Auguste Comte

Kajian mengenai perilaku masyarakat telah ada sejak masa Yunani klasik hingga abad pertengahan. Hanya memang para tokoh yang mengemukakan gagasan itu, tidak memaparkannya secara sistematis. Bahasan yang disampaikan pun masih belum lepas dari pemikiran filsafat sebagai induk dari semua ilmu pengetahuan. Karenanya, pemikiran mereka hanya dianggap sebagai peletak dasar dari ilmu sosial-kemasyarakatan.

Adalah Auguste Comte yang disebut sebagai pendiri dari ilmu mengenai perilaku sosial manusia. Ilmu yang kemudian dikenal dengan nama Sosiologi. Ia merupakan seorang ilmuwan kelahiran Perancis. Hidup pada abad ke-19 dan memopulerkan nama Sosiologi pada 1856. Pemikiran Comte kemudian menginspirasi tokoh-tokoh lainnya, seperti Herbert Spencer, Emile Durkheim, dan Karl Marx untuk turut mengembangkan ilmu sosiologi.

Tokoh Sebelum Comte

Sebelum lebih jauh mengulas ‘the Founding Father of Sociology’ ini, akan kita kupas terlebih dahulu tokoh-tokoh yang telah mengkaji Sosiologi atau relevan dengan kajian dari ilmu tersebut. Mereka hidup pada masa Comte belum lahir. Namun—seperti telah dijelaskan sebelumnya—gagasan mereka masih bersifat filosofis dan tidak terstruktur secara sistematis. Barulah pada masa Comte, Sosiologi menjadi ilmu mandiri dan lepas dari pengaruh filsafat.

Berikut ulasan singkat pemikiran mereka yang kemudian menjadi dasar pijakan bagi Comte untuk merumuskan Ilmu Sosiologi:

1. Plato

Dikenal sebagai salah satu dari tiga filosof terbesar Yunani klasik, dua di antaranya adalah Socrates dan Aristoteles. Plato dalam beberapa tulisannya mengulas konsep mengenai masyarakat. Ia menyatakan bahwa masyarakat adalah cerminan dari manusia secara perorangan. Dengan kata lain, memahami dan menganalisis suatu bentuk masyarakat tidak bisa lepas dari memahami dan menganalisis individu manusia yang menyusun masyarakat tersebut.

2. Aristoteles

Aristoteles adalah murid Plato. Seperti gurunya, ia juga memiliki ketertarikan dalam mengkaji hal-hal yang berhubungan dengan Ilmu Sosiologi. Wujud ketertarikannya itu kemudian menghasilkan sebuah buku berjudul ‘Politics’. Di buku ini, Aristoteles membahas mengenai lembaga-lembaga politik yang ada dalam suatu masyarakat. Termasuk pula membahas aspek ekonomi dan sosial sebagai wilayah kajiannya. Salah satu simpulan yang dibuat Aristoteles berkaitan dengan moral atau etika. Ia menyatakan bahwa moral merupakan dasar bagi pembentukan suatu masyarakat.

3. Ibnu Khaldun

Seorang sejarawan Islam yang terkenal dengan karya monumentalnya, ‘Mukaddimah’. Buku yang sejatinya merupakan ulasan terhadap berbagai peristiwa sejarah manusia (muncul dan runtuhnya peradaban), dianggap memberikan masukan penting bagi teori-teori Sosiologi karena mengandung analisis mendalam mengenai kehidupan sosial. Ibnu Khaldun memaparkan mengenai konsep solidaritas sosial sebagai faktor vital bagi terjadinya dinamika dalam masyarakat. Bersatu atau pecahnya suatu masyarakat, dipengaruhi oleh kuat atau lemahnya solidaritas sosial yang ada.

