Shalat Sunnah Tarawih

Pelaksanaan Shalat Sunnah Tarawih biasa dilakukan sehabis Shalat Isya. Melaksanakan Shalat Sunnah Tarawih bisa menambah pahala kita karena dengan melaksanakannya, maka amalan-amalan yang kita peroleh akan bertambah. Kita sebagai hamba Allah yang ingin menambah keimanan dan ketakwaan guna mendapatkan tambahan pahala dan agar bisa menutupi kekurangan-kekurangan yang kita lakukan pada shalat wajib, perlu sekali jika kita melaksanakannya secara rutin.

Shalat Tarawih ini dapat dilakukan sendiri-sendiri atau dapat pula secara berjamaah. Namun secara umum, kita melaksanakannya secara bersama-sama sehabis Shalat Isya. Batas dalam pelaksanaan menurut ketentuannya, Shalat Tarawih dapat dilakukan dalam rentang waktu sesudah Isya hingga terbit fajar (atau waktu subuh). Hukum dari Shalat Sunnah Tarawih adalah sunnat muakkad, penting bagi muslim lelaki dan perempuan.

Dari Aisyah bahwa Rasulullah Saw pada suatu malam (di bulan Ramadhan) mendirikan shalat, lalu datang orang-orang pada berikutnya (ingin shalat bersama beliau). Kemudian, datanglah malah ketiga atau keempat dan orang-orang pun sudah berdatangan, namun beliau tidak keluar. Saat pagi datang beliau bersabda: "Aku telah melihat yang kalian lakukan, dan aku tidak keluar karena aku takut shalat itu nantinya diwajibkan kepada kalian." (HR. Muslim)

Jumlah rakaat Shalat Sunnah Tarawih ada yang pelaksanaannya 20 rakaat, ada juga yang hanya 8 rarakaat. Masih belum ada keterangan yang pasti tentang jumlah rakaat dalam Shalat Sunnah Tarawih, yang terpenting dalam melaksanakannya kita lakukan secara ikhlas khusyuk karena itulah yang akan dinilai oleh Allah Swt.

Cara mengerjakan Shalat Sunnah Tarawih bisa dilakukan dengan cara setiap dua rakaat diakhiri dengan salam, ada pula yang empat rakaat, lalu salam. Keduanya diperkenankan. Namun, yang lebih utama, yaitu dua rakaat salam, sesuai sabda Rasulullah Saw beikut ini.

“Shalat malam adalah dua rakaat-dua rakaat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Setelah selesai Shalat Sunnah Tarawih, diteruskan dengan Shalat Witir sekurang-kurangnya satu rakaat, tapi pelaksanaannya pada umumnya dikerjakan 3 rakaat dengan dua salam atau boleh juga tiga rakaat dengan satu salam. Niat Shalat Tarawih cukup diucapkan dalam hati. Tidak dianjurkan untuk melafalkannya. Yang paling utama, yaitu niat tulus beribadah karena Allah ta’ala.

Adapun niat Shalat Sunnah Tarawih dua rakat sebagai berikut:

“Ushalli sunnatat taraawiihi rak’ataini (ma’muman) lillahi ta’aalaa”

Artinya: "Aku niat Shalat Tarawih dua rakaat (menjadi ma’mum/imam) karena Allah Ta’ala."

Doa Sesudah Shalat Tarawih

Allaahummaj’alnaa bil-iimaani kaamiliina wa li faraa’idhika mu’addiina wa’alash-shalawaati muhaafizhiin, wa liz-zakaati faa’iliin, wa limaa ‘indaka thaalibiin, wa li ‘afwika raajiina wa bil-hudaa mutamassikiina, wa ‘anil-laghwi mu’ridhiin, wa fid-dun-yaa zaahidiin, wa fil-aakhiirati raaghibiina wa bil-qadhaa’i raadhiin, wa bin-na’maa’i syaakiriina wa ‘alal-balaayaa shaabiriina wa tahta liwaa’i liwaa’i sayyidina muhammadin shallallaahu ‘alaihi wa sallama yaumul-qiyaamati saa’iriina wa ‘alal-haudhi waaridiina wa fil-jannati daa-khiliina wa’alaa sariiratil-karaamati qaa’idiin, wa bi huurin ‘iinim mutazawwijiina, wa min sundusin wa istabraqin wa diibaajin mutalabbisiin, wa min tha’aamil-jannati aakiliin, wa min labanin wa’asalim mushaffiina syaaribiina bi akwaabiw wa abaariiqa wa ka’sim mim ma’iin. Ma’al-ladziina an’amta ‘alaihim minan-nabiyyina wash-shiddiiqiina wasy-syuhadaa’i wash-shaalihiina wa hasuna ulaa’ika rafiiqaa, dzaalikal-fadhlu wa kafaa billaahi ‘aliimaa, wal-hamdu lillaahi rabbil-‘aalamiin.

