Tidak diketahui pasti kapan masa kesusastraan melayu lama ini mulai terbentuk. Beberapa beranggapan bahwa kesusastraan ini mulai berkembang di abad ke-13 beriringan dengan masuknya agama Islam ke Indonesia. Namun, beberapa di antara pengamat sastra lainnya berpendapat bahwa masa kesusastraan melayu lama ini lahir pada abad ke-16. Tidak hanya awal terbentuknya saja yang masih menjadi tanda tanya hingga sekarang ini, perbedaan pendapat mengenai kapan berakhirnya kesusastraan lama ini juga masih simpang siur. Beberapa pendapat beranggapan bahwa kesusastraan meyalu lama ini berakhir pada tahun 1908, ada yang berpendapat bahwa masa kesusastraan melayu lama ini berakhir ketika lahirnya angkatan balai pustaka pada tahun 1920 dan ada juga yang berpendapat bahwa akhir periode masa kesusastraan melayu lama ini terjadi pada tahun 1800, pada masa kepenulisan Abdullah Bin Abdulkadir Munsyi.

Ciri-ciri Sastra Melayu Lama

  1. Karya-karya yang dihasilkan pada masa ini lebih bersifat lisan yang diturunkan melalui ujaran atau ucapan dari generasi ke generasi. Sehingga karya sastra yang dihasilkan sudah tidak diketahui lagi siapa pemiliknya dan kapan terbentuknya.
  2. Dengan keabsenan dari si pengarang, membuat karya sastra itu menjadi tidak bertuan dan meleburkan diri menjadi milik bersama masyarakat.
  3. Cerita yang disuguhkan timbul akibat adat atau kepercayaan masyarakat, sehingga ceritanya juga berkisar di antara kehidupan kerajaan-kerajaan atau yang juga kita kenal dengan istilah istana sentris.
  4. Bentuk bahasanya tetap, tanpa perubahan yang berarti.

Bentuk Karya Sastra Melayu Lama

A. Prosa

  1. Dongeng

    Dongeng merupakan salah satu bentuk hasil karya sastra melayu klasik yang diturunkan dalam bentuk lisan. Bentuk dari dongeng itu sendiri adalah prosa yang berceritakan tentang hal-hal yang fikif yang tidak termakan nalar manusia, namun sarat akan makna nilai moral dan budi pekerti. Dalam dongeng alur yang disajikan cenderung singkat dengan pola cerita yang sederhana dan penggambaran karakter yang tidak terlalu mendalam.

    Beberapa ciri-ciri mendasar dari dongeng adalah:
    • Dipengaruhi ajaran Hindu atau Islam,
    • Dalam bagian tubuh dongeng tersebut banyak mengandung pepatah dan petitih,
    • Bahasa yang digunakan sangat klise,
    • Tidak ada nama pengarang yang mengikutinya,
    • Sifat ceritanya fiktif.

    Berikut adalah beberapa jenis-jenis dongeng yang dapat kita jumpai.
    • Fabel: merupakan dongeng yang berceritakan tentang kehidupan binatang sebagai salah satu bahan teladan bagi kehidupan manusia. Contohnya adalah dongeng Si Kancil dan Buaya.
    • Farabel: merupakan dongeng tentang binatang dan benda-benda lainnya yang memiliki nilai-nilai pendidikan, di mana binatang dan benda-benda tersebut hanya dijadikan simbol atau perumpamaan yang berperan dalam menyampaikan nilai-nilai agama ataupun nilai nilai moral dan susila.
    • Legenda: merupakan bentuk karya sastra yang hadir sebagai reaksi atas keajaiban alam atau tempat yang mengandung unsur-unsur sejarah di dalamnya. Contohnya seperti Legenda Tangkuban Perahu.
    • Mythe: merupakan karya sastra yang lebih menawarkan nilai-nilai animisme dengan penggunaan karakter-karakter peri, dewi, jin, dan roh halus.
    • Sage: merupakan bentuk dongeng yang berisikan sejarah tertentu yang diikuti dengan penggunaan tokoh-tokoh historis, bahkan seringkali menggunakan roh halus dan ahli sihir sebagai inti ceritanya. Drngan begitu, karya tersebut terkesan berada di dua dunia, yaitu dunia nyata dan dunia gaib. Hal yang membuat Sage ini menarik adalah alurnya yang seringkali diakhiri dengan tragis, di mana manusia diposisikan pada karakter yang akan selalu kalah.
       
  2. Hikayat

    Hikayat merupakan bentuk karya sastra masa melayu lama berikutnya. Pada umumnya berceritakan kisah-kisah fiksi dengan tetap mempertahankan istana sentrisnya. Biasanya cerita ini menggunakan tokoh-tokoh ksatria yang memiliki kesaktian. Meskipun bentuknya berupa fiksi, namun alur yang diceritakan dalam hikayat ini lebih berat bercerita mengenai sejarah atau riwayat hidup.

