Pernah mendengar nama daerah Manunggul? Daerah ini kini menjadi Kecamatan Sungai Durian. Letaknya ada di Kalimantan Selatan. Dalam artikel ini, penulis akan berbagi sdikit informasi tentang sejarah Manunggul atau negeri Manunggul. Mengapa sedikit? Informasi tentang negeri Manunggul ini memang sangatlah terbatas. Daripada penasaran sepeti apa negeri Manunggul iu, mari simak informasi berikut.

Negeri Manunggul

Negeri Manunggul adalah sebuah daerah Kerajaan Tanah Bumbu. Wilayah negeri Manunggul ini meliputi daerah aliran Sungai Manunggul yang terletak di Kalimantan Selatan. Tahun 1846 daerah ini termasuk kedalam pemerintahan Belanda untuk bagian Borneo Timur. Negeri Manunggul dikepalai oleh seorang bumiputera. Ia termasuk ke dalam pemerintahan Hindia Belanda dan membawahi daerah Borneo Timur.  Kepala negeri Manunggul ini berada dibawah kekuasaan Asisten Residen GH Dahmen yang berada di Samarinda. Kepala bumiputera tersebut adalah Pangeran Muda Muhammad Arifillah atau sering juga disebut Aji Samarang.

Kepala Pemerintahan Negeri Manunggul

Ada beberapa orang yang menjadi kepala pemerintahan di negeri Manunggul, diantaranya:

•    Pangeran Prabu

Pangeran Prabu atau Sultan Sepuh mengepalai Manunggul sejak tahun 1780 hingga tahun 1800. Ia adalah raja Bangkalan, Manunggal, Sampanahan, dan Cengal. Pangeran Prabu memiliki 9 anak yaitu Pangeran Nata atau Ratu Agung, Pangeran Muda atau Gusti Kamir, Pangeran Seria, Gusti Mas Alim, Gusti Lanjong, Gusti Besar, Gusti Redja, Gusti Alif, dan Gusti Ali atau Pangera Mangku Bumi.

•    Pangeran Nata

Pangeran Nata atau ratu agung memimpin negeri Manunggul sejak tahun 1800 hingga 1820. Ia menjadi raja Bangkalan, Manunggul, dan Sampanahan. Penggantinya adalah Pangeran Seria.

•    Pangeran Seria

Pangeran Seria memimpin Manunggul menggantikan pangeran Nata. Ia menjadi raja di Sampanahan,  Manunggul, Cengal, dan Bangkalan.

•    Gusti Besar

Gusti Besar memimpin Manunggul sejak tahun 1820 hingga 1830. Ia menjadi raja Bangkalan, Manunggul, Sampanahan, Cantung, Cengal, dan Batulicin. Gusti besar tinggal di Cengal. Setelah Ratu Intan I yaitu Puteri dari Ratu Mas mangkat, canting dan batulicin kembali digabungkan dengan persetujuan para ahli waris.  Gusti besar mmepersunting Aji Raden yang memiliki gelar Sultan Anom. Ia berasal dari Kesultanan Pasir. Meskipun Sultan Sulaiman yang berasal dari Kesultanan PAsir menyerang dan mengambil Cengal, Bangkalan, Manunggul, dan Cantung, namun pada akhirnya bisa direbut kembali.

Gusti Besar menikahi Aji Raden yang bergelar Sultan Anom dari Kesultanan Pasir. Sultan Sulaiman dari Pasir menyerbu dan mengambil divisi Cengal, Manunggul, Bangkalan, dan Cantung, tetapi kemudian dapat direbut kembali. Ia menjadi kepala Manunggul, Cengal, dan Sampanahan yang kemudian diangkat menjadi Sultan Pasir.

•    Aji Awi

Aji Awi adalah putra dari Gusti Besar. Ia memimpin Manunggul sejak 1840 hingga 1841. Ia menjadi raja Sampanahanan, Manunggul, Bangkalan, Cengal, Cantung, dan Batulicin. Awalnya ia berhasil merebut kembali Cengal namun tidak lama setelah itu, Sampanahan dan Manunggal pun berhasil kembali direbutnya. Cantung kembali diperoleh setelah ia menikah dengan Gusti Katapi. Ia adalah puteri dari Gusti Muso, raja Cantung.

Sebelum Gusti Muso ditunjuk menjadi raja Cantung, ibunya memimpin Cantung. Namun, kemudian diserahkan pada Gusti Muso. Bangkalan didapatkannya setelah ia menikah dengan puteri Pangeran Muda atau Gusti Kamir (pangeran Bangkalan) yaitu Gusti Kamil. Sedangkan Sampanahan didapatkan dari paman Pangeran Mangku atau Gusti Ali yang menjadi raja Sampanahan yang mempunyai pewaris, yaitu Gusti Hina.

•    Aji Tukul

Pada tahun 1846, Aji Jawi menjadi Raja Sampanahan, Manunggul, dan bangkalan. Setelah menikah dengan Gusti Katapi, ia mempunyai anak yang bernama Aji Landasan dan Aji Tukul. Aji Jawi yang menikah dengan Gusti Kamil mempunyai anak yang bernama Aji mandura yang akhirnya menjadi raja Cantung. Tahun 1849, Aji Tukul menikah dengan Pangeran Abdul Kadir yang akhirnya menjadi raja Batulicin, Kusan, dan Pulau Laut.

•    Aji Pati

Aji Pati menjadi raja Manunggul, Bangkalan, dan Cengah sejak tahun 1845 hingga 1846.

•    Aji Samarang

Aji Samarang atau Pangeran Muda Muhammad Arifillah Aji Samarang ini memimpin Manunggul, Cengal, dan Bangkalan dari tahun 1846 hingga 1883.

•    Aji Mas Rawan

Aji Mas Rawan atau raja Arga Kasuma memimpin Manunggul, Bangkalan, dan Cengal dari tahun 1884 hingga 1905.

Demikianlah sekilas informasi tentang Negeri Manunggul. Semoga bermanfaat.