Dalam pragmatik, kita mengenal tindak tutur. Apakah itu? Tindak tutur adalah suatu tuturan atau ujaran yang merupakan satuan fungsional dalam komunikasi. Teori tindak tutur ini dikemukakan oleh dua orang filsafat yang bernama John Austin dan John Searle pada 1960-an. Teori mereka menyatakan bahwa setiap kali pembicara mengucakan suatu kalimat, maka sebenarnya ia sedang mengerjakan sesuatu dengan kata-kata dalam kalimat itu.

Jika seorang hakim memvonis seseorang dengan mengatakan, “dengan ini saya menghukum kamu dengan hukuman penjara selama tujuh tahun”, maka sang hakim sedang melakukan tindakan memberikan vonis atau menghukum terdakwa. Kata-kata yang diucapkan oleh hakim itu menandai dihukumnya terdakwa. Artinya, terdakwa tidak akan dihukum penjara jika tidak ada kata-kata sang hakim.

Tindak tutur terjadi karena fungsi bahasa adalah alat untuk menyampaikan pesan atau makna dari penutur kepada mitra tutur. Makna dalam komunikasi tersebut diungkapkan dalam kalimat-kalimat komunikatif yang memiliki dua kategoi berdasarkan maknanya, yakni kalimat perlakuan atau pernormative, dan kalimat pernyata atau constative.

Contoh kalimat perlakuan adalah.

  1. Dia berjanji masuk sekolah besok pagi
  2. Saya berikan kamu sanksi skors selama seminggu.

Baik kalimat 1 maupun 2 mengandung makna perlakuan. Kalimat 1, perlakuan yang dimaksud adalah ‘janji yang diucapkan untuk masuk sekolah pagi.’ Sementara, kalimat 2 adalah seseorang akan diberikan skors oleh ‘saya’ sebagai si penutur. Artinya, tanpa ada tuturan pemberian skors, seseorang itu atau ‘kamu’ tidak akan kena skors. Sementara, kalimat pernyata adalah kalimat untuk menyatakan kebenaran. Misalnya, Semarang adalah ibu kota Jawa Tengah.

Sementara itu, kata-kata yang diungkapkan oleh pembicara memiliki dua jenis makna sekaligus, yaitu makna proposisional atau makna lokusioner (locutionary meaning) dan makna ilokusioner (illocutionary meaning).

Makna proposisional adalah makna harfiah kata-kata yang terucap itu. Untuk memahami makna ini, pendengar cukup melakukan decoding terhadap kata-kata tersebut dengan bekal pengetahuan gramatikal dan kosa kata. Misalnya:

Saya mau makan.

Memiliki arti bahwa ‘saya’ ingin makan karena lapar.

Sementara, makna ilokusioner merupakan efek yang ditimbulkan oleh kata-kata yang diucapkan oleh pembicara kepada pendengar. Contoh kalimat sebelumnya, ‘Saya mau makan’. Menurut makna proposisional, pernyataan tersebut adalah pernyataan akan makan karena lapar. Namun, makna ilokuesionernya adalah agar ‘saya’ mengharapkan seseorang memberi ‘saya’ makan. Artinya, si penutur (saya) ingin si pendengar menyediakan makanan.

Contoh lain:

Baju itu bagus sekali.

Makna proposisionalnya adalah bahwa baju yang dimaksud si penutur memang bagus. Sementara, makna ilokusionernya adalah bahwa si penutur ingin si pendengar membelikan baju yang dimaksud.

Klasifikasi Tindak Tutur

Pengelompokkan tindak tutur terdiri dari tiga versi, yakni versi Austin, Searle, dan versi Leech. Apa saja? Berikut ini pemaparan lengkapnya:

Klasifikasi Tindak Tutur Austin

Menurut Austin mengucapkan sesuatu adalah melakukan sesuat. Mengingat bahasa atau tutur dapat dipakai untuk membuat kejadian karena pada umumnya ujaran yang merupakan tindak tutur mempunyai kekuatan-kekuatan. Austin membedakan atau mengklasifikasi tindak tutur menjadi tiga aspek yang dapat dipaparkan sebagai berikut.

  1. Kekuatan lokusi adalah makna dasar dan makna referensi (makna yang diacu) oleh ujaran itu. Misalnya, kata ‘tidur’ berarti bermakna ‘beristirahat jika kita kelelahan atau kecapaian’.
  2. Kekuatan ilokusi adalah kekuatan yang ditimbulkan oleh penggunaan ujaran itu sebagai perintah, ujian, ejekan, keluhan, janji, dan sebagainya. Misalnya ‘Ayo’ memiliki kekuatan mengajak.
  3. Kekuatan perlokusi adalah hasil atau efek dari ujaran itu terhadap pendengar (mitra tutur), baik yang nyata maupun yang diharapkan. Misalnya, ketika kita mendengar kata ‘ayo’, maka kita akan mengikuti si penutur.

