Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945. Dua hari kemudian, karena terjadi “kekosongan kekuasaan”, tepatnya 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, lepas dari belenggu penjajahan bangsa asing. Tapi, kemerdekaan yang sudah diproklamirkan itu masih harus menempuh perjuangan lagi. Sebelum Jepang benar-benar kalah perang, ternyata pada tanggal 10 September 1945, panglima bala tentara Jepang di Jawa menginstruksikan pemerintahan di Indonesia akan diserahkan kepada Sekutu. Pada tanggal 14 September 1945, perwira Sekutu bernama Mayor Greenhalgh, datang ke Jakarta. Pengamatan dan pelaporan situasi menjelang merapatnya tentara Sekutu ke Indonesia, merupakan tujuan kedatangan Greenhalgh.

Belanda Membonceng Sekutu dan Berbagai Pertempuran

Tentara Sekutu merapat ke Indonesia pada tanggal 19 September 1945. Melucuti senjata tentara Jepang yang masih ada di Indonesia merupakan tujuan utama kedatangan mereka. South East Asia Command (SEAC) yang berpusat di Singapura dan dipimpin Lord Louise Mountbatten, merupakan organisasi militer yang bertanggungjawab melaksanakan tugas pelucutan tadi. Allied Force Netherland East Indies (AFNEI) yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Sir Phillip Christison, kemudian dibentuk Mountbatten untuk melaksanakan tugas peucutan.

Tak lama, tepatnya pada tanggal 29 September 1945, pasukan AFNEI mulai mendarat di Jakarta. Pasukannya terdiri atas tiga divisi, yakni Divisi India ke-23 yang bertugas di daerah Jawa Barat dipimpin Mayor Jenderal D.C. Hawthorn;  Divisi India ke-5 yang bertugas di daerah Jawa Timur dipimpin Mayor Jendral E.C Marsergh; dan Divisi India ke-26 yang bertugas untuk daerah Sumatra di bawah pimpinan Mayor Jendral H.M Chambers. Angkatan perang Australia bertugas di daerah Indonesia lainnya.
Di Indonesia, AFNEI memiliki beberapa tugas, antara lain menerima penyerahan kekuasaan dari tangan Jepang, membebaskan para tawanan perang dan interniran sekutu, melucuti dan mengumpulkan orang Jepang untuk kemudian dipulangkan, menegakkan dan mempertahankan keadaan damai untuk kemudian diserahkan kepada pemerintahan sipil, dan menghimpun keterangan dan menuntut penjahat perang.

Awalnya, tidak ada ketegangan antara rakyat Indonesia dengan Sekutu. Namun, ketika diketahui bahwa pegawai-pegawai sipil Belanda atau Netherland Indies Civil Administration (NICA) diam-diam ikut membonceng Sekutu, pihak Indonesia curiga orang-orang NICA datang untuk kembali menguasai Indonesia. Kecurigaan ini pun akhirnya terbukti. Orang-orang NICA mengadakan usaha mempersenjatai tentara kerajaan Belanda yang ada di Indonesia atau Koninklijk Netherland Indisch Leger (KNIL). Orang-orang NICA pun sering melakukan teror dan provokasi di beberapa kota Indonesia. Hal ini memancing kericuhan di mana-mana.

Kedatangan kembali Belanda disebabkan Belanda merasa punya hak sejarah untuk meneruskan kolonialisme di Indonesia, yang dasarnya perjanjian Inggris dan Belanda pada 24 Agustus 1945, tertuang dalam Civil Affairs Aggreement. Perjanjian tersebut mengatur soal pemindahan kekuasaan di Indonesia dari British Military Administration ke NICA.

Kedatangan Sekutu dan NICA akhirnya melahirkan gesekan di beberapa wilayah Indonesia. Contohnya saja di Semarang pada 20 Oktober 1945. Di sana, rakyat melucuti senjata tentara Jepang, dengan maksud sebagai persiapan kemungkinan bahaya pendaratan Sekutu. Pihak Sekutu merasa kecewa atas insiden ini. Perjalanan Sekutu ke daerah Jawa Barat setelah menaklukan Jakarta mendapat perlawanan sengit di Bogor pada 12 Desember 1945 dan di Cibadak pada 9 Desember 1945.

Lalu, Sekutu mengultimatum agar wilayah Bandung utara dan selatan dikosongkan untuk kepentingan Belanda. Rakyat Bandung yang tidak rela daerahnya dikuasai Sekutu, tapi harus taat perintah pemimpin republik akhirnya membumihanguskan Bandung selatan pada 23 Maret 1945. Peristiwa ini terkenal dengan sebutan Bandung Lautan Api. DI Surabaya, terjadi pertempuran hebat Sekutu melawan arek-arek Surabaya. Ketika Sekutu mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945, Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) di bawah pimpinan Bung Tomo (Soetomo) melawan. Tentara Sekutu akhirnya meminta bantuan kepada Presiden Soekarno, agar dihentikan perlawanan dan diadakan perundingan. Namun, sebelum perundingan selesai, Sekutu menembak kota Surabaya dari arah laut.

Pertempuran Surabaya ini pun merenggut salah satu petinggi Sekutu, yakni Brigjen Mallaby. Hal ini membuat Sekutu semakin geram. Pada 9 November 1945, Sekutu mengultimatum para pemimpin republik di Surabaya agar menyerah. Namun, hal ini tidak diindahkan mereka. Akhirnya meletus pertumpuran dahsyat pada 10 November 1945. Inggris yang tak pernah kehilangan seorang jenderal dalam Perang Dunia II, akhirnya harus menelan pil pahit di Surabaya, kehilangan Mallaby dan Simon Lodders.

