Pembahasan mengenai perdagangan bebas akan diawali dengan mengajak pembaca ke tahun 80 an silam. Tepatnya pada tahun 1981 ketika Amerika meminta Jepang membatasi pengiriman mobilnya ke Amerika dan Jepang mematuhinya. Adanya aturan ini, mengakibatkan masyarakat Amerika yang ingin membeli kendaraan keluaran perusahaan Jepang harus membayar lebih mahal.

Kemudian Amerika juga meminta Jepang menghapus pembatasan impornya. Untuk permintaan yang kedua ini Jepang menolak. Akibat keputusan Jepang ini, masyarakat di negeri Jepang harus membayar mahal untuk produk yang sama jenisnya dari dalam negeri sendiri dibanding jika mereka mendapatkan barang itu dari Amerika yang notabene lebih murah.

Selanjutnya bisa ditebak, kedua negara ini bersikukuh menjalankan kebijakanya masing-masing. Meneruskan kebijakan sesuai dengan analisis biaya-manfaat yang ingin mereka capai, meski pada kenyataannya biaya yang ditimbulkan dari aksi ini lebih besar dari pada manfaat yang diperoleh.

Bukti nyatanya adalah bahwa masyarakat masing-masng negara harus membayar lebih mahal untuk memiliki barang yang mereka inginkan. Dari perselisihan antara Amerika Jepang inilah yang menjadi salah satu pemicu bagi para pengamat ekonomi untuk semakin mendengungkan diterapkannya perdagangan bebas. 

Pengertian Perdagangan Bebas

Perdagangan bebas merupakan aplikasi dari konsep ekonomi yang berpatokan kepada Harmonized Commodity Description and Coding System dengan ketatapan dari World Custom Organization yang berpusat di Brussles Belgia.

Dengan adanya perdagangan bebas, maka proses pemindahan barang atau jasa dari satu negara ke negara lain akan bebas dari berbagai pajak ekspor impor serta berbagai hambatan perdagangan lainnya. Hambatan perdagangan bisa bersifat alami bisa bersifat buatan. Hambata buatan merupakan hambatan yang diterapkan oleh pemerintah, misalnya dalam hal pengenaan tarif.

Dalam pelaksanannya, perdagangan bebas sering dikritik sebagai alat untuk membuat perusahaan besar semakin menggurita dan kokoh, sedangkan perusahaan kecil menjadi lemah dan pelan-pelan tersingkir meski hanya bersaing di negerinya sendiri.

Sejarah Perdagangan Bebas

Adanya ide untuk melakukan berbagai peraturan untuk membuka kran perdagangan bebas tidak terlepas dari adanya keinginan untuk memperluas pasar. Dalam masa-masa mula dicetuskannya perdagngan bebas ada keyakinan bahwa perdagangan bebas akan memberikan kemakmuran terhadap negara-negara yang sedang berkembang. Karena dengan adanya perdagangan bebas memungkinkan adanya transfer budaya yang membuat kehidupan masyarakat dalam negeri semakin dinamis.

Ide atau pemikiran diberlakukannya perdagangan bebas sudah berkembang sejak lebih dari 500 tahun yang lalu. Faham perdagangan bebas merupakan bagian dari neoliberalisme yang memberikan penekanan terhadap kebebasan individu antara lain melalui perdagangan bebas serta adanya penghormatan terhadap kepemilikan pribadi (property rights).

Konsep perdagangan bebas begitu digembar-gemborkan karena adanya keyakinan bahwa hal ini akan menguntungkan negara berkembang. Dengan adanya perdagangan bebas, maka kemakmuran ekonomi yang diaharapkan oleh masyarakat akan bisa terwujud. Salah satu tokoh yang menjadi penggiat adanya perdagangan bebas adalah Adam Smith, seorang ekonom yang mengarang buku fenomenal yang berjudul The Wealth of Nation

Pro-kontra terhadap perdagangan bebas

Layaknya ide-ide yang bermunculan yang mengundang rekasi banyak pihak dengan berbagai sudut pandangnya, ide adanya perdagangan bebas juga tidak terlepas dari fakta ini. Ada banyak pendapat yang setuju, dan tidak sedikit pula pendapat yang menolaknya. Berikut ini akan disampaikan resume pro kontra terhadap perdagangan bebas.

Pro Perdagangan Bebas

Pertama, perdagangan bebas yang didengung-dengungkan bisa menghindarkan kerugian efisiensi yang diakibakan oleh adanya proteksi seperti yang dilakukan oleh Amerika dan Jepang seperti yang diceritakan diatas. Saat ini, berdasarkan keterangan dari peraih nobel Paul Krugman di salah satu bukunya yakni International Economics terbitan tahun 2000, dikatakan bahwa sangat sedikit negara yang mampu melaksanakan perdagangan bebas secara sempurna. Salah satu contoh dari aplikasi perdagangan bebas diterapkan oleh Hong Kong yang membebaskan tarif dan tidak membatasi barang impor yang masuk.

Kedua, dengan adanya perdagangan bebas memungkinkan munculnya keuntungan tambahan yang tidak dapat diperoleh apabila terjadi distorsi konsumsi dan produksi.