4. Pemikir Zaman Renaissance

Masa Renaissance atau pencerahan terjadi di kawasan Italia yang menyebabkan lahirnya para pemikir besar Eropa. Beberapa di antaranya memberikan sumbangan pemikiran bagi Ilmu Sosiologi. Sebut saja nama Thomas More dengan gagasan utopia masyarakatnya dan Campanella yang menulis ‘City of the Sun’. Pemikiran kedua tokoh Renaissance ini memiliki kesamaan, yaitu membahas mengenai bentuk masyarakat ideal. Adapun tokoh Renaissance lainnya adalah Niccolo Machiavelli. Seorang pemikir yang menjadi terkenal karena karyanya ‘Il Principle’. Buku ini memaparkan beragam teori politik dan sosial dalam tataran pragmatis, yakni bagaimana mempertahankan kekuasaan dalam suatu pemerintahan

5. Thomas Hoobes

Karyanya berjudul ‘The Leviathan’ memberikan wawasan bermanfaat mengenai kehidupan sosial manusia. Thomas Hobbes memulai gagasannya dengan mengatakan bahwa secara alamiah manusia memiliki dorongan untuk saling bertikai. Akibatnya, konflik di masyarakat menjadi suatu keniscayaan. Namun, manusia juga punya dorangan untuk hidup damai. Oleh karena itu, agar keadaan damai senantiasa terpelihara, maka setiap anggota masyarakat wajib mematuhi peraturan dari pihak-pihak yang berwenang.

6. John Locke

Adalah seorang ilmuwan pendiri aliran empiris. Yaitu paham yang meyakini bahwa pengetahuan manusia berasal dari pengalaman indera. Berkaitan dengan Ilmu Sosiologi, Locke memberikan kontribusi pemikiran berkaitan dengan hak-hak asasi pada manusia. Hak-hak tersebut berupa hak untuk hidup, memiliki kebebasan, serta hak atas harta benda.

7. Jean Jacques Rousseau

Seorang pemikir besar mengenai negara dan hukum. Walau hidup pada masa dan negara berbeda, namun Rousseau memiliki kesamaan gagasan dengan Thomas Hobbes dan John Locke mengenai kontrak sosial sebagai dasar dari lahirnya suatu negara. Kontrak atau kesepakatan antara pemerintah dan yang diperintah ini akan melahiran kolektivitas yang memiliki keinginan sendiri.

Comte dan Pemikirannya

Auguste Comte lahir pada 19 Februari 1798 di Monpellier. Sebuah kota kecil yang terletak di bagian barat daya Perancis. Bernama lengkap Isidore Auguste Marie Francois Xavier, latar belakang keluarga Comte adalah dari kelas menengah. Orangtuanya bekerja sebagai pegawai kerajaan Perancis dan penganut Katolik yang taat.

Conte menjalani pendidikan akademisnya di Politeknik Ecole Paris. Tahun 1818, ia meninggalkan politeknik tersebut dan melanjutkan ke sekolah kedokteran di Montpellier. Namun, minatnya pada ilmu sosial membawa Comte menjadi murid dari seorang aristokrat dan ilmuwan sosial terkenal Perancis, Henri de Saint-Simon. Pergaulan dengan Henri de Saint-Simon membawa pengaruh besar bagi kehidupan dan pemikiran Comte. Darinya, Comte banyak belajar mengenai teori-teori sosial yang di kemudian hari sangat membantunya dalam merumuskan Ilmu Sosiologi.

Akan tetapi, hubungan antara guru dan murid tersebut pada 1824 harus berakhir. Comte memutuskan untuk mendalami pemikiran positivisme. Ia pun menyusun proposal penelitian berjudul ‘Plan de travaux scientifiques nécessaires pour réorganiser la société’ pada 1822. Sayangnya, upaya Comte tidak berjalan lancar karena ia gagal mendapatkan posisi akademis yang bisa membantunya dalam melakukan penelitian. Walaupun terhambat, tidak membuat Comte patah semangat. Ia berupaya mendapatkan dana bagi penelitian dengan mencari sponsor dan bantuan teman-teman dekatnya.

