Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia

Masyarakat Praaksara

Prasejarah atau praaksara merupakan bagian tertua dalam sejarah. Pada masa aksara ini, orang-orang tidak bisa membaca dan menulis. Pada masa prasejarah, hampir semua orang tidak bisa membaca dan menulis. Hal tersebut semakin mencemaskan. Efek ketidaktahuan tersebut semakin terjebak dengan takhayul dan mitos. Bagi masyarakat prasejarah yang tidak mengetahui tentang ilmu pengetahuan, memandang banjir, tanah longsor, gagal panen bentuk dari kutukan sang dewa. Rasa takut yang begitu besar dengan bencana alam ini pun menjadi dongeng menakutkan turun temurun.

Tidak hanya pra aksara, menurut Jan Vansina Lisan/cerita dari keturunan satu dengan keturunan yang lain disebut dengan tradisi lisan, atau oral tradition. Pada masa pra aksara banyak orang-orang dahulu lisan dijadikan sebagai tradisi mereka. Tidak heran jika lisan menjadi sumber sejarah. Tradisi lisan inilah yang dipelajari karena banyak ditemukan nilai-nilai  kepercayaan, cerita khayal, peribahasa, moral nyanyian dan istiadat.

Tradisi lisan berasal dari generasi sebelum praaksara. Tradisi ini menunjukkan adannya pewarisan pada tradisi lisan. Tidak heran, banyak dongeng-dongeng atau petuah tentang kisah-kisah masa lalu. Tidak ada bukti secara tertulis saat itu karena memang tidak ada bahasa tulis.

Masyarakat Masa Prasejarah

Ingat tentang cerita menyembah berhala? Itu salah satu contoh masa prasejarah. Penyebab penyembahan berhala dipengaruhi oleh unsur tradisi. Sesuai namanya, unsur tradisi dipengaruhi oleh sistem kepercayaan masyarakat, sistem kemasyarakatan, sistem pencaharian, sistem pengetahuan, dan sistem budaya/seni. Sistem kepercayaan masyarakat yang mempercayai dukun misalnya. Bagi masyarakat masa prasejarah diangap sebagai penghubung antara kehidupan nyata dengan kehidupan akhirat. Jaman prasejarah tidak mengenal dokter karena belum ada dokter. Tidak heran jika pada masa itu masyarakat menyembuhkan orang sakit dengan cara berobat ke dukun. Untuk melihat gejala alam pun, masyarakat prasejarah mempercayai dukun yang menangani.

Semua ini tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat setempat. Sekalipun ada dokter dan BMKG, masyarakat sekitar tetap mempercayai dukun yang selama ini ada di hati mereka. Kepercayaan mereka sudah menjadi sistem sehingga sulit untuk dihilangkan. Sebelum 2.500 SM, masyarakat prasejarah mengantung hidup mereka dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan. Alat yang mereka gunakan untuk memburu tidak memakai pistol atau mengunakan alat modern lain. Senjata mereka sangat sederhana, yaitu anak panah. Alih-alih fungsi anak panah ini dijadikan sebagai aktivitas berocok tanam.

Kemampuan mereka mengalami perkembangan. Secara perlahan, mereka mulai mempelajari tentang cocok tanam, mulai dari pembibitan, mempelajari musim untuk menunjang tanaman. Misalnya, musim hujan, mereka akan menanam padi. Saat musim panas, mereka akan menanam kacang, jagung, dan lain sebagainya. Hal ini merupakan bentuk dari kemajuan yang dilakukan pada masa prasejarah yang masih dirasakan pada saat ini.

Ternyata sejak jaman prasejarah sudah terjadi pembagian gander. Misalnya, laki-laki bertugas membuka lahan, menanam, dan merawatnya. Sementara itu, tugas seorang perempuan adalah mengerjakan hasil panen, penyimpanan, dan pengolah makanan tersebut untuk dimakan. Naluriah seorang perempuan, pada masa prasejarah juga bertugas mengasuh anak-anak mereka.
Sistem kemasyarakatan masa prasejarah sudah mengalami beberapa pembagian kelas. Misalnya, adanya pembagian golongan, dan munculnya kekompakan dalam bermasyarakat. Budaya dan seni tidak hanya saat masa modern seperti ini, masa prasejarah juga sudah ada. Hal ini terlihat beberapa jenis kesenian masyarakat prasejarah yang digunakan sebagai upacara ritual yang hingga sekarang masih dilestarikan. Salah satunya yang masih bertahan, yaitu kesenian wayang dan gamelan.

