Bahasa sebagai objek kajian telah menarik berbagai pakar dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Banyak pakar linguistik harus memperdalam pemahamnnya mengenai psikologi sehingga bahasa yang dikajinya akan semakin mendalam dan objek kajiannya akan menjadi lebih baik. Hal ini juga terjadi sebaliknya. Banyak juga pakar psikologi yang harus memperdalam pengetahuannya mengenai linguistik karena tertarik dengan kajian bahasa. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa dapat dikaji baik secara psikologi maupun secara linguistik. Hal itu menyebabkan psikolinguistik menjadikan bahasa sebagai objek kajiannya.

Berdasarkan sejarah perkembangannya, bahasa dahulunya hanya dipelajari oleh orang-orang tertentu yang berasal dari bidang bahasa juga. Kajian bahasa itu telah dimulai semenjak zaman Socrates dan Panini. Terdapat dua aliran yang kedepannya sangat berpengaruh terhadap perkembangan disiplin ilmu lingusitik dan psiklogi.

Pertama adalah aliran emprisme yang bersifat positivistic. Ini erat kaitan dan hubungannya dengan psikologi asosiasi. Aliran empirisme mengkaji bagian-bagian yang membentuk suatu benda sampai kebagian-bagiannya yang lebih kecil. Dasar kajiannya berasal dari faktor-faktor luar yang dapat langsung diamati. Aliran ini disebut juga bersifat atomistic dan sering dikaitkan dengan asosianisme dan positivisme.

Aliran kedua yaitu rasionalisme atau dikenal juga dengan filsafat kognitivisme dan cenderung mengkaji prinsip-prinsip akal yang bersifat batin dan faktor bakat atau pembawaan yang bertanggung jawab mengatur perilaku manusia. Bagi kaum rasionalisme akal merupakan suatu kesatuan utuh, dan menurut mereka untuk memahami perilaku manusia, akal dan batin sebagi faktor penentu yang penting. Aliran ini bersifat holistic dan berkaitan dengan nativisme, idealisme dan mentalisme.

Beberapa pakar linguistic yang tertarik mengkaji bahasa secara psikologi adalah Von Humbolt, Ferdinand de Saussure, Edward Spir, Leonard Bloomfield, Otto Jespersen dan masih banyak lainnya.

Von Humbolt ( 1767-1835) adalah ahli linguistik Jerman yang membandingkan antar bahasa dengan berbagai macam karakteristik penutur bahasa. Dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tata bahasa suatu bangsa menunjukkan pandangan hidup dari bangsa tersebut.  Dia dipengaruhi oleh aliran rasionalisme yang menganggap bahwa bahasa adalah bagian yang tidak dapat dipotong-potong atau diklasifikasikan seperti pandangan kaum empirisme.

Ferdinand de Saussure (1858-1913) memperkenalkan tiga istilah penting di dalam linguistik yaitu langue, langage dan parole. Langue dapat diartikan sebagai bahasa tertentu yang masih bersifat abstrak, sedangkan langage bermakna bahasa yang bersifat umum, dan parole merupakan tuturan secara konkret. Ia menegaskan bahwa kajian linguistik langue, dan parole merupakan kajian secara psikologi. Jadi menurut Saussure bahwa psikolinguistik merupakan disiplin ilmu yang tepat untuk mengkaji bahasa secara utuh.

Edward Said (1884-1939) mengkaji hubungan antara bahasa dengan pikiran. Antropologis asal Amerika ini berdasarkan kajiannya menyimpulkan bahwa bahasa terutama strukturnya merupakan unsur yang menentukan struktur pikiran manusia.

Otto Jespersen, seorang ahli linguistik Denmark terkenal telah menganalisis bahasa dari sudut pandang mentalisme dan yang sedikit berbau behaviorisme. Menurut Jespersen, bahasa bukanlah sebuah entitas dalam pengertian satu benda seperti seekor anjing atau seekor kuda. Bahasa merupakan satu fungsi manusia sebagai simbol di dalam otak manusia yang melambangkan pikiran atau membangkitkan pikiran.

Menurut Jespersen, berkomunikasi harus dilihat dari sudut perilaku (jadi, bersifat behavioris). Bahkan, satu kata pun dapat dibandingkan dengan satu kebiasaan tingkah laku, seperti halnya bila kita mengangkat topi.

Leonard Bloomfield (1887-1949) adalah seorang pakar linguistik yang berasal dari Amerika berpendapat bahwa peringkat berbahasa bermula daripada pengalaman yang luar biasa,terutamanya penjelmaan daripada tekanan emosi yang sangat kuat. Beliau menerapkan teori psikologi behaviorisme yang dikenali sebagai linguistik struktural atau linguistik taksonomi.

