Perlawanan rakyat pada masa pendudukan Jepang saat itu benar-benar harus dilakukan dengan hati-hati, karena pemerintah Jepang sangat kejam, mereka tidak segan-segan menyiksa dan membunuh siapa saja yang berani melawan.

Para pemimpin Indonesia tidak kehabisan akal menghadapi hal ini, mereka memanfaatkan kebijakan-kebijakan Jepang demi kepentingan nasional, ada pula yang melakukan perlawanan senjata bahkan gerakan bawah tanah. Semua tindakan tersebut dilakukan untuk mencapai cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia.

Perjuangan Melalui Pemanfaatan Organisasi Jepang

Berikut ini adalah beberapa organisasi yang diciptakan Jepang untuk kemudian dimanfaatkan oleh rakyat Indonesia.

PUTERA  (Pusat Tenaga Rakyat)

Awal dibentuknya PUTERA sebenarnya dengan tujuan agar kaum nasionalis dan intelektual Indonesia menyumbangkan ide-ide dan pemikirannya untuk Jepang. Namun dalam kenyataannya, para pemimpin Indonesia justru memanfaatkan kesempatan ini untuk membela rakyat dari penindasan Jepang.

Pada April 1944, PUTERA dibubarkan oleh Jepang karena dinilai lebih bermanfaat bagi bangsa Indonesia bukan bagi Jepang.

Syuisyintai (Barisan Pelopor)

Setelah pembubaran PUTERA, organisasi lain bernama Jawa Hokokai (Perhimpunan Kebaktian Jawa) dibentuk. Syuisyintai (Barisan Pelopor) yang merupakan bagian dari Jawa Hokokai di bawah pimpinan Ir. Soekarno beserta para nasionalis yang lain dimanfaatkan sebagai wadah aspirasi nasionalisme dan sebagai pertahanan para pemuda melalui pidato-pidatonya.

Chuo Sangi In ( Badan Penasehat Pusat)

Atas rekomendasi dari Jenderal Hideki Tojo yang merupakan Perdana Menteri Jepang, pada 5 September 1943, Chuo Sangi  In (Badan Penasehat Pusat) dibentuk. Ir. Soekarno ditunjuk sebagai ketuanya dengan anggota yang terdiri dari 20 orang Indonesia dan 23 orang Jepang.

Tujuan dibentuknya badan ini adalah untuk memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Seiko Shikikan yaitu penguasa tertinggi militer Jepang yang berada di Indonesia. Para pemimpin Indonesia memanfaatkan badan ini untuk melatih kedisplinan serta memberikan nasihat kepada Seiko Shikikan untuk membentuk Barisan Pelopor agar para penduduk bisa bersatu sehingga dapat mencapai kemenangan.

Perjuangan Melalui MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia)

MIAI merupakan kumpulan organisasi Islam yang didirikan pada 2 September 1937 di Surabaya, sejak masa pemerintahan Hindia Belanda. Pada masa pendudukan Jepang organisasi ini masih diizinkan untuk tetap berdiri, hal ini merupakan salah satu taktik Jepang dalam melakukan pendekatan kepada golongan nasionalis Islam sehingga tidak akan melakukan kegiatan politik yang nantinya dapat mengancam keberadaan Jepang.

Seiring berjalannya waktu organisasi MIAI tidak seperti yang diharapkan oleh Jepang, karena organisasi ini selalu lebih condong untuk menyoroti masalah politik, hal ini tentunya bertentangan dengan apa yang diharapkan oleh Jepang. Pada akhirnya pada Oktober 1943 MIAI dibubarkan dan digantikan oleh MASYUMI (Majelis Syura Muslim Indonesia) pada 22 November 1943 dan diresmikan oleh Gunseikan.