Tapak Tilas Sejarah

Tidak terlepas dari peran kesenian, berupa puisi dan karya sastra. Tentunya memiliki pesan dan sudut pandang yang berbeda. Hal ini berlaku untuk lagu, puisi, mitodologi, dan legenda. Tapak tilas sejarah ini terdiri dari folklore. Folklore meliputi lagu, legenda, puisi, dan mitologi. Selain folklore juga upacara. Folklore diambil dari bahasa Inggris yang berarti folk sesuatu yang memiliki kesamaan. Mulai dari kesamaan sosial, kebudayaan, dan fisik. Seperti keturunan negro yang memiliki kesamaan berkulit hitam. Keturunan Jepang bermata sipit. Tidak hanya itu, mata pencaharian, juga termasuk bahasa daerah. Kebalikan dari folk, lore lebih menekankan pada kebudayaan yang telah diwariskan dari nenek moyang mereka.

Jadi, folklore adalah salah satu bentuk proyeksi yang berfungsi sebagai cita-cita suatu kelompok tertentu. Tidak hanya itu, folklore juga berperan sebagai pranata sekaligus lembaga kebudayaan itu terbentuk, sebagai tempat pendidikan para anak-anak. Folklore dapat digunakan sebagai peringatan, pemaksa, sekaligus sebagai aturan yang mengatur masyarakat itu sendiri agar dapat patuh.

Folklore digolongkan oleh Jan Harold Brunvand menjadi tiga golongan berdasarkan lisan. Tahukah Anda, logat orang Jawa dengan logat orang Sumatra memiliki cengkok yang sangat berbeda, hal ini termasuk dari folklore lisan. Kedua, folklore sebagian lisan yang berarti bahwa terjadinya percampuran antara unsur lisan dan bukan lisan. Bentuk percampuran ini seperti permainan rakyat, tari, teater, adat, pesta, upacara dan kepercayaan rakyat. Dari macam-macam ini, menunjukkan bahwa tidak secara lisan saja, melainkan melibatkan beberapa unsur seperti gerakan dan nyanyian.

Ketiga, folklore bukan lisan. Masih ingat tentang kehidupan masyarakat prasejarah bertahan hidup yang dapat menciptakan beberapa kreativitas, mulai dari kerajinan tangan rakyat, perhiasan, dan beberapa alat yang mereka ciptakan (anak panah), material. Hal itu termasuk dari salah satu bukan lisan. Hal kecil semacam folklore seperti ini ternyata sangat berperan penting para sejarawan mengorek informasi pada masa prasejarah. Di sini, ada catatan penting bagi para sejarawan. Mereka dituntut untuk mampu menginterpretasikan pernyataan yang belum jelas. Hal yang tidak kalah penting bagi sejarawan adalah mampu melihat indikasi tertentu, sekalipun itu kecil yang merujuk pada fakta yang ada. Hal ini disebakan karena folklore bersifat pralogis. Pralogis adalah tidak masuk akal pada umumnya.

Mitodologi

Dongeng yang berbentuk fiktif dalam sastra ditimbulkan karena daya imajinasi si penulis menceritakan suatu pesan pada pembaca. Di dalam sejarah, lain cerita. Mitodologi dalam sejarah merupakan salah satu bentuk sastra yang memiliki konsepsi, adanya cerita/dongeng-dongeng yang dipercayai sebagai kebenaran, dianggap suci oleh si punya cerita (nenek moyangnya). Hal itu biasa disebut sebagai mite. Mite adalah makhluk setengah dewa.

Jika bingung dengan mite, seperti dongeng/cerita dari negeri India yang menceritakan si Khrisna atau Sidharta Gautama, kisah Nyiroro kidul, Joko Tarup, dan lain-lain. Dalam ajaran Islam, bentuk mite ini ada pada cerita-cerita para nab. Di sana banyak sekali peristiwa keajaiban yang jauh dari fakta sejarah. Nah, karena fakta jauh dari fakta, para sejarawan dituntut untuk menggali dan menginterpretasikan kisah-kisah ini menjadi benar dan dipercayai, baik secara intelektual maupun secara logis.

Ada dua mite, yaitu monogenesis dan poligenesis. Monogenis, penemuan yang diawali oleh proses penyebaran, sedangkan poligeneisis adalah penemuan-penemuan yang disejajarkan dengan beberapa motif cerita yang sama, tetapi berada di tempat dan masa yang berlainan juga.

Legenda

Pasti sering mendengar kata legenda, tapi apakah Anda tahu apakah legenda itu? Legenda lebih kenal luas oleh orang-orang. Mungkin karena cerita legenda bisa selalu berpindah-pindah dan tersebar. Legenda biasanya bersifat keduniawian (sekuler). Dibandingkan dengan mite, legenda lebih berusia muda, dengan kata lain belum terlalu lama. Tidak heran jika legenda ini dijadikan sebagai sejarah kolektif, sering dilakukan distorsi. Karena inilah banyak cerita-cerita yang intinya sama, tetapi banyak versi. Misalnya, cerita Danau Toba dari berbagai versi.