Di Magelang dan Ambarawa pun meletus pertempuran. Ketegangan berawal saat tawanan-tawanan Belanda yang dibebaskan bertingkah congkak. Mereka mengabaikan kedaulatan Indonesia dengan terang-terangan berusaha untuk menduduki kembali Indonesia. Hal ini menimbulkan kemarahan rakyat. Gerakan pemboikotan untuk keperluan makanan dan kebutuhan sehari-hari pihak Sekutu pun diberlakukan. Pada 20 Oktober 1945 pecah pertempuran di Semarang, disusul di Magelang pada 31 Oktober 1945.

Setelah pertempuran itu, Sekutu diam-diam meninggalkan Magelang ke benteng Ambarawa. Resimen Kedu Tengah dipimpinan Letkol M. Sarbini segera mengadakan pengejaran terhadap mereka dan meluas sampai ke Ambarawa. Pertempuran Ambarawa berlangsung pada 12 desember 1945 hingga 15 Desember 1945. Dalam pertempuran ini, memunculkan seorang pemimpin tentara, yang kemudian menjadi tokoh militer berpengaruh di Indonesia, yaitu Sudirman. Sudirman yang saat itu masih berpangkat kolonel, mampu memukul mundur Sekutu

Demikian pentingnya arti pertempuran Ambarawa bagi bangsa Indonesia dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sehingga meskipun pertempuran itu berlangsung singkat (12 Desember 1945 – 15 Desember 1945) tetapi memberikan kemenangan yang gilang-gemilang bagi Indonesia. Dipimpin oleh Kolonel Sudirman, para pejuang berhasil memukul Sekutu yang terdesak ke mundur Semarang. Sudirman menggunakan strategi supit udang dalam pertempuran itu. Pertempuran di Ambarawa berhasil melemahkan kekuatan Belanda, sehingga Belanda kesulitan dalam melakukan pertempuran di wilayah lainnya. Berakhirnya pertempuran pada tanggal 15 Desember 1945 dengan kemenangan di pihak Indonesia tersebut kini diperingati sebagai Hari Infanteri/hari jadi TNI Angkatan Darat.

Perjanjian Linggajati

Berbagai konflik bersenjata antara republik dengan pihak Sekutu dan Belanda, menyebabkan perlu diadakan sebuah perundingan. Pada Agustus 1946, Lord Killearn dikirim oleh pemerintah Inggris untuk menyelesaikan konflik Indonesia dan Belanda. Konsulat Jenderal Inggris di Jakarta menjadi tempat dibukanya perundingan antara Belanda dan Indonesia pada 7 Oktober 1946. Sebelum perundingan Linggarjati berlangsung, pada 1 November 1946, Panglima Besar Jenderal Sudirman dan Kepala Staf Letjen Urip Sumoharjo di Jakarta menandatangani gencatan senjata.

Seterusnya tanggal 4 November 1946, pemerintah Belanda menyampaikan notanya kepada Staten General, bahwa pemerintahan republik yang dipimpin Soekarno merupakan suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Dalam pertemuan tadi, disetujui pula perundingan Linggajati yang akan berlangsung pada 11 November 1946. Linggajati sendiri merupakan sebuah daerah di sebelah selatan Kota Cirebon, Jawa Barat.

Sutan Sjahrir mewakili Indonesia, sedangkan Belanda diwakili oleh tim yang disebut Komisi Jenderal, dipimpin Wim Schermerhorn, dan anggotanya, yaitu van Mook dan Lord Killearn dari Inggris. Ada 17 pasal yang dihasilkan dari Perjanjian Linggajati, di antaranya Belanda mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia, yakni Jawa, Sumatra, dan Madura; Belanda harus meninggalkan wilayah Republik Indonesia selambat-lambatnya 1 Januari 1949; pihak Belanda dan Indonesia sepakat membentuk negara Republik Indonesia Serikat (RIS); dalam bentuk RIS, Indonesia harus tergabung di persemakmuran Indonesia-Belanda, dengan Belanda sebagai negara induk.

Naskah hasil Perjanjian Linggajati ditandatangani pada 15 November 1946. Perjanjian Linggajati tidak serta merta diterima oleh seluruh rakyat Indonesia. Banyak pihak menilai, perjanjian tersebut justru melemahkan kedaulatan pemerintah republik. Karena reaksi rakyat itu, naskah diratifikasi pada 25 Maret 1947. Sebenarnya, ada keuntungan yang ditimbulkan dari perjanjian ini. Keuntungannya, kedudukan Indonesia di mata internasional semakin kuat, karena banyak negara seperti Inggris, Amerika Serikat, dan negara-negara Arab mengakui kedaulatan RI.

Hal ini tidak terlepas dari peran politik diplomasi Indonesia yang dilakukan oleh Sutan Sjahrir, H. Agus Salim, Sujatmoko, dan Dr. Sumitro Joyohadikusumo dalam sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Setelah Perjanjian Linggajati itu disepakati, hubungan Belanda dan Indonesia belum membaik. Terjadi perbedaan penafsiran beberapa perjanjian, dan Belanda melanggar perjanjian tersebut dengan melakukan agresi militernya yang pertama pada 21 Juli 1947. Demikianlah seputar perjuangan awal kemerdekaan Indonesia, hingga Perjanjian Linggajati. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua.