Pengertian Sosiologi

Secara ringkas ilmu sosiologi dapat diartikan sebagai ilmu yang masuk dalam ketegori ilmu-ilmu sosial yang diperuntukkan untuk memahami segala gejala-gejala sosial yang timbul dalam masyarakat. Bahkan dalam pengertian yang sempit dapat pula diambil kesimpulan bahwa sosiologi sebenarnya merupakan masyarakat itu sendiri. Namun untuk lebih jelasnya, marilah kita memahami beberapa definisi ilmu sosiologi menurut ahli-ahli sosiologi sebagai berikut:

  • Pada awalnya sosiologi berasal dari dua kata yaitu sosio atau sosial dan logos. Sosio atau sosial berasal dari kata sofie yang kemudian diartikan sebagai kegiatan bercocok tanam atau bertanam. Lambat laun berkembang menjadi socius, yaitu kata yang disadur dari bahasa latin yang berarti teman atau kawan. Secara khusus, kata sosial menurut Shadily merupakan hal-hal mengenai berbagai kejadian dalam masyarakat yang membentuk persekutuan manusia dalam upaya mendatangkan kebaikan bersama. Sementara logos berarti kata atau berkata atau berbicara. Jadi ilmu sosiologi merupakan ilmu yang secara khusus membicarakan tentang kejadian-kejadian yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat untuk mencapai kebaikan bersama. Mempelajari manusia sebagai anggota golongan (bukan individu yang terpisah dari kelompok atau masyarkatnya), yang disatukan dengan ikatan-ikatan adat, kebiasaan-kebiasaan yang ada, kepercayaan serta agama, dan meliputi berbagai segi kehidupan manusia. Termasuk budaya dan keseniannya. (Shadily, 1993).
  • Pitirim Sorokin, seorang ilmuwan asal Rusia memberikan pendapat tentang pengertian ilmu sosiologi sebagai suatu bentuk ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara bermacam-macam gejala-gejala sosial yang terjadi dalam masyarakat, diantaranya gejala agama dengan gejala ekonomi, keluarga dengan moral, ekonomi dengan hukum, serta pergerakan masyarakat yang dikaitkan dengan politik dan lain sebagainya. Pitirim Sorokin, juga menggarisbawahi bahwa gejala-gejala tersebut juga erat kaitan pengaruh timbal baliknya dengan gejala non sosial seperti: gejala geografis, biologis dan lain-lain.
  • Soekanto, dalam penjelasannya, mengutip pernyataan Roucek dan Warren, berpendapat bahwa ilmu sosiologi adalah hubungan yang terjadi antara manusia dalam suatu kelompok atau komunitas. Kehidupan interaksi setiap anggota kelompok menjadi objek penting dalam pandangan ini, untuk mengetahui kesatuan antaranggota kelompok dalam membentuk dan menjalankan organisasi sosialnya. Contohnya seperti: interaksi dalam suatu partai politik, dalam suatu keluarga, dalam suatu lingkungan masyarakat tertentu dan lain-lain.
  • William F. Ogburn dan Meyer F Nimkoff dalam penjelasannya mengenai ilmu sosiologi, menekankan bahwa sosiologi merupakan ilmu yang mampu meneliti secara ilmiah terhadap interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat, dimana menurutnya segala hubungan sosial yang dijalani oleh anggota masyarakat pada akhirnya akan membentuk organisasi sosial. Seperti misalnya interaksi yang terjadi dalam suatu lingkungan, lalu dalam perjalanannya membentuk kesamaan-kesamaan antarsesama, dan akhirnya atas kesepakatan bersama pula membentuk organisasi sosial. Dan gejala-gejala ini dapat dijelaskan secara ilmiah oleh William F. Ogburn dan Meyer F Nimkoff.
  • David Émile Durkheim, seorang sosiolog yang dikenal sebagai bapak sosiologi moderen karena pemikirannya/terobosannya yang mengembangkan sosiologi sebagai sebuah ilmu yang penting dan bermanfaat untuk dipelajari, dibuktikan dengan mendirikan Fakultas Ilmu Sosiologi pertama disebuah universitas Eropa pada akhir tahun 1985. Mengemukakan pendapat bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial yang terjadi di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat.

