Abrams merupakan salah satu pencipta teori sastra yang sangat berpengaruh, dalam bukunya The Mirror and The Lamb dia menjelaskan definisi-definisi yang berkaitan dengan istilah kesusastraan, oleh karena itu bukunya menjadi salah satu pegangan wajib bagi para penelaah sastra. Selain menjadi wejangan dasar bagi para penelaah sastra, dalam bukunya Abrams juga mengklasifikasikan teori sastra menjadi empat kelompok, yakni: objective theory, mimetic, espresif, dan pragmatik.

Keempat landasan teori yang dikemukakan oleh abrams tersebut, wajib diketahui oleh setiap penelaah sastra. Untuk itu, kita akan melihat penjelasan setiap kelompok teori sastra yang diusung oleh Abrams agar mendapatkan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai penganalisisan karya sastra.

Objective Theory

Objective theory dalam penganalisasisan karya sastra terkait dengan pembacaan mendetail sebuah karya sastra tanpa melihat hubungan karya sastra tersebut dengan dunia sekitarnya. Teori ini melihat unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam sebuah karya sastra yang berhubungan antara satu dengan lainnya membentuk satu kesatuan. Jika diartikan secara general,  objective theory melihat hubungan antara sastra dengan karya itu sendiri.

New criticism merupakan salah satu pendekatan yang tergolong ke dalam objective theory, karena di dalam new criticism para penelahan sastra dituntut untuk melihat karya sastra sebagai karya itu sendiri. Teori ini melihat bahwa tidak ada hubungannya antara karya sastra dengan alam semesta, pengarang, dan pembacanya. Sastra adalah sastra yang berdiri sendiri dan terlepas dari aspek-aspek ekstnsik. Dalam penggaplikasian teori objektif ini, kita seringkali mengaitkan pandangan objektif ini ke dalam istilah “The Dead of Author” atau matinya penulis, yang dimaksudkan sebagai penegasan bahwa tidak ada hubungan apapun antara karya satra dan pengarang dan lingkungan sekitarnya.

Dalam new criticism, sastra adalah autonomus, yang terlepas dari akpek-aspek luar yang mempengaruhinya. Sastra dipercaya memiliki keutuhan utama/central unity yang harus ditemukan oleh setiap penikmat karya sastra baik dengan mengintrepertasikan apa yang ada di dalam teks atau dengan melihat kontribusi dari bagian-bagian karya sastra yang berperan dalam keutuhan sebuah karya sastra. Topik utama yang menjadi fokus dari teori new criticism adalah tema yang tidak hanya harus dijelaskan masudnya, tetapi juga dilihat tone/nada yang digunakan dalam karya sastra tersebut.

Pendekatan new critisicm ini membutuhkan proses pembacaan yang mendetail, karena pendekatan ini lebih menitikberatkan fokus analisis pada aspek-aspek linguistik. Dalam penggunaan teori ini, si penganalisis memungkinkan untuk melakuan pendekatan-pendekatan perkata, siyntax, dan penggambaran yang terdapat dalam karya sastra tersebut. Dengan pendekatan yang dilakukan kita akan tau apa-apa saja ironi dan paradoks yang terdapat dalam karya sastra tersebut. Tidak hanya itu pendekatan ini juga memugkinkan kita untuk mengetahui tekanan-tekanan yang digambarkan dalam karya sastra

Mimetic Theory

Teori mimetik, merupakan pendekatan teori kedua yang dirangkum oleh abrams dalam bukunya The Mirrior and The Lamb. Berbeda dengan objektif teori yang melihat karya sastra sebagai karya itu sendiri, maka mimetik teori menjelaskan bahwa karya sastra tidak pernah lepas dari aspek-aspek luar yang mempengaruhi karya sastra terutama keadaan sosial yang mempengaruhi pembuatan karya sastra tersebut. Teori mimetik ini disebut sebagai salah satu teori yang paling purba dalam analisis karya sastra, karena teori yang mengakar dari prinsip prinsip Plato dan Aristoteles ini merupakan teori yang paling tua di antara teori-teori sastra yang lain .

