Karya sastra memang dapat didefenisikan dengan beragam sudut pandang, kita dapat melihatnya sebagai karya imajinatif atau sebuah representasi keadaan sosial pada masa tertentu. Selain pengertiannya yang beragam, jenis dan tipenya juga tidak kalah banyak. Masing-masing tipe dasar karya sastra memiliki sub-sub lainnya yang membedakannya antara satu dengan yang lainnya. Meskipun jumlahnya yang beragam, tidak bisa dipungkiri bahwa karya sastra tetaplah terikat oleh unsur-unsur yang membentuknya.

Tidak semua karya sastra memiliki unsur-unsur yang sama, apa yang kita temukan di dalam perpuisian indonesia belum tentu akan kita temukan dalam pementasan drama atau sebaliknya. Mengetahui sastra tanpa memahami bagian-bagiannya tentu tidaklah lengkap, karena pengertian dan defenisi hanya akan membawa Anda pada permukaan keilmuannya. Tanpa mengetahui bagaimana struktur-struktur dari sastra tersebut membangun satu kesatuan yang kokoh dan indah, Anda tentu akan sulit melihat bagaimana sebuah karya sastra itu dibangun dengan sedemikian rumitnya hingga membentuk suatu totalitas cerita.

Karya sastra setidak-tidaknya terbentuk dari dua unsur dasar, yakni unsur-unsur intrinsik dan unsur-unsur ekstrinsik. Kedua unsur ini memegang penanan penting dalam membangun karya sastra hingga membentuk hasil yang utuh. Unsur-unsur intrinsik merupakan unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra tersebut, seperti gaya bahasa, penokohan, setting, nada, dan sebagainya. Sedangkan unsur-unsur ekstrinsik merupakan faktor-faktor luar yang memang secara sengaja ataupun tidak mendukung pembuatan karya-karya sastra tersebut, seperti psikologi si pengarang, ide-ide si pengarang, keadaan sosial masyarakat, dan sebagainya. Untuk menganalisis bagaimana unsur-unsur dalam karya sastra tersebut terbangun, kita akan membahasnya secara satu persatu sehingga perbedaan unsur-unsur yang ada pada tiap-tiap jenis karya sastra dapat terlihat jelas.

Unsur-unsur yang Terdapat dalam Puisi

Puisi merupakan salah satu jenis sastra yang memiliki keterikatan yang lebih saklek bila dibandingkan dengan karya sastra yang lainnya. Jika pada karya-karya sastra lainnya kita mengenal unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik, maka dalam perpuisian unsur-unsur tersebut lebih dikenal sebagai unsur-unsur fisik dan batin dari puisi. Unsur-unsur tersebut berkaitan satu sama lainnya, sehingga akan sangat sulit bagi si penyair untuk tidak melengkapi unsur-unsur tersebut ke dalam karya yang dibuatnya. Puisi tidak hanya saklek terhadap unsur-unsur yang membangunnya, tetapi juga terhadap kebahasaan yang digunakannya dalam membentuk sebuah puisi.

Unsur-unsur intrinsik atau unsur-unsur fisik yang terdapat dalam karya sastra puisi meliputi: diksi, kata perlambangan ataupun simbol, suasana, maksud dan tujuan dari puisi, tema, imaji, gaya bahasa, rima, dan sebagainya. Unsur intrinsik atau unsur fisik puisi meliputi segala ketentuan yang mengatur bentuk fisik dalam perpuisian, unsur-unsur intrinsik tersebut ada yang mengikat dan ada yang tidak tergantung dari tipe jenis puisi yang akan kita bangun. Unsur intrinsik inilah yang lebih terpusat pada stuktur kebahasaan dari puisi, yang bertugas untuk memastikan bahwa setiap barisnya secara saksama telah mendukung nilai-nilai keindahan yang memiliki nada-nada tertentu.

Bagian fisik dari puisi inilah yang mungkin merupakan bagian tersulit untuk membangun sebuah puisi, karena dalam pembuatan sebuah puisi penyair harus betul-betul memilih kosakata yang tepat agar maksud yang ingin diciptakannya tercapai tanpa harus mengorbankan keindahan syairnya. Puisi merupakan karya yang banyak menggunakan penyimbolan-penyimbolan yang merepresentasikan sesuatu, karena kadang kala penyair tidak secara langsung menyampaikan ide dan perasaannya dalam karya yang telah dia buat seakan akan penyair ingin para penikmat sastra nya untuk menemukan sendiri apa yang ingin dia sampaikan lewat pusisinya. Selain penyimbolan, majas dan perumpamaan lainnya juga menjadi hal yang biasa dalam pembangunan fisik sebuah puisi.

Unsur-unsur ekstrinsik atau batin dalam perpuisian juga tidak kalah memegang peranan penting, karena unsur-unsur ekstrinsik inilah yang mengembangkan ide-ide yang nantinya membentuk badan dari puisi. Unsur-unsur batin dari puisi terdiri atas tema, rasa, nada, dan amanat. Puisi tanpa tema dan amanat tidak akan ada artinya, sedangkan puisi tanpa rasa dan nada tidaklah sempurna. Kedua unsur-unsur perpuisian tersebut merupakan kunci dari bagian-bagian yang terdapat dalam puisi, karena puisi tidak hanya bicara soal bahasa tetapi juga soal makna dan unsur-unsur inilah yang akan membentuk satu kesatuan karya yang tidak hanya utuh tetapi juga indah.

