Mengapa disebut unsur suprasegmental? Karena suprasegmental adalah unsur yang “menemani” dan memengaruhi bunyi bahasa, dan bukan bunyi sejati. Dan karena bukan bunyi sejati itulah sehingga unsur suprasegmental dinamakan demikian. Unsur suprasegmental disebut pula prosodi.

Cara yang paling mudah untuk memahami unsur suprasegmental adalah melalui pendekatan fonetik akustik. Ada dua sifat akustik yang berpengaruh dalam unsur suprasegmental: frekuensi dan amplitudo. Frekuensi adalah jumlah getaran per detik. Frekuensi menentukan nada (tinggi-rendahnya). Amplitudo tidak menyangkut frekuensi gelombang udara melainkan lebarnya gelombang tersebut (jika digambarkan secara vektor). Berikut ini adalah penjelasan tentang unsur supra

Nada dan Intonasi

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Bila suatu bunyi segmental diartikulasikan dengan frekuensi getaran yang tinggi, bunyi tersebut akan terdengar bernada tinggi. Sebaliknya, jika diartikulasikan dengan frekuensi yang rendah, bunyi tersebut akan terdengar benada rendah. Di dalam bahasa Indonesia, nada tidak bersifat fonemis tidak pula bersifat morfemis. Akan tetapi, ada bahasa-bahasa yang memang melibatkan nada yang bersifat seperti itu.

Dalam bahasa-bahasa yang bernada, nada bisa bersifat morfemis. Artinya, perbedaan nada dapat membedakan makna. Bahasa-bahasa tonal atau bahasa bernada misalnya bahasa Vietnam, Thailand, dan Mandarin.

Durasi

Durasi berkenaan dengan panjang atau pendeknya pembunyian suatu bunyi segmental. Bahasa yang melibatkan durasi sebagai pembeda makna (durasi berciri distingtif) misalnya bahasa Jepang dan Arab.

Jeda dan Tekanan

Jeda berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar (Chaer, 2003:122). Chaer menyebut jeda juga sebagai persendian karena memang pada jeda itulah terjadinya persambungan antara segmen yang satu dengan segmen yang lain (misalnya segmen suku kata). Jeda dapat bersifat penuh dapat pula bersifat sementara.

Sendi dalam atau internal juncture adalah sendi yang menunjukkan batas antara satu silabe dengan selabe yang lain. Ketika dilambangkan secara ortografis, sendi dalam dilambangkan dengan tanda “+”. Misalnya lari terdiri dari la + ri.

Sendi luar menunjukkan batas yang lebih luas daripada suku kata. Pembedaannya antara lain:

  1. Jeda antarkata dalam frasa diberi tanda garis miring tunggal ( / );
  2. Jeda antarfrasa dalam klausa diberi tanda garis miring ganda ( // );
  3. Jeda antarkalimat dalam wacana diberi tanda “#”.

Tekanan adalah pengerasan atau penguatan artikulasi terhadap salah satu bunyi bahasa. Pemberian tekanan terhadap bunyi bahasa tertentu di dalam bahasa Indonesia tidak bersifat distingtif. Akan tetapi, penekanan kata dalam tataran kalimat dapat mengakibatkan perbedaan makna tertentu. Misalnya ketika mengujarkan kata “Nak”. Jika kata tersebut diujarkan tanpa tekanan, ungkapan tersebut bisa mengungkapkan sapaan atau panggilan kepada anak. Akan tetapi, jika kata tersebut diungkapkan dengan tekanan yang lebih keras, ungkapan tersebut dapat mengungkapkan teguran atau bahkan hardikan pada si anak yang dipanggil/disapa.

Tentang Silabe atau Suku Kata

“Silaba atau suku kata adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtunan bunyi ujaran” (Chaer, 2003:123).  Satu silabel biasanya meliputi satu vokoid dan satu kontoid atau lebih.

Kontoid yang posisinya mengawali silabe disebut onset sedangkan kontoid yang mengakhiri silabe disebut koda. Di antara onset dan koda tersebut, terdapat sebuah inti silabe yang disebut sebagai nukleus. Inti silabe atau nukleus adalah bagian silabe yang memiliki puncak kenyaringan atau sonoritas yang paling tinggi.

Kenyaringan atau sonoritas yang tertinggi itu biasanya terletak pada sebuah vokoid. Kenyaringan atau sonoritas yang menjadi puncak silabe itu terjadi karena adanya ruang resonansi berupa rongga mulut, rongga hidung, atau rongga-rongga lain di kepala dan dada. Bunyi vokoid menjadi bunyi yang paling nyaring dalam satu silabe karena bunyi vokoid menggunakan ruang resonansi tersebut secara maksimal.

Berpijak pada teori tersebut, dapatlah dirumuskan bahwa struktur silabe dalam bahasa Indonesia secara umum adalah:

O         N         K

Keterangan:

O=onset

N=nukleus

K=koda

Meskipun bunyi vokoid memang hampir selalu menjadi puncak kenyaringan dalam suatu silabe, tidak tertutup kemungkinan bahwa kontoid pun, baik bersuara maupun tidak, dapat menjadi puncak silabe. Dengan demikian, pada kasus tersebut, kontoid menjadi inti/nukleus silabe.

Untuk contoh kasus, Chaer (2003:124) memberikan contoh kata nggak [ŋ'gak] dalam dialek Jakarta. Kata tersebut terdiri dari empat bunyi, [ŋ], [g], [a], dan [k]. Kata tersebut dari dua silabe, [ŋ] dan [gak]. Kenyaringan pada silabe pertama terletak pada satu-satunya bunyi pada silabe tersebut, yaitu kontoid [ŋ].