Fakta-fakta tersebut merupakan kenyataan yang berisikan cara bertindak, cara perpikir dan cara merasakan sesuatu. Menurutnya istilah fakta-fakta sosial yang diciptakan untuk menggambarkan fenomena yang ada dengan sendirinya dan yang tidak terikat kepada tindakan individu. Ia berpendapat bahwa fakta sosial mempunyai keberadaan yang independen yang lebih besar dan lebih objektif daripada tindakan-tindakan individu yang membentuk masyarakat dan hanya dapat dijelaskan melalui fakta-fakta sosial lainnya. Misalnya, melalui adaptasi masyarakat terhadap iklim atau situasi ekologis tertentu. Sehingga ia menekankan pentingnya pembagian kerja yang komplek dalam masyarakat yang modern, karena setiap manusia dibekali oleh kemampuan yang berbeda-beda, namun tidak mampu hidup sendiri. Dan pada kenyataannya memang seperti itu, maka kemudian proses ini menghasilkan solidaritas organik.

Namun perlu diingat juga bahwa, pembagian kerja pada suatu ketika meningkatkan menghasilkan kekacauan akibat terbenturnya kesadaran kolektif. Dan pada titik ini norma-norma sosial yang awalnya berlaku, tiba-tiba runtuh dan terjadi penyimpangan. Sehingga bunuh diri, misalnya, menjadi salah satu bentuk penyimpangan dari kekacuan sistem pembagian kerja tadi.

  • J.A.A. Van Dorn & C.J. Lammers menekankan bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang struktur dan proses- proses kemasyarakatan yang bersifat stabil. Masyarakat menurutnya, telah membangun struktur-struktur sosial dalam sebuah lingkungan untuk mencapai kehidupan yang selaras, kehidupan yang berjalan dengan baik sesuai keinginannya. Adanya proses-proses sosial yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat dilaksanakan secara terus-menerus tanpa fluktuasi gejala-gejala sosial.
  • Secara umum, Max Weber, mengkategorikan sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari tentang tindakan sosial atau perilaku-perilaku manusia. Ia menjelaskan secara lebih rinci bahwa ilmu sosiologi berusaha mengartikan tindakan-tindakan sosial dengan menguraikannya/menerangkan sebab-sebab tindakan dari tersebut. Masih menurut Weber, yang menjadi inti dari bahasan tentang sosiologi pada hakikatnya bukanlah bentuk-bentuk substansial dari kehidupan masyarakat maupun nilai yang obyektif dari tindakan, melainkan semata-mata arti yang nyata dari tindakan perseorangan yang timbul dari alasan-alasan subyektif. Ia berkeyakinan untuk memahami tindakan orang seorang inilah yang membedakan sosiologi dari ilmu pengetahuan alam.

Jika ilmu pengetahuan alam menerangkan peristiwa-peristiwa yang terjadi tetapi tidak pernah dapat memahami perbuatan obyek-obyek yang menyebabkan peristiwa-peristiwa tersebut terjadi. Pokok penelitian Weber adalah tindakan orang seorang dan alasan-alasannya yang bersifat subyektif, dan karena itulah ia menyebutnya dengan Verstehende Sociologie. Verstehende adalah suatu metode pendekatan yang menitikberatkan usaha untuk mengerti makna yang mendasari dan mengitari peristiwa-peristiwa sosial dan sejarah kejadiannya.