Unsur-unsur dalam Drama

Setelah melihat bagaimana unsur-unsur dalam puisi, berikutnya kita akan membahas unsur-unsur apa saja yang terdapat dalam drama. Jika dalam perpuisian kita mengenal bait, maka pada drama kita lebih menggunakan dialog, di mana percakapan tidak lagi terjadi di dalam teks tetapi direpresentasikan oleh tokoh dengan menggunakan mimik dan gerak. Dibandingakan dengan karya sastra lain yang memang dinikmati bahasanya dengan membaca, maka drama yang dinikmati dengan mempertunjukkannya tentu memiliki perbedaan unsur-unsur yang mendasar dibanding yang lain.

Dalam drama, kita tidak akan terlalu fokus dengan penggunaan diksi dan gaya bahasa yang indah seperti halnya puisi, karena drama adalah simulasi realitas sehingga tidak memungkinkan si pengarang untuk selalu menggunakan kata-kata indah dalam setiap dialog yang dilakukan oleh para tokohnya. Namun demikian, terdapat juga beberapa kesamaan unsur dalam drama dengan tipe sastra lainnya, terutama karya sastra prosa. Seperti hadirnya tokoh dan penokohan, latar, alur, dan sebagainya.

Unsur-unsur yang membentuk kesatuan drama terbagi menjadi beberapa kelompok, yakni tokoh, alur, acting, setting, percakapan, gerak, tata artistik, konflik tema, dan perwatakan. Sedangkan unsur-unsur ekstrinsik dalam sebuah drama meliputi hal-hal di luar tubuh drama yang mempengaruhi pembuatan drama tersebut, seperti keadaan sosial masyarakat, politik, agama, dan sebagainya.

Dari penjabaran unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah drama, ada beberapa aspek dalam drama yang memang tidak terdapat dalam karya sastra lainnya seperti gerak, akting, dan percakapan. Aspek-aspek inilah yang membedakan drama dari karya sastra lainnya, karena drama bukan lagi dinikmati sebagai karya sastra tulisan, tetapi juga seni panggung yang diperankan langsung oleh manusia untuk merepresentasikan apa yang terjadi di dalam naskah drama tersebut.

Unsur-unsur dalam Novel dan Cerita pendek

Novel dan cerita pendek merupakan karya sastra yang paling sering dinikmati oleh masyarakat, karena tidak hanya bervariasi, tetapi juga mudah didapat. Baik novel dan cerita pendek memiliki unsur-unsur pembentuk yang sama antara satu dengan yang lainnya. Hanya bedanya struktur dari novel lebih kompleks bila dibandingkan dengan cerita pendek. Jika dalam novel setiap konflik akan diikuti oleh konflik berikutnya sehingga membentuk mengembangan ide cerita yang luas maka pada cerita pendek biasanya pengarang hanya memfokuskan diri terhadap satu konflik saja yang kemudian mencapai klimaks dan diikuti oleh penutupnya.

Unsur-unsur yang terdapat dalam novel akan kita temukan kembali dalam cerita pendek, jika dalam novel terdapat aktor, maka begitu pula dengan cerita pendek. Keduanya diklasifikasikan sebagai karya sastra prosa yang hanya dibedakan oleh panjang halaman yang digunakan dalam menceritakan sebuah kisah. Dalam cerita pendek juga terdapat alur, tema, sudut pandang , dan seting seperti halnya sebuah novel, hanya bedanya struktur cerita pendek tidaklah sekompleks novel.

Dalam cerita pendek biasanya hanya ada satu sudut pandang, dengan satu alur, dan satu setting cerita. Dengan kata lain, cerita pendek merupakan bentuk sederhana dari novel, di mana tidak hanya konflik antartokoh saja yang ditunggalkan, tetapi juga beberapa aspek pendukung lainnya. Meskipun cerita pendek jauh lebih ringkas jika dibandingkan dengan novel, namun bukan berarti mereka adalah kaya sastra yang belum jadi atau belum lengkap. Sama seperti novel, cerita pendek juga memiliki alur yang jelas. Panjangnya yang terbatas tidak membuatnya menjadi karya sastra yang tidak utuh, namun menjadikannya sebagai karya yang menjanjikan. Keringkasannya tidak menjadikannya monoton, karena cerita pendek juga dapat beradaptasi dengan tema-tema yang beragam seperti komedi, tragedi, ataupun imajinasi.

Satra merupakan suatu seni yang menggunakan bahasa sebagai alat pembentukannya, karya sastra dapat dinikmati baik dengan cara membacanya ataupun dengan mementaskannya. Karya sastra juga tidak terlepas dari realita sosial yang ada dalam masyarakat, yang menjadikan karya tersebut sebagai gambaran realita masyarakat tertentu pada masa tertentu. Pengaruh keadaan sosial pada saat pengarang merampungkan hasil karyanya secara langsung ataupun tidak sudah mempengaruhi perkembangan tubuh dari karya sastra, terutama jika pengaruh tersebut berkaitan dengan bagaimana penilaian si pengarang terhadap realitas soaialnya.

Nilai-nilai dan ide-ide tersebutlah yang kemudian lebih dikenal sebagai unsur-unsur ekstrinsik yang membangun karya sastra, karena pengaruh yang ditimbulkannya bukan dari dalam karya sastra itu sendiri, melainkan dari lingkungan di mana karya sastra tersebut dihasilkan. Tidak semua pakar sastra setuju dengan penggabungan unsur-unsur ekstrinsik tersebut kedalam struktur sastra. Beberapa ahli sastra beranggapan bahwa karya sastra haruslah dilihat sebagai karya itu sendiri tanpa campur tangan luar yang mempengaruhinya termasuk campur tangan penulis.