Peradaban kuno Persia dan Syria merupakan peradaban yang memiliki pengaruh penting di Timur Tengah. Dua peradaban ini juga seringkali dianggap sebagai satu kesatuan. Peradaban ini juga telah melahirkan kebudayaan-kebudayaan yang agung dan luar biasa. Beberapa peninggalan dari peradaban ini, hingga kini masih terdengar keagungannya. Misalnya, hukum Hammurabi, Taman Gantung Babilonia, dan kota kuno Susa. Menelusuri peradaban Persia, dan Syria tidak akan lengkap jika tidak menjelajahi sejarah panjang dua peradaban berpengaruh di Timur Tengah ini.

Peradaban Persia

Mungkin Anda pernah sejenak menyaksikan sebuah tayangan film produksi Walt Disney yang bertajuk “Prince of Persia”. Film ini termasuk dari beberapa film yang menjadi box office di Amerika. Bukan ingin membahas detil dari film tersebut, namun tema yang diangkat merupakan tema yang sudah lama menarik dunia Barat. Persia, ternyata sudah sejak lama mengundang keingintahuan dunia untuk melihat, menyaksikan, dan bila perlu menaklukkannya. Maka kita tidak akan kaget, jika mendapati bahwa beberapa bangsa rela berkorban untuk menaklukan Persia.

Namun, sebenarnya di mana letak Persia? Persia merupakan sebutan bagi wilayah yang terletak di Asia Timur Kuno, Asia Barat Daya, dan Pegunungan Kaukasus. Persia memang diklaim sebagai wilayah Iran. Namun, sebenarnya wilayah Persia pada masa kuno adalah meliputi Iran, sebagian dari wilayah Irak, dan Libanon. Peradaban Persia tumbuh menjadi peradaban yang paling tua di dunia. Kesusasteraan Persia mampu membuat mata dunia terhenyak. Bahasa Parsi adalah bahasa yang umum digunakan pada masa itu, setelah sebelumnya menggunakan bahasa Avesta.

Selain dengan kesusasteraannnya, peradaban Persia juga memiliki seni arsitektur yang luar biasa. Seperti misteri keberadaan Taman Gantung Babylonia yang mengundang keingintahuan arkeolog, dan sejarawan untuk terus mengadakan penelitian guna menguak misteri taman yang dibangun pada masa Raja Nebukadnezar II. Taman yang juga terkenal dengan sebutan Taman Seminaris ini memiliki arsitektur yang luar biasa canggih, dan indah. Mengapa peradaban Mesopotamia juga erat dengan peradaban Persia? Karena wilayah Persia juga merupakan wilayah kebudayaan Mesopotamia.

Awal Mula Sebutan Persia

Sebutan Persia sebenarnya berasal dari sebuah nama kabilah di masa lalu (masa purba) di Iran. Parthi adalah salah satu dari dua kabilah yang paling berpengaruh di masa purba Iran. Dari nama Parthi inilah penyematan nama Persia berasal. Parthi berhasil berjaya di masa purba sebagaimana kabilah kedua yaitu Hakshiminia. Dua kabilah ini berhasil menyingkirkan beberapa kabilah dari bangsa lainnya seperti bangsa Babylonia, bangsa Assyiria, dan bangsa-bangsa yang terdapat di Asia Kecil.

Para sejarawan seperti halnya Plato mencatat bahwa  bangsa Aryan-lah yang mendiami beberapa wilayah yang berada di dataran tinggi Iran. Nama Parsi menjadi buah bibir saat mereka melakukan perlawanan terhadap Iskandar Yang Agung (Alexander The Great). Beberapa kali bangsa Parsi menelan kekalahan, namun pada akhirnya mereka berhasil melakukan perlawanan.

Salah satu dari pemimpin Parsi yang paling dikenal adalah Arshak yang juga merupakan pendiri kemaharajaan Persia. Kemaharajaan Persia menggunakan bahsa Pahlewi yang diambil dari nama Maharaja Persia yang pertama. Kemaharajaan Persia yang berasal dari bangsa Parthia memimpin wilayah Persia hingga 5 abad lamanya (249 SM hingga 225 M). Bangsa Sassania berhasil menaklukkan kemaharajaan Persia dan memerintah selama 4 abad. Selama pemerintahan bangsa Sassania dengan raja pertama Ardashir I, kekuasaan dari bangsa Sassania terhadap Persia hingga ke wilayah Irak, Pakistan, negara-negara di Asia Tengah, dan beberapa wilayah kerajaan Arab.

