Dalam kegiatan ekonomi kita mengenal istilah barter. Barter sering digunakan oleh orang terdahulu sebelum mengenal uang. Untuk dapat mengenal lebih jauh tentang barter, kita harus memahami sesuatu yang terkait dengannya. Adapun hal yang akan kita gali dalam artikel ini adalah tentang kelemahan barter, sistem barter serta bagaimana tinjauan islam terhadap barter ini. Seperti apakah barter tersebut jika diaplikasikan dalam kegiatan ekonomi?

Pengertian Barter

Barter merupakan tradisi yang dilakukan oleh orang zaman terdahulu dalam kegiatan ekonomi. Dalam barter, tidak ada aturan yang jelas tentang barang yang ditukarkan. Prinsip yang digunakan dalam barter adalah suka sama suka. Artinya, jika antara orang yang satu dengan yang lain setuju dengan barang yang akan ditukarkan, maka barter dianggap sah. Misalnya, emas ditukar dengan kambing. Secara nilai, emas lebih tinggi nilainya daripada kambing. Namun, di dalam barter, meskipun nilainya berbeda, tetapi kedua pihak sudah menyetujuinya, maka pertukaran itu dianggap sah.

Barter merupakan cara yang dilakukan oleh manusia sebelum mengenal mata uang. Sehingga, tidak ada rujukan yang jelas tentang batasan nilai dari suatu barang. Bagi mereka yang tidak mengetahui akan nilai barang yang ditukarkan, tentu akan mengalami kerugian. Sedangkan bagi mereka yang pandai dalam menganalisa suatu barang akan mengalami keuntungan. Tetapi, kebanyakan dari mereka jarang memperhitungkan hal tersebut. Dalam pikiran mereka, selama barang itu dikehendaki maka apapun rela untuk ditukarkan.

Sejarah Barter

Barter merupakan awal terjadinya suatu perdagangan. Barter tidak hanya digunakan untuk barang, tetapi juga untuk jasa. Dalam sejarahnya, sistem ekonomi barter dilakukan pertama kali pada 6000 Sebelum Masehi. Adapun suku yang diyakini menggunakannya adalah Mesopotamia. Kemudian, sistem barter ini diadopsi oleh suku Venesia. Mereka menggunakan sistem barter untuk menukarkan barang-barang yang dimilikinya dengan barang milik lain di kota-kota lain.

Kemudian, sistem barter ini dikembangkan di daearah Babel. Kebanyakan orang di daerah sana menggunakan barter dalam wujud barang, di antarannya senjata, teh, dan makanan. Bahkan, mereka juga melakukan barter tengkorak manusia. Namun, di antara sekian barang tersebut yang paling sering di barter adalah garam. Pada masa itu, garam dijadikan sebagai gaji para tentara romawi.

Pada abad pertengahan, barter mengalami perkembangan yaitu dengan adanya pemberlakuan barter yang berwujud jasa. Pedagang yang mempunyai usaha menggunakan jasa orang lain untuk menjual produknya ke luar kota atau ke luar negeri. Beberapa jasa penjualan produk yang paling sering dilakukan adalah produk bulu, sutra, dan yang lainnya. Kebanyakan barang tersebut di jual ke negara bagian timur.

Sistem barter ini juga sangat berkaitan dengan awal berdirinya universitas di Amerika. Adapun universitas tersebut adalah Universitas Oxford dan Universitas Harvard. Karena masih menggunakan barter, para mahasiswa membayar biaya kuliah dengan barang yang seadanya. Misalnya, dengan ternak, makanan, dan kayu bakar.

Memasuki tahun 1930, orang-orang sudah mulai mengenal uang. Hal ini terbukti dengan menggunakan pihak ketiga dalam proses barter. Pihak ketiga tersebut di antaranya adalah bank. Dalam hal ini, barang tersebut menjadi milik perbankan. Syaratnya, pihak pemilik dan pembeli harus mempunyai rekening bank tersebut.

Misalnya, A ingin menjual peluru. Sedangkan B ingin membeli peluru. Kedua orang ini datang ke bank untuk proses transaksi. Ketika terjadi kesepatan maka akan berpengaruh kepada rekening mereka. Rekening pembeli akan berkurang dan rekening penjual akan bertambah.

1. Sistem Ekonomi Barter Pertama Kali

Penggunaan barter sebagai sebuah sistem ekonomi pertama kali dilakukan oleh orang Kubu. Kebanyakan orang yang menggunakannya adalah pedagang. Selain pedagang, sebenarnya kalangan lain pun sudah menggunakan barter. Ketika seseorang berkeinginan untuk melakukan barter, maka dia harus datang ke hutan karena tempat tersebut paling sering ditempati orang Kubu.

Adapun tempat khusus yang sering digunakan untuk barter di hutan ini dikenal dengan istilah banir. Istilah ini tidak asing lagi bagi orang Kubu. Banir merupakan tempat tumbuhnya pohon yang akarnya justru tumbuh di bagian atas pohon. Di tempat itulah mereka melakukan barter dengan orang Kubu yang lain.

