Interaksi yang terus-menerus dalam kehidupan masyarakat diidentifikasikan menjadi beberapa jenis proses sosial menurut beberapa para tokoh sebagai berikut:

Kimbal Young

Kimbal Young berpendapat bahwa interaksi sosial dibagi menjadi beberapa bagian, yang mencakup persaingan dan pertentangan (Oposisi), gotong-royong antara individu ke individu, individu ke kelompok dan sebagainya (akomodasi), dan determinasi. Determinasi inilah yang memunculkan beberapa pembagian dan perbedaan dalam akomodasi. Perbedaan ini muncul bisa berdasarkan usia, jenis kelamin, pekerjaan dan kasta.

Bentuk oposisi ini biasa terjadi di masyarakat kita secara umum, pertentangan ini dapat dilihat dari beberapa partai politik yang sering melakukan perlawanan dan pertentangan dengan partai politik yang lainnya. Dimana kedua-duanya memiliki persaingan satu sama lain yang tidak sehaluan.

Akomodasi atau kerjasama ternyata dalam interaksi sosial juga sangat erat, apalagi di Indonesia. Suku, agama yang berbeda kerjasama masih tetap terjaga. Inilah salah satu peran interaksi sosial, tanpa kerjasama satu dengan yang lain tentu tidak akan mencapai kedamaian. Akomodasi yang tidak dibangun berdasarkan toleransi danempati banyak menimbulkan pertentangan. Pertentangan inilah yang nantinya akan muncul adannya perbedaan yang disebut sebagai determinasi.

Mengontrol determinasi sebagai kunci utama. Mengupayakan untuk tetap menjaga interaksi sosial. Jika determinasi tidak terkontrol akan mengakibatkan perlawanan antara individu maupun antara kelompok.
 

Gillin dan Soekanto

Gillin membagi interaksi sosial menjadi dua proses. Proses asosiatif dan proses desosiatif. Kemudian Gillin membagi proses asosiatif ini menjadi beberapa bagian seperti akomodasi, asimilasi dan akulturasi. Sedangkan untuk proses desosiatif Gillin membagi lagi menjadi persaingan dan pertentangan. Dimana dalam pertentangan/pertikaian ini bisa terjadi dipicu oleh kontroversi dan konflik.

Soekanto kemudian mengembangkan pendapat dari Gillin. Soekanto kemudian mengembangkan proses asosiatif menjadi dua poin, yaitu kerjasama dan akomodasi.  Proses asosiatif terbentuk dari penggabungan kerjasama dan akomodasi. Kerjasama inilah usaha dalam rangka menyelesaikan suatu kegiatan/tugas yang ditentukan untuk mencapai kemanfaatan sebesar-besarnya untuk individu (ingroup) maupun untuk kelompok orang lain (out group) itu sendiri.

Kerjasama inilah kemudian dibagi lagi yang terdiri kerukunan, tawar-menawar, kooptasi, koalisi dan joint venture.  Sedangkan untuk yang akomodasi terdiri dari paksaan, kompromi, arbitasi, mediasi, konsiliasi, toleransi dan penyelesaian di pengadilan.

Kooptasi adalah suatu bentuk kerjasama antarindividu dengan individu maupun dengan kelompok. Tujuan dari kooptasi itu sendiri sebagai salah satu cara menghindarkan diri dari bencana dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan.

Koalisi pada dasarnya hampir sama dengan kooptasi, koalisi merupakan kerjasama yang terdiri dari dua organisasi atau lebih, keduanya saling berkombinasi. Dimana organisasi tersebut memiliki hubungan, tujuan dan sistem kerja yang sama. Kesamaan inilah disebut koopositif, karena masing-masing organisasi/lembaga memiliki landasan struktur dan kerangka pemikiran yang berbeda-beda.

Pernah mendengar istilah tentang joint venture sebelum membaca artikel ini? Joint Venture usaha individu dan kelompok pengusaha melakukan kerjasama. Bentuk proyek ini lebih pada usaha ekspor-import, misalnya usaha pertambangan minyak bumi, eksploitasi sumber daya hutan, rancangan bangunan jaringan jalan raya dsb.

Soekanto mengembangkan teori Gillin menjadi lebih spesifik lagi, selain assosiatif yang telah diuraikan di atas, kini mencoba menguraikan desosiatif. Dessosiatif merupakan pertentangan yang terjadi pada individu maupu kelompok, tujuannya lebih membagi menjadi tiga sub, persaingan, kontroversi dan konflik. Terjadinya persaingan disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor ekonomi, jabatan, kebudaayaan dan ras.

Kontroversi muncul dan timbul juga dipengaruhi beberapa pemicu seperti timbulnya penolakan, pengkhianatan antarras, individu, maupun kelompok dan adanya perlawanan. Pada dasarnya kontroversi ini berkembang karena berada di dua kubu persaingan dan pertikaian.\

Dampaknya akan memicu adannya suatu konflik yang berkepanjangan. Konflik itu sendiri bentuk dari proses sosial dengan cara memenuhi tujuan suatu kepentingan kelompok atau individu dengan cara yang salah. Cara yang sering terjadi dengan menentang pihak lawan secara kekerasan disertai beberapa ancaman.

Contoh pertentangan meliputi pertentangan pribadi dan rasial. Di lingkungan masyarakat bentuk pertentangan ini berupa pertentangan kelas sosial. Tidak hanya di lingkungan masyarakat saja, dalam cakupan kenegaraan pun ada, biasanya disebut sebagai pertentangan internasional. Begitu juga dengan dunia perpolitikan yang sekarang tengah marak di Indonesia tentang KPK, dan kasus politik lain disebut sebagai pertentangan politik. Agar mempermudah memahami, perhatikan Mapping Map antara Gillin dan Soekanto sebagai berikut

Serangkaian pertentangan, Akomodasilah sebagai usaha individu atau kelompok meredamkan suatu konflik maupun pertentangan demi kestabilitasan interaksi sosial. Tentunya yang sesuai dengan normal sosial yang berlaku. Beberapa bentuknya berupa paksaan (coercion), paksaan inilah biasa diterapkan pada kaum mayoritas untuk memberikan tekanan pada kaum minoritas. Baik secara langsung, tidak langsung maupun secara psikologis.

Pihak-pihak tertentu yang tengah mengalami perselisihan, belum mendapatkan problem solving (jalan keluar) biasanya membutuhkan orang ketiga sebagai penengah dari konflik itu sendiri disebut sebagai arbitrasi. Selain arbitrasi, bentuk akomodasi yang sering digunakan masyarakat adalah compromise. Suatu bentuk pengertian akan kepentingan pihak lain. Pihak ketiga disebut sebagai mediasi. Sebagai seorang yang netral.

Adjudication bentuk akomodasi yang dipergunakan dalam penyelesaian pertikaian melalui lembaga peradilan hukum. Peradilan melewati jalur hukum ini apabila benar-benar tidak bisa diselesaikan secara damai. Dimana tidak ditemukan titik temu suatu perkara yang melibatkan gono-gini peraturan pemerintahan. Sehingga salah satu jalan sebagai mediasi adalah lembaga pemerintahan itu sendiri yang lebih ahli di bidangnya.

Berikut mapping map menurut Gillin dan Soekanto. Mapping map yang ada tersebut dapat dibandingkan dan dipahami sebagai berikut:

Kemudian Soekanto mengembangkan teori Gillin, berikut mapping map yang dikembangkan oleh Soekanto. Demikian pandangan mengenai proses sosial menurut beberapa ahli. Semoga bermanfaat!