Metode perkembangbiakan pada tanaman dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu perkembangbiakan aseksual dan perkembangbiakan seksual. Perkembangbiakan aseksual sering juga disebut dengan perkembangbiakan vegetatif, yaitu bagian tumbuhan yang digunakan sebagai alat perkembangbiakannya adalah bagian vegetatifnya. Contohnya, stek batang, umbi, rimpang, mata tunas, dan lain-lain. Tanaman yang termasuk dalam kelompok perkembangbiakan vegetatif antara lain tebu, ketela rambat, kentang, dan lain sebagainya.

Ciri khas tanaman yang berkembang biak secara aseksual adalah semua keturunan memiliki keseragaman genotip. Jadi, tanaman yang dihasilkan pada perkembangbiakan selanjutnya memiliki penampilan fenotip yang seragam atau sama. Sementara itu, pada perkembangbiakan seksual yang digunakan sebagai alat perkembangbiakan adalah bagian generatifnya, yaitu biji yang berisi embrio dari penyatuan gamet. Tanaman yang berkembang biak secara generatif umumnya adalah tanaman biji, contohnya rambutan, mangga, jagung, dan lain sebagainya.

Perkembangbiakan seksual diawali melalui dua peristiwa penting, yaitu penyerbukan dan pembuahan. Penyerbukan adalah peristiwa sampainya serbuk sari di kepala putik (pada golongan tanaman berbiji tertutup) atau jatuhnya serbuk sari langsung pada bakal biji (untuk tumbuhan berbiji terbuka). Berdasarkan asal serbuk sarinya, penyerbukan dibagi menjadi beberapa macam, yaitu:

a.    Penyerbukan sendiri (autogamy), yaitu bila serbuk sari yang jatuh di kepala putik berasal dari bunga itu sendiri.

b.    Penyerbukan tetangga (geitonogamy), yaitu bila serbuk sari yang jatuh di kepala putik berasal dari bunga lain pada pohon/tanaman itu juga.

c.    Penyerbukan silang (allogamy), yaitu bila serbuk sari yang jatuh di kepala putik berasal dari bunga tumbuhan lain, tapi masih dalam satu spesies.

d.    Penyerbukan bastar (hybridogamy), yaitu jika serbuk sari berasal dari bunga pada tumbuhan lain yang berbeda spesies.

Namun terkadang, pembagian tersebut lebih disederhanakan lagi menjadi dua macam metode penyerbukan saja, yaitu penyerbukan sendiri dan penyerbukan silang.

Penyerbukan Sendiri

Penyerbukan sendiri terjadi ketika serbuk sari yang jatuh di kepala putik berasal dari bunga yang sama atau bunga tanaman yang sama. Berhasil atau tidaknya penyerbukan sendiri pada tanaman sangat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:

•    Sifat genetik, yaitu kesesuaian sel kelamin (kompatibilitas).
•    Morfologi bunga, yaitu bentuk dan susunan bunga yang dapat menghalangi jatuhnya serbuk sari tanaman lain ke kepala putik. Ada beberapa hal yang menghalangi bertemunya kepala putik dengan tepung sari dari bunga yang berbeda, yaitu:

a.    Bunga tidak akan membuka sebelum terjadi penyerbukan sendiri. Contohnya, pada kedelai, mahkota tetap tertutup hingga proses anthesis selesai.

b.    Butir tepung sari luruh sebelum bunga membuka sendiri.

c.    Benang sari dan putik terlindungi oleh bagian bunga sesudah bunga mekar. Oleh karena itu, peluang untuk terjadinya penyerbukan silang sangat kecil. Contohnya, pada tanaman tomat, tangkai putik tersembunyi dan dikelilingi oleh benang sari.

Spesies tanaman yang menyerbuk sendiri, tidak menutup kemungkinan untuk melakukan penyerbukan silang. Namun, persentasenya sangat kecil, bergantung pada spesies, lingkungan, dan varietas. Padi, kacang tanah, kedele, jeruk, aprikot, kapas, tomat, terong, dan tembakau adalah beberapa tanaman yang tergolong tanaman menyerbuk sendiri.

Sementara itu, penyerbukan silang terjadi apabila serbuk sari yang jatuh di kepala putik berasal dari tanaman yang berbeda baik satu spesies ataupun berbeda spesies. Penyerbukan silang umumnya terjadi karena adanya hambatan yang menghalangi tepung sari untuk menyerbuki kepala putik pada tanaman yang sama. Jadi, ciri tanaman yang berpotensi besar melakukan penyerbukan silang, antara lain:

a.    Secara morfologi, bunga tidak memungkinkan melakukan penyerbukan sendiri. Misalnya, posisi benang sari lebih rendah dari kepala putik.

b.    Tepung sari dan sel telur tidak masak pada waktu yang bersamaan.

c.    Adanya inkompatibilitas atau ketidaksesuaian antara alat kelamin.

d.    Alat kelamin jantan dan betina berada pada tanaman yang terpisah. Hal ini ditemukan pada tanaman monoeceous dan dioeceous. Tanaman monoeceous adalah tanaman yang memiliki bunga jantan dan betina terpisah, tapi masih dalam satu tanaman yang sama, contohnya tanaman jagung. Sementara itu, tanaman dioeceous adalah tanaman yang memiliki bunga jantan dan betina pada tanaman yang terpisah.

