Stukturalisme merupakan salah satu cabang teori sastra yang mampu membawa kritikus sastra ke dalam satu pemahaman yang maksimal, karena teori ini berfungsi untuk melihat prinsip antarhubungan dan konsep fungsi yang terdapat dalam karya sastra. Dalam penganalisisan karya sastra dengan menggunakan teori strukturalisme, kita akan melihat bagaimana setiap unsur yang terdapat dalam karya sastra memiliki fungsi yang berbeda antara satu dengan lainnya. Fungsi-fungsi tersebut berkembang tidak hanya dipengaruhi oleh jenisnya, tetapi juga konvensi dan tradisi sastra yang mempengaruhi karya sastra tersebut.

Dengan adanya fungsi yang berbeda-beda pada setiap unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra, mau tidak mau antara unsur-unsur tersebut terbangun suatu hubungan yang menjadikannya sebagai sebuah totalitas. Hubungan yang dimaksudkan dalam karya sastra tidak semata-mata berisikan hubungan positif antara satu unsur dengan unsur lainnya, namun juga termasuk hubungan negatif yang berkaitan dengan konflik dan pertentangan dalam karya sastra. Dengan melihat hubungan antarunsur sebagai suatu totalitas dalam karya sastra, maka terbentuklah suatu mekanisme baru yang membentuk pemaknaan-pemaknaan baru. Berikut kita akan mebmbahas beberapa teori strukturalisme yang dapat digunakan dalam pengkajian karya sastra.

1.Teori Semiotika

Semiotika merupakan cabang ilmu yang membahas dan menerjemehkan tanda-tanda yang terdapat dalam perbahasaan. Teori semiotika ini dilatarbelakangi oleh empat tradisi yang mengikutinya, seperti semantik, logika, retorika, dan hermeneutik. Semiotika memang cenderung terdengar lebih linguistik karena aspek penggunaan bahasa merupakan faktor penting dalam penganalisisannya. Namun, bukan berarti penggunaan teori semiotika dalam penganalisisan karya tidaklah mungkin dilakukan. Semiotika mungkin digunakan dalam penganalisisan karya sastra karena sastra menggunakan bahasa sebagai medium utamanya, kenyataan inilah yang memungkinkan karya sastra sebagai bentuk seni kebahasaan untuk menyimpan atau menggunakan sistem tanda sebagai salah satu aspek yang diaplikasikan dalam kesusastraan.

Teori semiotika dikategorikan dalam lingkaran ilmu strukturalisme karena penggaplikasian teori ini sangat mirip, jika stukuturalisme fokus pada karya maka semiotika fokus pada tanda yang terdapat dalam karya sastra. Dengan adanya hubungan yang sangat erat antara strukturalisme dan semiotika, para peneliti sastra cenderung mengelompokkan mereka pada satu payung yang sama, yaitu payung teori strukturalisme. Semiotika dalam kajian strukturalisme itu sendiri terdiri atas tiga kelomok dasar, yaitu semiotika komunikasi, semiotika konotatif, dan semiotika ekspansif.

Semiotika dalam penelitian kesusastraan berfungsi sebagai alat untuk memproduksi dan menafsirkan tanda, namun semiotika sekarang ini tidak hanya berbicara soal produksi dan penafsiran tanda saja, namun juga melihat apa-apa saja manfaat yang dihasilkan oleh sistem penandaan tersebut, dan bagaimana sistem penanda tersebut dapat bekerja secara maksimal. Dalam keilmuan linguistik, sistem penandaan ini dikenal lewat penjelasan Sausure mengenai bagaimana sebuah tanda bekerja dalam sebuah bahasa. Pemahaman Sausure mengenai ilmu penandaan tersebut membawanya tidak hanya sebagai seorang ahli kebahasaan, tetapi juga seorang alhi linguistik dunia yang mendorong munculnya teori strukturalisme.

Dalam perkembangannya, Sausure membagi aspek dalam teori semiotiknya atas pasangan yang saling bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya. Pasangan konsep tersebut terdiri atas penanda atau yang juga disebut dengan signifier, signifant, dan semaion dengan konsep penentangnya adalah berupa petanda atau signified, signifie, semainomenon. Dalam konsep semiotik yang diusung oleh Sausure kita juga akan menemukan istilah-istilah parole sebagai ucapan dari tiap individual, langue sebagai bahasa umum, sintagmatis, paradigmatis, diakroni, dan sinkroni yang juga termasuk dalam lahan pengkajian semiotik.