Selain itu, peradaban Persia pada masa bangsa Sassnia diwarnai konflik berkepanjang dengan kerajaan Romawi. Konflik yang berlangsung di antara dua negara ini berlangsung hingga enam ratus tahun. Hingga pada perang Al-Qadisiyah, kekalahan didapatkan oleh tentara Sassania sehingga memudahkan terjadi futuhat Islam di bumi Persia.

Kekuasaan Islam di Persia (701 hingga 1401)

Futuhan Islam di bumi Persia mendapatkan sambutan hangat dari rakyat Persia yang merasa mendapatkan tekanan di masa kerajaan Sassania. Pada awalnya, wilayah Damaskus menjadi kekuasaan dari masa Kekhilafahan Bani Umayyah. Setelah terjadi kemunduran Bani Umayyah, maka kekuasaan pun beralih kepada Bani Abbasyiyah. Saat Kekhilafahan Bani Abbasyiyah menguasai wilayah Persia, maka peradaban Persia pun diwarnai dengan peradaban Islam. Bahkan bahasa Parsi yang digunakan lambat laut mulai tereliminir oleh bahasa Arab, yaitu bahasa resmi kekhilafahan.

Masa kekhilafahan juga memungkinkan masyarakat dari bangsa Parsi untuk duduk pada tampuk pemerintahan. Sehingga pada abad ke-8, bangsa Parsi mulai dikenal oleh dunia karena intelektualitas tokoh-tokohnya. Bangsa Persia semakin menunjukkan kecermerlangannya dengan terlibat dalam berbagai urusan politik, intelektual, maupun keagamaan. Dari sinilah nama Persia menjadi dikenal oleh dunia.

Kekuasaan Islam di Persia rupanya memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan Persia di masa lalu, dan juga di masa depan. Pada masa Kekhilafahan Bani Abbasyiyah, Persia menjadi salah satu kota yang paling penting di dunia. Banyak temuan sains dan tekonologi dilahirkan. Juga karya-karya kesusasteraan yang tinggi dan indah. Selain itu, filsafat pun berkembang dengan pesat di Persia. Hal-hal inilah yang kemudian memberikan pengaruh kepada dunia Barat untuk membuat suatu perubahan. Perubahan yang dimaksud adalah Rennaisance.

Namun, kegemilangan Persia rupanya menarik tentara Mongol untuk datang dan menghancurkannya. Sekitar tahun 1220 tentara Mongol yang berada di bawah komando Genghis Khan memasuki Persia dan menghancurkan peradaban agung, serta kemegahan yang telah dibangun sekian lama. Selanjutnya Timur Lenk (Timurlane), melancarkan serangan yang hebat dan dahsyat sehingga kemajuan Persia di masa Kekhilafahan Bani Abbasyiyah luluh lantak rata dengan tanah.

Peradaban Syria

Peradaban Syria semakin dikenal saat ditemukannya kota kuno Palmyra. Kota ini adalah sembilan dari kota paling kuno di dunia. Kota Palmyra terletak sekitar 209 km dari Damaskus, Suriah. Kota Palmyra mampu menarik jutaan wisatawan untuk mengunjunginya. Palmyra merupakan kota yang dibangun dibawah kekuasaan ratu Syria yang melegendaris, Ratu Zenobia.
Ratu Zenobia adalah salah satu icon kejayaan Syria di masa lalu. Mungkin saat ini kita hanya mendengar tentang konflik panjang bersenjata di Suriah. Namun, di masa lalu Syria adalah salah satu simbol  peradaban yang agung dan maju. Palmyra yang kala itu berada di bawah kekuasaan Romawi menjadi sebuah oasis dari gerakan perdagangan internasional. Walaupun Palmyra terletak di tengah gurun. Namun, tidak menjadikan kota ini kosong, dan berdebu. Justru kala itu Palmyra mampu menampung ribuan pedagang, yang dengan senang hati menginap di Palmyra karena bebas dari bea pajak.

Menurut seorang ahli sejarah, Michael Gawlikowski, rektor dari Universitas of Warsaw's Polish Mission, menyatakan bahwa Palmyra adalah lokasi tempat transit bagi para pedagang yang hendak menawarkan barang dagangannya. Para pedagang ini berasal dari Asia Barat Daya dan hendak menuju Roma.