Informasi dapat diperoleh dari media mana saja. Salah satunya adalah dari media massa, baik cetak, elektronik, maupun dalam jaringan (daring). Informasi yang terdapat di dalam media tersebut diperoleh dengan berbagai cara, di antaranya adalah melalui wawancara. Hasil wawancara dapat menjadi informasi yang bermanfaat.

Wawancara adalah tanya jawab yang dilakukan oleh seseorang yang disebut pewawancara kepada orang lain yang disebut narasumber. Wawancara dilakukan untuk mendapat keterangan atau pendapat mengenai suatu hal kepada narasumber sebagai pemberi informasi (informan). Biasanya narasumber merupakan orang yang berpengalaman dalam bidang tertentu sesuai dengan topik wawancara.

Hasil wawancara biasanya ditulis dalam bentuk dialog karena wawancara merupakan bentuk tanya jawab. Misalnya:

Pewawancara    : “Bagaimana tanggapan Anda mengenai pembangunan di desa ini?“

Narasumber       : “Menurut saya, pembangunan di desa cukup maju beberapa tahun terakhir. Hal tersebut dapat dilihat dengan kondisi jalan utama desa yang bagus, pembangunan fisik kantor kepala desa dan karang taruna yang cukup representatif.“

Pewawancara    : “Menurut Anda, apa kunci keberhasilan pembangunan di desa ini?“

Narasumber       : “Kuncinya adalah kerjasama yang baik antara perangkat desa dengan masyarakat seluruhnya, termasuk para tokoh masyarakat dan pemuda. Di antara semua elemen masyarakat harus terjalin komunikasi yang baik.“

Kegiatan penulisan tersebut disebut dengan transkripsi hasil wawancara. Pewawancara menulis pertanyaan yang diajukan dengan disertai jawaban dari narasumber. Hal tersebut merupakan langkah pertama yang dilakukan saat melakukan wawancara.

Namun, hasil wawancara sebaiknya ditulis dalam bentuk narasi atau paragraf cerita. Hal tersebut berguna saat hasil wawancara diperlukan untuk menunjang fakta dalam sebuah tulisan, seperti esai. Selain itu, hasil wawancara yang dinarasikan juga memudahkan pembaca untuk mencari informasi yang diperlukan.

Langkah-langkah Mengubah Teks Wawancara Menjadi Narasi

Untuk mengubah teks wawancara menjadi sebuah narasi, perlu diperhatikan langkah-langkah berikut.

1. Membaca dan memahami teks wawancara

Langkah ini merupakan langkah terpenting saat hendak menulis teks wawancara menjadi sebuah narasi. Sebelum menulis dalam bentuk paragraf, teks wawancara harus terlebih dahulu dibaca secara cermat sehingga isinya benar-benar dipahami dengan baik.

2. Memperhatikan kelengkapan wawancara

Menulis teks wawancara dalam sebuah narasi harus menghasilkan sebuah informasi yang lengkap berdasarkan wawancara yang dilakukan. Oleh karena itu, seluruh kelengkapan wawancara harus diperhatikan dengan baik. Kelengkapan wawancara meliputi hasil wawancara, identitas narasumber, waktu dan tempat wawancara, dan seluruh hal yang berkaitan dengan wawancara agar diperoleh informasi yang lengkap dan komprehensif.

3. Memperhatikan penulisan kalimat langsung dan kalimat tidak langsung

Salah satu perbedaan antara hasil transkripsi wawancara dalam bentuk dialog dengan hasil wawancara dalam bentuk narasi adalah bentuk penulisannya. Dialog disusun dengan bentuk tanya jawab antara pewawancara dengan narasumber, sedangkan narasi disusun dalam bentuk paragraf.

Di dalam menyusun sebuah paragraf, informasi yang didapatkan dari narasumber dapat ditulis dalam bentuk kalimat langsung atau tidak langsung. Kalimat langsung adalah kalimat yang dikutip dari narasumber secara langsung tanpa perubahan. Kalimat langsung ditulis dengan cara diberi tanda petik sebelum dan setelah kalimat. Sedangkan kalimat tidak langsung merupakan kalimat yang dikutip secara tidak langsung atau diungkap kembali dengan bahasa sendiri. Dalam penulisannya kalimat tidak langsung biasanya dibantu dengan kata-kata berikut: menurut …, sebagaimana diungkapkan oleh …, dan lain-lain.

Berdasarkan langkah-langkah tersebut, mengubah teks wawancara menjadi sebuah narasi bukan merupakan hal yang sulit. Dengan mengacu pada langkah tersebut, contoh teks wawancara yang diubah menjadi sebuah narasi dapat dilihat sebagai berikut.

Pembangunan Desa Kertasari mengalami kemajuan dalam beberapa tahun terakhir. Hal tersebut diakui oleh Kepala Desa Kertasari, Ahmad Kadir, saat ditemui pada Senin (6/8). Menurut Kadir, kemajuan pembangunan di desa tersebut ditandai dengan kondisi jalan utama desa yang baik, pembangunan fisik kantor kepala desa dan karang taruna yang cukup representatif. Lebih lanjut, Kadir menuturkan bahwa kunci keberhasilan pembangunan desa Kertasari tidak terlepas dari kerjasama seluruh elemen masyarakat. “Kuncinya adalah kerjasama yang baik antara perangkat desa dengan masyarakat seluruhnya, termasuk para tokoh masyarakat dan pemuda. Di antara semua elemen masyarakat harus terjalin komunikasi yang baik,” ungkap Kadir saat mengakhiri pembicaraan.