Karena pragmatik membicarakan tutur, maka perlu dipahami mengenai apa saja yang termasuk ke dalam konteks wacana atau tuturan. Mengingat, dalam setiap interaksi verbal, kita selalu menemui beberapa unsur yang mengambil peranan dalam peristiwa tertentu. Misalnya, adanya penutur dan mitra tutur, pokok pembicaraan, latar peristiwa, kode, dan bentuk pesan. Berikut ini penjelasan yang akan dibeberkan berikut contohnya.

Penutur dan Pendengar

Penutur dan pendengar adalah sosok yang terlibat dari tuturan atau konteks. Baik penutur maupun pendengar/ lawan tutur, biasa disebut partisipan. Untuk mengetahui konteks wacana, kita harus tahu atau memperkirakan latar belakang partisipan (sosial, budaya, ekonomi, dan lain-lain) serta kondisi objektif partisipan (ciri-ciri fisik, mental, kemahiran berbahasa, dan lain-lain). Hal ini dimaksudkan agar makna wacana bisa diketahui. Contohnya:

Operasi harus segera dilaksanakan.

Maksud ujaran tersebut bisa dipahami jika kita tahu siapa dibalik penutur yang mengemukakan tuturan itu. Jika dia seorang dokter, maka operasi yang dimaksud adalah sejenis operasi pembedahan atau operasi yang berhubungan dengan kesehatan manusia. Oleh karena itu, mitra tuturnya akan merespons, seperti “Baik, operasi mata pasien di ruangan ekonomi siap dilaksanakan.” Akan tetapi, jika si penutur adalah polisi atau datang dari aparat, maka operasi yang dimaksud adalah razia atau ‘pembersihan’. Oleh karena itu, lawan tutur akan menjawab, seperti “Baik, operasi di kawasan prostitusi Saritem akan diberlangsukan pukul delapan malam.”

Topik Pembicaraan

Topik pembicaraan adalah tema dari tuturan yang diciptakan penutur. Pendengar akan mudah memahami isi wacana jika topik pembicaraan yang dimaksudkan penutur tergambar jelas. Akan tetapi, topik pembicaraan yang berbeda akan menghasilkan bentuk wacana yang berbeda pula. Sebagai contoh, suatu topik kesejarahan lebih tepat disajikan secara naratif daripada secara argumentatif. Kalaupun ada argumen-argumen yang tercipta, yang menonjol tetap bagian narasinya. Partisipan tutur akan menangkap dan memahami makna wacana berdasarkan topik yang dibicarakan. Contohnya.

A: Jadi jelaslah bahwa dalam linguistik, terdapat kajian fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik.

Dari tuturan si penutur, pendengar atau lawan tutur tahu apa saja yang dimaksud dengan linguistik, fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik.

Latar Peristiwa

Latar peristiwa adalah latar tempat partisipan melakukan tindak tutur. Latar peristiwa ini dapat berupa tempat, kejadian psikologis partisipan, atau semua hal yang melatari terjadinya peristiwa tutur. Tempat, lebih banyak berpengaruh pada peristiwa tutur lisan tatap muka, sedangkan keadaan psikologis partisipan juga berpengaruh pada tutur tulis. Di pasar, orang akan menggunakan bahasa yang berbeda dengan yang akan mereka gunakan di sekolah. Artinya, akan ada penyesuaian pemakaian bahasa antara di tempat resmi dan di tempat tidak resmi.

Artinya, jika di pasar kita menggunakan kalimat baku, itu terdengar aneh. Misalnya, Wahai, Bapak. Berapakah gerangan harga buah apel ini? Bisa jadi pengguna bahasa demikian akan disangka aneh oleh pendengar atau lawan tutur. Berbeda jika pengguna bahasa melakukan bahasa resmi di tempat-tempat formal seperti di kantor. Maka kalimat tutur yang digunakan biasanya formal. Jadi, tidak dengan bahasa keseharian seperti, Kok, lu gitu sih, Pak. Rapatnya ancur tadi. Meskipun di beberapa kantor, penggunaan bahasa nonbaku dihalalkan agar tidak ada jurang pemisah, tapi penggunaan bahasa yang sopan lebih dipertimbangkan.