Selain Sausure masih terdapat ahli semiotika lainnya yang juga mendukung perkembangan keilmuan semiotika, seperti Peircean. Peircean dalam studinya membagi tiga dinamisme internal yang terjadi dalam ilmu semiotik yang meliputi intensitas hubungan antara satu tanda dengan tanda yang lain, hubungan tanda dengan acuannya, dan hubungan antara pengirim dan penerima tanda. Selain melihat pembagian hubungan tanda yang terdapat dalam univers, Peircean juga membedakan tanda menjadi tiga kelompok utama yang meliputi representament atau tanda itu sendiri, objek atau objek yang diacu oleh tanda, dan intrepetan atau tanda baru yang terbentuk dalam batin si penerima tanda.

Dalam praktiknya terhadap penelitian kesusastraan, tanda tidak hanya mencakup bahasa saja, meskipun bahasa menjadi topik utama dalam pembahasan tanda-tanda yang terdapat dalam karya sastra. Hubungan tanda dalam karya sastra juga berlaku terhadap penganalisisan hubungan antara penulis, karya sastra, dan pembaca. Hubungan tanda yang tidak terikat pada stuktur kebahasaan membuat teori ini berkembang pada aspek-aspek keilmuan lain sehingga melahirkan teori-teori baru seperti teori ekspressif, pragmatik, intertex, reseps sastra, dan sebagainya.

2. Strukturalisme Genetik

Berikut kita akan membahas teori lain yang masih berada di bawah cakupan kajian strukturalisme, setelah sebelumnya kita membahas mengenai teori semiotika. Selanjutnya adalah teori strukturalisme genetik yang lahir sebagai bentuk pertentangan terhadap bentuk strukturalisme murni yang hanya terfokus pada unsur-unsur intrinsik dalam sebuah karya sastra, teori ini melangkah jauh dengan merambah struktur sosial sebagai landasan kajiannya. Oleh karena itu, tidak akan mengejutkan apabila kita kemudian mengetahui bahwa teori ini dilahirkan oleh seorang ahli sosiolog Perancis yang bernama Lucien Goldmann.

Dalam teorinya, Goldman tidak langsung melihat bagaimana hubungan antara karya sastra dengan realita sosial sebagaimana yang kita lakukan dalam kajian sosiologi sastra. Namun, Goldman terlebih dahulu mengaitkan hubungan kelas sosial dominan yang merupakan dasar pemikiran dari Karl Marx. Meskipun dia menggunakan teori Kalr Marx dalam penelitiaannya, namun tidak berarti teori ini sama dengan apa yang disajikan dalam teori marxist. Dalam pengaplikasiannya teori Goldmann lebih menggunakan relevansi struktur dengan metode dialektik, berbeda dengan marxist yang lebih menggunakan positivistik dengan melakukan penolakan terhadap struktur.

Strukturalisme genetik merupakan suatu teori yang digunakan untuk melihat asal-usul sebuah karya sastra. Teori ini tidak hanya melihat unsur-unsur ekstrinsik dan intrinsiknya, namun mencakup keilmuan yang lebih luas dengan didukung oleh teori-teori lainnya, seperti teori simetri, homologi, kelas-kelas sosial, subjek transindividual, dan bagaimana pandangan dunia. Dalam penelitiannya, langkah-langkah penganalisisan tidak hanya mencakup penelitian terhadap unsur-unsur karya sastra, tetapi juga hubungan unsur karya sastra dengan totalitas, hubungan unsur-unsur masyarakat sebagai genesis karya sastra dan totalitas masyarakat, serta keseluruhan hubungan karya sastra dengan masyarakat.

3. Strukturalisme Naratologi

Cakupan kajian strukturalisme selanjutnya yang akan kita bahas pada bab ini adalah strukturalisme naratologi. Dalam pengkajiannya, teori strukturalisme naratologi biasa diartikan secara luas dengan mengaitkannya dengan konsep dasar teori naratolog yang menjadi pedoman utama teori ini. Terdapat beberapa pakar ahli yang menfokuskan kajian mereka di bawah naungan teori strukturalisme naratologi ini, di antaranya adalah:

  1. Vladimir Iakovlevic Propp: bahan kajian utama proop adalah cerita rakyat Rusia. Dari penelitiannya tersebut Propp menemukan bahwa struktur penulisan dalam cerita rakyat terdapat satu kesamaan yang mendasar. Bukan berarti yang dimaksudkan Propp adalah jalan cerita yang sama tentunya, tapi lebih mengarah kepada persamaan struktur cerita yang meliputi perbuatan dan peran-perannya yang cenderung sama dengan lainnya.
  2. Levi Strauss yang fokus pada antropologi sastra terutama bidang mitos. Menurutnya mitos yang terkandung dalam dongeng merupakan bentuk dari naratif yang berkaitan dengan konsep kebudayaan tertentu.
  3. AJ Greimas yang kemudian dikenal sebagai pelopor teori Six Actans. Keenam actans yang dibentuk oleh Graimass dibagi menjadi tiga kelompok yang beroposisi biner antara satu dengan yang lainnya, yaitu pengirim vs penerima, subjek vs objek, san penolong vs penentang. Keenam actans tersebut kemudian dilihat sebagi unsur-unsur utama yang terdapat dalam sebuah karya sastra.

