Sebelum membahas lebih dalam uraian materi judul artikel di atas, mari kita membedakan tindakan apa yang umumnya dilakukan oleh orang Indonesia pada umumnya dan orang Amerika Serikat terhadap orang yang pingsan karena tenggelam? Ada yang menekan-nekan dadanya, menjungkirkan posisi tubuhnya sehingga kepala berada di bawah, dan ada pula yang melakukan pernapasan buatan. Perbuatan manakah yang dibenarkan dan lebih efektif untuk menolong korban?

Arti Pernapasan Buatan

Pernapasan buatan atau Resusitasi Jantung Paru atau Bantuan Hidup Dasar (Cardio Pulmonary Resuscitation) merupakan suatu tindakan yang dilakukan dalam keadaan darurat yang dapat dilakukan oleh seseorang untuk menyelamatkan nyawa orang lain secara sederhana tanpa menggunakan alat bantu dan dalam waktu yang singkat.

Pernapasan buatan diberikan kepada seseorang yang berada dalam keadaan henti napas, bernapas terlalu cepat, atau dangkal. Pernapasan buatan akan dianggap berhasil apabila korban yang diberikan pernapasan buatan dada kiri dan kanannya mulai bergerak naik turun secara bersamaan dan mulai terasa serta terdengar adanya aliran udara keluar saat korban menghembuskan napas atau melakukan ekspirasi.

Di negara-negera yang sudah maju seperti Amerika Serikat, kegiatan pemberian pernapasan buatan sudah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh setiap orang. Hal ini dikarenakan mereka sudah dibekali pendidikan dan keterampilan untuk dapat melakukan pernapasan buatan sebagai antisipasi memberikan pertolongan pertama kepada korban yang membutuhkan.

Orang-orang yang Membutuhkan Pernapasan Buatan

Pada dasarnya, orang-orang yang diberikan pernapasan buatan adalah mereka yang mengalami henti napas dan jantungnya tidak berdetak.

a.    Korban yang mengalami henti napas.

Seseorang yang mengalami henti napas dapat diketahui dengan berhentinya gerakan naik turun pada rongga dada dan hilangnya aliran udara pernapasan ketika dia menghembuskan napas atau melakukan ekspirasi.

Seseorang yang mengalami henti napas, oksigen masih dapat masuk ke dalam darah untuk beberapa saat dan jantung masih dapat melakukan sirkulasi darah ke otak dan beberapa organ penting lainnya. Namun, apabila terlambat diberikan pertolongan, akan berakibat sangat vital bahkan kematian. Oleh karena itu, pemberian napas buatan akan sangat bermanfaat untuk menyelamatkan nyawa korban.

Seseorang dapat mengalami henti napas dikarenakan beberapa sebab, seperti:

•    Tenggelam.
•    Stroke.
•    Obstruksi jalan napas, yaitu kerusakan di sekitar tenggorokan.
•    Epiglotitis, yaitu peradangan pada pita suara.
•    Overdosis obat-obatan.
•    Tersengat listrik.
•    Infark miokard atau serangan jantung.
•    Tersambar petir.
•    Koma akibat berbagai macam kasus seperti pingsan secara tiba-tiba tanpa penyebab yang jelas.


b.    Korban yang mengalami henti jantung

Seseorang yang mengalami henti jantung artinya sirkulasi aliran darah ke seluruh tubuhnya berhenti secara tiba-tiba. Akibatnya, otak dan beberapa organ penting di dalam tubuh akan mengalami kekurangan oksigen dan dapat mengakibatkan proses pernapasan terganggu, seperti napas tersenggal-senggal. 

Cara Melakukan Pernapasan Buatan

Pernapasan buatan dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya:

a.    Pernapasan buatan dari mulut ke mulut

Pernapasan buatan dari mulut ke mulut merupakan cara pernapasan buatan yang sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh semua orang. Namun, pernapasan buatan jenis ini mempunyai risiko yang sangat besar bagi si penolong, seperti terkena semburan cairan atau muntahan dari tubuh korban atau tertularnya penyakit dari korban akibat cairan dari mulut korban.

