Kapan Anda pernah mendengar kata transfusi darah? Saat saudara Anda mengalami kecelakaan dan mengalami pendarahan? Atau saat saudara Anda selesai dioperasi dan mengalami blooding? Atau mungkin Anda sendiri pernah mengalaminya karena sesuatu hal? Memang kata transfusi sangat identik dengan kata operasi dan kecelakaan, meskipun faktanya tidaklah selalu demikian.

Pengertian Transfusi Darah

Transfusi darah dapat didefinisikan sebagai proses pemindahan darah dari seseorang yang sehat (pendonor) kepada orang lain yang membutuhkan (resipien). Jenis transfusi darah ada dua macam, yaitu:

Transfusi darah lengkap (whole blood)

Yaitu transfusi yang diberikan kepada seseorang (resipien) yang mengalami pendarahan aktif baik karena operasi maupun kecelakaan dan kehilangan darah hampir mencapai 25% dari kandungan darah dalam tubuhnya.

Transfusi komponen darah

Yaitu transfusi yang diberikan kepada seseorang (resipien) yang hanya membutuhkan komponen-komponen darah tertentu seperti sel darah merah, sel darah putih, trombosit, plasma segar yang dibekukan, faktor pembeku, dan lain-lain).
Berikut ini dijelaskan macam-macam transfusi komponen darah.

a. Transfusi sel darah merah pekat

Transfusi ini diberikan kepada resipien yang kehilangan darah tidak terlalu berat, penderita anemia kronis, dan praoperasi.

b. Transfusi sel darah merah pekat cuci

Transfusi darah ini diberikan kepada resipien yang alergi terhadap protein plasma.

c. Transfusi sel darah merah yang miskin leukosit

Transfusi ini diberikan kepada resipien yang mempunyai ketergantungan pada transfusi darah.

d. Transfusi sel darah merah pekat beku yang dicuci

Transfusi ini diberikan kepada resipien yang mempunyai antibodi terhadap sel darah merah yang menetap.

e. Transfusi sel darah merah diradiasi

Transfusi ini diberikan kepada resipien yang menjalani transplantasi organ atau sumsum tulang.

f. Transfusi leukosit granulosit konsentrat

Transfusi ini diberikan kepada resipien yang jumlah leukositnya mengalami penurunan secara drastis, infeksi yang tidak kunjung sembuh dengan antibiotik, dan kualitas leukosit mengalami penurunan.

g. Transfusi trombosit

Transfusi ini diberikan kepada resipien yang mengalami penurunan jumlah atau fungsi trombosit.

h. Transfusi plasma dan produksi plasma

Transfusi ini diberikan kepada resipien untuk mengganti faktor pembekuan dan cairan yang hilang seperti pada penderita hemofili.

Syarat-syarat Transfusi Darah

Diperlukan syarat-syarat tertentu untuk melakukan transfusi darah, baik dari pendonor maupun resipien. Seorang resipien yang akan ditransfusi harus diketahui dengan jelas jenis golongan darahnya, sebab apabila terjadi kesalahan maka dapat menyebabkan penggumpalan darah sehingga dapat menyebabkan kematian.

Sebaiknya setiap golongan darah ditransfusi oleh golongan darah yang sama dengan tujuan untuk keamanan dan kesehatan, meskipun secara teori ada jenis golongan darah yang dapat ditransfusi oleh golongan darah yang lain, seperti uraian berikut ini :

1. Golongan darah A bisa ditransfusi oleh golongan darah A dan 0 (nol).

2. Golongan darah B bisa ditransfusi oleh golongan darah B dan 0 (nol).

3. Golongan darah AB bisa ditransfusi oleh semua jenis golongan darah A, B, AB, dan 0 (nol) karena golongan darah AB tidak mempunyai aglutinin. Oleh karena itu golongan darah AB disebut sebagai resipien universal.

4.    Golongan darah 0 (nol) hanya bisa ditransfusi oleh golongan darah 0 (nol) lagi karena golongan darah 0 (nol) tidak mempunyai aglutinogen.

Untuk lebih jelasnya mengenai uraian ini bisa dibaca pada artikel golongan darah manusia.

Manfaat Transfusi Darah

Ada banyak manfaat yang dapat diperoleh dari proses transfusi darah, baik bagi pendonor maupun bagi resipien.
Adapun manfaat yang dapat diperoleh oleh donor adalah sebagai berikut:

1. Dapat menjaga kesehatan sumsum tulang

Beberapa saat setelah pendonor mendonorkan darahnya, maka sumsum tulang sebagai tempat pembentukan sel-sel darah merah akan berfungsi lebih aktif untuk menghasilkan sel-sel darah merah yang baru.

