Sejarah negara Rwanda akan membuat Anda mengerti bagaimana perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaannya. Rwanda merupakan negara yang berada di Afrika bagian timur. Negara Rwanda bagian utara berbatasan dengan Uganda, bagian timur berbatasan dengan Tanzania, bagian selatan berbatasan dengan Burundi, dan bagian barat berbatasan dengan Republik Demokratik Kongo.

Perang Sipil Rwanda

Di era 1990-an, Rwanda menjadi pusat perhatian dunia internasional karena adanya perang sipil dan pembantaian etnis yang menyebabkan ratusan nyawa melayang. Ingin tahu, bagaimana perang tersebut terjadi dan bagaimana akhirnya? Simak terus kelanjutan artikel ini. 

Rwanda dihuni oleh dua golongan etnis utama, yakni etnis mayoritas Hutu dan etnis minoritas Tutsi. Secara fisik dan budaya, kedua etnis ini terlihat sama. Tapi yang membedakan kedua etnis ini adalah etnis Tutsi dianggap memiliki status sosial tinggi dan mapan ekonominya karena memiliki kerajaan sendiri. Sementera etnis Hutu yang tidak dekat dengan kerajaan hanya bisa berprofesi sebagai petani dan pekerja kasar.

Perang sipil Rwanda merupakan perang saudara yang terjadi pada 1990 - 1994. Perang ini semakin panas karena diwarnai genjatan senjata. Peperangan tersebut dipicu oleh faktor perbedaan etnis. Kelompok pemberontak FPR yang mayoritas berasal dari etnis Tutsi melawan militer pemerintah Rwanda yang lebih didominasi oleh etnis Hutu.

Konon karena faktor perbedaan etnis pulalah yang mengakibatkan terjadinya genosida. Genosida yang dilakukan etnis Hutu kepada etnis Tutsi memakan banyak korban.

Pada 1894, Rwanda berada dalam kekuasaan Jerman. Namun Jerman tidak membubarkan kerajaan milik etnis Tutsi dengan syarat mereka tetap tunduk pada aturan orang-orang Jerman. Kemudian pada 1918, Jerman mengalami kekalahan di PD I, yang kemudian menempatkan Rwanda di bawah jajahan negara Belanda. Sejak saat ituah, perbedaan antara etnis Hutu  dan Tutsi mulai terlihat mencolok, apalagi dengan kebijakan-kebijakan baru yang semakin menunjukkan perbedaan antara kedua etnis. Kondisi tersebut tentu memicu kebencian dan sentimen dari etnis Hutu terhadap Etnis Tutsi.

Terjadinya kemerdekaan massal di negara-negara Asia dan Afrika, membuat Belgia berencana memberikan kemerdekaan kepada Rwanda. Belum sempat terwujud, rencana tersebut justru menimbulkan konflik antara kedua etnis. Etnis Tutsi menginginkan Rwanda menjadi kerajaan, sedangkan Tutsi menginginkan Rwanda merdeka sebagai republik.

Dibalik konflik tersebut, diam-diam Belgia mendukung etnis Hutu yang akhirnya berhasil menjadikan Rwanda sebagai republik di tahun 1962. Sejak konflik terjadi, masyarakat etnis Tutsi banyak yang meninggalkan Rwanda.

Perdamaian

Pada 1988, etnis Tutsi di Uganda membentuk kelompok bersenjata dengan nama FPR atau Front Patriotique Rwandais dengan tujuan merebut kembali hak etnis Tutsi yang direbut oleh etnis Hutu. Munculnya FPR inilah yang akhirnya menjadi penyebab meletusnya perang sipil di Rwanda.

Akhirnya kedua belah pihak sepakat melakukan perdamaian pada 1992 yang difasilitasi oleh Organisasi Uni Afrika di Arusha, Tanzania. Namun kondisi tersebut bukan akhir dari pertumpahan darah, karena sejak kematian presiden Rwanda, Juvenal Habyarimana, hubungan FPR dan rezim Hutu kembali memanas. Muncullah seruan pembantaian dari rezim Hutu terhadap etnis Tutsi dan FPR.

Tak mau tinggal diam, FPR pun melakukan balasan hingga akhirnya berhasil menang dan menguasai Rwanda pada 1994. Keberhasilan FPR membuatnya terus berkembang menjadi partai politik terbesar di Rwanda dan membentuk pemerintahan baru Rwanda.

Semoga informasi tentang sejarah negara Rwanda ini bermanfaat!