Ketiga aspek di atas dapat dicontohkan dalam sebuah tuturan. Misalnya, seorang guru menyampaikan tuturan pada murid-muridnya di kelas kalau ulangan harian dimulai jam 10 pagi.

“Anak-Anak, ulangan harian akan dilaksanakan jam 10 pagi!”

Ilokusi kalimat itu adalah menginformasikan jika ada ulangan harian di jam 10 pagi. Sebagai ilokusi, tuturan itu berupa suruhan dari si penutur atau si guru, kepada anak-anak didiknya agar mempersiapkan diri dalam melakukan ulangan harian. Perlokusinya yakni, anak didik atau pendengar merespons ucapan si penutur. Misalnya, dengan menjawab, “baik, Pak Guru”, sambil mempersiapkan diri untuk melaksanakan ulangan harian.

Meski demikian, tindak tutur Austin ini menuai banyak kritik dari ahli bahasa lain. Klasifikasi yang disampaikan Austin terlalu abstrak dan membingungkan karena definisi tindak tutur yang diberikannya terlalu luas. Karena adanya berbagai kekurangan pada teori tindak tutur Austin, upaya-upaya untuk mengadakan klasifikasi secara lebih cermat telah banyak dilakukan para ahli tindak tutur.

Klasifikasi Tindak Tutur Searl

Teori tindak tutur yang yang dikembangkan Searle dipandang lebih nyata oleh beberapa ahli. Searle menggunakan ide-ide Austin sebagai dasar mengembangkan teori tindak tuturnya. Bagi Searle, semua komunikasi bahasa melibatkan tindak. Unit komunikasi bahasa tidak hanya didukung oleh simbol, kata atau kalimat, tetapi produksi simbol, kata, atau kalimat dalam mewujudkan tindak tutur. Namun, produksi kalimat yang berada pada kondisi-kondisi tertentu merupakan tindak tutur, dan tuturan merupakan unit-unit minimal komunikasi bahasa.

Jadi, berdasarkan pandangan tersebut, pada awalnya Searle membagi tindak tutur menjadi empat jenis, yakni:

  1. Tindak ujaran (utterance act), yaitu kegiatan menuturkan kata-kata sehingga unsur yang dituturkan berupa kata atau morfem. Contoh:

Baiklah.

Ya, sudah.

  1. Tindak proposisional (propositional act), yaitu tindak menuturkan kalimat. Contoh :

Aku kerja.

Aku belajar.

  1. Tindak ilokusi (Ilocutionary act), yaitu tindak menuturkan kalimat, tetapi sudah disertai disertai tanggung jawab penutur untuk melakukan suatu tindakan. Contoh:

Aku akan memberinya pelajaran.

Dia akan kupukul dengan kepalan tanganku.

  1. Tindakan perlokusi (perlocutionary act), yaitu tindak tutur yang menuntut mitra tutur untuk melakukan suatu tindakan tertentu. Contoh:

Tolong, ambilkan buku saya.

Silakan keluar dari ruangan ini.

Namun pada 1975, Searle mengembangkan teori tindak tuturnya dengan berpusat pada ilokusi. Pengembangan ini berdasarkan tujuan dari tindak dan dari pandangan penutur. Versi 1975 dari Searle ini sebagai berikut:

  1. Asertif (Assertives): Pada ilokusi ini, penutur terikat pada kebenaran proposisi yang     diungkapkan. Misalnya, menyatakan, mengusulkan, membuat, mengeluh,     mengemukakan pendapat, dan melaporkan. Dari segi sopan santun, ilokusi-ilokusi ini cenderung netral, yakni, termasuk kategori bekerja sama. Contoh:

Hari ini hujan.

Panas sekali ruangan ini.

  1. Direktif (Directives): Ilokusi ini bertujuan menghasilkan suatu efek berupa tindakan     yang dilakukan oleh penutur. Misalnya, memesan, memerintah, memohon, menuntut,     dan memberi nasihat. Jenis ilokusi ini sering dimasukkan ke dalam kategori kompetitif     karena juga mencakup kategori-kategori ilokusi yang membutuhkan sopan santun     negatif. Namun di pihak lain, terdapat juga ilokusi direktif (seperti mengundang) yang     secara intrinsik memang sopan. Agar ilokusi direktif tidak dikacaukan dengan ilokusi     langsung dan tak langsung (direct and indirect ilocutions) digunakan istilah impositif     (impositive) khususnya untuk mengacu pada ilokusi kompetitif dalam kategori direktif     ini. Contoh:

Tolong buatkan kopi.

Bantu saya angkat barang belanjaan ini.

Silakan duduk!

Sepertinya kamu harus membuat karya lukis yang lebih baik dari yang sekarang.

Tolong, ambilkan minum untuk anak saya.

