Teori sastra merupakan kajian yang telah melakukan revolusi berulang kali dengan perkembangan teori yang semakin marak dan terperinci pada fokus-fokus tertentu. teori sastra yang kita kenal sekarang ini merupakan bentuk pengembangan teori-teori kesusastraan Yunani kuno yang dikembangkan oleh dua orang teoritikus sastra yang terkenal masa itu yaitu Plato dan Aristoteles. Kita mengenat plato lewat teori mimesisnya yang mennyatakan bahwa karya sastra merupakan suatu bentuk peniruan dari alam semesta. Di sisi lain Aristoteles dengan Aristotele’s poetics menyingkap bagaimana mengidentifikasi karya sastra dan melihat elemen-elemen yang mengikatnya.

Dalam perkembangannya, teori sastra kemudian mulai menjamah lahan-lahan yang dulunya tidak menjadi bagian dari penelitian sastra, seperti psikologi, sosiologi, dan antroponologi. Beberapa teori kesusastraan lainnya mungkin lahir akibat perkembangan ideologi dan pengetahuan manusia mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia itu sendiri. Teori sastra sekarang ini tidak lagi hanya sebatas pengetahuan yang hanya menganalisis unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam karya sastra, namun cakupannya mampu menjamah aspek-aspek kemasyarakatan yang mendunia.

Dalam penelitian kesusastraan, teori sastra berfungsi sebagai alat untuk menganalisis karya sastra. Jika sastra diibaratkan seperti kue bolu maka teori sastra adalah pisau pemotong kue yang berfungsi untuk membagi-bagi karya sastra dan menganalisisnya secara satu persatu. Teori sastra seringkali disamaratakan dengan kritik sastra, namun meskipun mereka memikiki beberapa persamaan, tetapi keduanya tetap menjadi dua studi yang berbeda. Jika teori merupakan alat untuk menganalisis sastra, maka kritik sastra merupakan proses menganalisis karya sastra tersebut dan memberikan nilai terhadap karya sastra tersebut.

Adab ke-18 dan 19 merupakan titik penting sejarah perkembangan teori sastra, karena pada zaman tersebut hampir seluruh Eropa mengalami perubahan sosial masyarakat yang juga kemudian mempengaruhi fungsi karya sastra dalam masyarakat itu sendiri. Pada abad-abad terebut Eropa mengalami revolusi Perancis dan industri, belum lagi diikuti oleh munculnya faham-faham dan ide-ide baru dalam masyarakat yang berkaitan dengan kehidupan mereka seperti faham-faham marxist, feminist, dan sebagainya. Perkembangan dunia yang secara signifikan inilah yang kemudian memacu perkembangan teori kesusastraan, yang merambah aspek-aspek eksternal yang ada di sekitar karya sastra. Meskipun perkembangan teori kesusastraan berkembang pesat antara abad ke-18 dan 19, namun profesi sebagai kritikus sastra baru kemudian dikenalkan pada abad ke-20.

Sebelum mencapai tahap kemodernisasian teori sastra pada sekarang ini, para teoritikus sastra seringkali mengalami kemandekan dalam perkembangan bentuk-bentuk teori yang dihasilkan. Seringkali teori yang terbentuk merupakan suatu bentuk tindakan sebagai pertentangan terhadap teori-teori sebelumnya. Seperti teori post-strukturalisme yang lahir sebagai upaya untuk mengejek-ngejek teori stukturalisme yang lahir sebelumnya.

Namun selain itu, beberapa teori kesusastraan lahir akibat pergolakan yang terjadi dalam masyarakat. Lahirnya teori sastra dilatarbelakangi ilmu kefilsafatan baru, atau perubahan-perubahan dalam masyarakat. Seperti teori marxist yang dilatarbelakangi kajian Karl Marx yang melihat fenomena kapitalis sebagai dampak dari revolusi industri. Atau teori feminis yang lahir sebagai bentuk perjuangan pergerakan wanita dalam mendapatkan persamaan hak dan kesempatan. Perkembangan teori sastra, juga seringkali diikuti oleh perkembangan keilmuan lain. Seperti perkembangan ilmu psikologi Freud yang juga kemudian mulai mempengaruhi bentuk-bentuk teori psikologi sastra.

Sastra dengan keilmuan lainnya seringkali tidak dapat dipisahkan, hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa karya sastra merupakan penulisan kembali apa yang ada pada manusia sehingga sangat mungkin apabila seorang teoritus sastra mengaplikasikan bentuk-bentuk pendekatan humaniora lainnya sebagai jalan untuk mengungkap apa yang tersembunyi dalam karya sastra tersebut. Beberapa teoritikus sastra yang kita kenal juga tidak semata-mata berlatar belakang keilmuan sastra sebagai dasar pendidikan mereka tapi juga keilmuan lainnya, Seperti Freud dengan psikologinnya, Foucauld dan Derrida dengan pohilosophinya, Saussure dengan keilmuan linguistiknya, dan sebagainya. Keberagaman inilah yang kemudian melahirkan bentuk teori kesusastraan yang beragam.

