya berbunyi, ‘Gubernur meninjau daerah banjir’. Bahasa jurnalistik harus sederhana agar mudah dipahami oleh masyarakat, komunikatif karena jurnalistik harus meyampaikan berita secara tepat, dan ringkas karena keterbatasan ruang dan waktu. Variasi bahasa berdasarkan fungsi ini lazim disebut register.

C. Variasi dari Segi Keformalan

Berdasarkan tingkat keformalannya, Martin Joos (1967) dalam bukunya The Five Clock membagi variasi bahasa atas lima macam gaya, yaitu gaya atau ragam beku (frozen), gaya atau ragam resmi (formal), gaya atau ragam usaha (konsultatif), gaya atau ragam santai (casual), dan gaya atau ragam akrab (intimate).

Ragam beku (frozen) adalah variasi bahasa yang paling formal yang digunakan dalam situasi-situasi khidmat, misal dalam acara khotbah, tata cara pengambilan sumpah, surat-surat keputusan, dan lain sebagainya. Dikatakan ragam beku karena pola dan kaidahnya sudah ditetapkan secara tepat dan tidak boleh diubah. Dalam bentuk tertulis, ragam ini dapat ditemui dalam akte notaris, naskah-naskah atau dokumen-dokumen bersejarah, dan lain-lain.

Ragam resmi adalah variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, dan lainnya. Ragam resmi ini pada dasarnya sama dengan ragam bahasa baku atau standar yang hanya digunakan dalam situasi resmi dan tidak dalam situasi tidak resmi.

Ragam usaha adalah variasi bahasa yang biasa digunakan dalam pembicaraan biasa di sekolah, rapat-rapat, atau pembicaraan yang berorientasi kepada hasil atau produksi. Jadi, dapat dikatakan ragam usaha ini adalah ragam bahasa yang paling operasional. Wujud ragam berada di antara ragam formal dan ragam informal atau ragam santai.

Ragam santai adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib pada waktu beristirahat, berolahraga, rekreasi, dan sebagainya. Kosakata yang digunakan banyak dipenuhi oleh unsur leksikal dialek dan unsur bahasa daerah. Demikian juga dengan struktur morfologi dan sintaksis yang normatif tidak digunakan.

Ragam akrab adalah variasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubungannya sudah akrab, seperti anggota keluarga atau teman yang sudah sangat akrab. 

Dalam kehidupan bahasa kita sehari-hari, kelima ragam yang telah dijelaskan secara bergantian pasti akan digunakan. 

D. Variasi dari Segi Sarana

Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan. Dalam hal ini dapat disebut adanya ragam tulis dan ragam lisan. Adanya ragam bahasa lisan dan tulis didasarkan pada kenyataan bahwa bahasa lisan dan bahasa tulis memiliki wujud struktur yang tidak sama. Berbahasa tulis harus memiliki kemampuan untuk menarik perhatian agar kalimat-kalimat yang disusun dapat dipahami dengan baik.

Jenis Bahasa

Klasifikasi bahasa secara sosiolinguistik tidak sama dengan klasifikasi bahasa secara geneologis maupun tipologis. Klasifikasi secara geneologis dan tipologis berkenaan dengan ciri-ciri internal bahasa-bahasa itu, sedangkan klasifikasi secara sosiolinguistik berkenaan dengan faktor-faktor eksternal bahasa, yakni faktor sosiologis, politis, dan kultural.

A. Jenis Bahasa Berdasarkan Sosiologis

Klasifikasi ini tidak terbatas pada struktur internal bahasa, tetapi juga berdasarkan faktor sejarahnya, kaitannya dengan sistem linguistik lainnya, dan pewarisan dari satu generasi ke generasi yang selanjutnya. Stewart (dalam Fishman (ed), 1968) meggunakan empat dasar untuk mengklasifikasi bahasa-bahasa secara sosiologis. Faktor itu oleh Fishman disebut sebagai jenis sikap dan perilaku terhadap bahasa. Keempat faktor itu adalah;

Standardisasi atau pembakuan adalah adanya kodifikasi dan penerimaan terhadap sebuah bahasa oleh masyarakat pemakai bahasa itu terhadap seperangkat kaidah atau norma yang menentukan pemakaian ‘bahasa yang benar’. Peng-kodifikasian pada dasarnya merupakan tugas para pakar dan mereka yang dalam pekerjaan sehari-hari secara profesional berurusan dengan bahasa. Standardisasi rupanya memiliki kelemahan, yaitu penggunaan bahasa ini hanya digunakan oleh masyarakat tutur dalam kondisi yang ‘mengharuskan’. Sehingga tak jarang masyarakat tutur yang tidak menggunakan ragam bahasa baku dalam komunikasinya sehari-hari.

Otonomi, hal ini adalah dasar kedua dalam klasifikasi sosiologi bahasa. Sebuah sistem linguistik dikatakan memiliki keotonomian jika sistem, linguistik itu memiliki kemandirian sistem yang tidak berkaitan dengan bahasa lain (Fishman, 1968:535). Jadi, jika ada dua sistem linguistik atau lebih, yang tidak memiliki hubungan kesejarahan, berarti keduanya memiliki keotonomian masing-masing.

Contoh kasus ini adalah adanya bahasa Inggris dan bahasa Jawa. Namun jika kasus bahasa Malaysia dan bahasa Indonesia, walaupun berasal dari sejarah yang sama, kedua bahasa tersebut memiliki sejumlah perbedaan struktur. Bahasa-bahasa yang telah mengalami usaha-usaha pembakuan adalah bahasa yang otonom. Perlu ditekankan bahwa keotonomian sebuah bahasa bukan datang sendiri melainkan harus diusahakan, lebih-lebih untuk ragam baku bahasa tulis (Fishman, 1970:208).

Dasar ketiga dalam klasifikasi sosiologi bahasa adalah faktor historisitas atau kesejarahan. Sebuah sistem linguistik dianggap mempunyai nilai sejarah. Faktor kesejarahan ini berkaitan dengan tradisi dari etnik tertentu.

Dasar keempat dalam klasifikasi bahasa secara sosiologis adalah faktor vitalitas atau keterpakaian. Menurut Fishman (1968:536) yang dimaksud dengan vitalitas adalah pemakaian sistem linguistik oleh satu masyarakat penutur asli yang tidak terisolasi. Sebuah bahasa dapat saja kehilangan vitalitasnya jika para penutur aslinya telah musnah atau telah meninggalkannya. Namun bisa jadi vitaslitas yang hilang kembali muncul jika ada kesadaran dan usaha dari ‘ahli waris’ untuk menggunakannya kembali.

B. Jenis Bahasa Berdasarkan Sikap Politik

Berdasarkan sikap politik atau sosial, kita akan mengenal bahasa nasional, bahasa resmi, bahasa negara, dan bahasa persatuan. Di Indonesia, keempat jenis bahasa ini mengacu pada satu sistem linguistik yang sama.

Bahasa negara adalah sebuah sistem linguistik yang secara resmi dalam undang-undang dasar sebuah negara ditetapkan sebagai alat komunikasi resmi kenegaraan. Pemilhan dan penetapan sebuah sistem linguistik menjadi bahasa negara biasanya dikaitkan dengan keterpakaian bahasa itu yang sudah merata di seluruh wilayah negara itu.

Bahasa resmi adalah sebuah sistem linguistik yang ditetapkan untuk digunakan dalam suatu pertemuan, seperti seminar, konferensi, rapat, dan lain sebagainya.

Dalam konteks sosial di Indonesia, bahasa negara dapat diidentikkan sama dengan bahasa resmi, yaitu bahasa Indonesia.

C. Jenis Bahasa Berdasarkan Tahap Pemerolehan

Berdasarkan pemerolehannya, adanya bahasa dapat dibedakan menjadi bahasa ibu, bahasa pertama, dan bahasa kedua (ketiga dan seterusnya), juga bahasa asing.

Bahasa ibu adalah satu sistem linguistik yang pertama kali dipelajari secara alamiah dari ibu atau lingkungan keluarga tempat anak tumbuh kembang. Bahasa ibu tidak mengacu pada bahasa yang dikuasai atau digunakan oleh seorang ibu, melainkan mengacu pada bahasa yang dipelajari oleh anak dalam keluarga tempat ia tumbuh kembang.

Bahasa ibu biasa disebut bahasa pertama. Contoh kasus ini, pada keluarga A yang berasal dari keluarga Jawa, saat terjadi komunikasi antara anak dan orangtua menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa Jawa, ini artinya anak memiliki bahasa ibu bahasa Indonesia. Jika anak belajar menggunakan bahasa lain yang bukan bahasa ibunya, maka bahasa lain itu disebut dengan bahasa kedua, dan seterusnya jika anak terus mengembangkan kemampuannya terhadap bahasa yang lainnya lagi.

Sementara yang dikatakan sebagai bahasa asing adalah bahasa dalam pengertian politis, yaitu bahasa yang digunakan oleh bangsa lain.

C. Lingua Franca

Lingua franca adalah sebuah sistem linguistik yang digunakan sebagai alat komunikasi sementara oleh para partisipan yang mempunyai bahasa ibu berbeda. Pemilihan satu sistem linguistik menjadi sebuah lingua franca adalah berdasarkan adanya kesalingpahaman di antara sesama.Variasi yang terdapat dalam sebuah ‘bahasa’ menjadikan bahasa itu sendiri kaya akan makna.

Fungsi yang disandang oleh bahasa memiliki tujuannya masing-masing. Maka dapat disimpulkan bahwa mempelajari sebuah bahasa tidaklah semudah yang dibayangkan. Bahasa terkesan menjadi sebuah hal yang tidak perlu dipelajari. Karena manusia merasa bahwa kemampuan berbahasa akan bisa dimiliki tanpa harus belajar lebih jauh. Padahal, jika mau melihat bahasa sebagai sebuah kajian, akan ada banyak hal baru yang ditemui.