2. Dapat mengetahui golongan darahnya secara gratis

Seorang calon donor darah, sebelum mendonorkan darahnya maka ia harus diperiksa terlebih dahulu jenis golongan darahnya.

3 Dapat mengetahui apakah dirinya menderita suatu penyakit atau  tidak

Seorang calon donor darah, harus dipastikan bahwa dirinya tidak menderita suatu penyakit yang dapat membahayakan dirinya maupun resipien seperti anemia, AIDS, dan lain-lain. Seorang calon donor darah akan mendapatkan pemeriksaan kesehatan secara gratis sebelum dilakukan pengambilan darah.

4. Dapat menjaga kesehatan jantung

Seorang donor yang aktif mendonorkan darahnya akan mempunyai kestabilan jumlah zat besi di dalam darahnya, sehingga resiko terkena penyakit jantung akan terhindar.

5. Dapat menurunkan berat badan

Dengan mendonorkan darahnya sebanyak 450 ml darah dapat membantu proses pembakaran kalori di dalam tubuhnya sekitar 650 kalori, sehingga menjadi donor darah dapat digunakan sebagai program untuk menurunkan berat badan.

6. Dapat meningkatkan kesehatan psikologis

Seorang donor akan senantiasa mempunyai kepedulian terhadap sesama terutama orang-orang yang sedang membutuhkan darah. Seorang pendonor umumnya senantiasa merasa bahagia karena dia merasa telah membantu menyelamatkan orang lain dari kekurangan darah.

Meskipun banyak manfaat yang dapat diperoleh oleh pendonor, namun tidak setiap orang bisa menjadi donor darah. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang calon donor darah, antara lain sebagai berikut:

1. Berumur antara 17 – 60 tahun
2. Berat badan 50 kg atau lebih
3. Kadar hemoglobin 12,5 g/dl atau lebih
4. Tekanan darah berkisar antara 120/140/80 – 100 mmHg
5. Denyut nadi teratur berkisar 50-100/menit.
6. Tidak pernah menderita penyakt jantung, hati, paru-paru, ginjal, kencing manis, pembuluh darah, kanker, dan penyakit kulit.
7. Tidak sedang hamil, menyusui, dan mentruasi.
8. Donor tetap dapat menyumbangkan darahnya sebanyak 5 kali dalam setahun.
9. Kulit lengan dalam keadaan sehat.
10. Tidak meneraima transfusi darah dalam 6 bulan terakhir.
11. Tidak sedang menderita malaria, hepatitis, HIV maupun AIDS.
12. Bukan pecandu alkohol atau narkotika.
13. Tidak mendapatkan imunisasi dalam 4 bulan terakhir.
14. Jika baru mengkonsumsi aspirin dalam waktu 3 hari terakhir sebelum melakukan donor, harus diberitahukan kepada petugas.

Bahaya Transfusi Darah

Ada satu pertanyaan, dari sekian banyak manfaat yang dapat diperoleh baik oleh pendonor maupun resipien, adakah bahaya yang ditimbulkan dari proses transfusi darah ini? Sudah merupakan hukum alam, bahwa segala sesuatu senantiasa berlawanan. Bahaya transfusi bisa saja terjadi apabila tidak dilakukan dengan hati-hati dan tidak memperhatikan prosedur dan persyaratan yang telah ditetapkan.

Adapun beberapa bahaya transfusi darah, adalah sebagai berikut:

1. Apabila golongan darah resipien tidak sesuai dengan darah yang ditransfusikan maka akan terjadi penggumpalan pada darah si resipien sehingga dapat menyebabkan kematian.

2. Transfusi darah adalah memindahkan darah utuh atau komponen darah dari manusia satu ke manusia yang lain, sehingga apabila tidak dilakukan dengan cermat dan melalui uji laboratorium ada resiko memindahkan agen-agen penular dari donor ke resipien.

3. Jarum suntik yang dipergunakan secara berulang kali meskipun dilakukan proses sterilisasi dapat beresiko menularkan penyakit berbahaya bagi pendonor.

4. Menimbulkan alergi pada resipien.

Namun apabila diperhatikan, manfaat yang diberikan ternyata jauh lebih banyak dari pada resiko yang ditimbulkan. Oleh karena itu, jangan takut untuk menjadi donor darah selama mengikuti prosedur yang telah ditetapkan.