Selain itu juga terdapat beberapa ahli yang dasarnya memiliki latar belakang kajian psikologi, yang juga tertarik mengenai bahasa. Mereka adalah Karl Buchler, Wundt, Watson, John Dewey, Weiss, Titchener, Pillsbury dan Meader, Buhler, Caroll

Karl Buchler

Pakar psikologi Jerman ini dalam bukunya Sprach Theorie (1934) membahas mengenai bahasa manusia yang mempunyai tiga fungsi yang disebut dengan yang disebut Organon Modell der Saprch yaitu Kungabe (Ausdruck) Appell (Auslosung) dan Darstellung. Kungabe adalah tindakan komunikatif berwujud verbal. Appell adalah permintaan yang ditujukan kepada orang lain. Darstellung adalah penggambaran masalah pokok yang dikomunikasikan.

Wundt (1832-1920)

Ia dalah seorang ahli psikologi Jerman dan merupakan orang pertama yang mengembangkan bahasa secara sistematik. Wundt menyatakan bahwa bahasa adalah alat untuk melahirkan pikiran, dan ia juga dikenal sebagai pengembang teori performansi bahasa. Penyebab hal ini terjadi karena terdapat perasaan-perasaan serta gerak-gerak yang melahirkan bahasa secara tidak sadar.

Teori performansi bahasa yang dikembangkan Wundt itu didasarkan pada analisis psikologis yang dilakukannya. Analisis tersebut terdiri atas dua aspek, yakni (1) fenomena fisis yang terdiri atas produksi dan persepsi bunyi, dan (2) fenomena batin yang terdiri atas rentetan pikiran. analisa Wundt mengenai hubungan fenomena batin dan fisis bagi kajian psikologi juga bergantung dengan phenomena lingusikistik. oleh karena itu untuk memahai interaksi hubungan fenomena batin dan fisis dapat dipahami juga dipahami dengan dengan lebih baik melalui kajian struktur bahasa.

Watson (1878-1958)

Ia adalah ahli psikologi behaviorisme berkebangasaan Amerika. Ia meletakkan perilaku atau kegiatan berbahasa sama dengan perilaku yang lain seperti makan, bekerja, berjalan. Namun, kemudian Watson  telah menyamakan perilaku bahasa dengan teori Stimulus - Respons(S-R)yang dikembangkan oleh Pavlov.

John Dewey (1859-1952)

Ia merupakan psikolog kebangsaan Amerika yang menganut  aliran empirisme murni. Dia menafsirkan bahasa kanak-kanak berdasarkan prinsip-prinsip psikologi. Dewey menyarankan agar penggolongan kata-kata untuk anak-anak berdasarkan pada makna yang dipahami anak-anak.

Weiss

Tokoh ini mengakui adanya aspek mental dalam bahasa. Hanya saja, karena wujud bahasa tidak tampil secara fisik maka sukar dikaji dan diwujudkan kecuali jika bahasa berada pada konteks sosialnya. Weiss banyak berjasa bagi perkembangan awal psikolinguistik, beberapa masalah yang berhasil dipecahkan Weiss secara psikologi-bahasa menurut alirannya, yaitu behaviorisme, adalah:

  1. Bahasa merupakan satu kumpulan respons yang jumlahnya tidak terbatas terhadap suatu stimulus.
  2. Pada dasarnya, perilaku bahasa menyatukan anggota suatu masyarakat ke dalam organisasi gerak syaraf.
  3.  Perilaku bahasa adalah sebuah alat untuk mengubah dan meragamkan kegiatan seseorang sebagai hasil warisan dan hasil perolehan.
  4. Bahasa dapat merupakan stimulus terhadap suatu respons.
  5. Respons bahasa sebagai suatu stimulus pengganti untuk benda dan keadaan yang sebenarnya memungkinkan kita untuk memunculkan kembali suatu hal yang pernah terjadi, dan menganalisis kejadian ini dalam bagian-bagian.

Titchener

Ia adalah seorang ahli psikologi berkebangsaan Inggris yang menjadi warga negara Amerika. Titchener menggambarkan dan menyebarluaskan ide Wundt di Amerika Serikat yang kemudian terkenal dengan psikologi kesadaran atau psikologi introspeksi. Pengenalan dan penyebaran teori introspeksi itu kemudian telah mencetuskan satu revolusi psikologi di Amerika Serikat dengan berkembangnya teori behaviorisme, bahwa kesadaran telah disingkirkan dari psikologi dan dari kajian bahasa.

Pillsbury dan Meader, ahli psikologi mentalisme Amerika Serikat telah mencoba menganalisis bahasa dari sudut psikologi. Analisis kedua sarjana psikologi itu sangat baik ditinjau dari segi perkembangan neuropsikolinguistik dewasa ini.