Ketiga, meski perdagangan bebas dipandang bukan sebagai konsep perdagangan yang sempurna, tetapi paling tidak hal ini dianggap para ekonom sebagai kebijakan yang lebih baik dibandng kebijakan pemerintah lainnya.   

Keempat, satu hal yang dianggap sebagai keuntungan dari diterapkannya perdagangan bebas adalah tercapainya skala ekonomi (Economies of scale). Pasar yang diproteksi, selain akan memecah belah kegiatan produksinya dalam skala internasional, juga akan mengurangi daya saing, mengurangi potensi laba serta akan mendorong banyak perusahaan untuk masuk kedalam industri dalam negeri yang diproteksi ini.

Dikarenakan banyak perusahaan yang terpusat pada penggarapan pasar dalam negeri, maka lambat laun pasar akan mengalami kejenuhan dan skala produksi dari setiap perusahaan yang menjadi pemain dalam negeri menjadi tidak efisien lagi.

Kelima, dengan adanya kebijakan pemerintah untuk memberikan peluang bagi perusahaan-perusahan dalam negeri untuk melakukan ekspansi usaha keluar negeri atau juga untuk bersaing dengan produk impor akan membuat pelaku industri menjadi semakin kreatif dan inovatif. Mengapa? Karena dengan kompetitor yang semakin banyak untuk merebut pasar yang besar, akan mendorong berbagai upaya melakukan inovasi terhadap produk yang dihasilkan. Hal ini berbeda jika proteksi diberlakukan, maka peluang untuk berkembang akan semakin mengecil.  

Selain muncul banyak opini terkait dengan sisi positif dari pelakasnaan perdagangan bebas, namun juga tidak sedikit pendapat yang berseberangan. Beberapa pendapat yang tidak setuju dengan diterapkannya perdagangan bebas antara lain karena:

  1. Tidak semua negara memiliki kompetensi serta kemampuan yang sama untuk melakukan persaingan di pasar yang menganut perdagangan bebas. Jika salah satu pihak tidak siap melakukan perdagangan bebas, maka dari kebijakan ini efek yang timbul justru negatif. Jika di dalam negeri, perusahaan-perusahaan yang ada belum bisa dibilang kokoh dalam efisiensi produksinya, dengan adanya perdagangan bebas akan membuat perusahaan itu menjadi bangkrut.

Hal ini karena gempuran barang impor yang lebih murah sehingga permintaan terhadap barang itu akan naik. Dampaknya bagi keuangan negara, devisa akan terkuras serta nilai tukar rupiah akan sulit menguat. Dampak dari sisi perusahaan akan membuat perusahaan melakukan segala cara menekan biaya produksi supaya barangnya tetap laku di pasaran. Langkah –langkah untuk melakukan penghematan biaya produksi biasanya dilakukan dengan melakukan pengurangan tenaga kerja atau PHK.

Dengan adanya PHK berarti angka pengangguran meningkat yang ini bisa menimbulkan multiplier effect untuk masalah sosial lainnya. Selain menimbulkan masalah baru di bidang sosial, melonjkanya angka pengangguran bermakna adanya kondisi perekonomian yang menjadi rapuh.    

  1. Adanya pencabutan tarif menyebabkan membanjirnya barang legal kiriman dari luar negeri. Barang-barang legal itu bebas keluar masuk karena tidak ada proteksi yang menjadi penghalangnya.
  2. Dengan adanya perdagangan bebas yang tidak terkendali, bisa jadi menjadi sarana transformasi penyakit yang berbahaya bagi kesehatan manusia di negeri tujuan dimana barang itu diperdagangkan. Mengambil contoh dari ditemukannay kandungan bahan berbahaya pada berbagai macam makanan yang diimpor dari China. Ketiadaan proteksi menyebabkan screening terhadap kualitas produk menjadi semakin rendah.

Hal ini mengindikasikan bahwa perdagangan bebas bisa jadi menguntungkan, tapi hanya berlaku untuk satu sisi atau negara yang mengimpor, sedang negara tujuan bisa jadi justru mengalami kerugian. Seperti yang dialami masyarakat Indonesia yang banyak mengkonsumsi makanan buatan negara Cina, yang ternyata mengandung banyak bahan berbahaya yang menjadi sumber penyakit.

  1. Lemahnya industri dalam negeri dalam menghadapi persaingan dalam era perdagangan bebas disebabkan oleh beberapa hal, antara lain sarana infrastruktur yang kurang baik, kurs rupiah yang tidak stabil hingga berpengaruh terhadap biaya produksi serta birokrasi yang berbelit-belit dalam usaha untuk mewujudkan produk yang berkualitas serta maraknya aksi KKN. Beberapa faktor ini tentu saja membuat upaya mewujdukan produk dalam negeri yang berkualitas semakin sulit.

Demikian ikhtisar dari adanya pro kontra terhadap perdagangan bebas. Semoga artikel ini bermanfaat terutama dalam hal melatih daya analisis terhadap adanya 2 sudut pandang yang berbeda terhadap 1 permasalahan.