Sebelumnya kita telah mempelajari bagaimana Abrams membagi teori kesusastraan menjadi 4 kelompok utama yang meliput, ekpressive, pragmatik, mimetik, dan objektif. Abrams dalam teorinya berusaha melihat hubungan antara karya sastra dan aspek-aspek lain yang mempengaruhinya seperti kehidupan si pengarang dan keadaan sosial tempat di mana karya sastra itu dihasilkan. Salah satu aspek-aspek ekstrinsik yang kemudian dijadikan satu pendekatan kesusastraan dalam teori kesusastraan yang digagaskan oleh Abrams tersebut terkonsentrasi pada hubungan antara karya sastra dengan pembaca. Teori resepsi sastra atau yang juga dikenal dengan istilah reader responds merupakan teori yang akan memungkinkan kita untuk melihat bagaimana sesungguhnya hubungan antara karya sastra dan pembaca.

Dalam penggunaan teori resepsi sastra pada penganalisisan karya sastra, pendapat pembaca memegang peranan kunci dalam proses penganalisisan karya sastra. Karena dalam teori resepsi sastra, penelitian kesusastraan lebih berupa pengolahan teks dan cara pemberian makna yang kemudian mendatangkan respon dari pembacanya. Teori resepsi sastra juga seringkali dianggap sebagai pendekatan yang mengacu kepada penganalisisan tanggapan pembaca terhadap karya sastra tertentu dalam kurun waktu ke waktu. Sehingga istilah penikmatan karya sastra oleh pembaca sudahlah tepat untuk dipakai dalam pengistilahan teori ini.

Cara kerja teori ini dapat berupa penganalisisan teks berdasarkan latar belakang pembacanya, di mana masing-masing individu kemudian menafsirkan teks tersebut berdasarkan latar belakang yang menjadi bagian dari pembaca itu sendiri. Latar belakang yang dimaksudkan dalam teori resepsi sastra ini dapat berupa pengalaman hidup dan latar belakang budaya. Jadi, bisa disimpulkan bahwa pemaknaan teks pada karya sastra tidak hanya berdasarkan apa yang ada pada karya sastra itu sendiri, tetapi juga berdasarkan pemahaman dari masing-masing pembacanya. Teori resepsi ini hadir sebagai bentuk pembantahan atas statement kritikus sebelumnya yang beranggapan bahwa para pembaca karya sastra bersifat pasif yang hanya mengikuti apa yang disampaikan oleh pengarang yang memegang kendali penuh terhadap badan dari karya sastra tersebut.

Beberapa Teoritikus Resepsi Sastra

1. Wolfgang Isher

Merupakan teoritikus kesusastraan Jerman yang memfokuskan kajiannya pada tanggapan pembaca dengan menggunakan pendekatan fenomenologis. Dalam teorinya, Isher berpendapat bahwa proses membaca memegang peranan penting dalam memberikan tanggapan terhadap karya sastra. Proses membaca menjadi inti dari penelitian resepsi sastra, di mana peneliti kesusastraan hendaknya menganalisis bagaimana proses membaca pada tiap-tiap pembaca dapat menghasilkan tanggapan-tanggapan mengenai karya sastra yang mereka baca. Teori resepsi sastra Isher ini mungkin untuk diaplikasikan apabila kita melihat karya sastra tidak hanya sebagai teks saja, tetapi sebagai upaya dalam membentuk kembali sebuah realitas yang telah terformulasi.

Selain itu, Isher membagi pembacanya menjadi dua kelompok yaitu:

  • Pembaca implisit; yang dimaksud dengan pembaca implisit adalah pembaca yang diciptakan sendiri oleh teks.
  • Pembaca nyata; merupakan citra mental yang terdapat dalam proses pembacaan.

2. Hands Robert Jauss

Sama dengan Isher, Jauss juga merupakan salah satu ahli sastra yang berkebangsaan Jerman. Teori resepsi sastranya lebih ke arah bagaimana terjadinya perubahan tanggapan, interpretasi, dan evaluasi pada karya sastra yang berbeda ataupun pada karya sastra yang sama dalam kurung waktu yang berbeda. Teorinya ini lebih mengarah kepada kesejarahan karya sastra tersebut. Jauss berpendapat bahwa satu teks karya sastra bersifat terbuka untuk setiap pembaca dari zaman apapun, sehingga karya sastra tersebut tidak hanya dianalisis berdasarkan bagaimana pandangan para pembacanya pada zaman karya sastra tersebut diterbitkan atau dihasilkan tetapi juga memungkinkan untuk kembali dilakukan analisis pada kurung waktu berbeda selanjutnya.

