Dalam kajian Ilmu Sosiologi, kita akan menemukan pembahasan mengenai kekuasaan. Sesuai dengan sifatnya, pembahasan Sosiologi tidak memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang baik-buruk atau yang salah-benar. Dalam pembahasannya, Sosiologi mengakui bahwa kekuasaan merupakan unsur penting yang terdapat di dalam kehidupan manusia. Kekuasaan bisa menjadi baik atau buruk, tbergantung bagaimana kekuasaan tersebut digunakan untuk mencapai suatu tujuan yang sudah ditentukan dan disadari oleh masyarakatnya.

Kekuasaan cenderung bergantung dari hubungan antara pihak yang berkuasa dengan pihak yang dikuasai, artinya kekuasaan bisa pula diartikan sebagai kemampuan untuk dapat memengaruhi pihak lain sesuai dengan kehendak pemegang kekuasaan atau penguasa. Pemegang kekuasaan dikenal dengan istilah pemimpin, sedangkan orang-orang yang menerima, mengikuti pengaruhnya dinamakan pengikut.

Salah satu contoh bentuk kekuasaan yang terdapat dan terjadi di Negara Indonesia yaitu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang bisa mengesahkan suatu undang-undang, atau seorang guru yang menyuruh muridnya untuk mengerjakan soal-soal latihan dengan waktu yang sudah ditentukan oleh guru tersebut, juga seorang mandor yang menyuruh bawahannya untuk melakukukan aksi pemogokan dan masih banyak contoh yang bisa ditemui mengenai kekuasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan Tokoh Sosiologi

Seorang tokoh Sosiologi, Max Webber, dalam bukunya berjudul Essay in Sociology, mengatakan bahwa kekuasaan merupakan kesempatan yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang untuk membantu masyarakat sadar akan kemauannya. Sekaligus mengaplikasikannya terhadap tindakan perlawanan yang berasal dari orang atau golongan tertentu.

Terdapat banyak sumber kekusaan, misalnya birokrasi, kemampuan dan keahlian dalam bidang-bidang tertentu, hak atas kepemilikan sesuatu contohnya kepemilikan atas benda, kedudukan dan lain sebagainya. Dalam kehidupan bermasyarakat kekuasaan hadir di hubungan-hubungan sosial, organisasi-organisasi sosial, kelompok-kelompok.

Kekuasaan tertinggi umumnya terletak pada “negara.” Negara memiliki hak secara formal dalam melaksanakan kekuasaan tertinggi. Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa suatu negara menjalankan kekuasaannya dengan cara paksaan, pembagian kekuasaan-kekuasaan dari yang tertinggi sampai yang terendah juga dilakukan oleh negara atau lebih dikenal dengan istilah “kedaulatan” (sovereignity).

Kedaulatan biasanya dijalankan oleh segolongan kecil masyarakat yang menamakan dirinya the ruling class. Golongan kecil masyarakat ini merupakan suatu gejala yang biasa ditemukan di masyarakat. Di dalam the ruling class terdapat pemimpin, walaupun secara hukum dia bukan pemegang kekuasaan tertinggi. Salah satu contohnya adalah negara dengan sistem kerajaan, yang dipimpin oleh raja sebagai pemimpin tertinggi memiliki seorang perdana menteri. Pada kenyataannya seorang perdana menteri bisa mempunyai kekuasaan yang lebih besar dari rajanya.

Suatu bentuk kekuasaan bisa mengakibatkan gejala yang timbul pada masyarakatnya, misalnya saja perasaan tidak puas terhadap yang diperintahkan oleh penguasanya. Perasaan-perasaan tersebut akan berpengaruh terhadap kebijaksanaan-kebijaksanaan atau aturan dari the ruling class. Perasaan tidak puas masyarakat terhadap kekuasaan negara, umumnya muncul pada waktu pergantian kekuasaan dari pemimpin lama ke yang baru.

Perasaan tidak puas bisa karena adanya perbedaan pikiran antara pihak yang menguasai dan dikuasai, perbedaan tersebut bisa karena pikiran golongan yang berkuasa memiliki pikiran yang lebih maju sedangkan golongan yang dikuasai masih berpikir secara tradisional.

Perasaan tidak puas bisa mengakibatkan suatu pemberontakan. Oleh karenanya penguasa atau suatu golongan berusaha untuk membenarkan kekuasaannya sebagai kekuasaan yang legal, baik dan adil agar terus didukung, diterima oleh masyarakat dan secara otomatis kekuasaan tersebut dapat bertahan. Jadi, sifat kekuasaan dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari apabila terdapat hubungan yang simetris dan asimetris.

