Perbedaan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat merupakan sebuah ketentuan dari Allah Swt yang harus diterima. Allah Swt menciptakan manusia berbangsa-bangsa, bersuku-suku, menggunakan bahasa yang berbeda, dan beberapa perbedaan lainnya. Bagaimana kita bersikap terhadap perbedaan yang ada? Allah Swt memerintahkan agar kita memiliki perilaku tasamuh.

Tasamuh disebut juga toleransi. Toleransi adalah sikap tenggang rasa, menghormati, dan menghargai orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. Perbedaan warna kulit, suku, bahasa, jenis rambut, dan berbagai perbedaan lainnya tidak menjadi penghambat untuk saling tolong-menolong. Jangan hanya karena perbedaan yang ada, kalian tidak mau mengulurkan bantuan kepada mereka yang membutuhkan serta merasa tidak membutuhkan orang lain.

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri. Saling menolong dalam kebaikan harus tetap dijalankan meskipun berbeda suku, bahasa, warna kulit, dan berbagai perbedaan lainnya. Saling menolong dilakukan dalam hal kebaikan. Menyangkut hal-hal yang tidak sejalan dengan syariat Islam tidak diperintahkan untuk saling menolong. Perhatikan firman Allah Swt berikut ini.

Adanya perbedaan harus menjadi diterima sehingga dapat berbentuk rahmat dalam mencapai tujuan bersama dalam kehidupan. Seseorang yang tidak mau menerima adanya suatu perbedaan, maka dalam hidupnya itu akan mendapatkan berbagai  macam  masalah  dan  kesulitan  di  lingkungan  masyarakat  yang  sangat beragam ini. Oleh karena itu, sikap menerima perbedaan harus tetap ditegakkan. Tahukah Anda, bagaimana menciptakan suasana saling menerima dan menghormati adanya perbedaan yang terjadi di masyarakat?

Allah Swt mengajarkan kepada manusia untuk hidup berdampingan dalam kedamaian  walaupun berbeda dengan cara hormat menghormat dan bertoleransi dalam beragama. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an Surah Al Kafiruun ayat 1-6.


 

Toleransi dalam Islam

Secara istilah, kata toleransi memiliki makna menahan perasaan tanpa disertai protes. Artinya, seseorang tidak memiliki hak protes atas argumen orang lain, walaupun itu adalah pendapat yang salah dalam keyakinan.

Islam memberikan istilah toleransi ini dengan istilah tasamuh. Tasamuh memiliki arti tasahul yang berarti kemudahan. Artinya, Islam memberikan kemudahan bagi siapa saja dalam menjalankan apa yang dia yakini sesuai dengan ajaran masing-masing tanpa adanya suatu tekanan dan sama sekali tidak mengusik ketauhidan atau keyakinan seseorang.

Dr. Harun Nasution berpendapat Toleransi dalam Islam di antaranya, mencoba melihat kebenaran yang ada di luar agama lain. Artinya, kebenaran tidak hanya ada dalam Islam, tapi kebenaran juga ada dalam agama selain Islam. Selain itu, toleransi berarti cara membina rasa persaudaraan satu Tuhan.

Sementara itu, Dr. Yusuf al-Qaradhawi dalam karyanya yang berjudul Ghairal MusIimin fil  Mujtama il islami yang memaknai konsep tasamuh sebagai suatu keyakinan terhadap kemuliaan manusia, apa pun agamanya, kebangsaannya, dan kerukunannya. Selain itu, tasamuh pun berarti keyakinan bahwa Allah Awt memerintahkan untuk berbuat adil dan mengajak kepada budi pekerti mulia meskipun kepada orang musyrik. Jadi, antara toleransi dalam pandangan Barat memiliki perbedaan mendasar dengan konsep tasamuh dalam Islam.

Perbedaan tersebut sangat terlihat dalam hal konsekuensi berkeyakinan dalam beragama. Toleransi ingin merelatifkan nilai-nilai kebenaran dalam beragama. Sementara, tasamuh justru untuk meyakini akan kebenaran yang hanya berasal dari Allah Swt semata. Dari defenisi Qaradhawi ini, jelas ada perbedaan besar antara toleransi dalam konsep Barat dan Islam.

Sikap toleransi harus mendasari sikap perilaku dalam kehdupan sehari-hari dan toleransi sangat dibutuhkan untuk menjaga hubungan antar sesame demi terciptanya persahabatan, persaudaraan, dan persatuan dan kesatuan suatu masyarakat. Surah Al Kafirun ayat 1-6 menjelaskan ajaran tentang cara bersikap menghadapi perbedaan keyakinan dalam beragama. Hal inl telah ditunjukkan oleh Rasulullah Saw saat   menghadapi kaum musyrik Quraisy. Sebagaimana dipahami. Rasulullah selalu mendakwahkan kebenaran ajaran yanig dibawanya, yaitu Islam.