3. Stanley Fish

Jika Jauss melihat bagaimana perbedaan tanggapan dan intrepertasi terjadi pada karya sastra, maka Fish lebih menitikberatkan pendekatannya pada pengalaman pembaca. Di mana penelitian menggunakan teori Fish ini berpusat pada penyesuaian harapan pembaca yang dibuat oleh pembaca itu sendiri ketika mereka membaca teks tersebut. Konsep ini hampir mirip dengan apa yang diusulkan oleh Isher, namun bedanya Fish lebih mempertimbangkan penggunaan pendekatan ini pada tingkat rangkaian kalimat. Seperti bagaimana sebuah rangkaian kalimat kemudian menciptakan ketegangan pada para pembacanya.

Teori Fish ini kemudian tidak begitu sering digunakan karena dianggap gagal dalam merumuskan langkah teoritis yang tepat bagi pembaca dan kritik sastra. Dua hal yang menjadikan teori ini mengalami ketersendatan adalah kegagalan dalam meneorikan konvensi pembaca dan pendekatanya yang meminta pembacaan kalimat secara per kata yang dianggap menyesatkan.

4. Norman Holland dan David Bleich

Holland dan Bleich dalam teorinya lebih menggunakan pendekatan psikologi dalam melihat hubungan antara teks sastra dengan pembacanya. Kedua ahli kesusastraan ini berpendapat bahwa ketika seseorang membaca sebuah tekt maka secara tidak sadar pembaca tersebut akan memasukkan identitas dirinya ke dalam proses membacanya. Jika pada teori Freud kita menggunakan mekanisme pertahanan sebagai alat penentu psikologi karakter yang terdapat dalam karya sastra, maka menurut Holland mekanisme pertahanan pada diri pembacalah yang hendaknya melakukan pendamaian sehingga mampu memberi jalan masuk terhadap karya teks tersebut.

Teori ini mungkin sedikit sulit dimengerti, namun secara general penggaplikasian teori ini dapat digambarkan sebagai berikut;

Seorang anak yang membaca karya sastra dengan tema-tema detektif secara tidak langsung merupakan suatu bentuk upayanya dalam memuaskan perasaan agresifnya terhadap ibunya sendiri yang kemudian membingbingnya menjadi kesatuan dengan tokoh pembunuh pada karakter tersebut. kejadian ini bisa dianggap sebagai bentuk pemberian kesan terhadap keinginannya dan juga bentuk jalan yang memungkin dia untuk mengurangi rasa bersalah. Dengan adanya proses ini, si anak kemudian dapat memuaskan nalurinya dan kemudian dapat bertahan dari bentuk kekhawatiran dan kesalahan yang terpendam dalam psikologinya.

5. Jonathan Culler

Culler dalam teorinya mengarahkan kita untuk membentuk suatu prosedur yang memungkinkan para pembacanya untuk melakukan suatu penafsiran. Dalam penganalisisannya, Culler memahami kemungkinan munculnya interpretasi yang berbeda terhadap satu karya sastra yang sama. Culler beranggapan bahwa meskipun hasil interpretasi setiap orang akan berbeda, namun memungkinkan terdapat persamaan dalam prosedur konvensi penafsiran.

Dari penjelasan beberapa teori resepsi di atas dapat dilihat para teoritikus sastra tersebut berupaya membangun dan menggambarkan bagaimana hubungan yang terjalin antara karya sastra dengan para pembacanya. Para pembaca tidak lagi bersifat pasif yang hanya percaya dengan apa yang disampaikan oleh pengarang dalam karya sastranya, tetapi pembaca juga kemudian dapat membentuk pemaknaan mereka tersendiri yang bisa saja berbeda antara satu dengan lainnya. Selain itu, teori ini juga memungkinkan kita untuk melihat psikologi dari pembaca yang tergambar melalui bagaimana pembaca tersebut menyikapi teks yang mereka baca.

Prinsip teori resepsi sastra ini menjelaskan bahwa teks kesusastraan tidak hanya dapat dimaknai secara tunggal, di mana pandangan antara satu individu harus sama antara satu dengan yang lain. Namun, pemaknaan tersebut dapat bersifat luas dan tidak terbatas tergantung bagaimana proses pembacaan karya sastra tersebut dan latar belakang dari pembacanya. Pemaknaan suatu karya sastra juga dapat berubah dari waktu ke waktu, karena peneliti melihat teks pada karya sastra sebagai media yang mudah dimasuki dan dianalisis meskipun pada zaman yang berbeda.