Masih menurut Jan Harold Brundvand, terdapat legenda keagamaan, legenda alam gaib, perseorangan dan legenda setempat. Legenda keagamaan mengulas tentangan kisah perjuangan para ulama dalam rangka menyiarkan ajaran Islam misalnya. Biasanya, diidentikkan oleh para wali.

Di lingkungan masyarakat, kita tentu ada sebuah legenda alam gaib. Misalnya, di lawang sewu, banyak para wisatawan yang melihat sosok gaib di sana atau di segitiga bermuda di Gunung Salak, tempat jatuhnya pesawat Sukhoi. Hal ini berfungsi sebagai penegasan, bahwa di sana benar-benar adanya makhluk gaib. Mengukuhkan takhayul yang beredar di masyarakat. Biasannya, diidentikkan pada legenda setempat.

Lagu

Banyak jenis lagu di Indonesia. Lagu yang sesungguhnya dan lagu yang tidak sesungguhnya. Perbedaan dari dua lagu ini tidak begitu tampak. Bentuk lagu sesungguhnya adalah lagu yang ditulis berdasarkan perasaan, tetapi tidak menceritakan jalan ceritanya. Sebaliknya, lagu yang menceritakan jalan ceritanya dan biasanya bersambung. Lagu ini biasanya lagu rakyat yang memberikan nasihat untuk melakukan kebaikan, lagu-lagu rohani, tidak selalu berbau keagamaan. Misalnya, lagu-lagu Ebit G Ade yang lebih banyak menceritakan cinta.

Upacara/adat

Upacara dan adat ternyata memiliki arti penting. Salah satu arti itu adalah sebagai pengingat suatu peristiwa itu terjadi. Bahkan, dengan upacara menemukan kita pada asal-usul, tokoh, bahkan kejadian alam. Memudahkan mengingatnya, contoh konkrit adalah upacara mengunjungi makam ayah/ibu dan nenek. Hal ini bertujuan mengingatkan kepada kita bahwa asal-usul kita itu kita ketahui.

Perkembangan Tradisi Masa Sejarah Hingga Sekarang

Pernah terpikirkan belum tentang asal mula tulisan itu ditemukan? Apakah pada masa dulu buku seperti sekarang ini sudah ada? Kalau sudah ada buku pada masa lalu, bagaimana cara membuat buku-buku itu, secara zaman dulu tidak ada mesin modern? Kasak kusuk, tulisan pertama kali ditulis di atas batu, daun, tubuh pohon, bahkan di logam. Hal ini bertujuan agar tidak terlupakan apa yang telah diingat dan dipelajarinya.

Salah satunya bukti peninggalannya adalah prasasti. Di candi-candi, banyak prasasti, hal ini menujukkan pentingnya tulisan. Di Indonesia, ada sekitar 3.000 prasasti kuno. Salah satu prasasti tertua menggunakan bahasa Sansekerta. Bahasa sansekerta dipengaruhi bahasa India. Hal ini menandakan bahwa terjadi adopsi budaya India.

Bukti terjadinya perkembangan tradisi pada masa lalu, tepatnya pada abad ke-4 sampai abad ke-8 masehi. Selain prasasti berbahasa Sansekerta, adapula prasasti yang menggunakan bahasa Arab, Jawa kuno, dan Bali Kuno. Dari semua prasasti ini, dipahat di batu dan dilihat dari bahasa yang digunakan banyak negara yang masuk ke Indonesia dalam rangka politisasi mereka masing-masing.

Hal ini tidak terlepas dengan proses penulisan pada saat itu. kemudian secara historiografi dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase tradisional yang melingkupi penulisan babat jawa. Kedengarannya sedikit asing memang babat jawa di telinga anak modern. Fase kedua, fase kolonial. Sesuai namanya, tentu fase ini berada di lingkungan penjajahan.

Penulisan pada fase ini bertujuan untuk memperkuat kekuatan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Fase ketiga, fase nasional. Fase ini kondisinya lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Tujuannya adalah menuju kemerdekaan secara utuh. Saat proklamasi kemerdekaan, historiografi nasional ini dibagi menjadi gelombang dekolonialisasi, nederlando-sentris, dan reformasi sejarah.

Nah, dari uraian-uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa begitu kayanya negara kita dengan sejarah. Sejarah yang melingkupi banyak hal. Semoga uraian yan telah disampaikan bermanfaat.