Dunia kesusastraan mengenal prosa sebagai salah satu genre (bentuk) sastra di samping genre-genre yang lain. Karya sastra secara garis besar terdiri atas tiga macam, yaitu prosa, puisi, dan drama. Adapun yang menjadi pembahasan utama dalam tulisan ini adalah karya sastra prosa. Prosa adalah jenis sastra yang menggunakan bahasa bebas, panjang, dan tidak terikat dalam pengungkapannya.

Secara garis besar, struktur pada prosa (fiksi) terbagi menjadi dua bagian, yaitu struktur luar (ekstrinsik) dan struktur dalam (instrinsik). Struktur luar (ekstrinsik) adalah segala macam unsur yang berada di luar suatu karya sastra yang ikut mempengaruhi kehadiran sastra tersebut, misalnya faktor sosial ekonomi, faktor kebudayaan, faktor sosiol politik, keagamaan, dan tata nilai yang dianut masyarakat. Unsur intrinsik merupakan unsur yang berasal dari dalam karya sastra. Struktur dalam (intrinsik) adalah unsur-unsur yang membentuk karya sastra tersebut, seperti penokohan atau perwatakan, tema, alur (plot), pusat pengisahan, latar, dan lain-lain.

A. Tema

Tema merupakan gagasan dasar umum yang digunakan untuk mengembangkan cerita. Tema yang dikembangkan dapat berupa masalah hidup dan kehidupan sehingga pada cerita tersebut dijadikan pengalaman, pengamatan maupun aksi-interaksi dengan lingkungan sekitar baik yang bersifat individual maupun sosial. Hatikah (2004: 12), mengatakan tema adalah ide dasar yang bertindak sebagai titik tolak keberangkatan pengarang dalam menyusun sebuah cerita. Sedangkan Sudjiman (1986: 142) menyatakan, tema adalah gagasan dasar umum yang terdapat dalam sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan dan perbedaan-perbedaan.

Tema menurut Hartoko dan Rahmanto (dalam Nurgiyantoro, 1995: 68) adalah gagasan umum untuk menopang sebuah karya sastra yang terkandung dalam teks sebagai suatu semantis, dan yang menyangkut persamaan dan perbedaan. Sedangkan menurut Stanton (dalam Nurgiyantoro, 1995: 70), tema adalah makna sebuah cerita yang secara khusus menerangkan sebagian besar unsurnya dengan cara yang sederhana. Jadi, tema merupakan dasar pembangun seluruh cerita dan bersifat menjiwai seluruh bagian cerita. Dengan demikian, untuk menemukan tema sebuah karya fiksi, hendaklah disimpulkan dari keseluruhan cerita dan bukan berasal dari bagian-bagian tertentu dalam cerita.

B.Tokoh dan Penokohan

Tokoh merupakan bagian terpenting dalam sebuah cerita karena berfungsi untuk memainkan cerita, menyampaikan ide, plot, dan tema. Penokohan adalah cara pengarang melukiskan tokoh-tokoh dalam cerita yang ditulisnya. Hal ini dapat dilihat dari dialog atau perwatakan yang dapat diketahui dari pikiran-pikiran tokoh baik melalui pernyataan maupun dialog. Setiap tokoh terkadang memiliki watak lebih dari satu.

Penokohan disebut juga dengan “perwatakan”, yang mana kita sebagai pembaca dapat melihat karakterisasi dari tokoh yang diceritakan oleh pengarang. Pangarang melukiskan penokohan dengan berbagai cara, yaitu dengan perilaku pemain terhadap suatu kejadian, melukiskan fisik pemain, dan bagaimana pandangan pelaku lain. Semua itu dapat dilihat dari setiap dialog yang terjadi dan digambarkan oleh pengarang.

C. Latar atau Setting

Selain tema, tokoh beserta penokohannya, sebuah cerita tidak dapat dilihat secara utuh tanpa latar atau setting. Latar atau setting dalam sebuah cerita itu dapat berupa latar tempat, waktu atau keadaan alam atau cuaca terjadinya suatu peristiwa. Latar disebut juga sebagai landasan yang mengacu pada pengertian tempat, waktu dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam cerita tersebut. Sehingga dari ketiga hal ini pembaca dapat mengimajinasikan secara faktual dan konkret tentang waktu, tempat, dan lingkungan sosial cerita tersebut.

