Ibadah thawaf merupakan salah satu syarat wajib haji sehingga apabila ibadah ini tidak dilakukan, ibadah haji seseorang tidak bisa disebut sah. Secara harfiah, thawaf berarti berkeliling. Secara syar’iyyah, thawaf memiliki maksud mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali dengan niat thawaf karena Allah Swt. Di dalam rangkaian ibadah haji dan umroh, thawaf memiliki hukum wajib. Namun, di luar rangkaian ibadah haji dan umroh, thawaf hukumnya sunnah. Jadi, thawaf sunnah boleh dilakukan sewaktu-waktu asalkan dalam keadaan suci.

Melakukan thawaf bagaikan diajak untuk mengikuti perputaran waktu dan peredaran peristiwa namun tetap berdekatan dengan Allah Swt. Dengan menempatkan Allah Swt pada tempat yang semestinya, dan menjadikan diri sebagai hamba-Nya yang penuh taat dan tunduk kepada Yang Maha Agung.

Ka’bah merupakan simbol tempat berkumpul. Orang berkumpul di Ka’bah dalam rangka melakukan thawaf, bukan hanya berkumpul secara fisik. Akan tetapi, di sini roh dan jiwa juga bersatu menghadap dan menuju kepada Allah Swt. Dengan ber-thawaf, setiap orang hendaknya berkonsentrasi untuk berkomunikasi dengan Allah bukan dengan urusan duniawi.

Makna Ibadah Thawaf

Thawaf adalah salah satu rangkaian ibadah haji yang hanya bisa dilakukan di Baitullah, yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 putaran yang diawali dan diakhiri tepat pada garis Hajar Aswad. Berikut adalah makna yang terkandung di dalam rangkaian ibadah thawaf.

  • Gerakan berjalan berputar mengelelilingi Ka’bah pada thawaf memberi pesan maknawi sebagai gerakan berputar pada poros bumi yang paling awal dan paling dasar.
  • 7 kali putaran mengelilingi Ka’bah, memiliki arti maknawi sebagai jumlah hari yang dijalani oleh umat manusia dalam setiap minggu.
  • Lingkaran perputaran di pelataran Ka’bah merupakan arena pertemuan dengan Allah yang dikemukakan dengan do’a dan dzikir, yang selalu dikumandangkan selama mengelilingi Ka’bah.
  • Thawaf memberikan pengertian kepada kita tentang hakikat keberadaan Allah dan manusia sebagai makhluk-Nya, hubungan antara manusia dengan Pencipta dan kebergantungan manusia akan Tuhannya.
  • Inti perputaran thawaf dan pernyataan dalam thawaf merupakan acuan dalam kehidupan kita setiap hari yang diwakilkan dalam bentuk dzikir, do’a, tashbih, dsb yang harus dilakukan manusia setiap hari dan minggu, berulang terus, bagaikan putaran thawaf yang berjumlah tujuh.

Thawaf bukan hanya dilakukan oleh manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan Allah Swt, tetapi thawaf dilakukan juga oleh makhluk Allah lainnya, di antaranya adalah malaikat. Malaikat ber-thawaf mengelilingi arsy tanpa mengenal lelah.

Syarat Thawaf

Suci dari Hadast Besar dan Kecil

Sebelum melakukan thawaf, seorang jamaah harus menyucikan diri terlebih dahulu dari hadast besar dan kecil. Oleh karenanya bagi seorang jamaah haji perempuan yang sedang haid atau nifas, tidak diperkenankan baginya untuk thawaf sebagaimana larangan shalat bagi yang sedang haid atau nifas. Rasulullah Muhammad Saw bersabda yang artinya, “Laksanakanlah apa yang dilaksanakan oleh seorang yang haji, kecuali (satu hal) janganlah engkau thawaf di Baitullah sehingga engkau mandi bersih (dari haidh).” ( HR. Muttafaqun ’alaih)

Menutup Aurat

Thawaf harus dilaksanakan dengan menutup aurat. Bagi yang berihram tetap dalam pakaian ihramnya sedangkan thawaf sunnah dilakukan sebagaimana mestinya dengan tetap menutup aurat. Thawaf juga dilakukan di dalam Masjidil Haram sehingga kita tetap menghormatinya dengan menggunakan pakaian yang indah dan menutup aurat.

Allah Swt berfirman yang artinya :

"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid." (Al-A'raaf ayat 31)

Dilaksanakan di Luar Ka'bah

Allah Swt berfirman yang artinya:

"Dan hendaklah mereka melakukan thawaf di sekeliling rumah yang tua (Baitullah)." (Al-Hajj ayat 29)

Boleh Berbicara Asalkan Baik

Rasulullah Muhammad Saw bersabda yang artinya:

Dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi Saw bersabda, “Thawaf di (sekeliling) Baitullah adalah seperti shalat, melainkan kalian sewaktu thawaf boleh berbicara, maka barangsiapa yang berbicara pada waktu itu, janganlah berbicara, kecuali yang baik.” ( HR Tirmidzi , Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban , Sunar Darimi, Mustadrak Hakim dan Baihaqi ).

