Dalam melakukan perdagangan internasional, setiap negara memiliki tujuan sendiri-sendiri. Paul Krugman, dalam bukunya, International Economics Fifth Edition, mengatakan bahwa tujuan semua negara melakukan perdagangan internasional paling tidak dipicu oleh dua alasan utama yang keduanya menjadi sumber munculnya keuntungan dari aktivitas perdagangan (gain from trade). 

Pertama, masing-masing negara melakukan perdagangan karena mereka berbeda satu sama lain. Dari sini muncul adanya pertukaran barang-barang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kedua, mereka berdagang karena ingin mencapai skala ekonomis (Economic scale) dalam produksinya. Artinya, jika mereka, masing-masing negara bisa membatasi kegiatan produksinya untuk memproduksi beberapa macam barang saja, maka setiap negara bisa memfokuskan sumber daya untuk hanya menghasilkan barang-barang tersebut dengan lebih besar skalanya dan lebih efisien.

Hal ini berbeda jika mereka memproduksi barang yang beraneka ragam sekaligus, maka akan membuat proses produksinya menjadi tidak efisien. Adanya perbedaan di antara negara-negara yang ada yang akhirnya menimbulkan peluang adanya pertukaran barang dalam perdagangan melahirkan teori yang bernama Comparative Advantage

Ilustrasi Paul Krugman

Untuk memahami teori ini, mari kita simak ilustrasi dari aktivitas perdagangan internasional yang disampaikan Paul Krugman. Peraih nobel ekonomi ini menggambarkannya sebagai berikut.

Hari Valentine 1996, Patrick Buchanan yang menjadi kandidat presiden dari Partai Republik Amerika mampir ke sebuah toko bunga untuk membelikan istrinya bunga mawar. Tujuan awalnya hanya ingin membeli bunga mawar. Sebagai kandidat presiden, dia diminta opininya tentang membanjirnya bunga mawar dari Amerika Selatan.

Semakin membesarnya kiriman mawar dari Amerika Selatan tentu mengancam nasib petani mawar Amerika sendiri, terutama di musim dingin. Jika musim dingin tiba, maka untuk bisa memproduksi bunga mawar harus dilakukan berbagai perlakuan atau treatment ekstra. Agar bisa tumbuh, maka bunga mawar itu harus diletakkan di rumah kaca yang diberi pemanas.

Dari sini saja sudah terlihat banyaknya modal yang harus dikeluarkan agar mawar bisa tumbuh di musim dingin. Jika ini dilakukan dalam skala besar, maka biaya yang dkeluarkan untuk investasi dan kebutuhan energi serta kebutuhan barang lainnya menjadi semakin besar.

Pengorbanan yang besar ini tentu akan lebih menguntungkan jika dialokasikan untuk memproduksi barang lain yang selama ini menjadi keahlian dan kekhasan Amerika, contohnya komputer. Ini yang kemudian memunculkan apa yang dinamakan dengan trade off. Untuk memproduksi mawar, perekonomian Amerika harus mengorbankan untuk tidak memproduksi komputer yang manjadi andalannya menjadi lebih baik.

Biaya pengorbanan untuk mawar dengan mengesampingkan produksi komputer kemudian disebut sebagai opportunity cost atau biaya pengorbanan. Biaya pengorbanan mawar dalam satuan computer adalah jumlah komputer yang tidak jadi diproduksi dikarenakan sumber dayanya digunakan untuk memproduksi mawar.

Seandainya saja, Amerika Serikat mampu menghasilkan 10 juta kuntum bunga mawar yang siap jual, sumber daya yang dipakai untuk produski mwar itu bisa dialihkan untuk memproduksi 100.000 unit komputer. Bisa dikatakan biaya pengorbanan untuk menghasilkan 10 juta bunga mawar adalah 100.000 unit komputer. Atau bisa juga sebaliknya.

Biaya pengorbanan untuk menghasilkan 100.000 unit komputer adalah 10 juta bunga mawar. Dari segi penjualan komputer, meski yang dihasilkan kuantitasnya lebih kecil dari bunga mawar, tapi mampu memberikan pendapatan yang sangat signifikan buat perusahaan komputer. Hal ini karena satu unit komputer harganya jauh lebih mahal dibanding dengan 1 kuntum bunga mawar.

Sebenarnya, 10 juta bunga mawar yang dihasilkan Amerika Serikat akan lebih cocok dan efisien dalam hal produksi jika dibudidayakan di Amerika Selatan. Mengapa? Hal ini karena biaya pengorbanannya (dalam satuan komputer) tidak setinggi jika dibudidayakan di Amerika Serikat. Selain juga karena iklim yang ada di Amerika Selatan lebih mendukung dibanding iklim yang terdapat di Amerika Serikat. Mungkin, jika mawar di produksi di Amerika Selatan, biaya pengorbanannya dalam satuan komputer –katakanlah- hanya 30.000 unit.

Ilustrasi di atas mengindikasikan adanya opportunity cost dalam memproduksi barang di masing-masing negara. Dengan adanya opportunity cost ini memungkinkan masing-masing pihak mengerjakan apa yang menjadi bagian pekerjaannnya yang tentu saja ini akan menguntungkan. Muncul saran agar Amerika tidak perlu memproduksi bunga mawar sendiri dan mencurahkan sumber dayanya untuk membuat komputer.

