Keluarga merupakan sebuah lingkungan masyarakat terkecil dalam suatu negara.Di dalam keluarga seseorang mendapatkan pendidikan dan pengetahuan tentang berbagai hal untuk pertamakalinya. Tujuan sosialisasi dalam sebuah keluarga antara lain adalah:

  • Membentuk konsep diri
  • Mengembangkan keterampilan individu
  • Pengendalian diri
  • Melatih kemampuan berkomunikasi
  • Membiasakan hidup dengan aturan

Jadi peranan keluarga dalam perkembangan seseorang sangatlah penting. Keluarga juga merupakan tempat bersosialisasi yang pokok dari sosialisasi yang lebih luas. Peranan sosialisasi dalam kelaurga sangat penting dalam mencegah terjadi penyimpangan sosial di lingkungan masyarakat yang lebih luas. Melalui sosialisasi dan penanaman norma dan nilai positif pada diri seseorang dalam sebuah keluarga, dapat mengoptimalkan upaya pencegahan perilaku penyimpangan sosial.

Dalam upaya mencegah berkembangnya perilaku penyimpangan sosial, dukungan total dari seluruh anggota keluarga sangatlah penting, tidak hanya terpaku pada keluarga inti (ayah, ibu dan anak) tetapu juga berlaku hingga ke keluarga besar (kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, dan sebagainya). Untuk mendukung upaya ini masing-masing individu dalam keluarga harus mampu mengembangkan sikap kepedulian, kekompakkan, dan saling mengerti serta memahami satu sama lain mengenai peran, kedudukan dan tugasnya dalam keluarga.

Seluruh individu dalam suatu keluarga memang memiliki peranan penting dalam pembentukkan karakter positif seseorang, dan unsur terpenting dalam pembentukan ini adalah peranan orang tua, orang tua memegang peranan terpenting dalam membina perkembangan fisik dan mental anak-anaknya. Hal itu karena orang tua merupakan figure utama bagi anak dan sudah selayaknya pula menjadi tuntunan dan panutan. Orang tua harus bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Berkaitan dengan pencegahan perilaku penyimpangan sosial terhadap seseorang, orang tua setidaknya harus bisa menerapkan beberapa hal berikut ini setidaknya di dalam lingkungan rumah:

1. Membuat Lingkungan yang Memiliki Suasana Harmonis

Orang tua merupakan sandaran bagi hidup seorang anak. Karena sebelum anak-anak mengenal orang lain, yang pertama dikenalnya ialah orang tuanya. Orang tualah yang memberikan kasih sayang, memberikan perhatian, sehingga anak menjadi kerasan untuk tinggal di rumah karena semua kebutuhannya terpenuhi di sana.
Seorang anak yang tidak mendapat cukup kasih sayang, perhatian dan berada dilingkungan keluarga yang kurang harmonis cenderung akan mencari kesenangan dan ketenangan di luar rumah, jika ia salah memilih teman untuk bergaul, maka akan berakibat terjerumus ke dalam pergaulan yang salah.

Seorang anak yang terjebak dalam kenakalan remaja biasanya berasal dari keluarga yang tidak harmonis, kurang mendapat perhatian orang tua, dan kebutuhan psikologisnya tidak terpenuhi di rumah, sehingga ia mencari apa yang menurutnya menyenangkan di luar rumah.

2. Memberikan Penanaman Nilai-nilai Budi Pekerti Sejak Dini

Adalah merupakan tanggung jawab moral bagi orang tua untuk mendidik anak-anaknya sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya.Orang tua berkewajiban mengarahkan anak-anaknya untuk memiliki tingkah laku yang sejalan dengan agamanya.

Diharapkan melalui penanaman nilai-nilai positif dan religius sejak usiadini, anak-anak dapat memiliki mental yang kuat, tidak mudah tergoda oleh hal-hal yang bisa menyeratnya untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan di dalam masyarakat, walaupun dalam kondisi yang sulit. Karena justru dalam kondisi tersulitlah orang yang taat pada agama akan semakin mendekatkan diri pada Tuhan-nya dan tidak akan terjerumus ke dalam perilaku-perilaku yang menyimpang. Merupakan salah satu ciri bagi orang yang bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa, yaitu jika menghadapi cobaan akan mendekatkankan diri pada Tuhan, semakin berat cobaan itu, maken dekat pula ia pada Tuhan nya.

