Sang Pencetus Teori Solow

Teori Solow yang terkenal itu disampaikan oleh seorang ekonom berkewarganegaraan Amerika Serikat, yakni Robert Merton Solow yang familiar disebut sebagai Robert Solow. Solow dilahirkan di Kota Brooklyn, New York, pada 23 Agustus 1924. Meski lahir dari keluarga miskin, tapi itu tidak menghalangi Solow mendapatkan pendidikan terbaik.

Ketika masih duduk di bangku sekolah menengah, dia berhasil memenangkan kompetisi untuk meraih beasiswa melanjutkan pendidikan di Harvard University, sebuah kampus elit yang masih menjadi primadona hingga saat ini. Kegiatannya menuntut ilmu di Harvard ini tidak berjalan lama. Rasa bosan yang menyerang karena faktor materi yang diajarkan membuatnya mengambil keputusan untuk hengkang dari kampus ini.

Pascamundur dari Harvard, ketika usianya menginjak 18 tahun, Solow bergabung dengan US Army, angkatan bersenjatanya Amerika Serikat. Dia bertugas di korps militer ini selama 3 tahun hingga tahun 1945 ketika pecah perang dunia ke 2.

Setelah masa bertugasnya di barak militer selesei, Solow memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah. Di Harvard University ini, Solow mengabdikan diri di sebuah tim peneliti yang saat itu di bawah komando Wassily Leontif, yang kelak pada tahun 1973 juga memenangi hadiah nobel di bidang ekonomi. Pada waktu itu, Solow menunjukkan ketertarikannya yang lebih kepada dunia statistik probabilitas.

Rasa ingin tahu yang besar terhadap berbagai rumus statistik membuatnya memutuskan belajar dengan lebih mendalam di Columbia University. Ini terjadi pada tahun 1949-1950. Selain belajar, Solow juga mulai menyebarkan ilmu yang dia dapat dengan menjadi tenaga pengajar di kampus MIT (Massachusetts Institute of Technology) untuk pengajaran di bidang statistik serta ekonomi. 

Rasa ketertarikan Solow terhadap ilmu pengetahuan bernama ekonomi juga tidak lepas dari pengaruh Paul Samuelson. Karena lama dan seringnya bergaul dengan Paul Samuelson membuat dia mempunya energi dan semangat lebih untuk mendalami makro ekonomi yang membahas berbagai aspek kehidupan yang ada di masyarakat.

Selain berkecimpung di dunia akademisi, Solow juga berkarir menjadi seorang praktisi. Pada mula tahun 1961, Solow menjadi salah satu Dewan Penasehat Ekonomi selama satu tahun. Enam tahun berikutnya, Solow diangkat sebagai anggota Komisi Kepresidenan selama 3 tahun.

Penghargaan yang Diraih

Sebagai seorang ekonom cemerlang, pantas jika dia mendapatkan banyak apresiasi dari berbagai pihak. Ada beberapa penghargaan bergengsi yang dianugerahkan kepadanya, antara lain sebagai berikut.

  1. Mendapatkan John Bates Clark Awards dari AEA (American Economic Assosiation) sebagai ekonom cemerlang yang berumur di bawah 40 tahun (under fourty). Delapan belas tahun kemudian, dia menempati posisi presiden di perkumpulan para ekonom itu.
  2. Selain itu, berkat karyanya tentang teori pertumbuhan ekonomi, membuatnya diganjar penghsrgaan bergengsi di kalangan ilmuwan di seluruh dunia. yakni Nobel Prize pada 1987.

Model Pertumbuhan Solow

Mengapa beberapa negara yang berada di benua Afrika dari dulu hingga kini diidentikkan dengan keterbelakangan? Mengapa pertumbuhan ekonomi di Asia timur khususnya di Cina dan Jepang bisa terbilang pesat? Apa yang menyebabkan negara-negara di dua kawasan itu mengalami hal yang berbeda dalam pertumbuhan ekonominya? Berbagai pertanyaan itu akan dijawab dalam artikel singkat berikut.

Masalah pertumbuhan ekonomi yang berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya merupakan salah satu hal yang sulit untuk diuraikan dengan jelas. Dalam membahas masalah pertumbuhan ekonomi, ada tiga hal sentral yang selama ini menjadi focus bahasan para pengamat ekonomi, yakni pertumbuhan ekonomi dunia (world growth), pertumbuhan ekonomi masing-masing negara (country growth) serta adanya ketimpangan dalam hal tingkat pendapatan (inequality of income level). Dari uraian pembahasan masalah pertumbuhan ekonomi, kebanyakan para ekonom akan mengacu kepada konsep pertumbuhan Solow.

Dalam teorinya, Solow menjelaskan bahwa investasi dan tabungan, pertumbuhan penduduk serta teknologi berpengaruh terhadap tingkat output perekonomian dan pertumbuhannya.

Model dasar dari teori pertumbuhan Solow adalah sebagai berikut.

