Setelah pada bagian sebelumnya kita membahas periode kesusastraan berdasarkan pandangan Nugroho Notosusanto yang membagi periode sastra Indonesia menjadi dua kelompok besar  yaitu; kesusastraan melayu lama dan kesusastraan Indonesia modern. Pada bagian berikutnya kita juga akan melihat bagaimana sejarah periode kesusastraan Indonesia yang diusung oleh Simomangkir Simanjuntak.

Simomangkir Simanjuntak adalah salah satu pengamat sastra Indonesia yang telah lama mendalami perkembangan kesusastraan Indonesia. Dirinya juga merupakan penulis dari “Kesusastraan Indonesia 2’, sebuah buku yang menggagaskan tahapan-tahapan sejarah kesusastraan Indonesia yang diterbitkan pada tahun 1952. Sebagai seorang pengamat sastra, Simomangkir Simanjuntak membagi sejarah periode kesusastraan Indonesia menjadi empat kelompok besar, yaitu kesusastraan purba/lama, kesusastraan Hindu/Arab, kesusastraan masa Islam, dan kesusastraan masa baru. Berikut kita akan melihat bagaimana perbedaan periode antara yang satu dengan yang lain di masa kesusastraan tersebut.

1. Kesusastraan Masa Purba

Kesusastraan Indonesia masa purba merupakan segala bentuk karya sastra yang dihasilkan pada masa prasejarah, di mana para nenek moyang kita sama sekali belum mengenal tulisan untuk menyalin kembali karya sastra yang mereka hasilkan. Masa kesusastraan purba ini ditutup pada masa kepenulisan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Namun beberapa ahli sastra lainnya berpendapat bahwa kesusastraan masa purba ini berakhir ketika angkatan balai pustaka lahir pada tahun 1920.

Dalam perkembangan kesusastraan masa purba, prosa merupakan salah satu bentuk karya sastra yang memengang peranan penting. Pada masa purba, karya sastra prosa yang dihasilkan cenderung lebih bersifat statis, hal ini terjadi karena pada masa itu masyarakat juga mengalami perubahan sosial yang cukup lambat. Cerita  yang dituturkan juga meliputi kisah-kisah seputar kejaraan yang dilatarbelakangi sejarah Bangsa Indonesia yang dahulunya memang terbagi atas kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit, Pasai dan Sriwijaya. Bentuk karya sastra pada masa itu rata-rata berupa karya sastra anonim, keabsenan pengarang menjadikan karya sastra tersebut sebagai karya sastra milik masyarakat, bukan lagi sebagai milik individu.

Tidak hanya prosa, puisi masa purba pun juga tidak kalah pentingnya untuk dipelajari. Perpuisian masa purba biasanya diturunkan secara lisan dari mulut ke mulut sehingga tidak diketahui lagi siapa pengarang nya dan kapan puisi tersebut dibuat.  Selain itu, bentuknya pun sangat terikat dengan aturan kepenulisan yang meliputi tata bahasa, lirik, rima, nada, dan sebagainya. Beberapa bentuk puisi yang dihasilkan pada kesusastraan masa purba meliputi: mantra, pantun, karmina, seloka, gurindam, syair, dan talibun.

2. Kesusastraan Masa Hindu/Arab

Dalam sejarah Bangsa Indonesia, kita mengenal Hindu dan Arab sebagai kelompok yang memberikan pengaruh besar dalam perkembangan Budaya, identitas dan bahkan karya sastra bangsa Indonesia. Sebelum memeluk Islam, masyarakat Indonesia terlebih dahulu memeluk Hindu dan Budha sebagai agama. Dengan masuknya agama Hindu ke Indonesia secara tidak langsung juga akan mempengaruhi perkembangan kesusastraan Indonesia. Pada masa berkembang agama Hindu di Indonesia, kesusastraan yang berkembang pada lebih bertemakan mitologi Hindu. Terlebih lagi perkembangan kesusastraan mitologi Hindu tersebut juga didukung oleh kerajaan-kerajaan Hindu yang berkembang pesat pada masa itu. Cerita-cerita yang ditawarkan juga meliputi kisah-kisah tokoh-tokoh legendaris, dewa-dewi, mahluk-mahluk supranatural seperti kisah-kisah Ramayana dan Mahabrata. Beberapa karya sastra yang merupakan hasil dari pengaruh agama Hindu adalah Hikayat Sri Rama, Pandawa Lima, dan Sang Boma.

