Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang cenderung lebih pendek daripada prosa dan drama. Meski demikian, puisi dianggap karya sastra yang paling sulit ditulis karena kata-kata yang diungkapkan dalam puisi harus mengandung arti yang sangat dalam dengan nada dan irama yang sesuai.

Selain itu, puisi tidak hanya dianggap sulit untuk ditulis, melainkan juga sulit untuk dianalisis. Hal tersebut disebabkan komponen puisi yang tidak sesederhana komponen bentuk karya sastra lainnya, yaitu prosa dan drama. Gaya bahasa yang digunakan lebih banyak menggunakan kiasan, tidak seperti prosa dan drama yang seringkali menggunakan bahasa yang lugas dan denotatif.

Untuk dapat menganalisis sebuah puisi, maka perlu dipahami terlebih dahulu unsur-unsur yang membentuk sebuah puisi sebagai berikut.

Menganalisis Unsur-unsur Puisi

Puisi terdiri atas dua unsur, yaitu unsur bentuk dan unsur isi. Kedua unsur tersebut memiliki peranan penting dalam sebuah puisi. Bentuk puisi merupakan unsur struktur puisi yang membangun sebuah puisi hingga menjadi karya yang indah dan menarik. Adapun unsur isi merupakan unsur batin dari sebuah puisi. Unusr ini tidak tampak, namun melekat dalam sebuah puisi.

Berikut unsur-unsur bentuk dan isi puisi.

1. Bentuk Puisi

Bentuk puisi disebut unsur formal puisi. Bentuk puisi meliputi diksi, rima, irama, pengimajian, dan kata konkret.

  1. Diksi

Diksi atau pemilihan kata dalam puisi dimaksudkan untuk menimbulkan imajinasi estetik. Oleh karena itu, penyair menggunakan kata-kata yang tepat untuk dapat mengekspresikan pengalaman jiwanya. Penyair tidak saja menggunakan kata-kata bermakna denotasi, tetapi juga menggunakan kata-kata bermakna konotasi.

Contoh:

Di Meja Makan

Karya: W.S. Rendra

Ruang diributi jerit dada

Sambal tomat pada mata

meleleh air racun dosa

Kata-kata Sambal tomat pada mata pada kutipan puisi tersebut digunakan dengan arti konotasi. Arti denotasi dari sambal tomat adalah sambal yang terbuat dari bahan tomat. Dalam puisi tersebut sambal tomat berarti perasaan yang sangat pedih.

  1. Rima

Rima adalah bunyi akhir baris pada bait puisi. Ada beberapa jenis rima dalam puisi. Pada puisi lama rima merupakan salah satu unsur yang mengikat puisi. Akan tetapi, puisi baru atau puisi kontemporer sudah tidak terikat dengan rima.

Contoh:

Dalam Kereta

Karya: Chairil Anwar

Dalam kereta

Hujan menebal jendela

Semarang Solo …, makin dekat saja

Menangkap senja

Menguak purnama

Caya menyayat mulut dan mata

Menjengking kereta. Menjengking jiwa,

Sayatan terus ke dada

Puisi ”Dalam Kereta” bersajak sama. Setiap baris diakhiri dengan bunyi yang sama, yaitu diakhiri dengan bunyi vokal /a/.

  1. Irama

Irama dalam puisi erat hubungannya dengan bunyi yang berulang, pergantian yang teratur, dan variasi-variasi bunyi yang menimbulkan suatu gerak yang hidup, seperti gemericik air yang mengalir turun tidak putus-putus. Irama dapat pula berarti pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur. Irama terbagi atas ritme dan metrum.

Ritme adalah irama yang disebabkan oleh pertentangan atau pergantian bunyi tinggi rendah secara teratur, tetapi tidak merupakan jumlah suku kata yang tetap, melainkan hanya menjadi gema dendang sukma.

Metrum adalah irama yang tetap, artinya pergantiannya sudah tetap menurut pola tertentu. Hal ini disebabkan oleh jumlah suku kata yang sudah tetap dan tekanannya yang tetap hingga alun suara menaik dan menurun itu tetap saja. Dalam puisi, irama timbul karena perulangan bunyi berturut-turut dan bervariasi, misalnya sajak akhir, asonansi, dan aliterasi.

  1. Pengimajian/Pengindraan

Penyair juga menciptakan pengimajian (pencitraan) dalam puisinya. Pengimajian adalah kata atau susunan kata-kata yang dapat memperjelas atau memperkonkret apa yang dinyatakan oleh penyair. Melalui pengimajian, apa yang digambarkan seolah-olah dapat dilihat (imaji visual), didengar (imaji auditif), atau dirasa (imaji taktil). Imaji visual menampilkan kata atau kata-kata yang menyebabkan apa yang digambarkan penyair lebih jelas seperti dapat dilihat oleh pembaca.

Contoh:

Gadis Peminta-minta

Karya: Toto Sudarto Bachtiar

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil

Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka

Tengadah padaku, pada bulan merah jambu

Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa.

  1. Kata Konkret

Penyair ingin menggambarkan sesuatu secara lebih konkret. Oleh karena itu, kata-kata diperkonkret. Bagi penyair mungkin dirasa lebih jelas karena lebih konkret, namun bagi pembaca sering lebih sulit ditafsirkan maknanya.

Contoh:

Balada Terbunuhnya Atmo Karpo

Karya: W.S Rendra.

Dengan kuku-kuku besi, kuda menebah perut bumi

Bulan berkhianat, gosokkan tubuhnya pada pucuk-pucuk para

Mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang diburu

Surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang.

Kaki kuda yang bersepatu besi disebut penyair kuku besi.

Kuda itu menapaki jalan tidak beraspal yang disebut kulit bumi.

Atmo Karpo sebagai perampok yang naik kuda digambarkan sebagai penunggang perampok yang diburu. Penggambaran perjalanan Atmo Karpo naik kuda yang meletihkan itu diperkonkret dengan larik surai bau keringat basah. Ia siap berperang dan telah menghunus jenawi (samurai). Hal ini diperkonkret dengan larik jenawi pun telanjang.

2. Isi Puisi

Selain dibangun dengan unsur formal, dalam puisi juga ada unsur makna isi atau hakikat puisi, yaitu tema, rasa, nada, dan amanat.

  1. Tema merupakan gagasan pokok yang dikembangkan oleh penyair. Anda telah mengenal beberapa contoh tema dalam puisi Indonesia.
  2. Rasa (feeling) mewarnai karya-karya penyair. Perasaan yang muncul dalam puisi didasari oleh cara pandang dan pengalaman penyair terhadap sesuatu.
  3. Nada dan suasana adalah sikap penyair kepada pembaca puisi, misalnya bersikap menggurui, mengejek, menasihati, atau bersikap lugas. Sebaliknya, pembaca akan mempunyai perasaan tertentu setelah membaca sebuah puisi. Entah itu senang, marah, jengkel, atau iba. Perasaan kejiwaan pembaca itulah yang disebut suasana. Nada dan suasana dalam puisi saling berhubungan karena nada puisi menimbulkan suasana kepada pembacanya.
  4. Amanat dalam puisi dapat dipahami setelah Anda memahami tema, rasa, dan nada puisi itu. Amanat terdapat di balik kata-kata yang tersusun dan di balik tema yang disajikan. Amanat adalah sesuatu atau yang disampaikan penyair dalam puisinya. Amanat sangat erat hubungannya dengan tema puisi.