Dampak Negatif dari Tenaga Endogen

Tsunami

Tsunami berasal dari bahasa Jepang yang berarti gelombang ombak lautan. Tsunami terdiri dari dua kata yaitu tsu yang artinya lautan dan nami yang artinya gelombang ombak. Tsunami akan terjadi apabila terjadi gempa di dasar laut atau samudera karena adanya pergeseran lempeng bumi (tektonisme). Pergeseran lempeng bumi yang dahsyat dapat menimbulkan gempa dan tsunami.

Bencana tsunami yang terbesar dan pernah terjadi di Indonesia adalah tsunami Aceh pada 2004 yang lalu terjadi akibat adanya gempa bumi tektonik di Samudera Hindia dengan kekuatan 9,3 skala Richter. Tsunami yang terkenal lainnya karena memakan korban jiwa dan harta benda yang sangat besar adalah tsunami Jepang pada 2011 yang lalu.

Gelombang tsunami bisa mencapai ketinggian antara 6 meter sampai 30 meter ke atas permukaan laut dengan kecepatan hampir mencapai 1.000 kilo meter  per jam, atau hampir sama dengan kecepatan pesawat terbang.

Berikut ini disampaikan beberapa cara untuk menyelamatkan diri dari bahaya tsunami, yang penulis ambil dari sumber BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana):

  • Peningkatan kewaspadaaan dan kesiapsiagaan terhadap bahaya tsunami.
  • Pendidikan kepada masyarakat terutama yang tinggal di daerah pantai tentang bahaya tsunami.
  • Pembangunan Tsunami Early Warning System (Sistem Peringatan Dini Tsunami).
  • Pembangunan tembok penahan tsunami pada garis pantai yang berisiko.
  • Penanaman mangrove serta tanaman lainnya sepanjang garis pantai untuk meredam gaya air tsunami.
  • Pembangunan tempat-tempat evakuasi yang aman disekitar daerah pemukiman yang cukup tinggi dan mudah dilalui untuk menghindari ketinggian tsunami.
  • Peningkatan pengetahuan masyarakat lokal khususnya yang tinggal di pinggir pantai tentang pengenalan tanda-tanda tsunami cara-cara penyelamatan diri terhadap bahaya tsunami.
  • Pembangunan rumah yang tahan terhadap bahaya tsunami.
  • Mengenali karakteristik dan tanda-tanda bahaya tsunami.
  • Memahami cara penyelamatan jika terlihat tanda-tanda akan terjadi tsunami.
  • Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi tsunami.
  • Melaporkan secepatnya jika mengetahui tanda-tanda akan terjadinyan tsunami kepada petugas yang berwenang : Kepala Desa, Polisi, Stasiun Radio, SATLAK PB maupun institusi terkait.
  • Melengkapi diri dengan alat komunikasi.

Gempa Bumi Vulkanik

Gempa bumi vulkanik adalah gempa bumi yang ditimbulkan akibat adanya letusan gunung berapi. Gunung berapi dapat meletus apabila terjadi pergerakan magma di dalam perut gunung berapi akibat tektonisme di dalam perut bumi. Indonesia merupakan negara yang sangat rawan dengan gempa bumi vulkanik dikarenakan banyaknya gunung berapi di wilayah Indonesia. Gempa bumi vulkanik yang baru-baru ini terjadi adalah gempa bumi vulkanik di Yogyakarta dan Jawa Tengah akibat letusan gunung Merapi.

Gempa bumi vulkanik tidak sedahsyat gempa bumi tektonik karena wilayah getarannya tidak terlalu luas dan skala getarannya tidak terlalu tinggi. Meskipun demikian, kita tetap perlu waspada menghadapi gempa bumi vulkanik sebab tetap saja menimbulkan korban jiwa dan harta benda.

Selain itu, gempa vulkanik yang disertai letusan dapat menimbulkan kerugian yang disebabkan oleh:

  • lahar dan lava yang dikeluarkan pada saat letusan dapat menghancurkan lahan pertanian, perkebunan, rumah warga, bahkan korban jiwa.
  • Abu vulkanik yang dikeluarkan saat letusan gunung berapi selain dapat merusak tanaman, mengotori sumber air bersih, bahkan menggangu kesehatan manusia,seperti timbulnya iritasi pada mata, terganggunya saluran pernapasan, dan lain-lain.
  • Bom, lapili, dan pasir yang dihempaskan ketika terjadi letusan dapat merusak areal pertanian dan perkebunan.
  • Asap tebal (wedus gembel) yang dihembuskan ketika terjadi letusan yang disertai awan panas dapat merusak tanaman dan menimbulkan luka bakar pada manusia dan hewan yang dikenainya.