3. Membiasakan Berkomunikasi

Selalu sediakan waktu untuk berkumpul bersama seluruh anggota keluarga.Waktu-waktu seperti itu bisa dimanfaatkan untuk lebih mengakrabkan diri antara sesama anggota kelaurga, apalagi jika pada siang hari mereka semua terpisah dalam menajalani rutinitas harian, maka setelah semua pulang, luangkanlah waktu untuk sekedar saling bercengkrama sambil makan malam atau menonton acara hiburan di TV.Setidaknya sekali dalam sebulan direncanakan untuk melakukan kegiatan tamasya di luar rumah, tak perlu pergi ke tempat yang jauh, cukup ke tempat yang dekat tapi bisa membuat jalinan kekeluargaan semakin kuat dan harmonis.

4. Luangkan Waktu

Berusaha untuk selalu meluangkan waktu untuk bertukar pikiran dengan anak, memberikan kesempatan pada anak untuk mengutarakan pemikirannya dan menghargaiapa yang menjadi pendapat anak, meluruskannya jika mereka keliru serta membantu mereka mencarikan solusi jika mengalami kebuntuan.

5. Terapkan Sistem Punish dan Reward

Bisa menerapkan sistem punish and reward (pemberian hukuman dan hadiah). Maksudnya ialah jika seorang anggota keluarga melakukan kesalahan atau tidakmentaati aturan yang telah ditetapkan bersama, maka ia harus dihukum, tentu saja dengan sanksi yang mendidik, dan apabila ia melakukan sesuatu yang merupakan kebaikan bagi seluruh anggota keluarga, melaksanakan tugasnya dengan baik, atau mencapai suatu prestasi yang baik, maka jangan segan-segan untuk memberinya penghargaan, hingga mampu memotivasi anak untuk selalu berbuat baik dan menghidari perbuatan yang salah.

6. Memberikan Beban Tanggungjawab

Memberikan beban tanggung jawab kepada anak, tentu saja disesuaikan dengan kemampuan dan umurnya.

7. Memberikan Contoh

Memang tak ada penelitian yang menjelaskan bahwa perilaku sosial orang tua yang menyimpang akan menurun pada anak-anaknya sehingga mereka pun berperilaku menyimpang seperti orang tuanya. Tapi kecenderungan itu memang ada, karena anak-anak biasanya meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Hal itu disebabkan oleh karena anak membutuhkan sosok idola yang bisa dibanggakannya, anak seringkali membanggakan sosok orang tuanya, misalnya pada teman-temannya. Orang tua merupakan sosok terdekat bagi seorang anak, sehingga lebih cenderung untuk dijadikan idola oleh anak-anaknya. Sebagai sosok idola, maka apa yang dilakukan olehnya akan ditiru oleh “penggemarnya”.

Apabila dalam kehidupan sehari-harinya orang tua selalu memperlihatkan peyimpangan-penyimpangan seperti mislnya, berjudi, minum minuman keras, merokok, dan sebagainya, maka si anak pun akan terbiasa dengan kondisi itu dan secara tidak sadar mengganggap hal itu sebagai hal yang wajar. Jika orang tuanya adalah perokok dan selalu merokok katika ada di rumah, maka anak bisa menganggap bahwa merokok merupakan kegiatan lumrah bagi orang dewasa, dan sejak usia dini si anak pasti akan mulai mencoba-coba untuk merokok. Bahkan jika tak ada anggota keluarga yang merokok, tetapi di lingkungan sekitar banyak perokok, si anak pun mungkin akan memiliki pemahaman serupa. Karean pada dasarnya perbuatan baik tidak mudah untuk ditiru, tetapi bukanlah hal sulit untuk meniru suatu keburukan.

Seringkali terjadi kasus seperti berikut ini. Ada orang tua yang terkejut mendengar kabar dari kantor polisi bahwa anaknya tertangkap ketika sedang tawuran. Pada menurut pengamatan si orang tua, anak mereka bukanlah anak nakal, di rumah si anak selalu menurut kepada orang tuanya, sopan, rajin dan sebagainya.Hal ini terjadi karena pengaruh buruk dari luar, karena keburukan memang terlalu menggoda dan cenderung mudah untuk dilakukan.

Maka dari itu, peranan keluarga sebagai penangkal berkembangnya perilaku penyimpangan sosial sangatlah penting.Jika dasar-dasar pendidikan yang ditanamkan sejak dini dalam keluarga cukup kuat, maka si anak tidak akam mudah tergoda untuk melakukan penyimpangan.Komunikasi adalah salah satu sarana penting untuk memperkuat pengaruh positif sebagai bekal dan benteng yang kuat bagi anak dalam menjalani kehidupan di luar rumah.