Tata Cara Pelaksanaan Thawaf

  • Bersuci dari hadats besar dan hadats kecil.
  • Niat thawaf cukup dengan membaca: “Bismlillahi Wallahu Akbar” sambil menghadap Hajar Aswad.
  • Mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali, Ka’bah selalu di sebelah kiri. Allah berfirman yang artinya: “Dan hendaklah mereka melakukan thawaf di sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)." (Al-Hajj ayat 29). Keterangan tentang pelaksanaannya seperti yang dikisahkan Ibnu Umar r.a yang artinya, Bagi pelaksanaan thawaf , bahwa Ka’bah selalu berada di sebelah kiri dikisahkan oleh Jabir ra. “Tatkala Rasulullah Saw tiba di Mekkah, beliau mendatangi Hajar Aswad lalu menjamahnya, kemudian berjalan di sebelah kanannya, lalu berlia lari-lari kecil tiga kali putaran (pertama) dan berjalan biasa empat kali putaran.”
  • Apabila tiba waktu sholat wajib, semua yang sedang menjalankan thawaf harus menghentikan thawafnya untuk mengikuti sholat jamaah. Thawaf diteruskan setelah selesai sholat sampai genap berjumlah 7 putaran.
  • Ketika melanjutkan thawaf, harus diawali pada posisi tepat ketika menghentikan thawaf. Lebih baik, apabila mundur beberapa langkah sebelum titik menghentikan thawaf.
  • Disunnahkan, ketika memulai thawaf, untuk menghadapkan sepenuh badan ke Ka’bah.
  • Disunnahkan untuk mengusap Rukun Yamani, jika tidak memungkinkan, cukup dengan mengecup tangan sambil menolehkan kepala melihat Rukun Yamani.
  • Disunnahkan setiap melewati Hajar Aswad, untuk mengecup tangan sambil menolehkan kepala melihat Hajar Aswad dan mengucapkan “Bismillahi Allahu Akbar.”
  • Disunnahkan untuk ramal (lari-lari) bagi pria pada putaran thawaf 1 sampai dengan 3, apabila situasi memungkinkan.
  • Selesai thawaf, melakukan sholat sunnah thawaf sebanyak 2 rakaat.
  • Shalat sunnah thawaf dilakukan di belakang Maqam Ibrahim, jika memungkinkan. Namun jika tidak memungkinkan, bisa dilakukan di mana saja.
  • Jika dalam keadaan tidak begitu ramai, thawaf bisa dimulai di dekat Hajar Aswad. Namun apabila Baitullah dalam keadaan sangat ramai, thawaf bisa dijalankan pada jarak yang agak jauh dari HajarAswad. Saat ini, di pelataran Ka’bah tidak ada garis lurus sebagai penanda dimulai atau diakhirinya rangkaian putaran thawaf, karena keberadaan garis ini justru dianggap telah menyebabkan orang berhenti beberapa saat yang justru menghambat arus thawaf jamaah lain. Sebuah lampu hijau telah disediakan di Masjidil Haram sebagai penanda dimulai atau diakhirinya rangkaian thawaf dari tempat yang agak jauh dari Ka’bah.
  • Setelah thawaf, disunnahkan meminum air zam-zam sambil berdoa mohon ampun dan doa-doa untuk kebaikan dunia dan akhirat.

Jenis-jenis Thawaf

  • Thawaf Qudum, dilakukan bagi haji ifrad atau haji qiran. Tidak perlu lagi sa’i pada waktu thawaf ifadah. Thawaf qudum juga dilakukan oleh orang yang baru tiba di Makkah sebagai penghormatan kepada Ka’bah.
  • Thawaf rukun, yaitu thawaf ifadah dan thawaf umroh.
  • Thawaf ifadah merupakan thawaf rukun haji bagi haji Tamattu’, haji Ifrad atau haji Qiran yang belum sa’i pada waktu thawaf qudum. Sedangkan thawaf umroh merupakan thawaf yang diikuti dengan sa’i.
  • Thawaf sunnah, merupakan thawaf yang dilakukan kapanpun kita mau ketika berada di Ka’bah. Thawaf sunnah biasanya tidak diikuti dengan sa’i, dan mengenakan pakaian biasa (bukan pakaian ihram).
  • Thawaf wada’, merupakan thawaf wajib yang dilakukan oleh para jamaah haji atau umroh ketika akan meninggalkan Kota Makkah. Thawaf wada’ dilakukan setelah selesai melaksanakan ibadah haji atau umroh.  

Nah, itulah info seputar thawaf. Semoga bermanfaat!