Rene Welek dan Austin Waren adalah kritikus sastra berikutnya yang juga turut andil dalam perkembangan teori kesusastraan dunia, teori yang mereka kemukakan dalam buku Theory of Literature kemudian menjadi salah satu bacaan wajib para peneliti sastra. Dalam penelitian kesusastraan Indonesia sendiri, kita juga masih mengacu kepada pandangan kedua kritikus sastra dunia ini. Memang merupakan suatu tuntutan bagi kita para peneliti sastra untuk memahami teori kesusastraan yang diajukan oleh Rene Welek dan Austen Waren guna mendapatkan pemahaman yang komplit mengenai apa apa yang terkandung dalam teori kesusastraan.

Dalam pembahasan berikutnya, kita akan membahas kerangka pembagian teori kesusastraan yang telah diciptakan oleh Rene Wellek dan Austen Warren dan dirangkum dalam bukunya Theory of Literature. Selain itu, kita juga akan melihat apa-apa saja studi sastra dengan pendekatan ekstrinsik dan intrinsik yang menjadi acuan penelitian kesusastraan dunia yang juga terangkum dalam buku yang telah membesarkan nama kedua kritikus sastra tersebut.

Pada bagian bab pertama buku Theory of Literature, Wellek dan Waren memulai perbincangan mereka dengan melihat definisi dan batasan-batasan dari penelitian karya sastra. Dalam bukunya tersebut mereka dengan jelas membedakan apa yang dimaksud dengan sastra dan studi sastra. Sastra menurut wellek adalah sebuah bentuk kegiatan seni yang kreatif, sedangkan studi sastra adalah cabang ilmu yang mempelajari bagaimana sastra itu sebenarnya.

Selain membedakan antara sastra dengan studi sastra, berikutnya mereka juga membagi teori kesusastraan menjadi 3 kategori kesusastraan dasar yang menjadi pokok utama pemikiran Wellek dan Warren. Terdapat tiga poin utama pemikiran yang merupakan inti dari penjabaran Wellek dan Warren, yakni membedakan tiga aspek kesusastraan yang seringkali dianggap sama oleh para peneliti sastra yang meliputi teori, kritik, dan sejarah sastra. Berikut kita akan membahas lebih lanjut pembagian 3 kelompok dasar kesusastraan yang diusung oleh Rene Wellek dan Austen Waren ini.

1. Teori

Teori sastra merupakan studi mengenai prinsip, kategori, dan kriteria sastra. Teori dalam penelitian sastra berfungsi sebagai alat untuk menganalisis karya sastra yang akan diteliti, apakah dengan menggunakan teori psikologi sastra, strukturalisme, atau teori kesusastraan lainnya. Teori sastra menjadi patokan kita dalam melakukan penelitian, karena teori sastralah yang menjadi aspek pembuktian dan pendukung mengenai argumen-argumen yang kita berikan dalam penelitian sastra yang akan dilakukan. Jika ditarik garis besar, teori kesusastraan lahir setelah adanya konsep, sedangkan metode atau pendekatan kesusastraan lahir setelah adanya teori sastra.

2. Kritik

Kritik sastra dalam penelitian kesusastraan, berkaitan dengan kegiatan kita menganalisis karya tersebut dan memberikan nilai terhadap karya yang telah kita teliti. Jika teori kesusastraan diibaratkan seperti pisau dan karya sastra sebagai kue, maka kritik sastra adalah proses di mana kita memotong-motong kue tersebut, kemudian menganalisisnya dan memberikan nilai terhadap karya sastra itu sendiri. Apakah bahan-bahannya kemudian dinilai bagus, kurang memadai atau bahkan buruk. Dalam kritik sastra, pemberian nilai terhadap karya merupakan kunci dari proses penelitian tersebut.

Para peneliti sastra seringkali terkecoh, ketika menemukan istilah yang ada pada teori sastra, hal itu juga seringkali ditemukan dalam kritik sastra. Bahkan, tidak jarang di antara mereka yang beranggapan bahwa teori dan kritik sastra adalah dua hal yang sama dan tidak ada bedanya. Namun sebagai peneliti sastra, hendaknya kita dapat membedakan antara dua kelompok tersebut. Dalam bukunya, Wellek dan Warren memberikan istilah pembeda antara teori sastra dan kritik sastra sebagai berikut “Aristoteles sebagai teoritikus sedangkan Sainte-Beuve sebagai seorang kritikus”. Dengan membedakan kedua kelompok tersebut, semoga kita dapat memahami karya sastra dengan lebih rinci dan mendalam.

3. Sejarah sastra

Seperti namanya, sejarah sastra memang dibentuk untuk mempelajari bagaimana kesejarahan dari keusastraan tersebut. Teori, kritik, dan sejarah sastra merupakan aspek-aspek yang tidak dapat dipisahkan, keberadaan mereka cenderung mirip antara satu dengan lainnya. Namun, bukan berarti kemiripan mereka bisa menjadikan mereka berada pada kelompok yang sama, karena pada dasarnya masing masing dari mereka berdiri di atas konsep yang jauh berbeda.

