Pengertian Puasa Daud

Puasa Daud merupakan puasa yang senantiasa dilaksanakan oleh Nabi Daud. Pelaksanaannya dilakukan secara selang-seling. Artinya apabila hari Senin puasa, hari Selasa tidak puasa. Puasa dilanjutkan kembali pada hari Rabu dan pada hari Kamisnya tidak puasa. Begitu seterusnya, sehingga apabila seorang muslim senantiasa melaksanakan ibadah puasa Daud, dia telah melaksanakan ibadah puasa selama setengah tahun.

Hal tersebut sesuai dengan hadits berikut ini:

"Puasa yang paling disukai Allah adalah puasanya Daud as.: ia berpuasa sehari dan berbuka sehari. Dan salat yang paling disukai Allah adalah salatnya Daud; ia tidur separoh malam, beribadah sepertiga malam, dan tidur lagi seperenamnya." (HR. Muslim)

Latar Belakang Puasa Daud

Puasa Daud diperuntukan bagi orang muslim yang sangat haus akan kesempurnaan ibadah. Puasa ini dapat menjadi jalan tengah bagi orang muslim yang ingin senantiasa berpuasa sepanjang tahun. Menjalankan puasa selama setahun penuh tentu saja dilarang oleh Rasulullah SAW karena dikhawatirkan dapat melalaikan kewajiban lain yang bersifat hablum minannas. Seorang muslim yang menjalankan puasa setiap hari selama sepanjang tahun dikhawatirkan melupakan kewajibannya sebagai makhluk sosial, bahwa ia juga harus memperhatikan hak-hak orang lain yang harus dipenuhi oleh dirinya.

Misalnya, seorang suami dan ayah, tentunya dia diharuskan memenuhi kewajiban untuk mencari nafkah agar dapat memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Dengan menjalankan puasa sepanjang tahun dikhawatirkan tubuhnya lemas sehingga tidak dapat melaksanakan kewajibannya secara maksimal. Begitu pula ketika dia harus menerima undangan resepsi pernikahan, khitanan, atau tasyakur lainnya. Dikhawatirkan jika terus0menerus berpuasa setiap hari, akan mengurangi tali silaturahmi karena tidak dapat menghadiri undangan tersebut dengan alasan sedang berpuasa. Dia pun mungkin akan menolak berbagai acara kegiatan kerja bakti, bakti sosial, atau aktivitas lain yang memerlukan kondisi fisik yang prima karena tubuhnya lemas.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan tersebut, melaksanakan puasa Daud dapat dijadikan jalan tengah, agar seorang muslim dapat memenuhi kehausannya akan menyempurnakan ibadah dengan tidak mengganggu aktivitasnya sebagai seorang makhluk sosial sebagaimana diinginkan oleh agama Islam, yaitu tercapainya keseimbangan dunia dan akhirat.

Ada sebuah hadits yang meriwayatkan tentang larangan melaksanakan puasa sepanjang tahun, dan menjadikan puasa Daud sebagai solusi yang sangat baik. Abdullah bin ‘Amr adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang sangat haus akan ibadah. Abdullah bin ‘Amr tidak hanya melaksanakan berbagai puasa sunah seperti puasa Senin Kamis, namun beliau juga menginginkan untuk melakukan puasa setiap hari sepanjang tahun tanpa pernah batal seharipun. Mendengar keinginan Abdullah bin ‘Amr tersebut, Rasulullah SAW melarangnya dan memberikan solusi agar Abdullah bin ‘Amr melaksanakan amalan yang biasa dilakukan oleh Nabi Daud.

Nabi Daud adalah rasul Allah SWT yang taat kepada Allah SWT dan senantiasa berusaha untuk memyempurnakan ketaqwaannya dengan cara tidur di pertengahan malam pertama sampai sepertiga malam terakhir. Kemudian beliau bangun untuk mengerjakan shalat hingga seperenam malam terakhir. Selanjutnya beliau tidur kembali agar fisiknya sehat sehingga dapat melaksanakan shalat Fajr, berzdikir, dan beristighfar pada saat sahur.

Hadits lain menyebutkan:

“Puasa Daud sebaiknya hanya dilakukan oleh orang yang mampu dan tidak merasa sulit ketika melakukannya. Jangan sampai ia melakukan puasa ini sampai membuatnya meninggalkan amalan yang disyari’atkan lainnya. Begitu pula jangan sampai puasa ini membuatnya terhalangi untuk belajar ilmu agama. Karena ingat di samping puasa ini masih ada ibadah lainnya yang mesti dilakukan. Jika banyak melakukan puasa malah membuat jadi lemas, maka sudah sepantasnya tidak memperbanyak puasa.” (HR. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin)

Tata Cara Puasa Daud

Dalam Agama Islam segala sesuatu bergantung kepada niat. Begitu juga dengan keinginan untuk melaksanakan puasa Daud. Niat cukup diucapkan di dalam hati dan tidak ada lafald khusus untuk mengucapkan niatnya. Hukum melaksanakan puasa Daud adalah sunah. Oleh karena itu niat dapat dilaksanakan pada siang hari atau setelah terbit fajar, selama sampai pada saat itu Anda belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa dan dapat memenuhi ketentuan-ketentuan dalam menjalankan ibadah puasa.