Artinya:

“Ya Allah, jadikanlah kami (orang-orang) yang imannya sempurna, dapat menunaikan segala fardhu, menjaga shalatnya, menunaikan zakat, menuntut/mencari segala kebaikan di sisi-Mu, mengharap keampunan-Mu, senantiasa memegang teguh petunjuk-petunjuk-Mu, terlepas/terhindar dari segala penyelewengan dan zuhud di dunia dan mencintai amal untuk bekal di akhirat dan rela terhadap ketentuan-Mu dan mensyukuri segala nikmat-Mu dan tabah (sabar) menerima cobaan-Mu, dan semoga nanti pada hari kiamat kami dalam satu barisan di bawah naungan panji-panji junjungan kami Nabi Muhammad Saw. Dan melalui telaga yang sejuk, masuk di dalam surga, terhindar dari api neraka dan duduk di tahta kehormatan, didampingi oleh bidadari surga, dan mengenakan baju-baju kebesaran dari sutera berwarna-warni, menikmati santapan surga yang lezat, minum susu dan madu yang suci bersih di dalam gelas-gelas dan kendi-kendi yang tak kering-kering, bersama orang-orang yang telah Engkau beri nikmat pada mereka dari golongan para nabi, siddiqin, dan orang-orang yang syahid serta orang-orang saleh. Dan baik sekali mereka menjadi teman-teman kami. Demikianlah kemurahan dari Allah Swr dan kecukupan dari Allah Yang Maha Mengetahui. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”

Keutamaan Shalat Sunnah Tarawih

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa melakukan qiyamu Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (Diriwayatkan Al-Bukhari [1901] dalam kitab Ash-Shaum dan Muslim [760] dalam kitab Shalatul Musafirin)

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu, beliau bersabda, “Siapa yang shalat (malam) bersama imam hingga ia selesai, maka ditulis untuknya pahala melaksanakan shalat satu malam penuh.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud [1375] dalam kitab Ash-Shalah; At-Tirmidzi [806] dalam kitab Ash-Shiam; An-Nasa’i [1605] dalam kitab Qiyamul Lail; dan Ibn Majah [1327] dalam kitab Iqamatush Shalah. At-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih). Berkenaan dengan hadits di atas, Imam Ibn Qudamah mengatakan, “Dan hadits ini adalah khusus pada qiyamu Ramadhan (Tarawih).” (Al-Mughni [2/606]

Shalat Sunnah Witir

Shalat Witir hukumnya sunnah muakkad, sunnah yang diutamakan. Waktunya sesudah Shalat Isya sampai fajar sebelum Shalat Shubuh. Shalat Witir disunnahkan setiap hari dan tidak hanya pada bulan Ramadhan. Jumlah rakaat pada Shalat Witir adalah ganjil, bilangan rakaatnya 1, 3, 5, 7, 9, dan 11 rakaat. Minimal kita mengerjakan satu rakaat dan maksimal kita mengerjakan 11 rakaat. Yang paling sempurna adalah 3 rakaat.

Bila melaksanakan witir lebih tiga rakaat, maka dilakukan setiap dua rakaat salam dan ditutup dengan satu rakaat. Bila melaksanakan tiga rakaat boleh dilakukan langsung 3 rakaat seperti Shalat Maghrib, tapi tanpa melakukan tasyahud awal.

Tetapi sebagian ulama melihat bahwa dipisah lebih utama, yaitu dua rakaat salam baru melaksanakan yang satu rakaat terus salam karena ada hadist yang mengatakan bahwa, "Janganlah menyamakan witirmu dengan Maghrib." (HR Baihaqi)

Jumlah Shalat Sunnah Witir yang biasa dikerjakan oleh Rasulullah adalah 11 rakaat dan jumlah sebelas itu telah cukup sebagaimana dinyatakan oleh Aisyah ra yang artinya:

“Tidaklah pernah Nabi Saw melebihi shalat malam (witir) melebihi dari sebelas rakaat.”

Shalat witir tidak disunnahkan berjamaah, kecuali bersama dengan Shalat Tarawih. Surah yang disunnahkan dibaca dalam Shalat Sunnah Witir 3 rakaat adalah "Sabbih-isma Rabiika", Al-Kafiruun dan rakaat ketiga Al-Ikhlas dan Muawwidzatain.
Jika ada seseorang merasa khawatir akan tidak dapat melaksanakan Shalat Witir di tengah atau akhir malam, sebaiknya melaksanakannya setelah Shalat Isya atau setelah Shalat Tarawih pada bulan Ramadhan.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda: "Barangsiapa mengira tidak akan bangun malam, maka hendaknya ia berwitir pada awal malam, barangsiapa merasa yakin bisa bangun malam, maka hendaknya ia berwitir di akhir malam karena shalat akhir malam dihadiri malaikat." (HR Muslim, Ahmad, Tirmizi)

Niat shalat witir 1 rakaat:

Ushallii sunnatal witri rak’atan lillaahi ta’aalaa’

Artinya : Aku niat shalat sunnah witir satu rakaat karena Allah Ta’aalaa’

Niat Shalat Witir 2 rakaat:

Ushallii sunnatal witri rak’ataini lillaahi ta’aalaa’.

Artinya : Aku niat shalat sunnah witir dua rakaat karena Allah Ta’aalaa’

Niat Shalat Witir 3 rakaat:

Ushalli sunnatal witri tsalatsa raka’aatin lillahi ta’aalaa.

Artinya: “Aku niat shalat sunnah witir tiga rakaat karena Allah Ta’ala.”

Doa Sesudah Witir

Allaahumma Innaa Nas’aluka Imaanan Daa-Iman, Wa Nas’aluka Qalban Khaasyan, Wa Nas’aluka “Ilman Naafi’an, Wa Nas’aluka Yaqiinan Shaadiqan, Wa Nas’aluka ‘Amalan Shaalihan, Wa Nas’aluka Diinan Qayyiman, Wa Nas’aluka Khairan Katshran, Wa Nas’alukal ‘Afwa Wal ‘Aafiyah, Wa Nas’aluka Tamaamal Aafiyah, Wanas’alukasys Yukra Alal Aafiyah, Wa Nas’alukal Grilnaa ‘Aninnaas. Allaahumma Rabbanaa Taqabbal Minnaa Shalaatanaa Wa-Shiyaamanaa Wa Qiyaamanaa Watakhasy-Syu’anaa Wa Tadharru’anaa Wa Ta’abbudanaa Wa Tammim Taqshiiranaa, Yaa Allaahu Yaa Allaahu Ya Allaahu Yaa Arhamar Raahimi Washallallaahu ‘Alaa Khairi Khalqihi Muhammadin Wa ‘Alaa Aalihi Wa Shahbihi Ajma’iina Wal Hamdu Lillaahirabbil ‘Aalamiin.

Artinya:

“Wahai Allah! Sesungguhnya kami memohon kepada-Mu iman yang tetap, kami memohon kepada-Mu hati yang khusyu’, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, kami memohon kepada-Mu keyakinan yang benar, kami memohon kepada-Mu amal yang shaleh, kami memohon kepada-Mu agama yang lurus, kami memohon kepada-Mu kebaikan yang banyak, kami memohon kepada-Mu ampunan dan afiat, kami memohon kepada-Mu kesehatan yang sempurna, kami memohon kepada-Mu syukur atas kesehatan, dan kami memohon kepada-Mu terkaya dari semua manusia. Wahai Allah, Tuhan kami! Terimalah dari kami shalat kami, puasa kami, shalat malam kami, kekhusyu’an kami, kerendahan hati kami, ibadah kami, Sempurnakanlah kelalaian (kekurangan) kami, wahai Allah, wahai Allah, wahai Allah, wahai Zat Yang Paling Penyayang di antara para penyayang, Semoga rahmat Allah tercurahkan kepada sebaik-baik makhluk-Nya, Muhammad, keluarga dan sahabatnya semua, dan segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam”

Doa-doa yang Lazim Dibaca Setelah Witir:

  • Allaahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii (dibaca 3 kali).
  • Allaahumma inna nas-aluka ridhaaka wal jannata wana’uudzu bika min sakhathika wan naari (dibaca 3 kali) Artinya : “Ya Allah, Engkaulah Tuhan yang memberi ampun, dan Engkau-lah Tuhan yang suka memberi ampun, karena itu ampunilah hamba, ya Allah , hamba mohon keridhaan-Mu / Surga dan hindarkanlah hamba dari kemurkaan-Mu dan dari api neraka.

