Semantik adalah kajian tentang makna, baik itu makna kata (semantik leksikal), makna frasa (semantik frasa) atau kalimat (semantik sintaksis). Persinggungannya dengan pragmatik sudah terlihat jelas dan saling berhubungan. Tetapi, batas keduanya terasa tidak begitu jelas karena keduanya sama-sama berkutat di aeral makna. Berikut ini contohnya dalam kalimat.

Keambiguan kalimat

a. Mengemudikan truk itu bisa berbahaya.

b. Mengemudikan truk adalah tindakan berbahaya.

c.Truk yang dikemudikan itu berbahaya.

Kalimat b dan c tidaklah ambigu. Tetapi kalimat a terasa ambigu dan memiliki makna yang bisa sama dengan kalimat b dan c.

Kalimat (d) dan (e) berikut ini dapat dikaitkan bersinonim:

d. Saya mengemudikan truk.

e. Truk itu saya kemudikan.

Kalimat aktif dan pasif biasanya memang bersinonim. Jika lingustik stuktural membahas dua kalimat di atas, maka kajiannya bukan terletak pada kesinoniman, melainkan pada perbedaan stuktur atau bentuknya. Jika bidang semantik membahas kesinoniman itu, maka yang dibahas adalah makna lugasnya. Akan tetapi, semantik pasti tidak mempersoalkan mengapa si penutur tidak menggunakan kata ganti “hamba”, “aku”, atau “gue”.  

Dalam pragmatik, tidak mengenal adanya pengertiaan ambigu dan sinonim. Hal itu dikarenakan semua kalimat itu selalu harus dikaitkan dengan konteks. Dari pernyataan tersebut, mari kembali membahas contoh-contoh di atas melalui kajian pragmatik.

Kalimat a tidaklah ambigu jika kita mengetahui konteks percakapan berikut:

Kalimat (a) tidak ambigu kalau dikaitkan dengan konteks dalam cakapan berikut ini.

A: Kamu baru mendapatkan SIM. Bagaimana bisa menjalankan truk sebegitu besar?

B: Tapi, saya ingin mencobanya, Pak.

A: Saya tahu kondisimu. Tapi, kamu lupa satu hal. Mengemudikan truk itu bisa berbahaya.  Truk itu memang tidak membahayakan kamu, tetapi kamu justru bisa membahayakan truk.

Bandingkan pula konteks cakupan dari masing-masing kalimat (d) dan (e) berikut ini.

A: Apa yang kamu lakukan besok?

B: Saya mengemudikan truk.

Dan

A: Kamu apakan truk itu? Apa yang terjadi?

B:  Truk itu saya terbangkan. Tapi, belum apa-apa saya merasa tidak yakin, jadi saya hentikan kemudinya.

Contoh lainnya adalah dua kalimat ujaran yang bersinonim, yakni:

f. Kamu apakan truk itu

g. Saudara apakan truk itu?

Jika dikaji dalam kajian pragmatik, kedua kalimat itu memang memiliki sinonim yang sama. Yakni ‘kamu’ dan ‘saudara’. Namun, tetap memiliki perbedaan karena pragmatik mempelajari dari segi konteks. Jadi, pertanyaan pun muncul berupa, siapa yang mengujarkan kalimat itu, dan kepada siapa kalimat itu ditujukan. Penggunaan ‘kamu’ bisa jadi seorang atasan kepada bawahan. Dalam hal ini, sang penutur memosisikan diri sebagai teman yang menunjukkan tak adanya batasan sosial.

Sementara itu, dalam contoh g, si penutur bisa jadi dalam keadaan marah dan tegang, atau memosisikan lawan bicaranya sebagai sosok yang berada di bawahnya sehingga tuturan dibuat sangat resmi. Artinya, pragmatik memperhitungkan bukan hanya kalimat itu, tapi juga penutur dan petuturnya (yaitu lawan tuturan) karena keduanya termasuk unsur konteks.

Jika ada orang mengatakan bahwa semantik itu mengkaji makna, sedangkan pragmatik mengkaji maksud, bahwa ada yang menyebut pragmatik sebagai ilmu maksud. Maksud itu dapat ditentukan berdasarkan situasi ketika ujaran itu terjadi. Berdasarkan hal itulah, Leech memberi batasan pragmatik sebagai “studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi tutur”. Patokannya sebagai berikut:

  1. Representasi semantik (atau bentuk logam) suatu kalimat berbeda dengan interaksi pragmatiknya. Maksudnya, dipandang dari sudut kaidah tata bahasa, sebagai kalimat merupakan bentuk logis dan bentuk ini mewakili makna yang dikandungnya. Makna, sebagaimana yang diatur oleh kaidah tata bahasa itu tidak harus sama dengan tafsiran  pragmatiknya.
    Contoh:
    Secara tata bahasa, kalimat “Kamu dari Tegal, ya?” kira-kira bermakna, apakah kamu berasal dari desa Tegal. Tetapi, menurut pragmatik, kalimat itu dapat ditafsirkan berdasarkan dari makna tersebut, disesuaikan dengan maksud penutur (pembicara). Maksud penutur bisa saja berupa logat yang dituturkan lawan bicaranya sangat kental dengan logat bahasa Tegal yang unik dan berbeda dengan logat-logat daerah lainnya. Artinya, si penutur tahu bahwa lawan tuturnya memang berasal dari Tegal sehingga ujaran itu adalah upaya memastikan atau menebak. Jadi, penutur sebenarnya tidak bertanya “Kamu berasal dari Tegal, ya”, tapi sindiran berupa, “Logat kamu lucu sekali”.
  2. Semantik diatur oleh kaidah tata bahasa yang bersifat gramatikal, sedangkan pragmatik dikendalikan oleh prinsip. Semantik atau makna dari sebuah kalimat ditentukan oleh kaidah tata bahasa.
    Contoh:
    Kalimat aktif: Pak Guru memerintahkan tugas mata pelajaran Matematika pada murid-murid. Jika ditafsirkan harus berbentuk: Tugas mata pelajaran Matematika diperintahkan Pak Guru kepada murid-murid.
    Surat kabar atau media massa elektronik maupun cetak, juga bisa membuat judul berita secara ringkas, dengan prinsip efisien, ekonomis, dan prinsip retorik dalam memilih kata-kata atau judul artikel/ berita. Dengan prinsip retorik itu, penulis atau wartawan dapat menulis kalimat-kalimat pasif tanpa harus melanggar kaidah.
    Misalnya: Anggaran kemanusiaan dikucurkan oleh pemerintah. Bisa jadi yang memberikan kucuran lebih spesifiknya adalah DPR atau badan pemerintah lain.
  3. Kaidah-kaidah tata bahasa pada dasarnya bersifat konvensional. Sementara, prinsip-prinsip pragmatik pada dasarnya bersifat nonkovensional, yaitu dimotivasi oleh tujuan-tujuan percakapan.
    Kaidah yang bersifat konvensional, artinya berdasarkan kesepakatan seluruh pengguna bahasa sejak masa lampau ketika masyarakat bahasa itu menentukan atau membangun bahasanya.
    Contoh:
    Manusia yang memiliki jakun disebut lelaki. Kata “lelaki” ini muncul tanpa membutuhkan penjelasan secara biologis kenapa manusia yang disebut lelaki berjakun (paling tidak ketika dipergunakan masayarakat tradisional). Berbeda halnya dengan kata “petinju” yang secara morfologis dimotivasi oleh penggabungan antara pe + tinju.
    Dalam bahasa Indonesia, ungkapan seperti “Syukur!” yang bermakna serupa dengan “Syukur akhirnya kamu naik kelas!” ditujukan bagi orang yang berhasil (naik kelas). Hal ini termasuk ke dalam kaidah yang konvensional. Tidak mungkin ungkapan itu untuk mereka yang tidak berhasil. Jadi, makna kalimat itu dikatakan konvensional jika makna tersebut dapat disimpulkan oleh kaidah tatabahasa.
    Namun, karena alasan-alasan tertentu atau karena adanya motivasi tertentu, maka dapat saja muncul ujaran, seperti “Syukur, kamu tidak naik kelas!” atau “Syukurin lo!” Ini bukanlah fakta semantik, melainkan fakta pragmatik. Ini juga nonkonvensional karena ungkapan syukur ditujukan kepada orang yang tidak berhasil atau orang yang dianggap gagal.
  4. Pragmatik mengaitkan makna (atau arti gramatikal) suatu ujaran dengan daya pragmatik ujaran tersebut. Sebagaimana yang kita ketahui, sebuah kalimat dapat direpresentasikan atau dijelaskan menurut bentuk formalnya. Pragmatik harus menjelaskan kaitan antara kedua makna, yaitu antara makna sebenarnya dengan apa yang disebut daya yang disebut daya ilokusi. Daya itu harus dijelaskan malalui implikatur. Untuk sementara, dapat dikaitkan secara mudah, sebagaimana dicontohkan pada patokan bahwa implikatur itu adalah maksud yang ada dibalik bentuk bahasa yang diujarkan. Sebagai ujaran yang diujarkan oleh penutur, bisa jadi terasa mengandung “beberapa tafsiran” di mata pendengar atau lawan bicara.
    Contoh:
    A: Cuacanya terik sekali siang ini.

    Tuturan A itu menunjukkan maksud bahwa dia sedang kegerahan. Namun, respons dari pihak B atau lawan bicara bisa saja berbeda. Respons itu bisa saja berupa:
    B: Begitulah, di desa saya, sudah dua bulan hujan tidak turun.
    B: Iya, saya kegerahan sekali seharian ini.
    B: Kalau saja turun hujan.
    B: Lebih enak minum es cendol kalau begini.
    B: Pulang saja lebih cepat, daripada kepanasan.

  5. Korespondensi-korespondensi gramatikal ditentukan dengan adanya kaidah-kaidah pemetaan. Yakni, koresponden-koresponden pragmatik yang ditujukan dengan masalah-masalah dan pemecahannya. Kaidah gramatikal suatu bahasa ini biasanya sudah dipetakan secara pasti sehingga suatu penyimpangan yang dilakukan oleh penutur segera dapat diketahui. Contoh:
    Kalimat harus memiliki subjek (yang terletak di depan) agar melekat dengan predikat dan menjadi kalimat yang utuh. Namun dalam ujaran, kita boleh tidak membutuhkan hal itu. Oleh karena itu, dalam bahasa Indonesia kita dapat berujar “Wah, kemarau!”. “Aduh, cantiknya.” Atau “Sedih sekali.”