Peradaban lembah sungai Hwang Ho dikenal pula dengan peradaban lembang sungai kuning. Mengapa sungai kuning? Sebab, sepanjang alirannya dari pegunungan Kwen Lun Tibet melewati pegunungan Cina utara sampai ke Teluk Tsii-Li, kerap membawa lumpur berwarna kuning. Daerah lembah sungai Hwang Ho yang subur, menjadi tempat muasal peradaban Cina kuno, yang nantinya memiliki pengaruh pula pada beberapa kebudayaan Asia. Peradaban ini berlangsung sekitar tahun 3000 SM. Ahli paleoantropologi dari Kanada, Prof. Davidson Black, menyimpulkan bahwa pendukung utama peradaban lembah sungai Hwang Ho adalah manusia kera dari Cina (sinanthropus penikensis).

Dari Dinasti ke Dinasti

Dalam peradabannya, Cina pernah dipimpin oleh berbagai dinasti yang silih berganti. Masing-masing dinasti ini memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Dinasti-dinasti tersebut, antara lain Dinasti Hsia, Dinasti Shang, Dinasti Chou, Dinasti Qin, Dinasti Han, dan Dinasti Tang. Ada dua bentuk sistem pemerintahan dalam kehidupan pemerintahan Cina kuno, yakni unitaris dan feodal. Dalam sistem pemerintahan unitaris, penguasa dinasti (kaisar) memiliki kekuasaan yang mutlak pada pemerintahan.

Dia berhak penuh serta mempunyai keterlibatan langsung di seluruh kegiatan politik praktis. Sedangkan dalam bentuk pemerintahan feodal, kaisar dianggap titisan dewa dan dianggap sakral, maka dia tidak ada campur tangan langsung terhadap urusan politik praktis. Dalam sebuah dinasti, biasanya banyak negara kecil yang tunduk pada negara induk. Jika kaisarnya kuat dan berpengaruh, negara-negara kecil tersebut akan tunduk. Namun, jika kaisar atau pemerintahan pusatnya lemah, negara-neagra kecil ini akan berontak dan melawan pusat. Tidak heran konflik perang saudara kerap terjadi.

Dinasti Hsia berdiri pada tahun 2000 sampai 1500 SM. Dinasti ini merupakan dinasti tertua dalam sejarah Cina, tapi sayangnya dinasti ini tidak meninggalkan dokumentasi tertulis. Dinasti berikutnya, adalah Dinasti Shang yang berdiri pada tahun 1500 hingga 1100 SM. Di zaman Dinasti Shang, bangsa Cina sudah menganut kepercayaan terhadap Dewa Shang Ti. Pada 1222 hingga 221 SM, Dinasti Chou berdiri, dengan pusatnya di Chang An. Bentuk pemerintahan feodal berlaku ketika itu. Sistem ini kemudian membagi menjadi kerajaan-kerajaan kecil, yang tetap tunduk pada kerajaan pusat.Di masa ini tiga filsuf berpengaruh muncul, yakni Lao Zi, Kung Fu Zi, dan Mengzi.

Pada 221 SM dimulai pemerintahan Dinasti Qin, dan berakhir pada tahun 207 SM. Raja yang terkenal, yakni Kaisar Shih Huang Ti. Pusatnya berada di Han Tan. Dinasti Qin menghapuskan sistem feodal yang sudah ada sebelumnya, lalu digantikan dengan sistem negara persatuan dan kekuasaan terpusat (unitaris). Di masa Dinasti Qin, tepatnya ketika Shih Huang Ti berkuasa, ada beberapa keputusan yang penting, antara lain pembangunan jalan-jalan yang menghubungkan pusat dengan daerah; pembangunan tembok raksasa Cina; penyeragaman tulisan di semua wilayah Cina; penyeragaman ukuran, timbangan, dan peralatan pertanian; dan keputusan membakar dan memusnahkan kitab ajaran Kung Fu Zi, untuk mengamankan kekuasaannya dari orang-orang yang berseberangan dengan pemerintah.

Setelah itu, Dinasti Han berdiri dari tahun 206 SM hingga 220 M. Pada masa kekuasaan Kaisar Han Wu Ti, ajaran Kung Fu Zi dan sistem feodal kembali dibangkitkan. Dinasti Han juga berjasa membangun jalur sutera lewat Asia tengah. Kemudian, pada tahun 589 hingga 618 M berlangsung pemerintahan Dinasti Sui. Dalam sejarah silih-bergantinya dinasti di Cina kuno, Dinasti Tang yang berdiri pada tahun 618 sampai 906 M dianggap sebagai dinasti yang paling berjaya.Li Yuan yang bergelar Tang Kao Tsu merupakan pendiri dinasti ini. Masa kejayaan Dinasti Tang terjadi pada masa Kaisar Tang Tai Tsung yang berhasil menyatukan seluruh wilayah Cina, hingga ke Kamboja, Persia, dan Laut akspia.