Di Indonesia sendiri, teori-teori kesusastraan yang kita gunakan dalam penganalisisan karya sastra, masih merupakan teori-teori yang diadaptasi dari teori-teori kesusastraan barat. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi kenapa Indonesia lebih sering mengadaptasi bentuk-bentuk teori Eropa daripada membangun teorinya sendiri yang memang sesuai dengan latar belakang kebudayaannya bangsa. Selain karena Eropa lebih maju dalam pengembangan teori sastra, kemandekan pembentukkan teori kesusastraan nasional juga dikarenakan adanya keterlambatan-keterlambatan yang menyendat munculnya teori sastra di Indonesia. bentuk-bentuk keterlambatan itu terjadi akibat beberapa sebab, di antaranya jarak hubungan antara Eropa dan Indonesia, penyebaran buku-buku akademis yang tidak lancar, dan pemahaman bahasa asing yang rendah sehingga menyulitkan para penikmat sastra untuk mengerti apa yang dimaksud dengan teori sastra, fungsinya, dan cara kerjanya.

Diskusi mengenai perumusan teori dan kritik sastra sebenarnya sudah dimulai sejak zaman Pandji Poestaka. Pada zaman tersebut pembahasan mengenai teori dan krititik sastra dilakukan pada surat kabar dan majalah, namun tidak pada jenjang akademis yang lebih serius. Dengan begitu dokumen-dokumen mengenai pembuktian perumusan teori dan kritik tersebut nyaris tidak digubris untuk kemudian mendapatkan perhatian khusus para kritikus sastra. Alasan kenapa dukumen-dokumen surat kabar ini kemudian tidak ditinjaklanjuti adalah karena pada zaman tersebut para pengamat sastra lebih cenderung untuk menganalisis karya sastra yang berwujud buku, sehingga mengenyampingkan bentuk kesusastraan lainnya seperti cerita pendek, fuilleton, dan sebagainya kurang menjadi sorotan.

Selanjutnya adalah anggapan bahwa kajian kritik sastra hanya berlaku sebagai bentuk kritik ilmiah yang hanya ditemukan dalam institusi pendidikan semata. Sehingga pemaknaan terhadap teori dan kritik sastra menjadi semakin sempit. Sementara itu, bentuk kritik yang tersebar dan familiar di kehidupan masyarakat kita hanya berbentuk resensi buku-buku saja. Alasan terakhir yang juga menghambat perkembangan teori dan kritik sastra di Indonesia adalah perkembangan institusi-institusi yang mempengaruhi cara pandang terhadap teks-teks yang akan dipublikasikan lewat majalah dan koran.

Pembicaraan mengenai teori dan kritik sastra kemudian mengalami perkembangan pada masa angkatan pujangga baru. R.A. Hoesein Djajadiningrat adalah salah satu di antara beberapa kritikus sastra yang mulai menjamah lingkungan teori sastra dengan melakukan pengamatan pada sejarah perpantunan, terutama pada asal-usul kata pada pantun. Bahkan, lewat penjelasannya R.A. Hoesein Djajadiningrat kemudian membantah pandangan kritikus sastra barat mengenai pembentukkan stuktur pantun yang tersebar di Indonesia. Menurutnya, pantun merupakan perubahan bentuk dari peribahasa menjadi paribasan yang kemudian mengalami penghalusan sehingga berubah menjadi pantun. R.A. Hoesein Djajadiningrat mengambil kesimpulan bahwa pantun merupakan bentuk puisi melayu lama yang memiliki ciri-ciri khusus yang tidak ditemukan dalam karya sastra barat manapun. Selain dari R.A. Hoesein Djajadiningrat, terdapat beberapa penulis lain yang kemudian juga mulai tertarik akan perkembangan teori kesusastraan di tanah air, di antaranya adalah Amir Hamzah, Sanusi Pane, dan Soewandhi.

Sekarang ini, perkembangan teori dan kritik sastra sudah semakin pesat, para penulis tidak hanya membahas struktur pembentuk dari kesusastraan itu saja, tetapi juga mulai merambah ke aspek-aspek lain seperti praktik kekuasaan. Pengaplikasian kritik dan teori sastra juga tidak semerta-merta hanya meliputi pengkajian instansi pendidikan saja, tetapi juga sudah menjamah masyarakat yang lebih luas. Sehingga kita melihat kritik dan teori bukan lagi sebagai sesuatu yang hanya membahas itu-itu saja, tetapi lebih ke bentuk penikmatan seni lewat pola pandang yang lebih beragam.

Loading...