Ketertarikan terhadap positivisme memengaruhi perkembangan pemikiran Comte selanjutnya. Selain merampungkan penelitian yang dimulai sejak 1822, Comte menyusun dasar-dasar teori sosial dengan mengikuti kaidah positivistik, yakni terukur, teramati dan sistematis. Hasilnya pada 1842, Comte memublikasikan ‘Le Cours de Philosophie Positivistic’.

Karya utama yang membuatnya diakui sebagai pendiri suatu ilmu baru, yaitu Sosiologi. Tahun 1854, Comte memuplikasikannya kembali karya yang tak kalah pentingnya. Karya tersebut berjudul ‘Système de politique positive’. Karya besar terakhir sebelum kematiannya pada 5 September 1857 di Paris.

Evolusi Tiga Tahap

Sebagai pencetus Ilmu Sosiologi, pandangan Comte termasuk pragmatis. Hal ini sangat beralasan karena teori yang disusunnya itu berakar dari pemikiran positivistik. Paham yang  memang dikenal sangat pragmatis dalam menjelaskan suatu fenomena. Comte pun memiliki paradigma fungsionalis dan ilmiah alamiah dalam menganalisis suatu peristiwa sosial. Paradigma yang hingga saat ini masih dominan dalam kajian-kajian ilmu sosiologi.

Salah satu contoh paradigma fungsionalis dan ilmiah alamiah pada pemikiran Comte, dapat kita pahami pada penjabarannya mengenai ‘hukum evolusi tiga tahap’. Comte menjelaskan bahwa ada tiga tahap perkembangan intelektual suatu masyarakat. Ketiga tahap yang saling berurutan tersebut adalah:

1. Tahap Teologis

Menurut Comte, tahap ini merupakan awal dari evolusi perkembangan intelektual masyarakat. Ditandai dengan bagaimana manusia menafsirkan setiap gejala alam maupun sosial yang terjadi di sekitarnya sebagai akibat atau pengaruh kekuatan supranatural. Kekuatan ini diyakini berasal dari roh gaib, dewa atau tuhan, sehingga lahirlah masyarakat berkarakteristik teologis. Masyarakat pada tahap pertama ini identik dengan masyarakat animisme, diamisma, politeisme, dan monoteisme.

2. Tahap Metafisika

Merupakan tahap selanjutnya manusia tidak terikat lagi pada kekuatan supranatural dalam menjawab fenomena yang terjadi. Manusia berupaya menggunakan kekuatan abstraksi atau akal pikiran dalam dirinya. Comte menyebutnya sebagai tahap metafisika karena manusia meyakini ada suatu kekuatan inti atau realitas tertentu yang belum bisa diungkapkan secara gamblang. Hal ini karena tidak adanya usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam dan konstan. Adapun masyarakat pada tahap metafisika identik dengan masyarakat filosofis. 

3. Tahap Positivisme

Adalah tahap terakhir yang dikemukakan oleh Comte dalam hukum evolusi tiga tahapnya. Pada tahap ini, manusia memiliki ilmu pengetahuan ilmiah berdasarkan gejala-gejala nyata dan kongkret (terukur dan teramati) tanpa dipengaruhi oleh pertimbangan teologis atau filosofis. Karenanya, tahap ini disebut juga tahap ilmu pengetahuan positif. Masyarakatnya identik dengan masyarakat modern.

Memang, bila kita cermati hukum evolusi tiga tahap dari Comte, pemikiran positivistik sangat terlihat. Hal ini pula yang membuat Comte mendapat gelar sebagai ‘Father of Positivism’. Mewarnai teori-teori sosiologi yang ia kemukakan dengan penekanan pada observasi dan metedo empirik dalam memperoleh pengetahuan ilmiah. Atas jasa Comte, Sosiologi menjadi ilmu yang setara dengan ilmu-ilmu alam (science).