Teori mimetik ini lahir ketika para kritikus sastra menyadari bahwa kebanyakan karya sastra berasal dari unsur-unsur ekstrinsik, dengan kata lain unsur-unsur ekstrinsiklah yang memicu munculnya sebuah karya sastra. Yang dimaksudkan dengan teori mimetik di sini bukanlah menjelaskan bahwa karya sastra merupakan kejadian nyata, namun sastra lebih bersifat menirukan apa yang berkemungkinan terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh pengaplikasian teori mimetik yang paling dekat yang berada di sekitar kita adalah puisi Jawa Kuno yang pembentukannya menirikukan keindahan alam sekitarnya. Perkembangan sastra mimetik ini tidak hanya sampai di situ saja, sastra juga merupakan alat untuk merepresentasikan kehidupan dan aktivitas manusia seperti yang dijelaskan oleh para pakar sosiologi dan marxist sastra. Kritikus sosiologi sastra melihat bahwa karya sastra tidak pernah lepas dengan faktor-faktor dan keadaan sosial tempat karya sastra tersebut dihasilkan, kritikus marxixst juga beranggapan serupa, namun teori marxist lebih sering dihindari karena dapat berkaitan dengan kegiatan kegiatan politik tertentu.

Teori Ekspresif

Jika teori mimetik melihat bahwa karya sastra menupakan bentuk peniruan alam semesta, maka pada terori ekspresif sastra lebih dekat hubungannya dengan kajian biografis. Sastra dinilai tidak pernah lepas dari manifesto si pengarang. Dalam karya sastra, penulis tidak hanya mengekspressikan perasaan yang dimilikinya tetapi juga memberikan ide dan pandangannya terhadap masalah tertentu.

Meskipun teori ekspresif ini lebih cenderung dekat dengan pengkajian biografi, namun keduanya tidaklah sama. Dalam pengkajian biografi fokus utama penganalisisan adalah diri si pengarang, sedangkan dalam teori ekspresif yang menjadi fokus kajian tidak hanya berupa diri si pengarang itu saja, tetapi juga ide-ide, pikiran, perasaan, dan ciptaan dari si pengarang.

Teori ekspresif ini memungkinkan untuk dikolaborasikan dengan teori-teori yang lain, seperti contoh penganalisisan karya-karya yang bersifat postcolonial terutama yang terfokus dengan studi orientalisme. Kita dapat melihat karya sastra sebagai alat dari si pengarang untuk menyampaikan ide-ide colonialnya, dengan melihat hubungan antara karya sastra, niai-nilai colonialisme, dan pemikiran-pemikiran dari si pengarang.

Dengan adanya teori ekspresif ini, maka terbantahlah asumsi bahwa karya sastra tidak dipengaruhi oleh aspek-aspek ekstrinsik yang meliputi keadaan sosial dan latar belakang dari si pengarang. Pengarang memegang peranan penuh terhadap karya yang dibuatnya, seningga pengarang bisa dengan mudah menambahkan nilai-nilai yang ada pada dirinya yang kemudian disampaikan kepada para pembaca lewat karya sastra yang dihasilkannya.

Teori Pragramtik

Setalah pada teori ekspresif kita melihat hubungan antara karya sastra dengan penulisnya, maka pada teori pragmatik kita akan melihat bagaimana hubungan antara sebuah karya sastra dengan para pembacanya. Penggunaan teori ini berfungsi untuk melihat peranan pembaca dalam sebuah karya sastra, dengan penggunaan teori resepsi sebagai salah satu pendekatannya. dengan terbentuknya teori pragmatis ini, maka terbentuklah fungsi-fungsi baru dari pembaca, yang tidak lagi bersifat sebagai pihak yang passif.

Penggunaan teori pragmatis dalam penganalisisan karya sastra dapat membantu kita dalam menentukan apa-apa saja fungsi karya sastra dalam kehidupan masyarakat, bagaimana penyebaran dan perluasan karya sastra tersebut, serta manfaat yang hasilkan oleh karya sastra dalam tatanan kehidupan masyarakat. Selain itu teori pragmatik juga melihat apa saja tujuan dari pengarang dan karakter dalam karya sastra guna memenuhi keinginan para pembacanya. Teori pragmatik juga memungkinkan para kritikus untuk melihat bagaimana tanggapan suatu masyarakat terhadap suatu karya sastra, serta melihat implikasi-implikasi pada pembacanya.

Keempat teori yang diusung oleh Abrams yang meliputi teori objektif, mimesis, pragmatik dan ekspresif merupakan empat teori dasar yang digunakan untuk menganalisis karya sastra. Masing-masing teori memiliki pendekatan yang berbeda-beda, jika teori objektif lebih melihat karya sastra sebagai karya itu sendiri maka mimesis melihat sastra tidak hanya sebagai sebuah karya saja tetapi juga sebagai representasi atau peniruan terhadap alam semesta. Jika teori ekspressif yang melihat karya sastra sebagai alat penyampaian ide-ide dari si pengarang, maka teori pragmatik lebih menekankan hubungan antara karya sastra dengan para pembacanya. Keempat teori tersebut kemudian berkembang menjadi topik topik yang lebih kecil yang terfokus pada satu pembahasan saja.