Kerajaan Ternate dan Tidore secara geografis terletak di Kepulauan Maluku, antara Pulau Sulawesi dan Papua,  terletak sangat strategis dan merupakan tempat penting dalam dunia perdagangan di masa itu. Pada waktu itu, Kepulauan Maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbesar di dunia sehingga mendapat julukan sebagai “The Spicy Island”. Rempah-rempah tersebut menjadi komoditi utama dalam dunia pelayaran dan perdagangan pada abad 15 hingga 17. Rempah-rempah yang menjadi komoditi utama pada saat itu. Keadaan seperti ini, telah mempengaruhi aspek-aspek kehidupan masyarakatnya, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Dan setiap pedagang maupun bangsa-bangsa yang lain yang akan hadir datang dan bertujuan ke sana, melewati rute perdagangan tersebut dan Islam meluas ke Maluku, seperti Ambon, Ternate, dan Tidore. Demi kepentingan penguasaan perdagangan rempah-rempah tersebut, maka mendorong terbentuknya persekutuan daerah-daerah di Maluku Utara yang disebut dengan Ulilima dan Ulisiwa. Ulilima artinya persekutuan lima bersaudara yang dipimpin oleh Ternate yang terdiri dari Ternate, Obi, Bacan, Seram dan Ambon.

Sementara itu, Ulisiwa artinya persekutuan sembilan bersaudara yang terdiri dari Tidore. Antara persekutuan Ulilima dan Ulisiwa tersebut terjadi persaingan. Persaingan tersebut semakin nyata setelah datangnya bangsa Barat ke Kepulauan Maluku. Bangsa barat yang pertama kali datang adalah Portugis yang akhirnya bersekutu dengan Ternate pada 1512. Karena persekutuan tersebut, Portugis diperbolehkan mendirikan benteng di Ternate.

Bangsa Barat selanjutnya yang datang ke Maluku adalah bangsa Spanyol, sedangkan Spanyol sendiri bermusuhan dengan Portugis. Akhirnya, kehadiran Spanyol di Maluku  bersekutu dengan Tidore. Akibat persekutuan tersebut, persaingan antara Ternate dengan Tidore semakin runcing yang menyebabkan terjadinya peperangan antara keduanya yang melibatkan Spanyol dan Portugis.

Karena letak Kerajaan Ternate dan Tidore yang strategis menyebabkan keduanya menjadi incaran para pedagang karena Maluku kaya akan rempah-rempah. Kerajaan Ternate cepat berkembang berkat hasil rempah-rempah terutama cengkih. Maluku sebagai daerah kepulauan merupakan daerah yang subur terkenal sebagai penghasil rempah terbesar.

Untuk itu, sebagai dampaknya banyak pedagang-pedagang yang datang ke Maluku untuk membeli rempah-rempah tersebut. Di antara pedagang-pedagang tersebut terdapat pedagang-pedagang yang sudah memeluk agama Islam sehingga secara tidak langsung Islam masuk ke Maluku melalui perdagangan dan selanjutnya Islam disebarkan oleh para mubaligh salah satunya dari Jawa.

Jalur perdagangan yang terbentang antara pusat lalu lintas internasional di Malaka, Jawa, dan Maluku. Menurut tradisi setempat, sejak abad 14, Islam yang sudah masuk ke daerah Maluku. Raja Ternate ke-12, Molomateya (1350 – 1357) bersahabat karib dengan orang Arab yang memberi petunjuk cara-cara membuat kapal. Raja yang benar-benar memeluk Islam adalah Zainal Abidin memimpin mulai 1486 sampai dengan 1500. Ia mendapat ajaran Islam dari Sunan Giri.

Kekuasaan Kerajaan Ternate dan Tidore mencakup pulau-pulau yang ada di sekitarnya. Banyak sekali usaha-usaha yang dilakukan Portugis untuk menguasai perdagangan di Maluku. Untuk bisa mencapai tujuan tersebut itulah Portugis melaksanakan politik adu domba antara Kerajaan Ternate dan Tidore. Portugis mendirikan benteng di Maluku sambil menanamkan kekuasaannya di Maluku. Begitu pula bangsa Spanyol memihak Tidore akhirnya terjadilah peperangan antara keduanya yang melibatkan Spanyol dan Portugis.

Dalam peperangan tersebut Tidore dapat dikalahkan oleh Ternate yang dibantu oleh Portugis. Keterlibatan Spanyol dan Portugis pada perang antara Kerajaan Ternate dan Tidore, pada dasarnya bermula dari persaingan untuk mencari pusat rempah-rempah. Oleh karena itu, sebagai akibatnya Paus ikut turun tangan untuk membantu kedua bangsa ini, guna menyelesaikan permasalahan ini. Paus akhirnya membuat keputusan turun tangan dan menciptakan Perjanjian Saragosa.

Dalam perjanjian tersebut bangsa Spanyol harus meninggalkan Maluku dan pindah ke Filipina, sedangkan Portugis tetap berada di Maluku. Akibat dari Perjanjian Saragosa bagi rakyat Maluku adalah Maluku dikuasai oleh Portugis. Perdagangan Maluku dimonopoli oleh Portugis. Rakyat Maluku mengalami kesengsaraan. Rakyat Maluku mengangkat senjata melawan Portugis.

Sultan Hairun

Pada masa pemerintahan Sultan Hairun, kuas wilayah kekuasaan Kerajaan Ternate meluas sampai ke Filipina. Portugis mendirikan sebuah benteng yang diberi nama Benteng Santo Paulo, untuk dapat memperkuat kedudukannya di Ternate. Namun, tindakan Portugis semakin lama dibenci oleh rakyat dan para pejabat Kerajaan Ternate. Oleh karena itu, Sultan Hairun secara terang-terangan menentang politik monopoli dari bangsa Portugis.

Di lain pihak, ternyata bangsa Eropa itu bukan hanya berdagang tetapi juga berusaha menyebarkan ajaran agama mereka. Penyebaran agama ini mendapat tantangan dari Raja Ternate, Sultan Hairun (1550 – 1570). Ketika diajak berunding oleh Belanda di Benteng Sao Paulo, Sultan Hairun dibunuh oleh Portugis.

Sultan Baabullah

Sultan Hairun kemudian digantikan oleh Sultan Baabullah (1570-1583). Pada masa pemerintahannya, Portugis berhasil diusir dari Ternate. Keberhasilan itu tidak terlepas dari bantuan Sultan Tidore. Sultan Baabullah (Putra Sultan Hairun) bangkit menentang Portugis. Pada 1575 M, Portugis dapat dikalahkan dan meninggalkan benteng. Sementara itu, Kerajaan Tidore mengalami kemajuan pada masa pemerintahan Sultan Nuku. Sultan Nuku berhasil memperluas pengaruh Tidore sampai ke Halmahera, Seram, bahkan Kai di selatan dan Misol di Papua.

Kehidupan ekonomi  masyarakat Ternate dan Tidore ditunjang dari tanah di Kepulauan Maluku yang begitu subur serta diliputi banyak hutan rimba yang memberikan hasil di antaranya cengkeh dan di Kepulauan Banda banyak menghasilkan pala. Pada abad 12 M, permintaan rempah-rempah meningkat sehingga cengkeh merupakan komoditi yang penting. Pesatnya perkembangan perdagangan keluar dari Maluku mengakibatkan terbentuknya persekutuan.

Selain itu, mata pencarian perikanan turut mendukung perekonomian masyarakat Ternate dan Tidore. Eropa merupakan konsumen rempah-rempah terbanyak, cuaca yang dingin mengharuskan mereka mencari sumber rempah-rempah berada. Selain untuk tujuan mencari kebutuhan, bangsa Eropa juga ingin menguasai perdagangan karena harganya akan jauh lebih murah bila langsung dibeli di tempat asalnya. Sementara, kehidupan sosial masyarakat Ternate dan Tidore pada saat kedatangan bangsa Portugis di kepulauan Maluku, selain bertujuan untuk menjalin perdagangan dan mendapatkan rempah-rempah, bangsa Portugis juga ingin mengembangkan agama Katholik.

Pada 1534 M, agama Katholik telah mempunyai pijakan yang kuat di Halmahera, Ternate, dan Ambon, berkat kegiatan Fransiskus Xaverius. Seperti sudah diketahui, bahwa sebagian dari daerah Maluku terutama Ternate sebagai pusatnya, sesudah masuknya agama Islam. Oleh karena itu, tidak jarang perbedaan agama ini dimanfaatkan oleh orang-orang Portugis untuk memancing pertentangan antara para pemeluk agama itu.

Dan bila pertentangan sudah terjadi, maka pertentangan akan diperuncing lagi dengan campur tangannya orang-orang Portugis dalam bidang pemerintahan sehingga seakan-akan merekalah yang berkuasa. Setelah masuknya bangsa Belanda di Maluku, semua orang yang sudah memeluk agama Katholik harus berganti agama menjadi Protestan. Hal ini menimbulkan masalah-masalah sosial yang sangat besar dalam kehidupan rakyat dan semakin tertekannya kehidupan rakyat.

Keadaan ini menimbulkan amarah yang luar biasa dari rakyat Maluku kepada kompeni Belanda. Di bawah pimpinan Sultan Ternate, perang umum berkobar, namun perlawanan tersebut dapat dipadamkan oleh kompeni Belanda. Penggambaran tentang kehidupan rakyat Maluku pada zaman kompeni Belanda sangat memprihatinkan.

Persentuhan wilayah Maluku dengan budaya-budaya Islam dapat dilihat dengan adanya bukti-bukti peninggalan budaya Islam pada awal persentuhannya hingga masa berkembangnya sebagai agama resmi Kerajaan Ternate dan Tidore. Selain Ternate dan Tidore wilayah lain seperti Bacan dan Jailolo, banyak kita lihat bukti-bukti peninggalan Kerajaan Islam seperti Masjid Kuno, Alquran Kuno dan berbagai peninggalan lainnya.

Hal ini membuktikan bahwa pengaruh budaya Islam di wilayah itu sangat kuat. Atau dapat dikatakan bahwa wilayah Ternate dan Tidore serta Jailolo dan Bacan adalah wilayah-wilayah pusat  peradaban Islam. Pada abad 15 - 16 Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo di Maluku Utara adalah wilayah-wilayah pusat Kerajaan Islam yang pengaruhnya menyebar ke seluruh wilayah Kepulauan Maluku, bahkan hingga ke sebelah barat dan timurnya.