Perjuangan Melalui Perlawanan Senjata

Selain perjuangan melalui pemanfaatan organisasi-organisasi bentukan Jepang, perjuangan secara terbuka juga dilakukan. Perjuangan terbuka ini dalam bentuk perlawanan senjata yang dilakukan oleh rakyat dan PETA. Perlawanan-perlawanan tersebut antara lain:

Perlawanan Rakyat

Perlawanan yang digagas oleh rakyat secara individual dapat diingat melalui beberapa gerakan perlawanan seperti di bawah ini:

a) Perlawanan di Cot Pleing

Pada 10 November 1942 di bawah pimpinan Tengku Abdul Jalil, rakyat Indonesia melakukan perlawanan terhadap Jepang yang melakukan serbuan terlebih dahulu dengan membakar masjid di Cot Pleing, Aceh. Namun perlawanan ini tidak berhasil karena Jepang lebih kuat sehingga seluruh pasukan termasuk Tengku Abdul Jalil sendiri tewas dalam pertempuran tersebut.

b) Perlawanan di Pontianak

Tanggal 16 Oktober 1943, di bawah pimpinan kaum ningrat Utin Patimah dilakukanlah perlawanan terhadap Jepang oleh Suku Dayak di hutan-hutan. Perlawanan akibat dari kekejaman terus-menerus yang dilakukan Jepang.

c) Perlawanan di Sukamanah, Singaparna, Jawa Barat

Di bawah pimpinan K. H. Zainal Mustafa yang merupakan pendiri pesantren Sukamanah, pada 25 Februari 1944 perlawanan terhadap Jepang yang melakukan penindasan dan pemerasan terhadap rakyat terjadi, ditambah lagi pemaksaan untuk melakukan upacara penyembahan terhadap Tenno Heika Kaisar Jepang yang disebut dengan upacara Seikeiri. Akibat perlawanan yang dilakukannya K. H. Zainal Mustafa beserta para pengikutnya dihukum mati oleh Jepang.

d) Perlawanan di Cidempet, Indramayu

Dilatarbelakangi kekejaman Jepang yang melakukan pengambilan padi dari rakyat, pada 30 Juli 1944 di bawah pimpinan H. Madriyas beserta 4 temannya, terjadi lah sebuah perlawanan kepada Jepang. Namun, perlawanan ini berhasil dihentikan dan para pemimpinnya ditangkap oleh Jepang

e) Perlawanan di Irian Jaya

Kawasan Indonesia Timur juga merasakan kekejaman Jepang, perlawanan-perlawanan mulai dilakukan, antara lain :

i. Perlawanan di Biak

Kekejaman Jepang semakin merajalela, rakyat dijadikan budak belian, dipukuli dan dianiaya. Melihat kondisi ini lama-kelamaan L. Rumkorem merasa tidak tahan dan  memimpin gerakan Koreri untuk melawan Jepang pada tahun 1944. Berkat perlawanan yang gigih dan tanpa kenal menyerah, akhirnya Jepang meninggalkan Biak.

ii. Perlawanan di Pulau Yapen Selatan

Perlawanan ini dipimpin oleh Nimrod yang mendapatkan senjata dari pihak Sekutu. Namun pada akhirnya Nimrod dihukum pancung oleh Jepang, kejadian ini tidak membuat rakyat gentar dan tetap melakukan perlawanan terhadap Jepang, bahkan muncul sosok pemimpin gerilya yang bernama S. Papare.

iii. Perlawanan di Tanah Besar (Papua)

Perlawanan yang berjalan di bawah pimpinan Simson ini mendapat bantuan dari pasukan penyusup yang berasal dari pihak sekutu. Sehingga jalannya pertempuran merupakan kombinasi dan hasil kerjasama antara gerilayawan dan pasukan penyusup yang memberikan sumbangan senjata.

