Arti Puasa Ayyamul Bidh

Puasa Ayyamul Bidh adalah puasa yang dilaksanakan pada pertengahan bulan dengan perhitungan tahun Islam atau kalender Hijriyah. Ayyamul Bidh berasal dari kata ayyam (jamaknya yaum) yang berarti hari-hari, sedangkan bidh mengandung arti putih. Dengan demikian, apabila digabungkan Ayyamul Bidh mempunyai pengertian hari-hari putih. Adapun maksud dari hari-hari putih adalah keadaan pada saat Ayyamul Bidh, bulan tampak terang-benderang atau dalam keadaan purnama sehingga kondisi malam tampak terang bercahaya.

Beberapa hadits menerangkan sebagai berikut:

  • Hadits riwayat Abi Dzarr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abu Dzarr, jika engkau ingin berpuasa tiga hari dari salah satu bulan, maka berpuasalah pada hari ketiga belas, empat belas, dan lima belas.” (HR. At Tirmidzi)
  • Hadits riwayat Jabir bin Abdillah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Puasa tiga hari setiap bulan adalah puasa dahr (puasa setahun). Dan puasa Ayyamul Bidh (hari-hari putih) adalah hari ketiga belas, empat belas, dan lima belas.” (HR. An Nasai dan dishahihkan al Albani)

Hukum menjalan puasa Ayyamul Bidh adalah sunah muakad artinya sunah yang dipentingkan. Pernyatan ini ditegaskan oleh hadits berikut ini:
Abu Hurairah ra. Berkata:

“Teman dekatku (Nabi Muhammad SAW) berpesan tiga hal kepadaku: berpuasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat dhuha, dan shalat witir sebelum tidur.” (Muttafaq ‘alaih)

Ada beberapa pendapat tentang waktu pelaksanaannya. Ada ulama yang berpendapat bahwa puasa Ayyamul Bidh hanya dapat dilaksanakan pada tanggal 13, 14,dan 15, ada pula yang berpendapat tanggal berapa saja yang penting dilaksanakan selama tiga hari pada bulan kalender Hijriyah. Hal tersebut sesuai dengan hadits berikut ini.

  1. Dari Mu’adzah ad ‘Adwiyah, sesungguhnya ia pernah bertanya kepada ‘Aisyah radliyallah ‘anha: “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa melaksanakan shaum selama tiga hari setiap bulannya?” Aisyah menjawab: “ya”. Ia pun bertanya lagi: “Hari-hari apa saja yang biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shaum?” Aisyah pun menjawab: “Tidak pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperhatikan hari keberapa dari setiap bulannya beliau melaksanakan shaum.” (HR. Muslim)
  2. Dalam Majmu’ Fatawa wa Rasail, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata, “Seorang boleh berpuasa pada awal bulan, pertengahannya, ataupun di akhirknya secara berurutan atau terpisah-pisah. Tetapi yang paling afdhal (utama) dilaksanakan pada Ayyamul Bidl, yaitu tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas. Hal ini berdasarkan hadits Aisyah radliyallah ‘anha, “adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa tiga hari setiap bulan, tidak terlalu peduli apakah berpuasa di awal atau di akhir bulan.” (HR. Muslim)

Latar Belakang Puasa Ayyamul Bidh

Puasa Ayyamul Bidh dilaksanakan berdasarkan perhitungan kalender Hijriyah atau komariah. Adapun yang dimaksud dengan perhitungan kalender Hijriyah adalah Muharam, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulkaidah, dan Dzulhijah.

Berbeda dengan kalender Masehi (Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, Nopember, dan Desember) yang dihitung berdasarkan revolusi bumi (perputaran bumi mengelilingi matahari), perhitungan kalender Hijriyah dihitung berdasarkan siklus sinodik bulan dengan lama perputaran selama 29,5 hari. Siklus sinodik bulan, ternyata senantiasa berubah sesuai dengan posisi kedudukan matahari, bumi, dan bulan, sehingga menyebabkan jumlah hari dalam setiap bulan Hiriyah berbeda-beda setiap tahunnya. Contoh yang paling sering terjadi adalah jumlah hari dalam bulan Ramadhan. Umat Islam kadang menjalankan ibadah puasa selama 29 hari atau kadang 30 hari.

Siklus sinodik bulan menyebabkan siklus tahun Hiriyah lebih cepat dibandingkan dengan kalender Masehi karena hanya berjumlah 354 hari pada tahun biasa dan 355 hari pada tahun kabisat. Perbedaan lainnya adalah pada kalender Masehi perhitungan awal hari dimulai pada pukul 00.00 sedangkan pada kalender Hijriyah dimulai pada saat terbenam matahari di daerah masing-masing. Keadaan ini menyebabkan seringnya timbul perbedaan di kalangan umat Islam Indonesia tentang kapan dimulainya awal bulan baru terutama bulan-bulan tertentu seperti Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah.

Puasa Ayyamul Bidh berhubungan dengan gravitasi bulan. Gaya gravitasi bulan akan mencapai puncaknya ketika posisi bulan, bumi, dan matahari berada pada titik yang terdekat dengan garis lurus atau keadaan purnama. Menurut beberapa ahli psikologis, pada kondisi tersebut manusia sedang berada dalam puncak psikologis. Emosi manusia menjadi sangat peka dan fluktuasinya meningkat.