Selain pengaruh Hindu dan Budha, Bangsa Arab juga kemudian datang memberikan corak yang lebih berwarna paa kebudayaan Indonesia. Pengaruh bangsa Arab pada awalnya hanya berkisar seputar perdangangan saja, namun lambat laut hubungan perdagangan tersebut juga kemudian mempengaruhi penyebaran agama Islam dan perkembangan kesusastraan bangsa Indonesia. Dalam perkembangan kesusastraan Indonesia, penggunaan Bahasa Arab Melayu sebagai dampak percampuran antara budaya Indonesia dengan Arab menjadi salah satu aspek kebudayaan yang tidak bisa dielakkan. Dengan berkembangnya Bahasa Arab Melayu, banyak penulis sastra yang kemudian menggunakan Arab Melayu sebagai bahasa pengantar sastra yang mereka hasilkan.

3. Kesusastraan Masa Islam

Pada kesusastraan masa Islam, karya sastra seringkali digunakan sebagai alat untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat. Karya sastra tidak lagi digunakan sebagai seni pertunjukan dan kebahasaan saja, tetapi juga merupakan sarana untuk menyebarkan agama. Beberapa tokoh agama Islam yang terkenal seperti tokoh-tokoh Wali Songo, bahkan menggunakan drama sebagai alat komunikasi utama guna mengajarkan masyarakat tentang sejarah kenabian Muhammad saw atau aturan-aturan keagamaan lainnya. 

Terdapat banyak sekali karya sastra yang dihasilkan akibat penyebaran agama Islam di bumi pertiwi ini. Sukrok Kamil menjelaskan bahwa kesusastraan masa ini juga dikenal lewat beberapa nama lainnya, yaitu sastra sufistik, sastra suluk, sastra transedental, atau sastra profetik. Beberapa kritikus sastra Indonesia beranggapan bahwa, perkembangan karya sastra masa Islam ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh dari sastra Arab. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa Bangsa Arablah yang memperkenalkan agama Islam kepada masyarakat Indonesia.

4. Kesusastraan Masa Baru

Simomangkir Simanjuntak berpendapat bahwa kesusastraan masa baru dimulai sejak Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, namun beberapa kritikus lainnya berpendapat bahwa angkatan balai pustaka merupakan awal mulanya terbentuk karya sastra masa baru. Jika kita menggunakan pedoman angkatan balai pustaka sebagai awal mula kesusastraan masa baru, itu berarti bahwa kesusastraan masa baru lahir pada sekitar tahun 1920. Angkatan balai pustaka seringkali digunakan sebagai titik awal perkembangan kesusastraan Indonesia, hal ini mungkin karena pada masa inilah para penulis Indonesia mulai gencar menuliskan ide-ide kreatif mereka dalam sebuah buku.

Perkembangan kesusastraan Indonesia mulai berkembang secara pesat pada masa angkatan balai pustaka, meskipun pada masa tersebut karya-karya yang dihasilkan terlebih dahulu diseleksi oleh pemerintahan kolonial agar tidak terjadi pertentangan antara karya sastra dengan ideologi-ideologi kolonialisme. Pada masa-masa berikutnya, pergerakan politik bangsa memegang peranan penting dalam perkembangan angkatan kesusastraan Indonesia, beberapa angkatan kesusastraan sengaja lahir sebagai akibat dari pergerakan politik tertentu. Karya sastra Indonesia seringkali bertransformasi dalam beraneka wajah demi menyesuaikannya dengan gejala perpolitikan yang ada di tanah air. Beberapa angkatan kesusastraan Indonesia yang lahir akibat pergerakan politik tertentu seperti angkatan 45 yang lahir sebagai reaksi kemerdekaan Indonesia, atau angkatan 66 yang berupaya menggulingkan pemerintahan orde lama yang menganut paham-paham komunisme, angkatan revolusi yang menggambarkan pergolakan penggulingan masa pemerintahan orde baru, dan sebagainya.

Nugroho Notosusanto dan Simomangkir Simanjuntak bulanlah satu-satunya kritikus sastra yang mengambil peran dalam pembagian periode kesusatraan Indonesia. Masih terdapat beberapa ahli kesusastraan lainnya seperti: Ajip rosidi yang membagi periode kesusastraan Indonesia menjadi dua kelompok besar yaitu, masa kelahiran dan masa perkembangan. HB jasin yang juga merupakan kritkus sastra selanjutnya membagi periode kesuastraan Indonesia menjadi dua, yaitu masa kesusastraan melayu lama dan kesusastraan modern. Masih terdapat beberapa versi lain yang menggambarkan bagaimana pembagian periode kesusastraan di Indonesia. Masing-masing ahli tersebut memiliki faham yang berbeda-beda mengenai penetapan tahun terbentuknya kesusastraan Indonesia, namun demikian mengetahui pandangan masing-masing ahli tentu saja akan sangat bermanfaat bagi setiap peneliti sastra.

Loading...