Adapun beberapa cara untuk menyelamatkan diri dari gempa bumi adalah sebagai berikut:

  1. Tarik nafas dan tenangkan diri atau jangan panik, jika ada kesempatan untuk keluar ruangan, berlarilah ke daerah yang lapang.
  2. Jika kita sedang berada di lantai dua, sebaiknya hindarkan diri untuk segera menuruni tangga atau lift karena dikhawatirkan guncangan gempa dapat merobohkan tangga atau memacetkan lift karena adanya pemadaman listrik. Sebaiknya cari tempat yang aman seperti di bawah meja untuk berlindung dari reruntuhan.
  3. Jauhkan diri dari benda-benda yang mudah pecah dan lepas seperti lemari kaca, cermin, jam dinding, lampu gantung, dan lain-lain. Jika tidak ada meja untuk berlindung, berlindunglah di pojokan dinding yang terbebas dari berbagai jenis benda-benda yang menggantung dan berbahaya.
  4. Duduklah dengan posisi jongkok, dan lindungi kepala dengan benda-benda yang lentur sehingga apabila terjadi benturan tidak terlalu membahayakan.
  5. Jika gempa sudah reda, segeralah keluar dari ruangan untuk menghindari terjadinya gempa susulan.

Hal lain yang perlu diperhatikan untuk menanggulangi bencana akibat gempa vulkanik adalah sebagai berikut:

  1. Membuat peta bencana alam gunung berapi. Dengan dibuatnya peta bencana gunung berapi diharapkan tumbuhnya kesadaran dan kewaspadaan bagi penduduk yang tinggal di daerah tersebut, bahwa daerahnya suatu waktu dapat terkena bencana gunung meletus.
  2. Membuat tanggul penahan lahar. Dengan adanya tanggul lahar tersebut diharapkan lahar yang mengalir akibat letusan gunung berapi dapat tertahan oleh tanggul. Daerah yang sudah dilengkapi dengan tanggul lahar adalah daerah sekitar lereng gunung Merapi di Yogyakarta.
  3. Pengadaan sirine dan pengeras suara. Keberadaan sirine dan pengeras suara sangat diperlukan sebagai peringatan kepada masyarakat bahwa telah terjadi erupsi pada gunung berapi. Sirine akan sangat berguna apabila erupsi terjadi pada malam hari, di mana masyarakat sedang terlelap tidur.

Dampak Negatif dari Tenaga Eksogen

Beberapa dampak negatif yang disebabkan oleh tenaga eksogen antara lain sebagai berikut:

  1. Erosi
    • Mengakibatkan lapisan tanah bagian atas yang mengandung humus hanyut terbawa air, sehingga tanah menjadi tandus dan gersang. Hal tersebut akan mengakibatkan tanaman sulit untuk tumbuh subur di daerah tersebut.
    • Megakibatkan sedimentasi atau pendangkalan pada sungai, danau, bendungan, ataupun laut. Pendangkalan tersebut dapat mengakibatkan menurunnya debit air sehingga akan mengganggu sistem transportasi, PLTA, dan irigasi.
    • Mengakibatkan menurunnya kualitas air. Sedimentasi yang terjadi di dalam sungai, danau, waduk, dan laut dapat menyebabkan air pada daerah-daerah tersebut menjadi keruh sehingga menurunkan kualitas air. Kualitas air yang menurun akan menganggu pasokan air minum, kualitas air untuk mandi, dan mencuci serta dapat menimbulkan masalah kesehatan seperti penyakit kulit dan diare.
  2. Angin kecang seperti topan atau badai dapat merusak bangunan dan areal pertanian serta perkebunan.
  3. Panas matahari yang berlebihan dapat menyebabkan kebakaran hutan. Dampak negatif yang ditimbulkan dari kebakaran hutan adalah selain merusak habitat tumbuhan, menghilangkan dan mengurangi varietas tumbuhan, menghilangkan tempat tinggal hewan, juga dapat menyebabkan pencemaran udara. Bahkan asap tebal yang ditimbulkan karena kebakaran hutan dapat menyebabkan terganggunya penerbangan dan jarak pandang. Kerugian yang lebih fatal adalah merebaknya penyakit saluran pernapasan atas akut (ISPA).
  4. Abrasi atau pengikisan pantai oleh gelombang laut. Abrasi di daerah pantai akan menyebabkan bangunan menjadi rusak bahkan roboh dikarenakan secara terus-menerus mengalami hantaman ombak.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa dampak negatif yang ditimbulkan baik oleh tenaga endogen maupun tenaga eksogen ternyata sangat mengerikan. Jadi alangkah baiknya kita memegang amanah dan berjanji di dalam hati untuk turut serta melestarikan alam semesta titipan Tuhan ini.