Y= F (K.L)

Dimana Y = Output, K = Modal fisik, L = Angkatan kerja. Jika kedua sisi dibagi dengan L, maka hasilnya akan seperti berikut ini:

Y = f (k)

Dengan Y = Output per pekerja dan K = Modal per pekerja

Dari persamaan di atas, bisa diketahui bahwa menurut Solow, pertumbuhan ekonomi bergantung kepada perkembangan modal serta pertumbuhan penduduk atau populasi. Karena pertambahan modal atau kapital dipengaruhi oleh besarnya tabungan serta adanya depresiasi modal, maka dalam periode tertentu pertambahan modal atau kapital bisa menjadi nol. Ini disebabkan karena nilai capital, baik yang terbentuk dan yang terdepresiasi adalah sama. Dalam lingkup makro, kondisi ini bisa menyebabkan perekonomian berada dalam kondisi stabil dengan penghasilan yang tetap. 

Dalam teori ini diasumsikan bahwa variabel teknologi bersifat eksogen. Artinya, variabel ini tidak dipengaruhi oleh variabel lain atau menjadi variabel bebas. Pada fungsi produksi, teknologi dianggap given atau tetap dan tingkat penawarannya berada pada posisi tertentu.

Pokok-pokok Teori Solow      

Intisari dari teori Solow di antaranya tercantum sebagai berikut.

  • Dalam dunia industri berlaku fungsi produksi yang tertuang dalam hukum The Law of Deminishing Return. Hukum ini menjelaskan bahwa ditambahkannya jumlah input yang tepat bisa menambah output yang maksimal. Tetapi, jika penambahan terus dilakukan, maka yang terjadi adalah penurunan dari output itu sendiri.
  • Berkaitan dengan investasi, besarnya investasi per pekerja adalah fungsi dari capital stock per pekerja. Besar kecilnya capital stock dipengaruhi oleh investasi serta depresiasi atau penyusutan. Ketika investasi naik, maka capital stock akan bertambah dan sebaliknya. Tingkat tabungan yang tinggi akan berpengaruh terhadap bertambahnya capital stock. Pertambahan ini selanjutnya akan meningkatkan pendapatan yang bisa mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi yang cepat. Pertambahan ini tidak akan terjadi terus menerus. Ketika terjadi steady-state level of capital, pertumbuhan ekonomi akan melambat.
  • Pergerakan naik turunnya tingkat populasi juga berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Dengan bertambahnya tingkat populasi, maka jumlah labor atau pekerja yang meningkat mampu mengurangi capital stock per pekerja dengan sendirinya. Berdasarkan analisis Mankiw (2000) bahwa negara-negara yang memiliki pertumbuhan penduduk yang cepat, GDP per kapitanya rendah.
  • Dalam teori Solow dikatakan bahwa kemajuan di bidang teknologi dimasukkan sebagai faktor eksogen. Dampak dari kemajuan teknologi ini bisa mencipatkan pertumbuhan ekonomi yang sustainable atau berkelanjutan dengan cara mengoptimlakan efisiensi tenaga kerja. Hanya dalam kondisi steady state, tingginya tingkat tabungan mengarah kepada tingginya tingkat pertumbuhan juga. Ketika kondisi perekonomian berada dalam posisi steady-state, petumbuhan output per pekerja hanya tergantung dari kemajuan teknologinya.    
  • Menurut teori Solow bahwa makin tinggi tingkat tabungan atau saving rate suatu negara, maka makin kaya negara itu. Selain itu, semakin tinggi tingkat pertumbuhan penduduk, maka mengakibatkan semakin tinggi juga tingkat kemiskinannnya.

Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan Solow, ada beberapa hal yang bisa ditempuh dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi, yakni sebagai berikut.

  1. Meningkatkan jumlah tabungan. Dengan bertambahnya tabungan, modal yang tersedia untuk berinvestasi akan semakin besar dan ini artinya mempercepat pertumbuhan  ekonomi.
  2. Setelah tingkat tabungan terus di tambah, meningkatkan jumlah investasi yang sesuai dengan potensi dan kondisi perekonomian baik dari segi fisik maupun non fisik.
  3. Meningkatkan aspek kemjuan teknologinya. Dengan melakukan ini maka pendapatan per tenaga kerja bisa meningkat juga sehingga mampu memberi kesempatan sektor swasta untuk berinovasi. Adanya inovasi yang terus dikembangkan akhirnya juga bisa berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.

Keterangan singkat di atas semoga bisa menjawab pertanyaan mengapa beberapa  negara di Afrika pertumbuhan ekonominya lambat sehingga identik dengan keterbelakangan. Salah satu faktor yang bisa dimunculkan ke permukaan adalah karena proses adopsi terhadap perkembangan teknologinya juga lamban.

Rendah atau lambannyaa penyerapan teknologi ini bisa jadi dipengaruhi oleh rendahnya tingkat pendidikan dari mayoritas penduduk yang berdiam di benua Afrika. Kondisi ini yang diperparah dengan faktor-faktor negatif lainnya menimbulkan sebuah ‘lingkaran setan’ hingga akhirnya menghambat pertumbuhan ekonomi.

Semoga teori Robert Solow ini mampu memberikan pengetahuan tambahan bagi pembaca.