Hubungan dalam Kekuasaan

Hubungan simetris adalah hubungan yang memiliki persamaan, dan bisa tercermin dari perilaku orang lain. Dalam hubungan simetris, menekankan persamaan dan meminimalisasi perbedaan-perbedaan. Sifat lainnya hubungan ini adanya iklim kompetitif antara yang satu dengan yang lainnya dan berusaha mempertahankan keunggulan ataupun kesetaraan dengan orang/pihak lain. Contoh hubungan simetris yang biasa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:

  • Hubungan persahabatan.
  • Hubungan sehari-hari dengan lingkungan.
  • Hubungan yang bersifat ambivalen, yaitu hubungan yang berbeda antara yang diucapkan dengan yang dilakukan.
  • Adanya pertentangan yang diakibatkan oleh perbedaan pendapat, ketidaksesuaian dan lain-lain antara mereka yang memiliki kedudukan yang sama/sejajar.

Sedangkan yang dimaksud dengan hubungan asimetris adalah hubungan yang tidak memiliki persamaan antara yang satu dengan yang lainnya. Contoh hubungan asimetris yang bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:

  • Popularitas.
  • Peniruan.
  • Sikap untuk mengikuti  dan tunduk pada perintah.
  • Sikap tunduk pada pemimpin formal maupun non-formal.
  • Sikap tunduk dan patuh terhadap seorang ahli.
  • Adanya pertentangan yang diakibatkan oleh perbedaan pendapat, ketidaksesuaian antara mereka yang memiliki kedudukan yang berbeda/tidak sejajar.
  • Hubungan sehari-hari dengan lingkungannya.

Kekuasaan bisa bersumber dari berbagai macam faktor dan apabila sumber-sumber kekuasaan tersebut dihubungkan dengan fungsi dan kegunaannya, akan diperoleh gambaran sebagai berikut:

1. Sumber dari Militer, Polisi, Kriminal

Kegunaan sumber kekuasaan dari militer dan polisi berkaitan dengan tugas-tugasnya, yaitu menjaga dan mengendalikan, memiliki kegunaan untuk mengamankan, mengendalikan kejahatan, kekerasan atau bentuk-bentuk yang bisa menimbulkan rasa takut, tidak aman masyarakat. Misalnya polisi wajib menangkap pelaku aksi-aksi kejahatan yang dianggap dapat membahayakan dan merugikan masyarakat.

2. Sumber dari Ekonomi

Kemampuan ekonomi menjadi hal yang penting dalam mendapatkan kekuasaan, misalnya saja seseorang yang memiliki kekayaan atau kemapanan akan lebih mudah untuk memengaruhi orang. Kemampuan ekonomi bisa dijadikan jalan pintas seseorang untuk mendapatkan kekuasaan, yang dikenal dengan istilah menyuap (memberikan uang) kepada pihak-pihak yang dinilai bisa membantu dan berpengaruh untuk merealisasikan keinginannya.

3. Sumber dari Politik

Politik memiliki kaitan dan hubungan yang erat dengan kekuasaan, karena politik itu sendiri merupakan kekuasan. Polotik digunakan untuk kemudahan mengambil putusan.

4. Sumber dari Hukum

Hukum adalah peraturan-peraturan yang memiliki sifat memaksa dan mengatur tingkah laku masyarakat. Hukum dibuat oleh badan-badan formal/resmi. Karena sifatnya memaksa, maka bagi siapa pun yang melanggarnya, akan diberikan sanksi atau hukuman tertentu. Sumber kekuasaan dari hukum memiliki kegunakan untuk mempertahankan, mengubah, dan melancarkan interaksi.

5. Sumber Kekuasaan dari Tradisi

Tradisi adalah kebiasaan yang sudah ada secara turun-menurun pada setiap generasi. Sumber kekuasaan dari tradisi memiliki kegunaan untuk mempertahankan dan menjaga sistem kepercayaan dan nilai-nilai.

6. Sumber Kekuasaan dari Ideologi

Yang dimaksud dengan ideologi adalah asas atau dasar yang dicita-citakan dan menjadi tujuan pemerintahan suatu negara. Sumber kekuasaan ini digunakan untuk pandangan hidup dan integrasi.

7. Sumber dari Diversionary Power

Sumber ini digunakan untuk kepentingan yang rekreatif, maksudnya adalah bagaimana kekuasaan tersebut digunakan untuk berbagai macam kepentingan pribadi ataupun kepentingan sekelompok orang. Misalnya suatu pemerintahan daerah yang mengusulkan dan mengajukan kepada pemerintah pusat perihal pembangunan jalan, gedung sekolah, ajuan bantuan dana bagi korban bencana yang terjadi di daerahnya dan lain sebagainya.

Dari pembahasan mengenai pengertian dan sumber-sumber kekuasaan berdasarkan kegunaanya, dapatlah disimpulkan bahwa kekuasaan digunakan berdasarkan tujuan-tujuan tertentu dan hal ini bisa dilihat dari asal mula sumber kekuasaan tersebut muncul.