Gaya gravitasi bulan terbesar atau pada saat bulan purnama, tidak hanya menyebabkan pasangnya air di permukaan laut, tetapi telah menyebabkan pasangnya darah manusia sehingga emosi manusia berada dalam puncaknya. Sebuah penelitian di Amerika menyebutkan bahwa angka kriminalitas  di Amerika Serikat umumnya meningkat tajam pada pertengahan bulan. Ada pengakuan seorang psikiater rumah sakit jiwa di Indonesia juga mengatakan bahwa umumnya para penderita rumah sakit jiwa menjadi histeris setiap pertengahan bulan.

Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, yang menerangkan bahwa emosi manusia mencapai puncak kegalauannya di pertengahan bulan, maka akan sangat baik jika diredam dengan puasa. Kita sebagai umat Islam tentunya sangat memahami makna dan fungsi puasa, bukan? Salah satu fungsi dari puasa adalah untuk dapat menahan hawa nafus dari berbagai perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT, sehingga seseorang dapat bersikap sabar, jujur, disiplin, peduli, dan dapat mengendalikan hawa nafsunya.

Tata Cara Melaksanakan Puasa Ayyamul Bidh

Sebagaimana umumnya melaksanakan puasa, tata cara puasa Ayyamul Bidh tidak jauh berbeda dengan melaksanakan puasa wajib. Puasa Ayyamul Bidh dapat dilaksanakan oleh setiap orang muslim selama memenuhi syarat dan rukunnya. Letak perbedaan hanya terapat pada niat dan waktu pelaksanaannya.

Adapun beberapa ketentuan yang harus diperhatikan dan dilaksanakan dalam menjalankan ibadah puasa Ayyamul Bidh sebagai berikut:

Syarat Wajib Puasa

  • Sehat atau tidak dalam keadaan sakit. Seorang muslim yang sedang tidak sehat, tidak dibolehkan untuk berpuasa, karena dikhawatirkan hal tersebut justru akan membuat kesehatan menjadi semakin menurun.
  • Bermukim atau menetap. Dalam surah Al-Baqarah ayat 185, Allah SWT berfirman: “Dan barang siapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” Namun apabila tetap berkeinginan untuk menjalankan ibadah puasa Ayyamul Bidh meskipun dalam keadaan bepergian jauh, tetap diperbolehkan selama hal tersebut tidak mengganggu kesehatannya. Rasulullah SAW pun, senantiasa melaksanakan puasa Ayyamul Bidh meskipun sedang dalam perjalanan, sebagaimana ditegaskan oleh hadits berikut ini: Ibnu Abbas ra. Berkata: “Rasulullah saw. tidak pernah berbuka (tidak berpuasa) pada Ayyamul-Bidh, baik di rumah maupun sedang bepergian.” (HR. Nasa’i. Sanad hadits ini hasan)
  • Suci dan haid dan nifas. Sebuah hadist meriwayatkan: Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Dia menjawab, ‘Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat’.” (HR. Muslim). Ketentuan tersebut tentu saja berlaku pada orang yang melaksanakan puasa Ayyamul Bidh. Muslimah yang sedang melaksanakan puasa Ayyamul Bidh kemudian mendapati dirinya kedatangan tamu bulanan di siang hari, boleh baginya untuk membatalka puasa dan tidak berkewajiban untuk menggantinya di lain waktu.
  • Baligh atau sudah cukup umur
  • Beragama Islam
  • Mualaq atau sudah dapat membedakan antara haq dan batil

Rukun Puasa

Rukun puasa adalah sesuatu yang harus dikerjakan selama menjalankan ibada puasa. Adapun yang termasuk ke dalam rukun puasa adalah:

  • Niat. Sama seperti niat-niat puasa sunah pada umumnya, niat puasa Ayyamul Bidh juga bisa diucapkan setelah fajar terbit, selama dalam rentang waktu tersebut, Anda tidak melakukan sesuatu hal yang dapat membatalkan puasa. Niat diucapkan di dalam hati dan tidak ada lafadz yang khusus harus diucapkan.
  • Dapat menahan diri dari berbagai hal yang dapat membatalkan puasa, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 187 berikut ini: “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187)

Yang Membatalkan Puasa

Ada banyak hal yang dapat membatalkan ibadah puasa kita, di antaranya:

  • Makan dan minum dengan sengaja.
  • Haid atau nifas.
  • Muntah dengan sengaja.
  • Keluar mani dengan sengaja.
  • Berhubungan suami istri pada siang hari.

Hikmah Puasa Ayyamul Bidh

Memahami uraian yang telah disampaikan sebelumnya, puasa Ayyamul Bidh tentunya mempunyai manfaat dan hikmah yang sangat besar bagi seorang muslim yang melaksanakannya, di antaranya sebagai berikut:

  • Lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
  • Dicintai Rasulullah SAW, karena senantiasa mengikuti sunahnya.
  • Dapat meredam emosi negatif sehingga terhindar dari perbuatan-perbuatan negatif yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
  • Dapat dijadikan terapi melatih meredam emosi dan temperamen seseorang.
  • Melatih sikap disiplin, sabar, dan tawakal.

Setelah mengetahui manfaatnya yang begitu besar, apakah kita masih akan menunda melaksanakan puasa Ayyamul Bidh?