Penentuan batas silabe sebuah kata kadangkala sukar karena penentuan batas tersebut bukan sekadar problematika fonetik tetapi juga soal fonemik morfologi, dan ortografi. Sebagai contoh, ambillah kata makan. Kata tersebut dapat dipecah menjadi [ma] dan [kan], tetapi kata makanan yang dibangun oleh bentuk dasar makan [ma] + [kan] dan sufiks -an dipecah menjadi [ma], [ka], dan [nan]. Pada contoh kasus tersebut, koda pada silabe [kan] pada kata makan berpindah tempat menjadi onset pada silabe [nan] pada kata makanan padahal secara ortografi, dan menurut ketentuan ejaan bahasa Indonesia, silabenya adalah [ma], [kan], dan [an]–dalam pemenggalan suku kata, bentuk dasar harus utuh dan dipisahkan dari konstituen morfem terikat.

Mengenai kontoid tak bersuara yang menjadi puncak silabis, Verhaar (2004:60) memberi contoh kata sepakat [səpakàt]. Sejatinya, kata tersebut terdiri dari tiga silabe, [sə], [pa], dan [kàt]. Akan tetapi, kata sepakat, dalam tuturan sehari-hari, cenderung diujarkan dengan menghilangkan bunyi [ə] pada silabe pertama menjadi [spakàt]. Dengan begitu, tinggallah [s] sebagai satu-satunya anggota suku kata pertama.

Fonotaktik Suku Kata Bahasa Indonesia

Alwi (1993:28) menjelaskan, “Kaidah fonotaktik adalah kaidah yang mengatur perjejeran fonem dalam bahasa Indonesia.” Djoko kentjono (2005: 164) sendiri memberi penjelasan, “Kaidah fonotaktik yakni aturan dalam merangkai fonem untuk membentuk satuan fonologis yang lebih besar, misalnya suku kata.”

Untuk bahasa Indonesia, dikenal beberapa pola atau fonotaktik suku kata. Berikut ini adalah fonotaktik dan contohnya.

  1. V , misalnya [a] dalam abu [a] + [bu]
  2. VK, misalnya [ak] dalam aksi [ak] + [si]
  3. KV, misalnya [pa] dalam pasi [pa] +[si]
  4. KVK, misalnya [bun] dan [cis] dalam buncis [bun] + [cis]
  5. KKV, misalnya [slo] dalam slogan [slo] + [gan]
  6. KKVK, misalnya [stem] dalam stempel [stem] + [pel]
  7. KVKK, misalnya dalam teks [teks]
  8. KKKV, misalnya [stra] dalam strategi [stra] + [te] + [gi]
  9. KKKVK, misalnya [struk] dalam struktur [struk] + [tur]
  10. KKVKK, misalnya [pleks] dalam kompleks [kom] + [pleks], dan
  11. KVKKK , misalnya dalam korps [korps]

Bahasa Indonesia mengizinkan jejeran seperti /-nt-/ (untuk), /-rs-/ bersih, dan /-st-/ pasti, tetapi tidak seperti /-pk-/ dan /-pd-/ tidak ada morfem bahasa Indonesia yang menjejerkan fonem seperti yang dicontohkan di atas. Jadi, bentuk-bentuk seperti opkir dan kapdu terasa janggal dan memang tidak ada kata dengan jejeran fonem yang demikian dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, singkata, terutama dalam bentuk akronim, hendaknya serasi dengan kaidah fonotaktik kita. Selain tidak mengizinkan jejeran /-pk-/ dan /-pd-/ dalam bahasa Indonesia tidak dijumpai suku kata yang berakhiran /c/ dan /j/.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kaidah fonotaktik adalah kaidah yang mengatur perjejeran fonem untuk membentuk fonologis yang lebih besar.

Fonotaktik suku kata suatu bahasa penting untuk diketahui khususnya dalam penyusunan tata ejaan bahasa tersebut. Ini karena fonotaktik suku kata juga dapat membantu menentukan kemungkinan distribusi-distribusi bunyi bahasa tersebut.

Umlaut dan Ablaut

Umlaut adalah istilah yang berasal dari bahasa Jerman. Dalam studi fonologi, istilah ini berarti perubahan vokoid sedemikian rupa sehingga vokoid itu diubah menjadi vokoid yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokoid yang berikutnya yang lebih tinggi. Di dalam penulisannya, umlaut dilambangkan dengan tanda dua titik di atas grafem/lambang bunyi yang berumlaut. Misalnya, dikenal umlaut ä ü dan ö dalam bahasa Jerman fällen, Füße, dan Wörter.

Ablaut adalah perubahan vokoid yang ditemukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman. Perubahan ini berfungsi menandai berbagai fungsi gramatikal. Misalnya, dalam bahasa Jerman vokoid [a] yang berubah menjadi [ä] untuk mengubah bentuk singular menjadi plural. Contoh lain pada bahasa Inggris sing yang berubah menjadi sang dan sung.

Ketika membicarakan proses penciptaan bunyi yang kemudian dikenali sebagai suara, bahasan tentang hal yang mendampingi terjadinya proses pembuatan suara pun ikut dibicarakan. Bahwa bunyi yang dihasilkan oleh organ manusia pada praktiknya tidak lepas dari berbagai hal, seperti jeda, intonasi dan durasi saat bunyi itu diucapkan.