    Selain dua bentuk prosa di atas terdapat beberapa jenis prosa lainnya yang juga merupakan hasil karya kesusastraan masa melayu lama. Beberapa di antaranya adalah Tambo yang berceritakan mengenai sejarah asal usul suatu kerajaan dan wira carita yang berisikan cerita-cerita ksatria yang gagah berani.

B. Puisi Lama

Terdapat banyak jenis puisi lama yang berkembang pada masa kesusastran melayu lama ini, masing-masingnya terikat oleh aturan tertentu yang harus dipatuhi dan tidak boleh dilanggar.  Berikut kita akan melihat bentuk-bentuk puisi lama yang berkembang pada masa melayu lama:

  1. Mantra: berupa kata-kata yang mengandung kekuatan gaib yang biasanya diucapkan oleh pawang pada setiap ritualnya.
  2. Bidal: merupakan jenis puisi yang pada umumnya berisikan sindiran-sindiran, nasehat, dan peringatan. Terdapat beberapa jenis bidal yang bisa kita temukan, di antaranya ungkapan, peribahasa, tamsil, ibarat, pameo, dan pepatah.
  3. Pantun: merupakan satu kesatuan bait/kuplet yang terdiri atas 4 baris dan masing-masing barisnya terbagi menjadi 10 hingga 12 suku kata dengan rima a-b-a-b. Baris pertama dan kedua pada pantun merupakan sampiran, sedangkan baris ketiga adalah isi. Pantun menurut jenisnya terdiri atas beberapa bentuk, yaitu pantun biasa, pantun berkait, karmina, talibun, dan seloka. Sedangkan berdasarkan isinya pantun dapat dikategorikan menjad: pantun anak-anak, pantun muda-mudi, pantun tua, pantun jenaka, dan pantun teka-teki.
  4. Gurindam: merupakan jenis puisi lama yang satu baitnya terdiri atas dua baris dengan pola a-a. Baris pertamanya berupa syarat, sedangkan baris keduanya berupa jawaban. Gurindam merupakan salah satu bentuk pusi yang lahir akibat pengaruh Hindu, berbeda dengan jenis puisi lain yang kebanyakan mendapat pengaruh langsung dari penyebaran agama Islam.
  5. Syair: merupakan bentuk puisi yang diadaptasi dari Arab dengan pola a-a-a-a, yang tiap barisnya terdiri atas 4 hingga lima kata. Jika pada pantun kita menemukan sampiran, maka tidak pada syair karena keempat baris yang terdapat dalam syair merupakan isi. Syair biasanya terdiri atas beberapa bait yang masing masing baitnya berhubungan antara satu dengan lainnya. Sebagian besar syair berisikan cerita, namun seringkali mengangkat nilai-nilai pengajaran dan dongeng sebagai inti dari shair tersebut.
  6. Prosa lirik: merupakan prosa yang di dalamnya masih kita temukan irama.
  7. Kaba: prosa lirik dari daerah Minagkabau yang penyampaiannya dilakukan dengan jalan didendangkan. Biasanya orang-orang lebih menikmati cara penyampaiannya dibanding dengan isinya, karena penyampaiannya yang berirama dan secara lisan.
  8. Kakawin: merupakan bentuk puisi Jawa Kuno dengan menggunakan metrum tambo. Tipe puisi ini sangat berkembang pesat pada masa kerajaan Kediri dan Majapahit.
  9. Puisi-puisi Arab: merupakan jenis puisi yang dibawa masuk berbarengan dengan datangnya kaum pedagang Arab dan agama Islam ke bumi pertiwi. Beberapa bentuk puisi Arab yang masuk ke Indonesia adalah masnawi, rubai, kit’ah, gazal, dan nazam.

Karya sastra di atas merupakan bentuk-bentuk kesusastran yang berkembang pada masa keusastraan melayu lama. Masa melayu lama ini bisa dikatakan sebagai cikal bakal keussastraan Bangsa Indonesia, karena pada masa inilah para peneliti kesusastraan mampu menggali sejarah kesusastraan Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa pada kenyataannya kesusastraan Indonesia berkembang jauh sebelum itu, namun sayangnya bentuk-bentuk karya sastra yang dihasilkan jauh sebelum masa kesusastraan lama tidak dapat dilacak oleh para peneliti kesusastraan Indonesia. Hal ini karena tidak adanya sistem penulisan kembali karya-karya yang telah dihasilkan, mengingat karya-karya tersebut cenderung disebarkan dengan menggunakan ujaran lisan.