Sementara itu, Amerika Selatan cukup menanam mawar saja dan tidak perlu menghsbiskan banyak waktu dan tenaga unuk mecoba memproduksi komputer yang selama ini memang bukan spesialisasinya. Pembagian kerja seperti ini akan meningkatkan output dunia karena setiap negara memproduksi sesuatu yang memang menjadi keunggulannya. Dampak berikutnya dari pembagian ini akan meningkatkan kesejahteraan masing-masing pihak.

Makna Keunggulan Komparatif

Suatu negara dikatakan memiliki keunggulan komparatif jika ketika memproduksi suatu barang, biaya pengorbanan dalam memproduksi barang tersebut (dalam satuan barang lain) lebih rendah daripada biaya produksi yang dikeluarkan oleh negara-negara lainnya.

Dari ilustrasi yang sudah diceritakan di atas, disebutkan bahwa Amerika Serikat memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi komputer. Sedangkan Amerika Selatan memiliki keunggulan komparatif dalam hal produksi bunga mawar karena biaya yang dikeluarkan untuk produksi bunga itu lebih rendah dibanding biaya yang harus dikeluarkan Amerika Serikat untuk memproduksi barang yang sama.

Akan muncul keuntungan yang diraih oleh kedua negara itu jika mereka saling menukarkan barang produksi. Amerika Serikat mengimpor bunga mawar dari Amerika Selatan, sedangkan Amerika Selatan memasok kebutuhan dalam negeri terhadap komputer dari Amerika Serikat. Dari sini diketahui bahwa masing-masing negara akan mendapatkan keuntungan jika mereka memproduksi dan menjual barang yang keunggulan komparatifnya mereka kuasai.

Apa yang sudah dijabarkan di atas merupakan ilustrasi dari teori komparatif versi David Ricardo. Teori ini memiliki sebutan lain, yakni Cost Comparative Advantage (Labor efficiency). Teori yang dicetuskan oleh David Ricardo ini memiliki asumsi yang dijadikan pijakan dalam mengkristlakan sebuah teori sebagai berikut.

  • Labor Theory of Value. Ini bisa dimaknai sebagai nilai suatu barang dilihat dari banyaknya tenaga kerja yang diperkerjakan untuk menghasilkan barang tersebut. Nilai barang yang ditukar sama atau seimbang dengan banyaknya tenaga kerja yang dipergunakan untuk menghasilkan barang tersebut.
  • Asumsi berikutnya adalah bahwa perdagangan antarnegara dilihat sebagai pertukaran barang dengan barang.
  •  Teori yang dicetuskan oleh David Ricardo ini tidak membahas masalah biaya transportasi serta biaya-biaya yang muncul dalam proses pemasarannya.
  • Asumsi yang terakhir adalah bahwa produksi barang dilaksanakan dengan biaya yang tetap. Ini bermakna skala produksi tidak memiliki pengaruh.  

Dari Keunggulan Komparatif Menuju Keunggulan Kompetitif

Seiring dengan perkembangan dunia usaha, teori keunggulan komparatif ditarik menjadi keunggulan kompetitif. Ketika negara-negara memproduksi barang sesuai dengan spesialisasinya dan kemudian dipasarkan di pasar internasional, tidak mungkin bahwa dia akan menjadi pemain tunggal. Ibarat ada gula ada semut. Jika ada barang yang laku di pasaran, maka kompetitor siap-siap menguntit dari belakang. Dengan semakin banyaknya penguntit (follower) akan menjadikan persaingan di pasar semakin ketat. 

Persaingan dalam era perdagangan dunia saat ini tidak dapat dielakkan lagi. Kondisi ini didukung oleh semakin canggihnya berbagai perangkat teknologi dan komunikasi, sarana transportasi dan juga semakin kuatnya arus keuangan sehingga memunculkan sebutan baru berupa permukiman global (Global Village). Istilah yang dilontarkan oleh Ohmae dan Drucker ini menggambarkan bahwa perdagangan saat ini sebagai sebuah pasar di sebuah desa.

Dikatakan demikian karena jika diamati bahwa pasar semakin mengecil (compressed) deengan dukungan berbagai perangkat yang sudah disebutkan di atas yang memunculkan banyak pesaing baru dalam waktu yang relatif singkat. Dengan adanya kenyataan ini menjadikan keunggulan kompetitif menjadi suatu hal yang harus diperhatikan. Keunggulan kompetitif secara sederhana dimaknai sebagai keunggulan untuk berkompetisi. Ada keistimewaan yang menjadi daya tarik untuk bisa eksis di era perdagangan internasional.

Keunggulan kompetitif bisa tercapai jika ada strategi yang diterapkan. Ada beberapa strategi yang bisa dipraktikkan untuk bisa mendapatkan keunggulan kompetitif. Langkah strategis yang bisa diterapkan antara lain dengan mendesain harga produk dikisaran harga yang lebih rendah daripada harga yang ditawarkan oleh kompetitor dengan kualitas barang yang minimal setara.

Demikian penjabaran ringkas dari teori keunggulan komparatif. Semoga ada manfaat yang bisa diambil.