Pillsbury dan Meader

Menurut Pillsbury dan Meader, bahasa adalah satu alat untuk menyampaikan pikiran, termasuk gagasan, dan perasaan. Mengenai perkembangan bahasa, Meader mengatakan bahwa manusia mula-mula berpikir kemudian mengungkapkan pikirannya itu dengan kata-kata dan terjemahan. Untuk memahaminya, diperlukan pengetahuan tentang bagaimana kata-kata mewujudkan dirinya pada kesadaran seseorang, bagaimana kata-kata itu dihubungkan dengan ide-ide jenis lain yang bukan verbal, juga bagaimana ide-ide itu muncul dan terwujud dalam bentuk gambaran, bagaimana gerakan ucapan itu dipicu oleh ide dan akhirnya bagaimana pendengar atau pembaca menerjemahkan kata-kata yang didengarnya atau kata-kata yang dilihatnya ke dalam pikirannya sendiri.

Tampaklah dalam pola pikir Meader itu terdapat keselarasan antara tujuan psikologi mental dengan tujuan linguistik seperti yang dikembangkan oleh Chomsky.

Buhler

Buhler adalah seorang ahli psikologi yang berasal dari Jerman. Ia menyatakan bahwa manusia mempunyai tiga fungsi yaitu ekspresi, evokasi, dan representasi. Buhler kurang seide dengan defenisi bahasa yang diberikan oleh Wundt, karena menurutnya hal tersebut agak berat sebelah. Menurut Buhler, ada lagi fungsi bahasa yang sangat berlainan yang tidak dapat dimasukkan ke dalam gerakan ekspresi, yaitu koordinasi atau penyelarasan. Jadi, satu nama dikoordinasikan (diselaraskan) dengan isi atau kandungan makna. secara tidak langsung mendefenisikan bahasa menurut fungsinya.

Caroll

Caroll adalah seorang ahli psikologi Amerika Serikat yang sekarang merupakan salah satu tokoh psikolinguistik modern. Caroll telah mencoba mengintegrasikan fakta-fakta yang ditemukan oleh linguistik murni seperti unit ucapan, keteraturan, kadar kejadian dengan teori psikologi pada tahun 40-an. Caroll juga mengembangkan teori simbolik yang menyatakan bahwa respon kebahasaan harus memainkan peranan terlebih dahulu dalam kedaan isyarat sehingga sesuatu menjelaskan sesuatu yang lain melalui perantara.

Dari nama-nama tokoh ahli linguistik dan psikologi di atas dapat diketahui bahwa para ahli tersebut telah merintis kerjasama antara ilmu psikologi dan linguistik. Awalnya kerjasama itu telah terjalin semenjak 1860, yaitu ketika Heyman Steinhal, seorang ahli psikologi bertukar menjadi ahli linguistik dan Moritz Lazarus seorang ahli linguistik bertukar menjadi ahli psikologi. Akhirnya mereka berdua menerbitkan jurnal yang khusus membahas psikologi bahasa dari sudut pandang psikologi maupun linguistik. Steinhal menyatakan ilmu psikologi tidaklah mungkin hidup tanpa ilmu bahasa.

Pada 1901, di Eropa, Albert Thumb seorang ahli linguistik telah bekerja sama dengan seorang ahli psikologi, Karl Marbe, untuk menerbitkan buku yaitu mengenai dasar-dasar Psikolinguistik. Buku ini kemudian dianggap sebagai buku psikolinguistik pertama yang menerbitkan, tentang penyelidikan eksperimental mengenai dasar-dasar psikologi, pembentukan analogi, pertuturan.

Kedua sarjana itu menggunakan kaidah-kaidah psikologi eksperimental untuk meneliti hipotesis-hipotesis linguistik. Hal itu menunjukkan kukuhnya disiplin psikolinguistik. Salah satu hipotesis yang mereka teliti kebenarannya adalah keadaan satu rangsangan kata yang cenderung berhubungan dengan satu kata lain apabila kedua-duanya termasuk ke dalam kategori yang sama; kata benda berhubungan dengan kata benda yang lain, kata sifat berhubungan dengan kata sifat yang lain.

Di Amerika Serikat usaha ke arah kerjasama secara langsung antara, ahli linguistik dan ahli psikologi dirintis oleh Social Science Researcb Council yang menganjurkan diadakannya seminar antara ahli psikologi dan linguistik secara bersama-sama. Osgood (ahli psikologi), Sebeok (ahli linguistik) dan Caroll (ahli psikologi) mengadakan seminar bersama-sama. Hasil dari seminar tersebut adalah terbitnya buku Psikolinguistik yang berjudul Psycholinguistic, a Survey of Theory and Research Problems pada 1954 yang disunting oleh Osgood dan Sebeok.