Hasil-hasil Peradaban

Mungkin yang paling terkenal dan fenomenal dari hasil peradaban lembah Sungai Kuning atau Sungai Hwang Ho adalah tembok raksasa Cina. Tembok ini dibangun pada masa pemerintahan Dinasti Qin. Tembok sepanjang 7000 kilometer, dan tinggi 16 meter ini dibangun untuk menangkal serbuan bangsa Syung-nu dari bagian utara Cina. Penguasa Dinasti Qin, yakni Kaisar Qin Shi Huang, ketika itu membangun tembok dengan menghubungkan antardinding pertahanan yang sudah ada. Dengan adanya tembok raksasa yang mengeliling tersebut, pusat pemerintahan Dinasti Qin menjadi aman. Tembok ini masih berdiri kokoh hingga saat ini, dan menjadi salah satu objek wisata andalan negara tersebut. Tembok raksasa Cina juga masuk dalam 7 keajaiban dunia.

Di bidang filsafat, muncul berbagai aliran. Perkembangan filsafat sendiri mengalami peningkatan pada masa pemerintahan Dinasti Chous. Saat itu, ada tiga filsuf besar yang muncul, yakni Kong Fu Zi, Lao Zi, dan Mengzi. Ajaran Lao Zi dituliskan dalam kitab Tao The Ching. Ajarannya dikenal dengan Taoisme.Inti ajaran Taoisme sendiri adalah pasrah pada nasib, menjunjung keadilan dan kesejahteraan. Ketidakpatuhan manusia terhadap ajaran Tao, dipercaya para penganutnya akan menyebabkan timbulnya bencana. Ajaran Kong Fu Zi dikenal dengan Kong Hu Chu.

Ajaran ini mengajarkan bahwa kekuatan yang mengatur alam semesta, dan memberikan keselarasan.Ajaran ini percaya kalau masyarakat merupakan kumpulan keluarga, dengan seorang ayah yang menjadi sentralnya. Hubungan ini diinterpretasikan, rakyat harus menghormati dan patuh pada seorang raja, tapi raja pun harus memerintah dengan cakap dan bijaksana. Sedangkan ajaran Mengzi (Mencius) sedikit terbalik dengan ajaran Kong Fu Zi. Menurut ajaran ini, rakyat merupakan bagian yang terpenting dari sebuah negara, bukan raja. Ketiga tokoh filsafat ini adaalh para peletak dasar filsafat timur.

Selain filsafat, dunia kesusastraan pun berkembang di Cina kuno, terutama pada massa pemerintahan Dinasti Han. Hal ini tidak lepas dari penemuan kertas di masa itu. Pada zaman Dinasti Tang, ada dua pujangga yang menonjol, yakni Tu Fu dan Li Tai Po. Sebelum mengenal Taoisme, Kong Hu Chu, dan Mencius, bangsa Cina sudah percaya keberadaan dewa-dewa. Mereka juga sudah berpikir soal keadaan bumi. Menurut mereka, bumi itu berbentuk persegi empat yang ditutupi sembilan lapis langit. Di tengah bumi terdapat daerah yang didiami bangsa Cina, di luar daerah mereka dianggap daerah kosong yang dihuni hantu dan dewi pengausa musim semi.

Bangsa Cina saat itu sudah mengenal ilmu perbintangan (astronomi). Berkembangnya astronomi tidak lepas dari aktivitas mereka dalam bertani dan berlayar. Bangsa Cina memang menggantungkan hidup dari bercocok tanam. Tanaman yang lazim dikerjakan, yakni gandum, teh, kedelai, dan padi. Sejak zaman Neolitikum, bangsa Cina sudah mengenal kegiatan pertanian. Sistem irigasi yang baik juga sudah mereka terapkan. Dari ilmu perbintangan ini, sistem penanggalan pun bisa dibuat.

Peradaban lembah sungai Hwang Ho juga menghasilkan seni lukis, keramik, dan patung. Lukisan yang biasa dibuat, antara lain lukisan dewa-dewa, lukisan pemandangan atau alam semesta, serta lukisan para penguasa. Hasil dari lukisan ini dipajang di istana dan kuil-kuil. Keramik Cina sudah terkenal sejak dulu. Dengan kualitas yang sangat baik, keramik sudah menjadi komoditi andalan mereka. Arsitektur pun berkembang, terlihat indah dan megah, terutama istana, sebab bangsa Cina menganggap raja itu titisan dewa, maka harus diperlakukan dengan sangat “anggun.”

Cina, melalui peradaban lembah sungai Hwang Ho, merupakan salah satu muasal peradaban yang terpenting dunia. Satu hal yang perlu dicatat, dari sisi tulisan, sistem penulisan bangsa Cina konsisten dari zaman dulu. Peradaban Cina kuno menghasilkan temuan penting yang akhirnya menjadi warisan berharga bagi dunia modern saat ini, di antaranya kertas, kompas, serbuk mesiu, serta materi mesin cetak.