Kajian mengenai sastra bandingan sekarang mulai mendapat perhatian dari para ahli dan sedang marak dilakukan dalam dunia kesusastraan. Apalagi dalam hal membandingkan karya sastra dari dua ranah budaya dan bahasa negara yang berbeda. Fowler (Fowler, 34:1987), menyatakan bahwa sastra bandingan secara sistematis mengembangkan kecenderungan kaitan antar karya dalam bahasa yang sama atau yang lain. Kajian ini antara lain, bertujuan untuk memahami proses penciptaan dan perkembangan sastra suatu negara.

Syarat penelitian sastra bandingan adalah bahwa peneliti harus menguasai beberapa bahasa dan mengetahui di mana bacaan untuk analisisnya. Dengan demikian, sastra bandingan bukan sekadar mempertentangkan bahasa dari dua negara saja, tetapi lebih sebagai metode untuk memperluas suatu pendekatan. Jadi, sastra bandingan bukanlah sebuah teori, tetapi hanya merupakan metode.

Apabila hendak menganalisis karya sastra dengan metode bandingan, maka ada pendekatan tertentu yang harus disesuaikan. Menurut Robert J. Clements, untuk menganalisis sastra dengan metode bandingan telah ditetapkan lima pendekatan, yaitu tema, genre (bentuk), gerakan, hubungan dengan bidang lain, dan pelibatan sastra dengan teori dan kritik sastra (Aziz, 2001: 16). Pendekatan tematik adalah pendekatan berdasarkan tema. Pendekatan generik adalah pendekatan berdasarkan genre yang sama. Pendekatan zaman adalah membandingkan karya sastra untuk mengetahui sejarah zaman. Pendekatan interdisipliner digunakan untuk mengkaji hubungan sastra dengan bidang ilmu yang lain. Misalnya kaitan sastra dan filsafat, sastra dan antropologi, atau sastra dan teknologi.

Menurut Jost, ada empat pendekatan dalam menganalisis kajian sastra bandingan. Empat pendekatan itu adalah pendekatan pengaruh (analogi), pendekatan gerakan (kecenderungan), pendekatan genre (bentuk), dan pendekatan motif.  Hal yang sangat jelas dalam melakukan pendekatan tersebut, bahwa sastra bandingan tidak terlepas dari kajian genetik yang berpengaruh dalam pembentukan suatu karya sastra.

Secara garis besar, ada tiga pola kajian dalam penelitian sastra bandingan. Tiga hal tersebut adalah kajian sumber (source), perantara (transmitter), dan penerima (receiver).

  1. Kajian sumber (source) adalah kajian yang mengkaji sumber kreatif pengarang dalam menghasilkan karya sastra. Sumber bisa dipinjam dari sumber bahan, isi, dan bentuk. Pengatang menerima pengaruh dari karya sastra yang dibacanya, baik karena atau tidak karena. Secara karena, misalnya dengan menyadur dengan cara isi sama tetapi bahasa dan judul berbeda. Secara tidak karena, misalnya adalah karya terjemahan, resensi, atau ulasan.
  2. Kajian perantara (transmitter) adalah kajian yang menjadi hubungan jembatan antara satu karya dengan karya lainnya. Contohnya adalah karya terjemahan yang menjadi jembatan perantara yang asli dengan tempatan.  Misalnya, Serat Romo yang klasik dijadikan baru dengan judul Kitab Omong Kosong secara modern.
  3. Kajian penerimaan adalah cara bagaimana pengaruh penerimaan pengarang dimanifestasikan pada karya yang dihasilkannya. Manisfestasi tersebut berupa saduran, transformasi, adaptasi, terjemahan, dan lain-lain.

Fokus Utama Penelitian Sastra Bandingan

Sastra bandingan adalah sebuah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan teori sendiri. Bisa dikatakan bahwa teori apapun bisa digunakan dalam kajian ini. Syaratnya asalkan sesuai dengan objek dan tujuan penelitiannya. Dalam beberapa tulisan, sastra bandingan juga dikatakan sebagai studi atau kajian. Dalam langkah-langkah yang dilakukannya, metode perbandingan adalah yang utama. Dengan demikian, uraian yang terdapat dalam kajian sastra bandingan berlandaskan azas comparative (perbandingan). Hal inilah yang menjadi fokus utama dalam menganalisis sastra bandingan. Konsep sastra bandingan yang sesuai fokus utama adalah:

  • Ranah budaya yang sama.
  • Ranah budaya yang berbeda.
  • Transnasional, yaitu ruang lingkup sastra nasional, akan tetapi beda bahasa.
  • Interdisipliner, yaitu kaitan ilmu sastra dengan disiplin ilmu yang lain.