Latar tempat dalam cerita mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa-peristiwa pada cerita tersebut. Latar waktu pada cerita menggambarkan kapan terjadinya peristiwa-peristiwa pada cerita tersebut. Latar sosial berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat pada tempat yang diceritakan dalam cerita tersebut.

D. Alur

Alur merupakan jalan cerita atau dikenal juga dengan istilah “plot”. Alur mengandung peristiwa demi peristiwa yang kejadiannya susul menyusul (berurutan), atau tepatnya merupakan rangkaian peristiwa yang terjadi dalam cerita tersebut. Hatikah (2004:13), mengatakan alur atau plot adalah struktur penceritaan dalam prosa fiksi yang di dalamnya berisi rangkaian kejadian atau peristiwa yang disusun berdasarkan hukum sebab-akibat (kausalitas) dan logis.

Menurut Sudjiman (1992: 29), alur merupakan tempat menyangkutnya bagian-bagian cerita sehingga terbentuklah bangunan yang utuh. Jadi, peranan alur adalah sebagai urutan peristiwa  untuk mencapai efek emosional dan efek artistik tertentu. Peristiwa-peristiwa cerita dimanifestasikan lewat perbuatan, tingkah laku, dan sikap tokoh dalam cerita. Alur terbentuk oleh tahapan emosional dan suasana dalam cerita. Tahapannya berupa tahapan permulaan, tahapan pertikaian (konflik), tahapan perumitan, tahapan puncak(klimaks), tahapan peleraian, dan tahapan akhir.

E. Amanat

Sebuah karya sastra akan menjadi sangat berarti jika di dalamnya terdapat amanat yang tentunya bermanfaat bagi pembaca, baik itu hal yang tersurat maupun tersirat dari cerita tersebut. Amanat merupakan pesan-pesan moral yang disampaikan oleh pengarang melalui cerita kepada pembaca. Dengan kata lain, amanat merupakan pandangan pengarang tentang nilai-nilai kebenaran yang ingin disampaikan pada pembaca sehingga baik-buruknya setiap sikap maupun tindakan yang terjadi dapat diterima pembaca dan diambil manfaatnya.

F. Sudut Pandang

Sudut pandang merupakan cara sebuah cerita dikisahkan oleh pengarangnya. Sudut pandang juga menjadi bagian yang tak kalah pentingnya, karena reaksi afektif pembaca terhadap isi karya akan dipengaruhi oleh sudut pandang. Sudut pandang inilah yang dijadikan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita. Atau dengan kata lain, sudut pandang merupakan teknik atau strategi yang sengaja dipilih oleh pengarang untuk mengemukakan gagasan atau ceritanya untuk disajikan pada pembaca. Hatikah (2004:14), mengatakan sudut pandang (point of view) adalah cara pengarang menempatkan atau memperlakukan dirinya dalam cerita yang ditulisnya.

Sudut pandang dapat dibedakan menjadi dua pola utama, yaitu pola orang pertama dan pola orang ketiga. Pola orang pertama dikategorikan menjadi tiga yaitu, pengarang sebagai tokoh utama, pengarang sebagai pengamat tidak langsung, dan pengarang sebagai pengamat langsung. Sedangkan pola orang ketiga dibedakan menjadi dua tipe, yaitu sudut pandang serba tahu dan sudut pandang terarah.

G. Gaya Bahasa

Tidak semua cerita memiliki gaya bahasa atau majas dalam penceritaannya. Hal ini karena tergantung pada ceritanya. Karya sastra disampaikan kepada pembaca dengan medium bahasa. Bahasa yang digunakan pengarang harus bersifat komunikatif agar mudah dipahami. Selain komunikatif, karya sastra memiliki ciri yaitu gaya bahasa yang indah.

Menurut Abrams, gaya bahasa adalah cara pengungkapan bahasa dalam prosa  yang ditandai oleh ciri-ciri formal kebahasaan seperti pilihan kata, struktur kalimat, bentuk bahasa figuratif, penggunaan kohesi, dan sebagainya. Hal inilah yang menjadi ciri-ciri dari prosa itu sendiri. Terutama prosa yang bersifat fiksi (rekaan, khayalan, dan imajinasi) sangat terkait dengan ciri stilistika (gaya bahasa) yang digunakan.

Ciri Khas Stilistika Fiksi (Prosa)

Jenis narasi literer biasa disebut prosa fiksi, atau disebut fiksi saja. Fiksi merupakan salah satu jenis teks sastra naratif, sebagai suatu penceritaan tentang peristiwa kehidupan yang merupakan hasil kreasi pengarang yang disajikan dengan gaya bahasa estetis (Semi, 2008: 77). Karya fiksi memiliki aspek pokok penanda, yakni unsur cerita, bahasa teks yang tidak homogen, adanya peristiwa yang diceritakan, dan susunan peristiwa berupa dunia fiktif. Dengan kalimat lain, gaya dalam prosa (fiksi) pada dasarnya lebih pada cara penulisan secara keseluruhan (Ratna, 2009: 60). Gaya karya fiksi dipengaruhi oleh bentuk  karya fiksi tersebut. Beberapa jenis fiksi yang berdasarkan gaya penulisan masing-masing menurut Atar Semi adalah sebagai berikut:

  • Fiksi romantik: fiksi yang menerapkan aliran filsafat romantisme. Biasanya disajikan dengan gaya bahasa yang lembut beralun dan dengan menampilkan dialog atau tuturan yang berbau filosofis. Contohnya: Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya kapal Van der Wijk karya Hamka.
  • Fiksi Realis: fiksi yang menerapkan aliran realisme dalam sastra. Aliran ini menentang aliran romantisme. Gaya penyajian fiksi realis lebih bersifat netral dan lugas, artinya bahasa yang dikenal oleh masyarakat banyak. Contohnya: Belenggu dan Atheis.
  • Fiksi Gotik: karya fiksi yang isinya berbicara tentang keajaiban, kekerasan, pembunugan sadis, hantu gentayangan, atau kejadian aneh serta keajaiban yang seringkali dirasakan keluar dari kehidupan normal akal sehat. Daya tarik utama fiksi  gotik terletak pada jalinan peristiwa yang merupakan rangkaian sebab akibat sehingga membuat pembaca penasaran karena rasa ingin tahu. Gaya bahasa khas itulah yang mendasari fiksi gotik.
  • Fiksi Alegori: menyatakan masalah politik, agama, dan moral dengan memakai gaya bahasa yang kocak dan lucu, dengan bahasa yang demikianlah pesan-pesan dapat disampaikan. Fiksi Alegori hampir mirip dengan fiksi simbolis, yakni sama-sama menyampaikan pesan lewat simbol-simbol, akan tetapi fiksi simbolis lebih terkesan agak halus.
  • Fiksi Satire: karya sastra karikatur yang secara kritis menggambarkan berbagai kepincangan yang terdapat dalam masyarakat. Gaya bahasa yang digunakan terkesan humor, namun tetap serius sehingga hasil yang dirasakan sangat kiritis, pedas, dan tajam.
  • Fiksi sains: semacam fiksi yang disusun dengan memanfaatkan prinsip ilmu pengetahuan di dalamnya. Fiksi utopia memiliki kesamaan dengan fiksi sains, tetapi utopia agak berlebihan tentang khayalan masa depan seorang pengarang. Jika fiksi sains unsur ilmu pengetahuan lebih mendominasi, maka dalam fiksi utopia unsur imajinasi tingkat tinggi lebih dominan.
  • Fiksi religius: fiksi yang dengan sadar menghubungkan tradisi keagamaan dengan tradisi sastra. Pengarang menggunakan medium sastra dan bahasa untuk menyampaikan getaran hati nurani dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Contohnya: penyair sufi Amir Hamzah, dan sebagainya. Masih banyak fiksi yang lain, namun hanya dibahas beberapa buah saja dalam makalah ini.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat diketahui bahwa karya prosa (fiksi) memberikan hiburan kepada pembaca, selain dari fungsinya yang estetik. Hal itu disebabkan pada dasarnya setiap orang senang bercerita, apalagi yang sensasional, baik yang diperoleh dengan cara melihat maupun mendengarkan. Melalui sarana itu pembaca dapat belajar, merasakan, dan menghayati berbagai permasalahan kehidupan.