Kajian terhadap kawasan Timur Tengah telah lama menjadi perhatian pakar sejarah, ekonomi, ataupun politik. Kawasan ini menjanjikan nilai strategis di sisi geografis, geopolitis, maupun dari sisi ekonomi. Mengkaji Timur Tengah dari kondisi geografi, sosial, maupun ekonomi akan membuat kita semakin mengenali karakteristik Timur Tengah sebagai kekuatan baru dunia.
Penyebutan Timur Tengah (Middle East) merupakan penyematan dari negara-negara Barat, khususnya dari Inggris serta Amerika bersamaan dengan meletusnya Perang Dunia II (World War). Walaupun sebenarnya penyebutan ini tidak sesuai dengan letak geografisnya—negara-negara Timur Tengah sebagian terletak di Asia Barat Daya, sedangkan sisanya di Afrika Utara—namun hingga kini nama Timur Tengahlah yang paling populer dan digunakan oleh masyarakat dunia. Kondisi geografis, sosial, serta ekonomi Timur Tengah banyak menarik minat para ahli, karena nilai strategisnya yang tinggi.

Kondisi Geografis Timur Tengah

Kawasan Timur Tengah memiliki kekhususan dalam segi fisikal. Gurun, sahara, dan padang-padang sabana mendominasi kawasan yang terkenal kering, dan minim hujan ini. Luas dari kawasan Timur Tengah kurang lebih sekitar 5,3 juta mil persegi. Keunikan geografi Timur Tengah memiliki dinamika tersendiri, menarik untuk disimak.

Gurun Sahara yang masyhur terletak di Afrika Utara, membatasi gugusan pantai Mediterania di Mesir, dan sepanjang sungai Nil. Gurun Jazirah Arab terkenal dengan ketidakramahannya dan merupakan area yang tidak bersahabat bagi manusia. Sebutan Empty Quarter disematkan oleh orang-orang Barat, untuk menggambarkan sensasinya yang mengerikan. Gurun memang menjadi mozaik tersendiri bagi negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Beberapa kawasan di Timur Tengah cukup beruntung dengan curah hujan yang lebih tinggi dari kawasan lainnya, kawasan tersebut adalah daerah-daerah yang dekat dengan aliran sungai; Sungai Tigris, Sungai Eufrat, Sungai Yordan, Sungai Nil, memiliki daerah yang subur dan cocok bagi pertanian.

Pegunungan di kawasan Timur Tengah mampu mencapai ketinggian hingga 19.500 kaki. Ada beberapa pegunungan yang tertutup salju saat musim dingin, namun ada juga yang tropis dan hanya memiliki musim hujan, serta kemarau.

Proses distribusi air menjadi sebuah hal yang mutlak dan penting. Dengan teknologi yang tinggi serta pembangunan pipa-pipa air, maka air tawar dapat diolah dari air laut. Selat Gibraltar memudahkan pelayaran kapal-kapal niaga maupun pariwisata dengan menghubungkan antara Samudera Atlantik, dan Laut Mediterania. Sedangkan untuk menghubungkan antara Laut Mediterania dengan Laut Hitam dapat ditempuh melalui Selat Bosporus, dan Dardanellas, yang memiliki lebar hanya beberapa mil saja.

Selain itu, terusan lainnya yang menjadi alternatif jalan pintas pelayaran adalah Terusan Suez. Terusan Suez menghubungkan antara Laut Merah dengan Laut Mediterania, serta Bab El Mandeb—sebuah selat yang menghubungkan antara Laut Merah (Red Sea) serta Samudera Hindia (Hindian Ocean).

Sementara itu, iklim di kawasan Timur Tengah didominasi oleh tropis. Beberapa wilayah yang memiliki gurun, dan sahara memiliki curah hujan yang sedikit, hanya sekitar empat inchi per tahun. Suhu di daerah-daerah ini cenderung ekstrim. Sedangkan daerah yang terbentang di sepanjang Laut Mediterania, Laut Hitam, serta Laut Kaspia, cenderung lebih bersahabat karena air di lautan menjadi daya tawar tingginya suhu di sekitarnya.
Kondisi Sosial Timur Tengah

Lebih dari 358 juta orang tinggal di Timur Tengah. Penduduk Timur Tengah merupakan dinamisasi dari beberapa etnis, agama, dan edentitas nasional.

Etnis

Etnis Arab merupakan etnis yang paling mendominasi kawasan ini. Etnis Arab berada di semua negara Timur Tengah, kecuali negara Iran, Turki, dan  Suriah.

Pada mulanya istilah “Arab” mengacu kepada orang yang mendiami bagian utara dari Semenanjung Arab. Setelah adanya penyebaran di seluruh Timur Tengah, lalu masuk ke Eropa Selatan, dan kemudian Asia Selatan, maka istilah “Arab” mulai mengalami pergeseran makna. Seiring dengan penyebaran agama Islam, lewat kekutan kekhalifahan. Maka sebutan bagi orang Arab, adalah orang yang fasih, dan dapat berbicara dalam bahasa Arab. Hingga kini sebanyak 70 persen penduduk di Timur Tengah merupakan jenis etnis Arab.

Selain Arab, ada beberapa kelompok etnis lainnya yang mendiami Timur Tengah. Beberapa etnis lainnya adalah etnis Persia, Turki, dan Yahudi. Selain itu, etnis Kurdi yang mendiami Irak, Suriah, Iran, dan Turki juga termasuk di dalamnya.

Agama

Selain membincangkan etnis di Timur Tengah, agama merupakan hal yang tidak kalah penting. Sebagian besar penduduk Timur Tengah menganut agama Islam. Islam merupakan agama yang paling dominan di Timur Tengah. Hal ini tidaklah mengherankan karena pertumbuhan Islam terletak di Mekah, dan Madinah.