Keadaan psikologis partisipan juga mewarnai bentuk dan makna wacana. Dalam suasana gembira atau normal, jika seseorang bertutur mengucapkan kata ‘bagus’ kala melihat mitra tuturnya dapat menyelesaikan tugas dengan baik, makaujaran itu dapat ditafsirkan sebagai pujian. Sebaliknya, jika ujaan itu diucapkan ketika mitra tutur tidak dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik, maka ujaran itu sebenarnya sebuah sindiran atau cemoohan. Contohnya:

A: Bagus. Pekerjaan yang kamu kerjakan selesai tepat waktu dengan kualitas yang baik.

B: Bagus. Sudah lewat deadline, tapi pekerjaan kamu belum selesai-selesai juga.

Dari contoh di atas, jelaslah bahwa kalimat A ditujukan sebagai bentuk apresiasi dan pujian, sementar kalimat B berbentuk sindiran dan penghinaan.

Penghubung (Saluran)

Penghubung adalah medium yang dipakai untuk menyampaikan topik tutur. Untuk menyampaikan informasi, seorang penutur dapat mempergunakan penghubung dengan bahasa lisan atau tulis. Ujaran lisan dapat dibedakan berdasarkan sifat hubungan partisipan tutur, yaitu langsung dan tidak langsung. Hubungan langsung terjadi dalam dialog tanpa perantara. Misalnya, dialog A kepada B. Contohnya:

A: Kemarin saya membeli buku terbaru Ayu Utami.

B: Wah, keren. Nanti saya pinjam, ya.

Ujaran lisan langsung juga memiliki ragam lisan resmi dan tidak resmi. Artinya, punya ragam bahasa yang formal dan nonformal di sana. Sementara, ujaran lisan tidak langsung adalah ujaran dengan memerlukan perantara. Misalnya, perantara fisik seperti telepon, internet, radiogram, telepon, dan lain-lain.

Pemilihan penghubung ini sangat bergantung pada beberapa factor, yaitu kepada siapa ia berbicara, dalam situasi bagaimana (dekat atau jauh). Jika dekat, tentu dapat dilakukan secara lisan. Namun jika jauh, tentulah harus dengan tulisan atau telegram.

Kode

Kode adalah ciri khas ragam bahasa yang dipergunakan partisipan. Jika penghubung dalam tindak tutur adalah lisan, maka kode dapat dipilih antara satu dialek bahasa yang ada. Bisa pula dengan memakai salah satu ragam bahasa yang paling tepat. Akan sangat aneh jika ragam bahasa baku dipakai untuk tawar menawar barang di pasar. Juga terasa aneh jika ragam nobaku dipakai saat berpidato kenegaraan. Pemilihan kode bahasa yang tidak tepat berpengaruh besar pada keefektivan komunikasi. Jika efektivitas komunikasi terganggu, besar kemungkinan akan terjadi kesalahpahaman komunikasi.

Bentuk Pesan

Bentuk pesan adalah isi atau format tuturan yang disampaikan si penutur kepada mitra tutur. Pesan yang hendak disampaikan pada tindak tutur harus tepat karena bentuk pesan ini bersifat penting. Banyak pesan yang tidak sampai kepada pendengar karena memiliki bentuk pesan yang tidak sesuai dengan pemahaman si pendengar juga situasi kala tindak tutur terjadi. Jika si pendengar berasal dari masyarakat umum, bentuk pesan harus pula bersifat umum. Sebaliknya, jika pendengar datang dari kelompok khusus, maka akan khusus pula bentuk pesan yang harus dibentuk. 

Misalnya, jika si penutur bermaksud menyampaikan informasi dalam bentuk tuturan pada masyarakat umum, maka bahasa yang dipilih akan umum pula. Misalnya, berbicara di forum seminar bertemakan kesusastraan Indonesia dengan penyampaian bersifat umum. Sementara, bentuk pesan sebagai ulama kepada anggota jamaah di masjid misalnya, harus membuat bentuk pesan yang Islami dan tentulah bersifat khusus. Begitu juga jika sedang menyampaikan kampanye pentingnya menggunakan alat kontrasepsi untuk para penjaja seks komersial di lokalisasi pelacuran, bentuk pesan pun harus dibuat khusus dengan pemakaian bahasa tertentu, agar mudah dicerna oleh pendengar.

Isi dan bentuk pesan harus sesuai karena apabila keduanya tidak sesuai, pesan atau informasi yang disampaikan akan susah dicerna oleh pendengar. Sebab, menyampaikan informasi tentang ilmu pasti misalnya, tentulah berbeda ketika kita menyampaikan uraian tentang ilmu bahasa atau sejarah.