Selesai shalat witir bisa juga membaca doa-doa dibawah ini :

  • Subbuuhun qudduusun rabbunaa wa rabbul-malaaikati war-ruuh. Artinya : “Maha Suci Tuhan kami, Tuhan segala malaikat dan ruh.
  • Subhaanallaahil malikil-qudduus (dibaca 3 kali). Artinya: Maha Suci Tuhan, raja quddus (suci).
  • Rabbil-malaa’ikati war-ruuh. Artinya: “Tuhan segala malaikat dan ruh”
  • Allaahumma innii a’uudzu bika bi ridhaaka min sakhathika wa bi mu’aafatika min ‘uquubatika wa a’uudzu bika minka laa uhshii tsanaa’an ‘alaika anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsik. Artinya: “Ya Allah di bawah keridhaan-Mu hamba mohon berlindung dari kemurkaan-Mu dan dengan ampunan-Mu dari siksaan-Mu ; hamba mohon berlindung daripada-Mu, tidak dapat hamba hitung segala pujaan dan sanjungan atas-Mu sebagaimana telah Tuhan sanjungkan akan diri-Mu.”  

Shalat Sunnah Hari Raya / Shalat Ied

Shalat sunnah hari raya ada dua, yaitu Hari Raya Iedul Fitri yang pelaksanannya dilakukan pada 1 Syawal dan Shalat Sunnah Hari Raya Iedul Adha yang dilakukan pada 10 Dzulhijjah. Sementara itu, waktu pelaksanaan shalat Sunnah hari raya dimulai pada saat matahari terbit sampai dengan matahari condong atau sampai tergelincirnya matahari.

Kedua shalat Sunnah hari raya ini hukumnya Sunnah muakkad bagi laki-laki dan perempuan, mukim ataupun musafir. Shalat Sunnah hari raya boleh dikerjakan sendirian, tapi sebaiknya dilakukan secara bersama-sama atau berjamaah.

Dalil mengerjakan shalat Sunnah hari raya yaitu Shalat Iedul Fitri dan Iedul Adha terdapat  dalam firman Allah Swt, yaitu:

Fashalli lirabbika waanhar

Artinya: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkorbanlah.” (QS. Al Kautsar: 2)

Adapun cara mengerjakan shalat Sunnah hari raya sebagai berikut.

  • Waktu pagi hari pada 1 Syawal untuk Shalat Iedul Fitri atau pada 10 Dzulhijjah untuk Shalat Iedul Adha dan dilaksanakan sehabis melaksanakan Shalat Shubuh dan sesudah mandi Sunnah hari raya. Shalat sunnah hari raya ini dilaksanakan di amsjid atau di lapangan. Dalam pelaksanaannya, disarankan kita banyak-banyak membaca takbir.
  • Sewaktu sampai di masjid sebelum duduk diSunnahkan melakukan Shalat Tahiyatul Masjid sebagai bentuk penghormatan kita terhadap masjid sebagai rumah Allah Swt. Sementara itu, di tanah lapang tidak ada Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid, kita bisa langsung duduk dan berulang-ulang kita baca takbir sebanyak-banyaknya dengan tujuan untuk mengagungkan asma Allah Swt. sampai tiba waktu shalat ied.
  • Niat Shalat Ied atau shalat Sunnah hari raya seperti halnya shalat-shalat yang lain cukup diucapkan dalam hati. Yang terpenting adalah niat hanya semata karena Allah Ta’ala semata dengan hati yang ikhlas dan mengharapkan Ridha-Nya, apabila ingin dilafalkan jangan terlalu keras dan jangan mengganggu muslim lainnya. Memang ada beberapa pendapat tentang niat ini harus dipergunakan dengan bijaksana. Lafal atau niatnya shalat sunnah hari raya sebagai berikut.

Niat Shalat Iedul Fitri

“Ushalli sunnatal li’iidil fitri rak’ataini (makmuuman) lillaahi ta’aalaa”

Artinya: “Aku niat Shalat Idul Fitri dua rakaat (makmum) karena Allah Ta’ala”

Niat Shalat Iedul Adha

“Ushalli sunnatal li’iidil adh-haa rak’ataini (makmuuman) lillaahi ta’aalaa”

Artinya: “Aku niat shalat idul adha dua rakaat (makmum) karena Allah Ta’ala”

