Penyebab Penyimpangan Sosial

Pada umumnya hal-hal yang menyebabkan terjadinya penyimpangan sosial terbagi menjadi dua faktor, yaitu:

1. Faktor Internal

Faktor ini berasal dari dalam diri pelaku penyimpangan, ada beberapa faktor yang diketahui bisa menyebabkan terjadinya perilaku menyimpang, yaitu mental yang tidak sehat, intelegensia, umur, gender, status dalam keluarga atau lingkungan.Faktor internal juga dikenal dengan faktor subjektif yang beberapa bisa merupakan bawaan lahir.

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal dikenal juga dengan sebutan faktor objektif, maksudnya adalah faktor yang berasal dari luar diri si pelaku, seperti dari lingkungan sekitar, lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, lingkungan pergaulan, media massa, lingkungan keluarga, dan sebagainya.

Selain dua faktor yang telah disebutkan tadi, faktor-faktor penyebab terjadinya perilaku penyimpangan sosial juga dapat dipastikan dari beberapa sudut pandang tertentu seperti berikut ini:

1. Sudut Pandang Biologi

Teori ini sebenarnya banyak diragukan oleh para ahli ilmu sosial, walaupun teori sudut pandang biologi ini dilengkapi dengan hasil penelitian dan bukti empiric yang meyakinkan, para ahli masih menemukan beberapa kesalahan dalam penerapan metode penelitian yang tidak mengikuti pakem penelitian yang ilmiah.Tetapi walaupun demikian, dalam beberapa kasus teori ini bisa terbukti.

Beberapa ilmuwan, yaitu Von Hentig, Hooton, Lombroso, Sheldon dan Kretschmer melakukan penelitian yang menghasilkan suatu kesimpulan yaitu pelaku penyimpangan sosial biasanya memiliki bentuk atau karakter tubuh tertentu. Berikut ini beberapa pendapat mereka:

a. Sheldon mengklasifikasikan bentuk tubuh dalam tiga bentuk dasar yang memiliki kecenderungan sifat yang berbeda pada masing-masing tipe, yaitu:

  • Endomorph (bundar, halus, dan gemuk),
  • Mesomorph (berotot dan atletis),
  • Ectomorph (tipis dan kurus)

Sheldon pun menyatakan bahwa menurut penelitiannya, para pelaku penyimpangan sosial yang negatif (pelaku kriminal) memiliki tipe tubuh mesomorph.

b. Seorang kriminolog yang berasal dari Italia, Cesare Lombroso, mengemukakan pendapatnya bahwa pelaku penyimpangan sosial yang negatif (pelaku kriminal) biasanya memiliki susunan gigi yang tidak normal, rahang dan tulang-tulang pipinya cenderung panjang, memiliki kelainan mata yang khas, jari-jari kaki dan tangannya relatif lebih besar dibanding orang lain.

2. Sudut Pandang Psikologi

Kepribadian yang terganggu seperti halnya gejala kelainan mental atau biasa dikenal dengan “sakit jiwa” sering kali dikaitkan dengan perilaku penyimpangan sosial.Dalam beberapa kasus, penyimpangan sosial terkadang diawali dengan gejala kelainan atau gangguan mental. Walaupun pada kenyataannya teori psikologi tak banyak membantu dalam penjelasan apa yang menyebabkan seseorang melakukan perilaku penyimpangan sosial.

Sigmund Freud, adalah seorang pakar yang menekuni bidangPsikoanalisis. Dalam studinya, dia membatasi fokusnya pada kepribadian manusia secara utuh, tidak pada unsur-unsur yang terpisah. Lebih lanjut menurut Freud, perilaku manusia adalah manfestasi dari tiga bagian penting yang sangat berpengaruh dalam pembentukan perilakunya, yaitu:

a. Id

Id merupakan unsur yang menjadi tempat bagi berbagai dorongan hasrat biologis manusia, di mana isntink atau hawa nafsu berasal.Id didominasi oleh dua instink utama, yaitu :

  • Libido, yaitu naluri dasar kehidupan (eros), Freud menyatakan bahwa instink ini tidak hanya bersisi dorongan seksual, tetapi juga menghasilkan segala sesuatu yang bersifat nikmat, tentram seperti kasih sayang, sifat narsisme (cinta diri sendiri), sifat religius, dan sebagainya. Dengan kata lain, naluri ini bersifat konstruktif,
  • Thanatosos, adalah kebalikan dari Libido, naluri ini bersifat merusak dan agresif