Adapun beberapa ketentuan yang harus diperhatikan dan dilaksanakan dalam menjalankan ibadah puasa adalah sebagai berikut:

Syarat wajib puasa

a. Sehat atau tidak dalam keadaan sakit

Seorang muslim yang keadaan kesehatannya sedang tidak baik, ia tidak diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa, sekalipun itu puasa wajib di bulan Ramadhan. Karena, Allah Maha Baik, Dia mengerti ada hal lain yang harus dilakukan seorang manusia ketika sakit untuk kembali pulih, dan dapat beribadah secara baik pula. Yaitu mengonsumsi obat serta banyak mengonsumsi makanan bergizi sepanjang hari. Juga dikhawatirkan, apabila puasa tetap dijalankan, hal tersebut justru akan semakin membuat keadaan kesehatannya semakin memburuk.

b. Bermukim atau menetap

Dalam surah Al-Baqarah ayat 185, Allah SWT berfirman:

“Dan barangsiapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.”

Sebaiknya seorang muslim melaksanakan puasa Daud dalam keadaan tidak bepergian jauh. Hal ini dimaksudkan agar ia dapat melaksanakan ibadah puasa Daudnya dengan baik. Seseorang yang melaksanakan perjalanan jauh dikhawatirkan merasa lelah, haus, dan lapar sehingga Allah SWT memberikan keringan kepada siapa pun melakukan perjalanan jauh untuk membatalkan puasa wajibnya, apalagi puasa sunah seperti puasa Daud. Namun apabila tetap berkeinginan untuk menjalankan ibadah puasa Daud meskipun dalam keadaan bepergian jauh, tetap diperbolehkan selama tidak merugikan kesehatan jasmaninya.

c. Suci dan haid dan nifas

Sebuah hadist meriwayatkan:

Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Dia menjawab, ‘Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat’.” (HR. Muslim)

Ketentuan tersebut tentu saja berlaku pada orang yang melaksanakan puasa Daud. Seorang muslimah yang sedang melaksanakan ibadah puasa Daud, kemudian mendapat haid pada siang harinya, secara otomatis puasa yang tengah dijalankannya menjadi batal. Namun, tidak ada kewajiban untuk menggantinya atau meng-qadhanya di lain hari, karena puasa yang ditunaikan adalah puasa sunah bukan puasa wajib.

d. Baligh atau sudah cukup umur

e. Beragama Islam

f. Mualaq atau sudah dapat membedakan antara haq dan batil

Rukun puasa

Rukun puasa adalah sesuatu yang harus dikerjakan selama menjalankan ibadah puasa. Adapun yang termasuk ke dalam rukun puasa adalah:

a. Niat

Berbeda dengan niat pada [uasa wajib, niat pada puasa sunah tidak harus diucapkan sebelum fakar terbit. Niat puasa sunah bisa diucapkan setelah fajar terbit, dengan catatan, belum melakukan sesuatu yang membatalkan puasa. Niat juga cukup diucapkan dalam hati tanpa ada lafadz khusus seperti pada puasa wajib. Begitu pun ketika Anda akan melaksanakan puasa Daud.

b. Dapat menahan diri dari berbagai hal yang dapat membatalkan puasa.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 187 berikut ini:

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187)

Yang Membatalkan Puasa

Ada banyak hal yang dapat membatalkan ibadah puasa kita, di antaranya:

  • Makan dan minum dengan sengaja.
  • Haid atau nifas.
  • Muntah dengan sengaja.
  • Keluar mani dengan sengaja.
  • Berhubungan suami istri pada siang hari.

Hikmah Puasa Daud

Ada banyak hikmah dan manfaat yang dapat dirasakan oleh seorang muslim yang melaksanakan ibadah puasa Daud, di antaranya sebagai berikut:

  1. Semakin dicintai oleh Allah SWT karena puasa Daud merupakan salah satu jenis puasa yang paling disukai oleh Allah SWT.
  2. Menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT sehingga memudahkan terbukanya pintu surga Ar-Rayyan. Sebagaimana bunyi hadits riwayat Bukhari dan Muslim berikut ini: "Sesungguhnya di surga ada satu pintu yang namanya "Ar-Rayyan," yang akan dimasuki oleh orang-orang yang sering berpuasa kelak pada hari kiamat, tidak akan masuk dari pintu itu kecuali orang yang suka berpuasa. Dikatakan: manakah orang-orang yang suka berpuasa?Maka mereka pun berdiri dan tidak masuk lewat pintu itu kecuali mereka, jika mereka telah masuk, maka pintu itu ditutup sehingga tidak seorang pun masuk melaluinya lagi."
  3. Terjaganya akhlaqul karimah. Seorang muslim yang senantiasa melaksanakan puasa Daud tentunya akan senantiasa menjaga akhlak dan perilakunya agar terhindar dari perbuatan-perbuatan yang tercela.
  4. Semakin dicintai sesamanya. Perbuatan orang yang melaksanakan puasa Daud semuanya adalah perbuatan terpuji, tidak akan ada yang merugikan orang lain juga dirinya sendiri, sehingga dia akan semakin dicintai oleh sesama umat manusia.

Masih banyak hikmah lain yang sangat positif baik bagi perkembangan psikis, fisik, sosial, juga terhadap lingkungan. Oleh karena itu, mengapa kita tidak memulai untuk belajar melaksanakan ibadah puasa Daud?