Meskipun demikian, nama disiplin baru Psikolinguistik itu muncul bukan karena seminar itu, karena sebenarnya Pronko pada 1946 telah memberikan ulasan tentang Psikolinguistik dengan teknik-teknik penyelidikannya. Psikolinguistik benar-benar dianggap sebagai ilmu disiplin baru yang tersendiri pada 1963, yaitu ketika Osgood menulis satu artikel dalam jurnal American Psychology yang berjudul On Understanding and Creating Sentences.

Dalam tulisan itu, Osgood menjelaskan teori baru dalam behaviorisme yang dikenal dengan neobehaviorisme yang dikembangkan oleh Mowrer, yakni seorang ahli psikologi yang sangat berminat untuk mengkaji bahasa. Pandangan Osgood itu kemudian terkenal dengan teori mediasi, yaitu suatu usaha mengkaji peristiwa batin yang menengahi stimulus dan respon yang dianggap oleh Skinner sebagai usaha untuk memperkukuh peranan akal ke dalam psikologi yang oleh kaurn behaviorisme dianggap tidak ilmiah karena peristiwa itu tidak dapat diamati secara langsung.

Teori Osgood yang disebut sebagai teori mediasi itu telah dikritik habis-habisan oleh Skinner yang menuduhnya sebagai pakar yang mencoba mempertahankan mentalisme yang sebelumnya telah disingkirkan oleh behaviorisme. Osgood merasakan kekuatan teorinya itu dengan dukungan Lenneberg. Lenneberg merupakan mahasiswa “produk pertama” yang digodok dalam kajian Psikolinguistik. Lenneberg berpendapat bahwa manusia memiliki kecenderungan biologis yang khusus untuk memperoleh bahasa yang tidak dimiliki oleh hewan. Alasan Lenneberg untuk membuktikan hal tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Terdapatnya pusat-pusat yang khas dalam otak manusia;
  2. Perkembangan bahasa yang sama bagi semua bayi;
  3. Kesukaran yang dialami untuk menghambat pertumbuhan bahasa pada dasar-dasar psikolinguistik manusia;
  4. Bahasa tidak mungkin diajarkan kepada makhluk lain;
  5. Bahasa itu memiliki kesemestaan bahasa (language universal).

Miller pada 1965 memastikan bahwa kelahiran disiplin baru Psikolinguistik tidak dapat dielakkan lagi. Menurut Miller, tugas Psikolinguistik adalah menguraikan proses psikologis yang terjadi apabila seseorang itu menggunakan kalimat. Karena salah satu kajian juga tidak mampu menjawab kebutuhan yang ada.

Pendapat Miller itu sangat berorientasi pada mentalisme Chomsky dan teori Lenneberg, sedangkan Osgood dan Sebeok masih berbau neobehaviorisme. Miller dengan tegas menolak pendapat Osgood dan Sebeok yang banyak mendasarkan pada prinsip mekanis pembelajaran menurut behaviorisme. Miller memperkenalkan teori linguistik Chomsky kepada pakar psikologi. Miller juga mengkritik pakar Psikologi yang terlalu mengandalkan kajian makna. Namun, perkembangan Psikolinguistik pada awal abad ke-20 itu memang masih didominasi oleh Psikologi Behaviorisme maupun Neobehaviorisme.

Teori psikolinguistik secara radikal setidak-tidaknya mengalami lima perubahan arah setelah berdiri sendiri sebagai disiplin ilmu pada tahun 50-an (Titone, 1981). Perubahan itu dapat disarikan sebagai berikut.

Periode 1

Selama tahun 50-an teori Psikolinguistik dipengaruhi oleh pandangan teori behavioristik seperti yang dikembangkan Skinner dan teori taksonomi struktural seperti yang dikembangkan Bloomfield.

Periode 2

Selama tahun 60-an dan awal tahun 70-an pandangan mentalistik kognitivis dari transformasionalis seperti Chomsky mendominasi semua aspek Psikolinguistik.

Periode 3

Perubahan tekanan pada periode ini menuju ke arah pragmatik komunikatif. Aspek bahasa dalam lingkaran teori transformasional secara mendalam masih mempengaruhi teori Psikolinguistik dan juga pengajaran bahasa kedua pada tahun 70-an.

Periode 4

Pada akhir dekade terakhir, pandangan Pragmatik atau Sosiolinguistik menjadi arus utama pada periode ini.

Periode 5

Pada tahun-tahun terakhir diusulkan model integratif yang terdiri atas komponen behavioral dan kognitif serta ciri kepribadian.

Rangkaian peristiwa yang terjadi pada tahun-tahun awal tercetusnya Psikolinguistik sebagai cabang ilmu baru telah mengantarkan kita semua pada teori tentang Psikolinguistik di masa kini. Hal ini tentu saja dapat menjadi acuan bagi kita semua dalam memahami dua bidang yang berbeda tetapi berkaitan, yaitu antara psikologi dan linguistik.