  • Pada rakaat pertama, sesudah niat lalu membaca takbiratul ihram, dan membaca doa iftitah, dilanjutkan takbir lagi sebanyak 7 kali, dan disetiap habis takbir disunnahkan membaca: Subhaanallaahi wal-hamdu lillaahi wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar/ Artinya: “Mahasuci Allah dan segala puji bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha besar. Setelah takbir sebanyak 7 kali diteruskan dengan membaca surah Al Fatihah dan disambung dengan membaca surah sesuai dengan keinginan. Namun, diSunnahkan membaca Surah Al A’laa (Sabbihisma rabbikal a’laa).
  • Setelah berdiri pada rakaat kedua, kita membaca takbir 5 kali. Dalam setiap takbir disunnahkan membaca tasbih seperti pada rakaat pertama. Lalu, dilanjutkan membaca Al Fatihah dan surah yang dinginkan, tetapi lebih utama membaca surah Al Ghasyiah. Imam menyaringkan atau mengeraskan bacaannya pada saat membaca surah Al Fatihah dan surah-surah lainnya, sedangkan makmum tidak nyaring. Shalat Sunnah hari raya dikerjakan sebanyak dua rakaat dan dilakukan seperti shalat-shalat lainnya.
  • Khutbah shalat Sunnah hari raya dilakukan dua kali sesudah melakukan shalat, yaitu pada khutbah pertama dimulai dengan membaca takbir sebanyak 9 kali. Setelah itu, khutbah kedua dimulai dengan membaca takbir sebanyal 7 kali dan dilakukan secara berturut-turut.
  • Sebaiknya, khutbah untuk Iedul Fitri membahas tentang pengertian dan penerangan tentang fitrah, sedangkan untuk Iedul Adha dibahas tentang ibadah haji dan hukum kurban.

Sebelum melaksanakan shalat hari raya, berikut ini hal-hal yang harus dilakukan:

  • Kita diSunnahkan untuk mandi dan berhias dengan memakai pakaian yang sebaik-baiknya serta menggunakan wangi-wangian yang dimiliki.
  • Sebelum berangkat untuk shalat hari raya Iedul Fitri, sebaiknya kita makan dulu. Akan tetapi, pada hari raya Iedul Adha disunnahkan untuk tidak makan dulu kecuali setelah pelaksanaan shalat.
  • Pergi niat untuk melaksanakan shalat hari raya dan sebaiknya kita pulang mengambil jalan lain yang berbeda dari keberangkatan kita tadi.
  • Pada hari raya kita disunnahkan untuk membaca takbir sebanyak-banyaknya di luar shalat dan waktunya adalah:
    • Pada hari raya Iedul Fitri takbir dimulai dari terbenamnya matahari sampai Imam berdiri untuk mengerjakan shalat hari raya;
    • Pada hari raya Iedul Adha takbir dimulai dari Shubuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) dan pada tiap-tiap shalat fardhu lima waktu pada hari dan tanggal saat itu;
    • Adapun lafal takbiran sebagai berikut:

Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar, Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahilhamdu. Allaahu akbar kabiiraa, wal-hamdu lillaahi katsiiran, wa subhaanallaahi bukrataw wa ashiilaa, laa ilaaha illallaahu wa laa na’budu illaa iyyaahu mukhlishiina lahud-diina wa lau karihal-kaafiruun. Laa ilaaha illallaahu wahdahu shadaqa wa’dahu wa nashara ‘abdahu wa a’azza jundahu wa hazamal-ahzaaba wahdahu. Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahil-hamdu.

Artinya: “Allah Maha Besar (3 kali) tidak ada Tuhan melainkan Allah, Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah, Allah Maha Besar dan Maha Agung dan segala puji bagi Allah, Maha Suci Allah pada pagi dan petang, tiada Tuhan melainkan Allah dan tidak ada yang kami sembah kecuali hanya Allah, dengan ikhlas kami beragama kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir membenci. Tidak ada Tuhan melainkan Allah sendiri-Nya, benar janji-Nya, dan Dia menolong akan hamba-Nya, dan Dia mengusir musuh Nabi-Nya dengan sendiri-Nya, tiada Tuhan melainkan Allah, Allah Maha Besar dan bagi-Nya segala puji.”

Perlu diperhatikan bahwa pada hari raya Iedul Fitri maupun Iedul Adha sebaiknya anak besar maupun anak kecil, tua, muda dianjurkan untuk meramaikannya bahkan wanita-wanita yang sedang haid pun dianjurkan keluar lapangan meski tidak melaksanakan ibadah shalat hari raya.

Demikian penjelasan artikel ini. Semoga dapat bermanfaat, bagi yang sudah tahu semoga akan lebih bersemangat dalam mengamalkannya dan bagi yang belum mengetahui semoga bisa membuka pintu hidayah dalam memahami dan mengamalkannya.