Namun, jika ada orang atau pihak yang menolak atau mengecam ajaran beliau. Sikap pertama kali yang dilakukan beliau adalah mendoakan orang-orang  yang  menolaknya. Hal ini menunjukkan bukti konsep kebenaran hakiki hanya satu, yaitu kebenaran dari Allah Swt.

Dalam aplikasinya antar manusia atau kelompok tertentu, memiliki penafsiran berbeda terhadap kebenaran. Dengan demikian, setiap orang yang telah rneyakini kebenaran suatu ajaran tidak serta merta dapat menyalahkan oranq Iain yang berbeda pemahaman. Tindakan yang paling tepat adalah menyampaikan konsep kebenaran yang dipahami dengan konsep dakwah, di antaranya melalui dialog. Denqan  adanya  perbedaan, setiap orang harus mempunyai sikap tasamuh (toleransi) terhadap orang lain.

Toleransi sangatlah dibutuhkan untuk menjaga hubungan baik antar sesama demi terciptanya persahabatan, persaudaraan, dan persatuan masyarakat. Sikap toleran juga dapat memberikan peluang terhadap adanya dialog antar individu yang memiliki perbedaan pemahaman untuk menemukan persamaan.
Persamaan yang dimaksud adalah persamaan prinsip, di antaranya penyembahan terhadap Tuhan yang sama. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt dalam Surah Al Imran ayat 64, yang artinya sebagai berikut.

Allah berfirman pula dalam Surah Yunus ayat 40-41 tentang toleransi. Ayat tersebut berbunyi sebagai berikut.

Allah Swt telah menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup. Akan tetapi, tidak semua manusia mau menerimanya sebagai suatu risalah kebenaran yang harus diikuti. Dalam Surah Yunus ayat 40-41, Allah Swt menjelaskan bahwa Dia Maha Mengetahui orang-orang yang beriman atau yang tidak mengimani Al Qur’an. Mengimani Al Qur’an artinya memahami dan mengamalkan isi kandungan Al Qur’an. Sebaliknya, orang yang tidak memahami dan mengamalkan Al Qur’an sama dengan tidak mengimaninya.

Allah Swt telah menciptakan manusia itu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Perbedaan tersebut sebenarnya menjadi alasan terciptanya sikap saling mengenal dan
 
saling  menghargai. Namun, pada kenyataannya, masih sering terjadi diskriminasi karena sebab perbedaan dalam bersikap dan berpendapat.
Perbedaan yang ada di antara manusia bukan sarana atau alat untuk dipertentangkan.  Akan tetapi, perbedaan yang ada harus dijadikan sebagai sarana untuk saling melengkapi dan memperkuat tali persaudaraan. Perhatikan firman Allah Swt berikut ini.

 

Perbedaan yang ada merupakan suatu hal yang wajar. Allah Swt telah menjelaskan dalam Al Qur’an bahwa Dia menciptakan manusia berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Selain itu, Allah juga menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar manusia saling mengenal satu sama lain. Dari perbedaan yang ada, kita ditantang untuk mengenyampingkan perbedaan dan menjadikan perbedaan tersebut sebagai sarana untuk menjalin persaudaraan yang erat. Perbedaan hendaknya dijadikan sebagai sarana mempererat persaudaraan.

Allah Swt melarang hamba-Nya bercerai-berai. Jika direnungkan lebih dalam, pertentangan dan permusuhan yang ada hanya mendatangkan kesengsaraan. Kecurigaan terhadap pihak lain hanya mendatangkan ketidaktenteraman. Hapus dan hilangkanlah rasa curiga yang ada dan gantilah dengan sifat khusnuzhon agar tidak timbul permusuhan. Permusuhan dan pertentangan akan menyebabkan hidup tidak nyaman serta tidak tenteram.

Perbedaan akan kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada dua orang yang memiliki sifat  yang sama persis. Oleh karena itu, sifat tasamuh harus dimiliki oleh setiap pribadi.

Perilaku tasamuh yang dimiliki oleh anggota keluarga akan menciptakan suasana harmonis antaranggota keluarga tersebut. Ayah dan ibu hendaknya mengajarkan perilaku tasamuh kepada anak-anaknya atau anggota keluarga yang lain.

Cara berperilaku tasamuh terhadap anggota keluarga maupun masyarakat diajarkan dalam keluarga. Jika perilaku tasamuh telah tertanam dalam hati tiap-tiap anggota keluarga, keharmonisan dan ketenteraman akan dirasakan.

Perilaku tasamuh juga diperlukan dalam sebuah keluarga. Misalnya, ada salah satu anggota keluarga yang sakit. Anggota keluarga yang lain harus bersikap tasamuh dengan tidak menimbulkan kegaduhan. Ketenangan harus tetap dijaga agar anggota keluarga yang sakit dapat beristirahat dengan tenang.

Nah, itulah penjelasan mengenai ayat di dalam Al Qur’an yang menjelaskan hidup bertoleransi.