Secara umum motif hidup manusia berlandaskan gabungan thanatos dan libido, bergerak atas dasar pleasure principle (yang penting senang), bisa dikatakan bahwa Id adalah mewakili sifat hewani manusia yang egois, dan hanya mengedepankan keinginannya tanpa mau peduli pada moral dan keadaan sekitarnya.

b. Ego

Ego merupakan jembatan antara Id dan kenyataan di dunia sekitar.Ego adalah penghubungantara sifat dan nafsu hewani manusia dengan akal fikiran (rasionalitas) dan kenyataan (realitas). Dengan Ego, manusia bisa mengalahkan naluri hewaninya, sehingga mampu bergerak atas dasar reality principle(prinsip yang berdasar pada kenyataan).

c. Superego

Superego adalah internalisasi dari norma-norma sosial dan kultural dalam masyarakat.superego akan memaksa ego agar menekan keinginan-keinginan yang dianggap abnormal agar masuk kea lam bawah sadar manusia. Dengan kata lain Superego adalah “polisi” bagi kepribadian yang mewakili coinscience atau hati nurani.
Menurut pendapat Freud, jika Id bertindak berlebihan tanpa control dan di lain pihak Superego tak berfungsi sebagaimana mestinya dan ego pun tak bisa mendominasi, maka akan terjadi penyimpangan perlaku sosial.

3. Sudut Pandang Sosiologi

Menurut sudut pandang sosiologi, perilaku penyimpangan sosial terjadi karena beberapa hal berikut:

a. Penyimpangan Karena Sosialisasi yang Salah

Kesalahan bersosialisasi merupakan salah satu penyebab dari terjadi perilaku penyimpangan sosial.Hal ini terjadi ketika seseorang yang berada di suatu lingkungan hanya mengikuti aturan-aturan atau norma-norma yang sesuai dengan kebutuhannya saja. Jika dia menyerap norma-norma atau nilai-nilai dari lingkungan yang berisi orang-orang yang berilaku menyimpang, maka kemungkinan besar dia pun akan berperilaku menyimpang pula.

b. Penyimpangan yang Disebabkan oleh Anomie

Anomie merupakan kondisi tidak berlakunya norma danarah tujuan kehidupan yang pasti, akibatnya tidak ada keselarasan antara kenyataan sosial yang terjadi dengan kenyataan yang diharapkan. Hal itu menggambarkan kondisi di satu lingkungan masyarakat yang memiliki banyak norma, hanya saja antara norma yang satu dan yang lain tidak ada keselarasan atau bertentengan yang menyebabkan masyarakat di lingkungan itu tidak memiliki norma yang dapat dijadikan pegangan dalam menjalankan kehidupannya.

Menurut Robert K. Merton, Anomie diakibatkan oleh tidak harmonisnya antara tujuan budaya dan cara-cara yang digunakan dalam mencapai tujuan itu. Perilaku penyimpangan ini bisa meluas jika semakin banyak orang yang “tertular” untuk menggunakan cara-cara menyimpang dalam meraih tujuan, padahal sebelumnya mereka menggunakan cara yang wajar. Dalah hal ini contohnya adalah budaya KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).

Dalam pencapaian suatu tujuan, ada lima cara yang bisa dilakukan, yaitu:

  • Konformitas, adalah perilaku dalam pencapaian sutua tujuan yang wajar atau konvensional dengan cara yang wajar atau konvensional juga. Dengan kata lain ini adalah sutau perilaku wajar yang biasa terjadi di masyarakat pada umumnya. Misalnya, jika seseorang ingin kaya, maka dia harus bekerja keras dengan tidak melanggar hukum hingga mendapatkan penghasilan yang halal.
  • Inovasi, adalah perilaku seseorang dalam pencapaian tujuannya menggunakan cara-cara yang tidak “biasa” (tidak konvensional) baik itu cara yang positif maupun cara yang negatif. Misalnya, seorang seniman yang dengan kreativitasnya berhasil meniru desain uang kertas, lalu menggunakan uang tiruan itu untuk memperkaya diri dengan cara membelanjakannya atau menukarnya dengan uang asli baik dengan nilai yang sama maupun berbeda.
  • Ritualisme, adalah perilaku seseorang yang menaati tata cara atau aturan dari ritual tertentu, tetapi ia menolak maksud dan tujuan asli dari ritual atau aturan yang dimaksud. Jadi seseorang tetap mempertahankan dan melestarikan suatu aturan atau tata cara tertentu tetapi tujuanny utama dari aturan itu sudah dilupakan. Misalnya, seseorang mengikuti aturan atau ketentuan yang berlaku di suatu tempat bukan untuk ikut serta menjada ketertiban dan keteraturan, tetapi lebih karena takut atau tidak mau terkena sanksi jika melanggar.
  • Pengasingan, adalah penolakkan seseorang terhadap suatu tujuan ataupun aturan-aturan dalam pencapaian tujuan itu yang telah berlaku di suatu lingkungan sosial sehingga dia meninggalkannya. Misalnya, pengunduran diri seorang pegawai dari suatu perusahaan karena ketidakcocokkan antara kepentingan perusahaan dan kebutuhan pribadinya.
  • Pemberontakan, adalah penolakan seseorang terhadap segala sesuatu yang menyangkut berbagai tujuan ataupun sarana yang telah ada di suatu lingkungan masyarakat dan berniat merubahnya dengan hal-hal yang baru. Misalnya, pemberontakan bersenjata pada suatu negara dari suatu kaum revolusioner karena mempertahankan suatu keyakinan atau ideologi.

4. Sudut Pandang Kriminologi

Menurut sudut pandang kriminologi, perilaku penyimpangan sosial itu ada dua, yaitu:

a. Konflik

Ada dua macam konflik yang biasa terjadi di suatu lingkungan masyarakat, yaitu:

  • Konflik kelas sosial, adalah penentangan yang dilakukan oleh suatu kelompok terhadap kelas sosial lain untuk melindungi kebutuhannya. Kelompok ini menentang hak-hak istimewa yang dimiliki oleh kelas sosial yang dianggap lebih tinggi tingkatannya sehingga seringkali mereka dianggap sebagai pelaku kriminal atau penjahat.
  • Konflik budaya, adalah jika pada suatu lingkungan masyarakat terdapata berbagai kelompok yang memiliki budaya masing-masiing yang tertutup satu sama lainnya yang mengakibatkan mustahilnya terjadi kesepakatan dalam suatu nilai atau norma. Setiap kelompok menjadikan aturan nilai atau norma dalam budayanya sebagai norma yang sah dan menganggap budaya atau norma lain yang berbeda sebagai sebuah penyimpangan.

b. Pengendalian

Ada dua macam pengendalian yaitu:

  • Pengendalian dari dalam, adalah merupakan suatu nilai atau norma yang telah dipelajari dan dihayati oleh seseorang.
  • Pengendalian dari luar, adalah usaha seseorang dalam menghindari sanksi atau hukuman dan upaya mendapatkan imbalan dari suatu hal yang berhubungan dengan perilaku penyimpangan sosial.

Pada suatu lingkungan masyarakat, biasanya terdapat empat faktor yang menjadi pengikat seseorang pada norma di masyarakatnya, yaitu:

  • Kepercayaan, mengacu pada penghayatan terhadap suatu nilai atau norma.
  • Ketanggapan, yaitu perilaku seseorang dalam menanggapi pendapat dari orang lain.
  • Komitmen atau keterikatan, hungungannya dengan banyaknya imbalan yang akan diterima oleh seseorang jika berprilaku sesuai dengan norma yang berlaku di lingkungan masyarakatnya.
  • Keterlibatan, dilihat dari seberapa besar seseorang itu terlibat dalam suatu lembaga di lingkungan masyarakatnya, misalnya pada sekolah atau organisasi-organisasi yang adala di lingkungan masyarakat itu.

Demikian beberapa penyebab dari terjadinya suatu perilaku penyimpangan sosial yang biasanya terjadi di suatu lingkungan masyarakat.Positif atau negatifnya penyimpangan itu memang sangat pergantung pada penyebab dan bagaimana perlakuan terhadap penyimpangan itu sendiri.