Oleh karena itu, sebaiknya sebelum melakukan pernapasan buatan dari mulut ke mulut, penolong menggunakan pelindung yang disebut barrier device atau face shield. Alat pelindung tersebut berupa sebuah lembaran dari plastik tipis dan lentur yang dapat menutupi wajah korban terutama di bagian mulut korban. Selain itu, alat ini dilengkapi dengan katup satu arah yang dapat mencegah cairan tubuh korban mengenai penolong.

Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk melakukan pernapasan buatandari mulut ke mulut. Berikut ini langkah-langkah dalam proses memberikan pernapasan buatan dari mulut ke mulut:

•    Pastikan keamanan diri dan lingkungan seperti dari gangguan binatang liar.

•    Baringkan korban pada posisi terlentang.

•    Atur posisi penolong dengan cara berlutut di samping kepala korban.

•    Lakukan langkah-langkah pengelolaan airway.

•    Pasang alat pelindung yang berupa barrier device, face shield.

•    Penolong menarik napas dalam saat akan memberikan napas buatan, agar volume tidal terpenuhi.

•    Jepit lubang hidung korban dengan ibu jari dan jari telunjuk.

•    Tutupi mulut korban dengan mulut penolong sehingga mulut penolong dapat menutupi keseluruhan mulut korban agar tidak terjadi kebocoran.

•    Berikan hembusan napas 2 kali, sambil tetap menjaga terbukanya airway. Beri kesempatan untuk ekspirasi. Waktu yang diperlukan untuk tiap hembusan 1,5 – 2 detik. Volume udara yang diberikan sebesar volume tidal yaitu 10 mL/ kgBB atau 700-1000 mL, atau sampai dengan dada korban terlihat mengembang. Hati-hati, jangan terlalu kuat atau terlalu banyak karena dapat melukai paru-paru korban atau masuk ke lambung.

•    Jika saat melakukan pernapasan buatan dirasakan ada tahanan atau terasa berat, atau dada tidak naik turun dengan baik, perbaiki teknik membuka airway korban misalnya dengan memperbaiki posisi kepala. Namun, apabila setelah posisi diperbaiki dan masih terasa berat harus timbul kecurigaan adanya sumbatan pada airway sehingga perlu melakukan tindakan membebaskan jalan napas.

•    Bila tidak ada gangguan lain, teruskan pernapasan buatan dengan kecepatan 12-15 kali per menit.

b.    Pernapasan buatan dari mulut ke hidung

Pernapasan buatan dari mulut ke hidung dapat dilakukan apabila pernapasan buatan dari mulut ke mulut tidak dapat dilakukan karena mulut korban terkunci, cedera, dan terluka parah.

Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk melakukan pernapasan buatan dari mulut ke hidung adalah sama dengan langkah-langkah pada pernapasan buatan dari mulut ke mulut. Satu yang membedakannya adalah pernapasan buatan dilakukan melalui hidung korban. Meskipun demikian, mulut korban tetap harus tertutup rapat, hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya kebocoran pada airway atau jalan napas.

c.    Pernapasan buatan dari mulut ke stoma (lubang buatan di sekitar leher)

Pernapasan buatan jenis ini merupakan pernapasan buatan yang cukup merepotkan dan berisiko. Berisiko dikarenakan pernapasan buatan tidak lagi dilakukan melalui hidung atau mulut si korban, melainkan melalui lubang buatan di sekitar leher (stoma).

Pembuatan stoma ini apabila tidak dilakukan dengan hati-hati justru akan membahayakan si korban. Adapun langkah-langkah untuk melakukan pernapasan buatan dari mulut ke stoma sama dengan langkah-langkah pada pernapasan buatan dari mulut ke mulut atau dari mulut ke hidung.

d.    Pernapasan buatan dari mulut ke masker atau sungkup muka

Pernapasan buatan jenis ini, merupakan jenis pernapasan buatan yang paling aman dan efektif jika dibandingkan dengan jenis-jenis pernapasan buatan sebelumnya. Hal ini dikarenakan tidak adanya kontak langsung antara penolong dengan korban. Selain itu, masker yang digunakan pada korban dapat mencegah terjadinya kebocoran aliran udara.

Cara-cara pemberian pernapasan buatan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, apabila dilakukan dengan baik maka dapat membantu korban dalam memberikan pertolongan pertama sehingga menghindarkan korban dari akibat-akibat yang lebih vatal. Oleh karena itu, ada baiknya jika kita mempunyai pengetahuan yang lebih baik tentang cara-cara melakukan pernapasan buatan.