  1. Komisif (Commissives): Pada ilokusi ini, penutur sedikit banyak terikat pada suatu tindakan di masa depan. Misalnya, menjanjikan, menawarkan. Jenis ilokusi ini menyenangkan dan kurang bersifat kompetitif karena tidak mengacu pada kepentingan penutur, tetapi pada kepentingan petutur (mitra tutur). Contoh:

Kalau ada lowongan kerja, akan saya beri tahu.

Saya akan beri pinjaman nanti.

  1. Ekspresif (Expressive): Fungsi ilokusi ini ialah mengungkap atau mengutarakan sikap     psikologis penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi. Misalnya  mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat, memberi maaf, mengecam, memuji, mengucapkan belasungkawa, dan sebagainya. Sebagaimana juga dengan ilokusi komisif, ilokusi ekspresif cenderung menyenangkan. Oleh karena itu, secara intrinsik, ilokusi ini sopan, kecuali tentunya ilokusi-ilokusi ekspresif seperti “mengecam” dan  “menuduh”. Contoh:

Lukisannya bagus sekali!

Aku belum pernah seterharu ini membaca novelmu.

Mahasiswi itu cantik sekali.

Makanan ini benar – benar lezat.

Hidungku bangir seperti orang India.

  1. Deklarasi (Declaration): Berhasilnya pelaksanaan ilokusi ini akan mengakibatkan adanya     kesesuaian antara isi proposisi dengan realitas. Misalnya: mengundurkan diri, membaptis, memecat, memberi nama, menjatuhkan hukuman, mengucilkan/membuang, mengangkat, dan sebagainya. Contoh:

Dengan ini Anda saya nyatakan lulus. (Kata-kata tersebut mengubah status seseorang dari keadaan belum lulus ke keadaan lulus).

Saya akan membuat kamu menjadi istri saya. (Kata-kata ini akan mengubah status seorang perempuan menjadi istri dari si penutur).

Saya akan menjadikan kamu karyawan tetap. (Kata – kata ini mengubah status si pendengar naik pangkat oleh deklarasi atasannya/ si penutur).

Klasifikasi Tindak Tutur Leech

Leech juga mengkritisi tindak tutur yang disampaikan Austin. Dia mempersoalkan penggunaan kata kerja tindak tutur Austin yang cenderung hanya melihat. Menurutnya, situasi berbeda menuntut adanya jenis-jenis kata kerja berbeda dan derajat sopan santun yang berbeda juga. Pada tingkat yang paling umum fungsi ilokusi dapat dibagi menjadi empat jenis. Hal ini sesuai dengan hubungan fungsi-fungsi tersebut dengan tujuan-tujuan sosial berupa pemeliharaan perilaku yang sopan dan terhormat. Klasifikasi ilokusi Leech dapat dipaparkan sebagai berikut.

  1. Kompetitif (Competitif), tujuan  ilokusi  bersaing  dengan  tujuan sosial. Misalnya,     memerintah, meminta, menuntut, mengemis. Contoh:

Saya perintahkan kamu untuk menyerahkan senjata api itu!

  1. Menyenangkan (convivial), tujuan ilokusi sejalan dengan tujuan sosial. Misalnya,     menawarkan/mengajak/mengundang, menyapa, mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat. Contoh:

Selamat, semoga kamu bisa membina keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah.

  1. Bekerja sama (collaborative), tujuan ilokusi tidak menghiraukan tujuan sosial. Misalnya,     menyatakan, melapor, mengumumkan, dan mengajarkan. Contoh :

Kemarin saya dikejar seekor anjing.

  1. Bertentangan (conflictive), tujuan ilokusi bertentangan dengan tujuan sosial. Misalnya,     mengancam, menuduh, menyumpahi, dan memarahi.

Bagaimana ini? Begitu saja tidak bisa kamu kerjakan.

Di antara keempat jenis tersebut, ilukosi yang melibatkan sopan santun ialah jenis pertama (kompetitif) dan jenis kedua (menyenangkan). Pada ilokusi yang berfungsi kompetitif, sopan santun mempunyai sifat negatif dan tujuannya ialah mengurangi ketidakharmonisan yang tersirat dalam kompetisi apa yang ingin dicapai oleh penutur dan apa yang yang dituntut oleh sopan santun.

Yang disebut tujuan-tujuan kompetitif ialah tujuan-tujuan yang pada dasarnya tidak bertata krama (discourteous), misalnya meminta pinjaman uang dengan nada memaksa. Di sini, tata krama dibedakan dengan sopan santun. Tata krama mengacu kepada tujuan, sedangkan sopan santun mengacu pada perilaku linguistik atau perilaku lainnya untuk mencapai tujuan itu. Oleh karena itu, prinsip sopan santun dibutuhkan untuk memperlembut sifat tidak sopan yang secara intrinsik terkandung dalam tujuan itu.