Ternyata sejarah berdirinya negara Malaysia tidak lepas dari pengaruh kerajaan-kerajaan di Indonesia. Kerajaan induk tertua dari negara Malaysia adalah Kerajaan Melaka. Pendiri kerajaan tersebut merupakan seorang pangeran yang masih mempunyai hubungan erat dengan kerajaan Sriwijaya.

Saat itu, Semenanjung Malaka merupakan daerah yang sibuk. Daerah itu menjadi pusat perdagangan. Pedagang-pedagang yang berasal dari India, China, dan negara-negara lain melaksanakan kegiatan dagang melalui Selat Malaka. Bahkan karena tempatnya yang sangat strategis dan menjadi kawasan paling sibuk, Ptolemy menandai petanya menggunakan label Golden Chersonese dan menjadikan Selat Malaka sebagai sinus sabaricus.

Banyaknya penduduk yang datang, menyebabkan terbentuk kerajaan-kerajaan Melayu. Kerajaan-kerajaan tersebut berkembang pada abad ke-10 di kota-kota pelabuhan pinggir pantai. Kerajaan tersebut adalah Gangga dan Bujang terletak di Perak, Lembah Bujang dan Langkasuka di Kedah, dan Pan Pan yang terletak di Kelantan. Kerajaan-kerajaan tersebut merupakan kerajaan bercorak Hindu dan Budha.

Masuknya Ajaran Islam di Malaka

Ajaran Islam baru memasuki wilayah Malaka pada abad 14 melalui daerah Trengganu. Kerajaan Malaka berupa Kesultanan terbentuk pada abad 15. Kesultanan Malaka didirikan oleh seorang Pangeran Palembang. Ia menjadikan Malaka sebagai ibukota kesultanan. Kesultanan ini hanya berlangsung selama satu abad. Selama berdirinya Kesultanan Malaka, agama Islam mulai tersebar hampir ke seluruh wilayah Semenanjung Malaka.

Kemajuan Malaka membuat negara lain tergoda untuk menjadikannya sebagai daerah jajahan. Sultan terakhir Malaka melarikan diri ke Pulau Sumatera, tepatnya di Kampar karena serangan militer Portugis pada 1511. Ia tinggal menetap di Sumatera hingga tutup usia. Sejak saat itu, Portugis menjadikan Malaka sebagai daerah jajahan. Untuk selanjutnya, keturunan Sultan kembali ke Malaya. Seorang anaknya pergi ke Semenanjung Malaka bagian utara yang akhirnya mendirikan Kesultanan Perak, sedangkan anak Sultan Malaka yang lain pindah ke selatan mendirikan Kesultanan Johor.

Setelah Kesultanan Malaka Hancur

Setelah Kesultanan Malaka hancur, terjadi perebutan antara tiga penguasa, yaitu Kesultanan Johor, Portugis, dan Kesultanan Aceh. Perebutan kekuasaan tersebut berhenti pada 1641 setelah Kesultanan Johor memenangkan pertarungan dibantu Belanda. Hal itu menyebabkan Kesultanan Johor dan Belanda mengambil alih Malaka. Kehadiran Belanda memperkeruh suasana Malaka. Banyak permasalahan setelah keikutsertaan.

Sayangnya, Belanda dikalahkan oleh Inggris. Akibat kekalahannya, Belanda terpaksa harus menandatagani perjanjian Belanda-Britania. Inggris berhasil mengambil alih Malaka dari tangan Belanda pada 1824. Inggris semakin melebarkan daerah jajahannya. Gerakan pasukan Inggris semakin agresif hingga akhirnya memicu perang saudara antarkerajaan Malaka.

Kekalahan pasukan Jepang pada Perang Dunia II, Malaka menjadi semakin bersemangat meraih kemerdekaan. Terlebih lagi dengan adanya kebangkitan komunis, Malaka mendapatkan dukungan untuk menjadi negara merdeka. Melihat hal tersebut, Inggris tetap tidak menyerah. Inggris berencana membentuk negara Uni Malaya, namun mendapat protes dari rakyat. Rakyat menolak rencana Inggris dan meminta sistem Nubie-Melayu.

Kemerdekaan Malaya diwujudkan dengan nama Malaysia yang merupakan persekutuan dari Singapura, Malaya, Brunei Utara atau Sabah dan Sarawak. Persekutuan tersebut terjadi pada tanggal 16 September 1964.

Negara Brunei yang awalnya ingin bergabung dengan Malysia, segera menarik diri karena tentangan dari rakyat. Hingga akhirnya Singapura juga menuntut untuk membentuk negara yang berdiri sendiri, terpisah dari Malaysia pada 1965. Singapura meminta sistem kewarganegaraan tunggal sehingga para pendatang mendapatkan status sebagai warga Malaya dan kewarganegaraan negara asal.

Itulah sejarah berdirinya negara Malaysia.