Agar lebih memahami bagaimana cara analisis sastra banding, banyak tulisan dan essai dari peneliti yang telah mengkaji secara bandingan. Beberapa di antaranya adalah berjudul:

  • Pengaruh Rendra pada puisi Malaysia (Suripana Sadi Hutomo)
  • Cerita Kentrung Djaka Tarub dan Teori Astronot (Suripan Hadi Sutomo)
  • Le medecin Malgre Lui dan Si Kabayan Jadi Dukun (Tommy Christomy SSA)
  • Unsur Mistik dalam Atheis dan The Bridge of San Luis Rey (Muhammad Hamidi)
  • Novel Madame Bovary karya Guztave Flaubert dan Belenggu Karya Amin Pane (Koeshendrawati Hutapea)
  • Kajian “Asmaradana” dalam Bandingan (Puji Santosa)
  • Pulang dan Senja Belum Berakhir: Sebuah Perbandingan (Sunu Wasono)

Beberapa penelitian tersebut telah dibukukan dalam essai sastra bandingan dalam sastra Indonesia Modern. Selanjutnya, berikut disampaikan contoh hasil analisis perbandingan kisah yang sudah menjadi legenda di nusantara. Salah satu legenda yang terdapat di daerah Sumatra Utara yakni  “Legenda Simardan” dan “Malin Kundang” di Sumatera Barat. Kedua cerita ini merupakan sebuah cerita rakyat legenda yang dipercaya oleh masyarakat setempat yang dianggap sebagai bukti sejarah pada masa lampau. “Legenda Simardan” menceritakan tentang seorang anak yang durhaka kepada ibunya sendiri dan disumpah menjadi sebuah pulau yang disebut dengan pulau Simardan yang terletak di Propinsi Sumatera Utara tepatnya di daerah  Hulutanjung Balai tepatnya di Tapanuli.

Legenda “Malin Kundang” yang terdapat di Sumatera Barat, juga menceritakan tentang seorang anak yang durhaka kepada ibunya sendiri, dan disumpah menjadi sebuah batu yang terdapat di Propinsi Sumatra Barat. Kedua cerita legenda ini sampai sekarang masih sangat dipercaya bahwa cerita ini benar adanya, karena walaupun kedua cerita ini hanya bersifat cerita mitos akan tetapi masyarakat pada umumnya sangat percaya bahwa peristiwa tersebut benar-benar ada. Kisah ini dianggap sebagai peristiwa sejarah pada masa lampau dalam bentuk sastra lisan, yakni cerita rakyat.

Dari kedua cerita rakyat “Simardan” dan “Malin Kundang”, bila dilihat dari segi struktur cerita, maka keduanya mempunyai struktur sebagaimana yang terdapat pada struktur karya sastra umumnya. Dalam karya sastra terdapat struktur otonom atau struktur dalam, seperti tokoh, tema, amanat, alur, sudut pandang dan setting/tempat. Struktur-struktur otonom ini, juga terdapat pada cerita rakyat Simardan dan Malin Kundang, karena keduanya termasuk dalam wilayah sastra, dalam bentuk sastra lisan. Cerita Rakyat “Simardan” dan “Malin Kundang” adalah cerita yang mempunyai tema yang sama, yakni “anak yang durhaka pada orang tuanya”. Akan tetapi bila ditinjau lebih jauh, dari kedua cerita rakyat tersebut terdapat perbedaan di dalam unsur-unsur naratif atau otonom.

Berdasarkan hasil pembahasan secara bandingan, kedua cerita tersebut mempunyai tema cerita yang sama, yakni seorang anak yang durhaka kepada ibunya. Akan tetapi apabila dilihat dari segi unsur nartaif seperti alur, penokohan, dan setting, dari kedua legenda tersebut jelas sangat berbeda. Legenda Malin Kundang dengan rangkaian peristiwa yang terjadi adalah seorang anak yang durhaka kepada ibu dan pergi merantau untuk bekerja keras agar menjadi anak yang sukses dan kaya. Namun, dengan kekayaannya Sang Tokoh mengabaikan ibunya yang telah melahirkannya dan merawat hingga dewasa. Malin telah menyalahgunakan kekayaannya dengan mengingkari ibunya sendiri. Peristiwa ini membuat sang ibu kecewa dan menyumpah dengan menyebut anaknya akan menjadi sebuah batu.

Sementara pada legenda Simardan, peristiwa ceritanya dimulai saat Simardan pergi merantau, tapi tidak untuk bekerja. Ia pergi untuk menjual harta karun yang didapat melalui mimpi. Pada akhirnya harta karun berhasil terjual di kerajaan Malaysia, Simardan pun menjadi seorang anak yang kaya, dengan kekayaannya ia berhasil mempersunting gadis bangsawan.  Akhirnya ia kembali ke kampung halaman, namun hal yang sama yang dilakukan oleh Simardan, dia mengingkari ibunya sendiri, peristiwa ini membuat ibunya kecewa dan sakit hati, akhirnya ibu Simardan pun menyumpahinya. Simardan pun teggelam bersama istri dan para pengawal kapal. Simardan menjadi pulau, tetapi istri dan para pengawal kapal berubah menjadi kera putih yang bertempat tinggal di daratan pulau Simardan.

Perbandingan yang dilakukan terhadap dua karya sastra legenda tersebut telah memberikan makna. Dalam kajian bandingan, kita tidak hanya sekadar membanding-bandingkan semata, akan tetapi bagaimana perbandingan tersebut bisa dimaknai. Kedua cerita tersebut adalah sebuah cerita folklor yang merupakan cerita rakyat lisan yang terdapat di masing-masing daerah. Untuk itu, karya sastra dalam bentuk sastra lisan harus perlu dilestarikan demi memajukan dan mempertahankan nilai-nilai moral yang terkadung di dalamnya, yakni agar setiap anak lebih memahami dan lebih menghargai lagi kepada kedua orang tuanya.  Dengan demikian, kehadiran kajian sastra bandingan lebih bisa semakin digali dan dikembangkan terus untuk kemajuan ilmu kesusastraan.

Loading...