Ketiga komponen kesusastraan tersebut merupakan ide pokok dari penelaahan karya sastra. Meskipun terkesan sederhana, namun seringkali peneliti sastra salah mengerti mengenai konsep-konsep yang diamini oleh Rene Wellek dan Auten Warren tersebut. Tidak ada salahnya jika peneliti sastra terlebih dahulu memahami kosep-konsep kesusastraan yang diusung oleh Warren dan Wellek ini sebelum memutuskan untuk melakukan penelitian, agar ketika waktu untuk melakukan analisis data telah datang, Anda tidak perlu bingung memutuskan metode apa yang akan Anda gunakan dalam penelitian, teori apa, dan bagaimana Anda memberikan penilaian terhadap karya sastra tersebut, dan sebagainya.

Studi Kesusastraan dengan Menggunakan Pendekatan Ekstrinsik

Bab selanjutnya yang dibahas dalam buku karya Wellek dan Warren ini adalah studi kesusastraan dengan penggunaan pendekatan ekstrinsik. Aspek-aspek yang terdapat dari karya sastra meliputi faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi terbentuknya sebuah karya. Dalam bukunya, Wellek dan Warren membagi pendeketan ekstrinsik kesusastraan menjadi empat kelompok, yaitu sastra dan biografi, psikologi, masyarakat, dan pemikiran. Keempat konsep pendekatan tersebut dianggap sebagai konsep dasar pendekatan ekstrinsik yang secara langsung mempengaruhi pembentukan tubuh sebuah karya sastra.

a. Sastra dan Pendekatan Biografi

Pendekatan biografi dalam analisis karya sastra berhubungan dengan sejarah atau latar belakang penulis karya sastra. Dalam pendekatan biografi ini terdapat tiga sudut pandang, yakni biografi sebagai alat untuk menerangkan proses penciptaan karya sastra, pengarang sebagai fokus utama penelitian, dan mengelompokkan biografi sebagai ilmu pengetahuan.

b. Sastra dan Pendekatan Psikologi

Psikologi dalam kesusastraan berfungsi untuk melihat aspek-aspek psikologi dalam kesusastraan, karena seringkali dalam sebuah karya sastra penulisnya dengan sengaja menggambarkan permasalahan-permasalahan psikologi dalam karakter-karakter yang dibangunnya. Pendekatan psikologi dalam penganalisisan kesusastraan fokus pada empat kemungkinan penganalisisan, di antaranya studi psikologi pengarang, psikologi sebagai proses kreatif, penerapan hukum psikologi dalam karya sastra, dan dampak sastra bagi psikologi pembaca.

c. Sastra dan Pendekatan Masyarakat

Hubungan antara sastra dan masyarakat memang erat dan tidak dapat dipisahkan, karena karya sastra merupakan representasi aktivitas sosial manusia yang seringkali tergambar dalam karya sastra. Dalam melihat hubungan sastra dan masyarakat, pendekatan sosiologis merupakan pendekatan yang paling sering digunakan. Sastra tidak lagi hanya dilihat sebagai sebuah karya seni, tetapi juga merupakan satu dokumen sosial yang merepresntasikan kebenaran sosial pada masa karya sastra itu dibuat.

d. Sastra dan Pendekatan Pemikiran

Pendekatan ini lebih berfungsi sebagai alat untuk melihat hubungan antara karya sastra dengan sastrawan dan pemikirannya. Pendekatan ini sangat tepat digunakan oleh peneliti yang bertujuan untuk melihat pemikiran-pemikiran si pengarang dalam karya sastra yang telah dibuatnya. Untuk menggali apakah dalam karya sastra tersebut si pengarang berusaha menyampaikan pemikiran, ide, atau bahkan ideologinya.

Studi Kesusastraan dengan Pendekatan Intrinsik

Penggunaan pendekatan intrinsik dalam penelitian kesusastraan mencendrungkan kita untuk melihat aspek-aspek yang meliputi bagian tubuh yang terdapat dalam karya sastra. Pendekatan ini berfungsi untuk melihat karya sastra sebagai sebuah seni kebahasaan, yang proses pengkreasian dan penganalisisannya membutuhkan tingkat kreatvitas yang tinggi. Dalam pendekatan intrinsik, penelitian kesusastraan lebih mengarah kepada penelitian mengenai alasan munculnya karya sastra, struktur kebahasaan dalam karya sastra, gaya bahasa, perlambangan dan simbol dalam karya sastra, genre, penilaian, dan sejarah dari karya sastra.

Dengan menggunakan pendekatan intrinsik, maka karya sastra dilihat sebagai karya sastra itu sendiri tanpa memperimbangkan aspek-aspek luar yang mempengaruhinya seperti pada pendekatan ekstrinsik. Penggunaan pendekatan intrinsik ini lebih banyak digunakan dalam pengaplikasian teori-teori strukturalisme dan formalisme yang memang melihat sastra sebagai sastra itu sendiri.

Dari penjabaran di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa antara teori, kritik, sejarah sastra, dan pendekatan adalah istilah-istilah kesusastraan penggunaannya berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Jika teori merupakan alat yang kita gunakan untuk menganalisis karya sastra, maka kritik menjadi prosedur kita dalam melakukan analisis sastra dan memberikan penilaian terhadap karya sastra tersebut, sedangkan pendekatan kesusastraan lebih mengacu kepada metode yang kita gunakan dalam menganalisis data. Dengan melihat perbedaan konsep yang terdapat dalam masing-masing istilah, kita dapat melihat bagaimana istilah yang satu jauh berbeda dengan yang lain. Dan dengan mendalami maksud dari istilah-istilah tersebut kita tentunya dapat dengan lebih mudah memahami bagaimana tata cara penganalisisan karya sastra yang benar dan objektif sehingga menghasilkan suatu bentuk penelitian yang sempurna.