Setelah orang yang hendak melakukan berter berada di bawah pepohonan itu, ada beberapa hal yang mereka lakukan sebelum dilakukan barter. Caranya adalah memukul banir tersebut dengan kayu. Ketika banir dipukul maka akan mengeluarkan suara. Kemudian, jika ada suara lain dari pukulan banir itu maka dia juga siap untuk barter. Oleh karena itu, untuk mendapatkan barang yang ada, hendaknya memukul banir dengan keras. Sehingga, suara yang ditimbulkan juga keras.

Setelah kedua pihak setuju, maka pedagang harus segera menjauh dari tempat itu. pedagang yang dimaksud adalah orang yang memukul banir pertama kali. Lalu, orang Kubu akan menilainya. Jika sesuai maka orang Kubu akan membawa barang pedagang. Sedangkan barang orang Kubu akan ditaruh di tempat pedagang tadi. Begitulah proses barter terjadi pertama kali.

2. Sistem Ekonomi Barter Sekarang

Sistem ekonomi barter sudah jarang dilakukan oleh orang sekarang. Namun, ada beberapa orang yang masih menggunakan barter. Perbedaannya barteradalah tempat yang digunakan bukan di hutan melainkan di rumah, hotel atau tempat yang lain. Biasanya, barter ini dilakukan oleh orang kaya. Dimana mereka rela mendapatkan barang yang diinginkan meski harus menukar barang yang tidak senilai.

Misalnya, emas batangan ditukar dengan prangko tahun 1988. Hal ini bisa terjadi jika orang tersebut membutuhkan prangko 1988 itu. biasanya, mereka menggunakannya untuk koleksi prangko. Untungnya adalah ketika di ikutkan dalam pameran prangko baik di tingkat nasional maupun internasional.

Kelemahan Barter

Setelah ditinjau lebih jauh, barter ternyata masih memiliki kelemahan. Kelemahan ini timbul di kalangan masyarakat sekarang. Dengan sekian banyak sistem ekonomi yang begitu canggih, barter ini dianggap kurang tepat untuk dijadikan pilihan saat ini. Kelemahan ini tidak hanya diamini oleh masyarakat dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Adapun kelemahan-kelemahan barter itu adalah sebagai berikut.

1. Proses Pemadanan Kehendak

Misalnya, A mempunyai barang X  yang akan ditawarkan. Begitu pula B mempunyai barang Y yang ditawarkan kepada A. Baik A ataupun B harus menaksir barang yang ditawarkan. A harus menaksir barang Y dan B harus menaksir barang X. Tujuannya, supaya didapatkan hasil yang sesui sehingga barter akan berjalan sesuai keinginan keduanya.

Permasalahannya, proses pemadanan nilai dari barang itu membutuhkan waktu yang lama. Pemadanan seperti ini tidak hanya memakan waktu satu jam atau dua jam, tetapi lebih dari itu. Maka, proses inilah yang menjadi salah satu permasalahan utama dalam barter sehingga timbul ketidakjelasan dalam bertransaksi. Dengan ini akan timbul kerugian di antara salah satu pihak.

2. Kebutuhan yang Tidak Sesuai

Kebutuhan tidak sesuai ini dapat dicontohkan dengan sapi dan ikan. Harga seekor sapi lebih mahal daripada seekor ikan. Permasalahannya adalah ketika sang pemilik ikan menginginkan 3 kg daging sapi untuk ditukarkan dengan seekor ikan. Tentu, sang pemilik sapi tidak akan menyembelih sapinya meski dia menginginkan ikan.

Contoh di atas merupakan kebutuhan yang tidak sesuai. Satu sisi membutuhkan ikan, sementara di sisi yang lain hanya membutuhkan sebagian daging sapi. Barter semacam ini tidak akan bisa terlaksana. Karena, kebutuhan kedua belah pihak tidak sesuai keinginan. Ini menjadi kelemahan barter yang kedua.

3. Simpanan Nilai dan Tidak Tahan Lama

Setiap barang mempunyai nilai yang berbeda. Semakin bagus kualitas suatu barang semakin besar pula nilainya. Demikian sebaliknya, semakin buruk kualitas barang semakin kecil pula nilainya, bahkan tidak ada nilai sama sekali terhadap barang tersebut. Barang yang seperti ini biasanya tergolong barang rusak. Ketika barang rusak tentu tidak tahan lama.

Jenis barang seperti itu tidaklah layak untuk ditukarkan karena akan sangat merugikan kepada pihak yang lain. Tujuan utama dari pertukaran ini adalah saling menguntungkan. Jadi, jika ada salah satu pihak yang dirugikan maka pertukaran itu dianggah tidak sah.

Demikianlah pembahasan mengenai sistem barter ini. Semoga apa-apa yang terdapat dalam artikel ini dapat memberikan pengetahuan yang positif bagi pembac dan semoga bermanfaat.