Lewat penyebaran agama yang ramah, dan dominasi kekutan ideologis, maka Islam pun diterima secara baik diseluruh kawasan timur Tengah. Namun, ada beberapa sekte yang dirasa cukup mengganggu bagi dominasi ini. Sekte Syiah adalah salah satunya. Konfrontasi Sunni dan Syiah sudah lama menjadi masalah tersendiri bagi beberapa negara di Timur Tengah. Seperti konflik bersenjata di Suriah, Irak, Lebanon, dan Iran.

Islam yang dipraktikkan di negara-negara Timur Tengah seperti Saudi Arabia, Iran, Irak, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Libanon, Yaman, Yordania, Palestina, Mesir, Oman, dan Turki.

Islam menjadi agama, dan sistem (pada beberapa hukum negara tertentu) selama berabad-abad lamanya. Islam menyebar jauh dan luas, melalui Asia, dan Afrika, juga pada sebagian benua Eropa. Penyebaran Islam inilah yang menyebabkan negara-negara yang bukan berada di Timur Tengah seperti Afghanistan, Pakistan, Bangladesh, Malaysia, dan Indonesia mayoritas penduduknya menganut agama Islam. Ada juga sejumlah besar muslim di negara-negara lain, seperti Filiphina, Cina, bekas Yugoslavia, Ethiopia, Nigeria, bahkan di beberapa negara di benua Eropa, demikian pula di Amerika.

Kondisi Ekonomi Timur Tengah

Penemuan cadangan minyak yang melimpah di Timur Tengah bertepatan dengan meningkatnya ketergantungan Barat pada minyak di awal abad 20. Hasil dari minyak telah menciptakan peluang besar bagi pembangunan di berbagai negara Timur Tengah, seperti Kerajaan Saudi Arabia, Republik Iran, Republik Irak, Kerajaan Kuwair, Uni Emirat Arab (UEA), Republik Aljazair, Daulah Qatar, dan Kerajaan Bahrain.

Perekonomian di Timur Tengah semakin dinamis saat sumber-sumber minyak banyak ditemukan dan dikembangkan. Para pekerja (buruh) bekerja keras dan memberikan kontribusi dalam peningkatan kesejahteraan di beberapa kawasan seperti Tepi Barat, Gaza, Mesir, dan Yordania.

Negara-negara bukan penghasil minyak pun juga ikut merasakan peningkatan ekonomi di Timur Tengah. Banyak pekerja dari negara-negara tersebut yang ikut merasakan booming ekonomi minyak ini. Menjadi guru, instruktur, ahli perminyakan, pekerja kontruksi, pekerja di ladang minyak lepas pantai, dan lain-lain. Kebanyakan pekerja ini datang dari negara-negara tetangga yang belum memiliki ladang-ladang minyak melimpah.

Hal ini membuat pertumbuhan ekonomi juga meningkat di negara-negara Timur Tengah yang bukan penghasil minyak. Negara-negara seperti Palestina, Mesir, Yordania, dan Yaman terangkat secara ekonomis pada jenjang yang lebih baik. Selain itu, bantuan juga dikucurkan oleh negara-negara penghasil minyak kepada negara-negara bukan penghasil minyak. Sebuah solidaritas yang patut diacungi jempol.

Ekonomi yang meningkat pesat di Timur Tengah menjadikan negara-negara di sana mengalami lonjakan prestasi sosial tinggi, seperti turunnya angka kematian bayi, harapan hidup meningkat lebih baik, pendidikan diselenggarakan secara profesional serta mengalami kenaikan substansial.

Kenaikan pertumbuhan ekonomi juga membuat beberapa kesenjangan antar negara-negara Timur Tengah. Pada beberapa negara penghasil minyak seperti Qatar, Bahrain, Saudi Arabia, dan Uni Emirat Arab, lonjakan ekonomi membuat negara-negara ini kaya raya. Bahkan pendapat per kepalanya jauh melebihi pendapatan penduduk di Eropa maupun Amerika. Namun, di sisi lain kesenjangan ini juga membuat negara miskin seperti Yaman, dan Yordania semakin terpuruk.

Pertumbuhan ekonomi tahun 1970-an dan awal 1980-an mengalami penurunan. Tepatnya pada tahun 1986, ketika harga minyak turun drastis dari $28 per barel pada Desember 1985 menjadi US $ 10 per barel pada Juli 1986. Penurunan harga adalah akibat dari kelebihan produksi minyak. Sehingga pendapatan ekspor minyak yang telah mendorong pertumbuhan dua dekade terakhir dikurangi secara drastis. Hal ini telah mengakibatkan penurunan pendapatan negara sehingga berpengaruh secara nasional maupun regional.

Dalam upaya untuk mengurangi ketergantungan negara dari pendapatan minyak, banyak negara di wilayah ini membuat upaya besar untuk mengembangkan kegiatan ekonomi alternatif. Upaya yang dilakukan untuk mengembangkan sektor-sektor seperti perbankan, pariwisata, manufaktur ringan, dan pertanian.

Ekonom kebanyakan memprediksi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan untuk Timur Tengah, meskipun tidak merata di seluruh wilayah. Tingkat pertumbuhan moderat ekonomi sekitar 3-5% diharapkan meskipun tingkat yang sebenarnya akan sangat tergantung pada hal-hal seperti fluktuasi harga minyak, tingkat investasi asing (saat ini rendah), efisiensi jumlah besar oleh negara-negara industri, dan dinamisasi pertumbuhan populasi penduduk.