Perlawanan PETA

Pasukan PETA turut ikut serta dalam melakukan perlawanan terhadap Jepang. Tercatat tiga perlawanan dilakukan oleh pasukan PETA, antara lain:

a) Perlawanan di Blitar

Pengumpulan padi di luar batas prikemanusian oleh Jepang menyulut perlawanan yang dipimpin oleh Syodanco Supriyadi, Syodanco Muradi dan Dr. Ismail. Mereka tidak tega melihat kesengsaraan yang dialami oleh rakyat dan melakukan perlawanan besar-besaran terhadap Jepang pada 29 Februari 1945.

Jepang melakukan tipu muslihat kepada para pasukan PETA dengan berpura-pura mengajak melakukan perundingan. Pasukan PETA yang percaya terhadap Jepang masuk ke dalam perangkap ini dan akhirnya empat perwira PETA mendapatkan hukuman mati sedangkan tiga orang lainnya mendapatkan siksaan sampai mati. Dalam kejadian ini Syodanco Supriyadi berhasil melarikan diri dari hukuman Jepang.

b) Perlawanan di Meureudu, Aceh

Dilatarbelakangi oleh keangkuhan dan kekejaman Jepang kepada rakyat  dan prajurit Indonesia membuat Perwira Gyugun T. Hamid memimpin perlawanan terhadap Jepang pada November 1944.

c) Perlawanan di Gumilir, Cilacap

Perlawanan yang direncanakan akan dilaksanakan  21 April 1945 terlebih dahulu tercium oleh Jepang sehingga Kusaeri yang merupakan pimpinan perlawanan ini divonis hukuman mati. Namun hukuman mati tersebut tidak jadi terlaksana karena Jepang  terdesak oleh Sekutu.

Perjuangan Melalui Gerakan Bawah Tanah (Ilegal)

Kelompok Sutan Syahrir

Kelompok Sutan Syahrir merupakan pendukung demokrasi parlementer model Eropa Barat dan anti Jepang karena merupakan negara fasis. Pengikut dari kelompok ini mayoritas adalah pelajar dari Cirebon, Surabaya, Jakarta, Garut dan Semarang. Mereka semua berjuang secara sembunyi-sembunyi.

Kelompok Amir Syarifuddin

Amir Syarifuddin merupakan sosok antifasis yang menolak melakukan kerjasama dengan Jepang. Menjelang kedatangan Jepang ke Indonesia, Amir berhubungan dekat dengan pimpinan departemen pendidikan Hindia Belanda dan mendapatkan bantuan 25.000 gulden untuk melakukan gerakan perlawanan bawah tanah.

Kritikan keras dilayangkan Amir kepada Jepang, sehingga mengakibatkan ia dijatuhi hukuman mati pada 1944. Namun atas bantuan Ir. Soekarno hukuman itu diringankan menjadi hukuman seumur hidup.

Kelompok Sukarni

Kelompok ini dinilai sangat berperan dalam proklamasi kemerdekaan.

Kelompok Pemuda Menteng 31

Dari markasnya yang beralamat di Jalan Menteng 31, para pemuda yang bekerja pada bagian propaganda Jepang secara diam-diam membangun dan menggerakkan semangat nasionalisme

Golongan Persatuan Mahasiswa

Mayoritas golongan persatuan mahasiswa berasal dari mahasiswa Ika Daigaku (Sekolah kedokteran). Kelompok mahasiswa ini memiliki jalan pemikiran yang sama dengan Sutan Syahrir dan anti-Jepang.

Demikianlah perlawanan-perlawanan yang dilakukan oleh rakyat Indonesia dari berbagai pihak dan golongan baik itu rakyat, golongan nasionalis, mahasiswa, anggota militer maupun para ulama, semuanya berjuang demi tercapainya cita-cita kemerdekaan yang telah lama diidam-idamkan. Menjadi negara yang bebas, berdaulat dan berpijak di kaki sendiri. Ini adalah sebuah gambaran bahwa kemerdekaan benar-benar merupakan satu hal yang diperjuangkan dengan pengorbanan nyawa. Bahwa keberanian dan keyakinan adalah pemantik semangat yang tidak pernah padam.