Sebelum nenek moyang kita mengenal aksara, sastra dikembangkan dari mulut ke mulut dengan cara lisan hingga berkembang dari generasi ke generasi. Salah satu bentuk karya sastra yang menggunakan metode penyampaian dengan cara oral adalah puisi. Dahulu, bentuk puisi yang kita kenal sekarang ini disampaikan secara langsung tanpa menggunakan perantara lain sebagai alat perekamnya. Penyampaian puisi lisan ini juga seringkali dilakukan dengan cara dinyanyikan atau dimelodikan sehingga para pendengarnya dapat dengan mudah menghafalkan setiap baris yang terdapat dalam puisi lisan tersebut.

Beberapa ciri-ciri utama yang berkaitan dengan struktur puisi lisan adalah: penyampaiannya yang dilakukan secara oral membuat karya-karya lisan tersebut tidak lagi dikenal siapa pengarang aslinya sehingga kebanyakan puisi lisan yang telah berkembang sejak lama sudah bersifat anonim. Karya yang dihasilkan juga biasanya menggambarkan kebudayaan tertentu yang merupakan asal karya tersebut lahir. Hubungan antara karya sastra lisan dengan budaya lokal sangat erat antara satu dengan lainnya sehingga masing-masing budaya tersebut menyisipkan ciri-ciri khusus pada tiap-tiap karya lisan yang mereka hasilkan. Bagian puisi lisan juga biasanya melakukan perulangan-perulangan yang berfungsi sebagai cara untuk mempertahankan keaslian teks puisi tersebut.

Memahami bagimana bentuk dan struktur dari puisi lisan juga dapat kita lakukan dengan melihat beberapa jenis bentuk puisi lisan yang dapat kita temukan sekarang ini. Masing-masing dari puisi-puisi lisan tersebut memiliki struktur yang berbeda antara satu dengan lainnya, hal yang menjadikan mereka berada dalam payung yang sama adalah sistem penyampaiannya yang disebarkan secara oral. Berikut kita akan membahas beberapa bentuk dari puisi lisan.

Bentuk-bentuk Puisi Oral/Lisan

1. Pantun

Pantun merupakan bentuk puisi oral yang banyak berkembang di Indonesia, beberapa di antaranya berisikan nilai-nilai moral dan pembelajaran bagi masyarakat. Namun, bentuk lain dari pantun juga seringkali digunakan sebagai alat untuk bersuka cita seperti pantun-pantun yang bersifat jenaka, romansa mudamudi, dan teka-teki. Pantun juga seringkali disebut dengan istilah parikan, umpasa, dan sebagainya. Meskipun penamaan mereka berbeda-beda pada tiap-tiap daerah, namun stuktur pembangun pantun tersebut tetaplah sama antara satu dengan yang lainnya.

Pantun adalah bentuk puisi yang terikat, di mana pada tiap-tiap baitnya terbagi atas sampiran dan isi. Sampiran pada pantun terletak pada baris pertama dan baris kedua, sedangkan bagian isi biasanya mengikuti setelah sampiran pada bagian baris ketiga dan keempat. Dalam tiap tiap baris pada pantun, biasanya terbagi atas 8 hingga 12 suku kata yang pada tiap-tiap akhir barisnya membentuk rima, biasanya a b-a b atau a a-a a.

Air dalam bertambah dalam

Hujan di hulu belum lagi teduh

Hati dendam bertambah dendam

Dendam dahulu belum lagi sembuh

Ada alasan kenapa pantun harus mengikuti struktur asli pantun yang selama ini kita kenal, di mana dalam pembangunan pantun tersebut tidak boleh mengalami penambahan atau pengurangan struktur-struktur pembentuknya. Alasan pertama adalah karena pantun berfungsi sebagai pemelihara bahasa, karena pada tiap-tiap barisnya pantun berperan sebagai penjaga fungsi tiap-tiap katanya. Pantun juga berperan penting sebagai bentuk karya sastra yang menjaga kemampuan alur berfikir, pantun dengan strukturnya yang terdiri atas sisipan dan isi melatih kita untuk memahami makna-makna yang terkandung dalam pantun tersebut sebelum kemudian kita mengujarkannya.

2. Epik

Epik merupakan bentuk puisi lisan selanjutnya yang dianggap paling berkembang di antara bentuk-bentuk puisi lisan lainnya. Puisi epik merupakan bentuk puisi naratif yang berisikan urutan kejadian atau kisah tertentu sehingga terdapat alur kejadian yang membangun badan dari puisi tersebut. Jenis puisi naratif ini sering sekali digunakan dalam masa Yunani kuno sebagai salah satu alat penyampaian kisah-kisah kesatria ataupun cerita-cerita yang melatarbelakangi kehidupan dewa-dewa. Seperti pada karya-karya Homer yang melatarbelakangi kisah-kisah yang terjadi pada masa perang trojan, dan masih banyak lagi.

Jenis puisi ini biasanya terbagi atas beberapa bab dan masing-masing babnya memiliki ratusan baris.

Puisi epik memiliki satu bentuk struktur yang khusus, terutama puisi puisi yang bertemakan kisah-kisah perjuangan dan kesatriaan. Kebanyakan epik yang bertemakan sejarah kesatriaan tersebut menganut struktur pembentuk yang disebut dactilic hexameter. Disebut dactilic hexameter karena pada tiap barisnya terbentuk atas enam dactil atau lima dactil dengan satu spondee. Penggunaan dactilic hexameter ini menjadi salah satu ciri khas dari beberapa bentuk heoric poetry/puisi kepahlawanan Yunani Kuno yang kemudian sering diaplikasikan pada beberapa bentuk pusi lainnya.

3. Balada

Sama seperti epik, balada juga merupakan salah satu puisi lisan yang sifatnya naratif, namun bedanya pusi balada jauh lebih pendek dari epik. Jika epik terdiri atas beberapa pembagian bab yang berisikan kumpulan episode kejadian, maka balada hanya terdiri atas satu episode saja sehingga membuatnya lebih singkat jika dibandingkan dengan epik. Balada juga seringkali disebut dengan nyanyian puisi naratif karena proses penyampaiannya dilakukan dengan jalan menyanykan lirik yang terdapat pada puisi tersebut, meskipun terkadang balada juga seringkali disampaikan dalam bentuk dialog. Pada umumnya balada berisikan kisah-kisah yang didasari oleh cerita rakyat yang mengharukan.

4. Mantra

Bentuk puisi lisan berikutnya adalah mantra. Mantra jika didefenisikan berarti kumpulan kata-kata yang mengandung unsur mistis dan dipercaya dapat memberikan perubahan. Mantra dalam perkembangan kesusastraan Indonesia berkembang pesat pada masa kejayaan Hindu, di mana mantra-mantra tersebut digunakan sebagai bagian dari praktik keagamaan mereka. Struktur tubuh mantra biasanya berima abc-abc, abcd-abcd, atau abcde-abcde yang memiliki perulangan metafora. Mantra juga seringkali kita temukan dalam upacara-upacara spiritual yang melibatkan para dukun, di mana mantra menjadi bagian utama dalam upacara yang mengandung nilai-nilai mistisisme tersebut. Karena penggunaannya yang sangat dekat dengan ritual keagamaan dan spiritual, mantra kerap dianggap sebagai salah satu karya sastra yang memiliki nilai kegaiban atau tingkat kesaktian tertentu.

Loading...