Bagaimana sejarah Negara Sudan Selatan? Sudan merupakan negara yang paling luas di Benua Afrika. Konflik yang disebabkan karena perebutan kekuasaan ribuan tahun yang lalu.

Tepatnya sejak Ethiopia yang dpimpin oleh Raja Aksum, menyerang dan menghancurkan ibukota Kerajaan Kus, Meroe. Ibukota tua tersebut merupakan kota yang dibangun dari Dinasti Mesir, orang-orang pertama kali datang ke Sudan bagian Utara, yaitu sekitar 4000 SM.

Kesenjangan Sudan Utara dan Selatan

Sudan mengalami konflik yang tak kunjung selesai. Kondisi alam membuat perekonomian negara ini semakin terpuruk. Di bagian utara sering terjadi bencana kekeringan yang panjang, kecuali di daerah sekitar sungai Nil. Sementara pertanian di bagian selatan tidak produktif, akibat letaknya jauh ke pedalaman, membuat wilayah Sudan Selatan sulit ditempuh dengan alat transportasi.

Padahal Sudan memiliki sumber daya alam melimpah, seperti tambang emas, tembaga, dan bijih besi. Sementara itu di wilayah pertanian, Sudan memiliki hasil alam gandum, kacang tanah, kapas, dan hewan ternak. Pada tahun 1979 ditemukan minyak bumi di Sudan utara, membuat Sudan Selatan mengalami lonjakan ekonomi.

Kesenjangan Sudan Utara dan Selatan sangat terlihat. Bukan hanya dari sektor ekonomi, melainkan juga dari segi etnis memiliki perbedaan. Di wilayah Sudan Utara mayoritas penduduknya adalah keturunan Arab, menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa utamanya.

Sementara itu, Sudan Selatan mayoritas penduduknya adalah orang Negro. Penduduknya mayoritas memeluk agama Kristen masih ada yang memegang kepercayaan tradisional. Sudan Selatan memiliki suku atau ras yang lebih beragam.

Kemerdekaan Sudan Selatan

Dalam perjalanan sejarah kemerdekaan Sudan Selatan dari mulai tahun 1956, pemerintahan Sudan selalui dikuasai oleh orang-orang Sudan Utara. Pada tahun 2005, sudah pernah dibuat perjanjian damai di bawah bantuan Negara Amerika Serikat. Namun perjanjian tersebut tidak berjalan efektif.

Tahun 2009 terjadi konflik di wilayah Selatan yang mengakibatkan ribuan korban jiwa. Tanggal 9 -15 Januari 2011 Sudan Selatan menyelenggarakan referendum untuk menentukan nasib dan masa depan mereka, seringkali mengalami eksploitasi dan kekerasan oleh Sudan Utara.

Pada tanggal 9 Juli 2011, akhirnya Sudan Selatan menjadi negara yang merdeka dan resmi menjadi negara Republik Sudan Selatan. Wilayah ini terbagi menjadi 10 bagian yang mencakup kawasan sejarah, yaitu Nil Hulu Raya, Bahr el Ghaza, dan kawasan Equatoria.

Setelah kemerdekaannya Sudan Selatan bergabung menjadi anggota ke 193 Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Dan memutuskan ibukota negaranya berada di kota Judan. Namun ternyata sejarah konflik Sudan Utara dan Selatan masih terjadi.

Pada tahun 2012 terjadi peledakan sumur minyak di Higling menyebabkan membuka kembali konflik antara Sudan Utara dan Selatan. Bahkan terjadi kontak senjata di antara ke dua pihak.

Berbagai diplomasi sudah dilakukan agar pertikaian tersebut bisa dihentikan. Meskipun kedamaian antar kedua belah pihak masih ada, namun harus tetap dijaga dan dihindari. Tujuannya agar tidak terjadi sesuatu yang menghambat dan memicu kembali pertikaian.

Demikian sejarah Negara Sudan Selatan yang baru mendapatkan kemerdekaannya. Semoga di masa yang akan datang kedua negara terjalin hubungan yang semakin baik.