Selain ketiga teoritikus sastra tersebut di atas, masih terdapat beberapa tokok teoritikus sastra lainnya yang juga berada di bawah naungan kajian teori strukturalis naratologi seperti: Rimmon-Kenan dan Tzetan Todorov. Masing-masing teorist membangun teori mereka sendiri berdasarkan fakta-fakta yang mereka temukan dalam karya sastra dan teori-teori tersebut sampai sekarang pun masih digunakan sebagai alat bantu utana penelitian sastra.

4. Teori Formalisme

Formalisme merupakan cabang teori kesusastraan lainnya yang berdiri di bawah kajian strukturalisme, teori ini lahir disebabkan oleh hadirnya tiga faktor penentu yaitu: penolakan terhadap prinsip-prinsip kausalitas, pendekatan tradisional, dan pergeresan paradigma diakronis ke sinkronis. Pada perkembangannya, teori ini lahir untuk menolak fakta-fakta yang melihat karya sastra sebagai ungkapan pandangan hidup dan faktor-faktor budaya yang mempengaruhinya.

Teori formalisme digunakan sebagai alat untuk melihat karya sastra sebagai pola suara dan kata formal. Teori ini berfungsi untuk meneliti puitika dalam kesusastraan, asosiasi, oposisi dan sebagainya dengan melihat unsur-unsur yang terdapat dalam kesusastraan. Teori ini dimanfaatkan sedemikian rupa untuk tidak merusak teks kesusastraan yang ada, namun memaksimalkan fungsi yang ada dalam karya sastra tersebut sehingga terbentuklan sebuah teks kesusastraan yang tertata sempurna.

Teori yang asal mulanya lahir lewat para pemikir sastra Rusia ini berusaha untuk membantah teori formalisme Rusia yang diduga tidak mendukung perkembangan kesusastraan yang ada pada saat itu. Teori formalisme rusia hanya melihat bentuk dari sebuah karya sastra, namun mengabaikan isi yang terdapat dalam karya sastra tersebut. Terdapat beberapa teoritikus sastra terkenal yang mendukung terbentuknya teori ini seperti Rene Wellek, Roman Jacobson, dan beberapa teortikus sastra lainnya yang memusatkan studi kajian formalisme mereka di kota Praha akibat ketidakseimbangan kondisi politik rusia pada saat itu.

5. Fabula dan Sjuzet

Fabula dan Sjuzet merupakan teori formalisme yang paling terkenal dan sering digunakan sebagai kajian dasar penelitian kesusastraan. Teori ini dikembangkan oleh Victor Barisovick Shklovski yang melihat bagaimana sebuah karya sastra itu terkonstruksi dan terolah secara biasa dan juga netral atau yang juga lebih dikenal dengan sebutan Fabula dan Sjuzet sebagai hasil karya sastra yang indah. Secara garis besarnya Fabula merupakan materi mentah yang akan dijadikan karya sastra, sedangkan Sjuzet merupakan sarana untuk menjadikan karya sastra tersebut menjadi sebuah karya yang tersusun dan terorganisir menjadi suatu karya yang ganjl atau aneh.

Kedua istilah tersebut biasa kita temukan dalam teori Shklovski yang disebut sebagai teori defamilirasi atau yang juga dimaksudkan sebagai karya sastra yang dibuat aneh. Defamilirasi merupakan suatu teknik pembuatan karya sastra yang menjadikan cerita berlatar belakang kejadian sehari-hari ataupun hal-hal yang umum menjadi suatu bentuk karya sastra yang aneh dan asing sehingga para pembaca karya sastra tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengerti akan apa yang dimaksudkan di dalam karya sastra tersebut.

Dari penjelasan di atas kita dapat melihat bahwa kajian strukturalisme dalam menganalisisan karya sastra tidak semata-mata membahas unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam karya sastra saja. Namun lebih dari itu, teori strukturalisme mampu melihat hubungan tanda yang terdapat dalam karya sastra, hubungan masyarakat dan karya sastra, bahkan melihat kajian narasi dari karya sastra. Sangat tidak benar jika kita melihat teori strukturalisme sebagai teori yang hanya bicara soal itu-itu saja karena hanya terpaku pada unsur-unsur intrinsik kesusastraan, karena pada kenyataannya banyak hal yang dapat diungkapkan oleh para penganalisis sastra hanya dengan menggunakan teori strukturalisme, apakah dengan melihat penggunaan tanda pada karya sastra, struktur narasi, dan sebagainya.

Loading...