Penyerbukan Silang

Penyerbukan silang tidak bisa terjadi dengan sendirinya. Serbuk sari membutuhkan bantuan dari faktor lain untuk sampai ke kepala putik yang akan dipolinasi. Faktor penyebabnya ini bisa berupa makhluk hidup ataupun faktor alam.

Nah, berdasarkan faktor penyebab sampainya serbuk sari ke kepala putik ini, penyerbukan kemudian dibagi lagi menjadi beberapa macam, yaitu:

a.    Penyerbukan dengan bantuan angin

Penyerbukan silang bisa terjadi dengan bantuan angin. Proses penyerbukan yang terjadi dengan bantuan angin ini disebut dengan istilah anemogami. Bunga yang penyerbukannya dibantu oleh angin memiliki beberapa ciri penting, yaitu:

•    Bunga tidak berwarna cerah dan tidak mengeluarkan bau.
•    Memiliki tangkai benang sari yang menjumbai panjang di luar bunga.
•    Memiliki serbuk sari yang kecil, ringan, kering, dan halus atau lebih tepatnya seperti bubuk.
•    Putik memiliki permukaan yang lebih luas dengan bentuk spiral sehingga memiliki kemampuan lebih mudah menangkap serbuk sari.
•    Bunga tidak memiliki gelenjar madu.
•    Struktur bunga lebih sederhana.

b.    Penyerbukan dengan bantuan air

Selain angin, faktor alam lain yang membantu proses penyerbukan pada bunga adalah air. Penyerbukan dengan bantuan air ini disebut dengan hidrogamy. Bunga yang penyerbukannya dibantu oleh air biasanya adalah bunga tumbuhan yang hidup di air, seperti eceng gondok, hydrilla, teratai, dan lain sebagainya.

c.    Hewan

Penyerbukan yang terjadi melalui perantaraan hewan disebut dengan istilah zoidiogami. Hewan-hewan yang berperan sebagai perantara proses penyerbukan ini disebut dengan polinator.

Berikut ini beberapa hewan yang berperan dalam membantu proses penyerbukan, yaitu:

•    Serangga

Lebah, kupu-kupu, dan kumbang adalah beberapa contoh serangga yang gemar mendatangi bunga. Tujuan utama kehadiran serangga tersebut pada kuntum-kuntum bunga adalah untuk menghisap madu atau cairan nektar yang terdapat pada kuntum bunga tersebut. Pada saat menghisap madu ini, tanpa sengaja tubuh serangga ditempeli oleh serbuk sari yang bersifat mudah lengket pada setiap benda yang menyentuhnya. Ketika serangga berpindah ke bunga lain dan tanpa sengaja juga tubuhnya bersentuhan dengan kepala putik serbuk sari akan tertinggal di kepala putik tersebut sehingga terjadi penyerbukan.

Penyerbukan yang dibantu oleh serangga ini disebut dengan istilah entomogami. Berikut ini ciri-ciri bunga yang penyerbukannya dibantu oleh serangga.

a.    Memiliki mahkota dan benang sari yang berwarna cerah,
b.    Dilengkapi dengan gelenjar madu sebagai pemikat serangga,
c.    Tepung sari tidak banyak, berat dan mudah lengket,
d.    Putik berukuran kecil dan mudah lengket, dan
e.    Mengeluarkan bau harum.

•    Siput

Penyerbukan yang dibantu oleh perantaraan siput dikenal dengan istilah malakogami. Umumnya, penyerbukan pada tumbuhan yang sering dikunjungi oleh siput, di antaranya tanaman pisang.

•    Kelelawar

Bagaimana dengan kelelawar/kalong? Kelelawar juga berperan sebagai perantara penyerbukan. Penyerbukan ini sering juga dikenal dengan istilah kiropterogami. Adapun ciri-ciri bunga yang dipolinasi oleh kelelawar sebagai berikut:

a.    Mekar pada malam hari,
b.    Memiliki ukuran yang besar dan berwarna cerah, dan
c.    Posisinya tidak tersembunyi.

•    Burung

Hewan lain yang ikut berperan membantu proses penyerbukan adalah burung. Penyerbukan yang dibantu oleh burung dikenal dengan istilah ornitogami. Bunga yang dipolinasi oleh burung memiliki ciri-ciri: mengandung madu dan air, berwarna cerah dan selalu memiliki unsur warna merah dan biasanya memiliki bentuk khusus seperti memiliki tabung nektar.

d.    Manusia
Selain hewan dan faktor alam, manusia juga dikenal sebagai polinator, khususnya pada tanaman-tanaman tertentu yang memang sengaja untuk diserbuki secara silang. Penyerbukan oleh manusia biasanya dilakukan karena beberapa hal. Pertama, untuk membantu penyerbukan beberapa jenis tanaman yang tidak dapat menyerbuk sendiri seperti vanili dan beberapa jenis anggrek. Kedua, untuk menghasilkan varietas bari dari hasil sebuah persilangan yang sudah terencana.