Pendekatan ini didasari dari gagasan bahwa tiap situasi sosial didukung oleh jaringan makna yang dibuat oleh para aktor yang terlibat di dalamnya. Weber memisahkan tindakan-tindakan sosial tersebut dalam 4 macam, yaitu: Zweck rational, tindakan sosial yang berdasarkan pemikiran rasional; Wert rational, tindakan sosial yang juga mendasari setiap tindakan yang diambil oleh seseorang merupakan pemikiran rasional, namun yang menyandarkan diri kepada suatu nilai-nilai absolute tertentu, nilai-nilai tersebut menurut Weber diantarnya adalah nilai etis, estetis, keagamaan, atau pula nilai-nilai lain yang sifatnya hanya sebagai sandaran bias; Affectual, tindakan sosial yang terdorong atau termotivasi dari sifat emosional manusia; dan terakhir adalah Tradisional, tindakan sosial yang terjadi dari kebiasaan-kebiasaan atau tradisi masa lampau dan umumnya dijadikan landasan hukum-hukum normatif yang telah ditetapkan secara tegas oleh masyarakat.

  • Sosiologi adalah Ilmu yang memusatkan penelaahan/pengamatan pada kehidupan yang dijalani oleh kelompok-kelompok masyarakat serta produk/hasil dari kehidupan kelompok tertentu. Pernyataan ini dikemukakan oleh ahli sosiologi lainnya, yaitu Paul B. Horton. Ia menggarisbawahi bahwa setiap anggota masyarakat yang membentuk kelompoknya merupakan objek pengamatan sosiologi yang strategis. Pengamatan ini dapat memberikan pengertian bagaimana dan seperti apa setiap anggota kelompok berperan dalam kelompok-kelompok sosial maupun organisasi sosial. Baik kelompok yang terbentuk secara teratur ataupun kelompok yang terbentuk secara tidak sengaja.
  • Sedang menurut Mac Iver, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang hubungan-hubungan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Hubungan-hubungan sosial tersebut terbentuk melalui pendekatan-pendekatan baik secara historis maupun faktor lingkungan.
  • Auguste Comte, sering disebut sebagai bapak sosiologi, mengemukakan definisi sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari gejala-gejala yang ada lingkungan masyarakat. Sebagai gejala sosial yang dapat ditelaah melalui pendekatan ilmiah dan rasional, Comte, berpendapat bahwa sosiologi harus dikaji berdasarkan pemikiran yang positif. Dimana Ia percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam, dan metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial kemasyarakatan.

Masyarakat dapat terbentuk secara adil bila metode pembentukan berdasar pada metode yang positif yaitu: metode yang diarahkan pada fakta-fakta yang ada, metode yang  diarahkan pada perbaikan terus-menerus dari syarat-syarat hidup, metode yang membawa kehidupan ke arah kepastian. serta metode yang membawa ke arah kecermatan. Comte membuat analisis terhadap gejala-gejala masyarakat pada urutan-urutan tertentu, dengan pendekatan-pendekatan umum namun berakhir pada tahap yang ilmiah.

Paradigma fungsionalis dan paradigma ilmiah alamiah yang dirumuskan oleh Comte merupakan pandangan pragmatisnya terhadap sosiologi itu sendiri. Ia berkeyakinan bahwa sesungguhnya analisis untuk membedakan "statika" dan "dinamika" sosial , serta analisa masyarakat sebagai suatu sistem yang saling tergantung haruslah didasarkan pada konsensus. Comte membagi sosiologi dalam 2 bagian yakni, statika sosial (social statics) dan dinamika sosial (social dinamics). Dan sebagai bapak sosiologi yang telah diakui kontribusinya terhadap ilmu ini, ia mempercayai bahwa ilmu sosiologi merupakan induk dari seluruh ilmu sosial yang ada.

  • George Simmel menerangkan bahwa sosiologi merupakan ilmu pengetahuan khusus yang menjadi satu-satunya ilmu analisis yang bersifat abstrak dari semua ilmu kemasyarakatan. Secara spesifik, Simmel, menjelaskan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kedinamisan/gerak laju dari bentuk proses kebudayaan yang ada di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat yang menekankan adanya hubungan interaksi sosial yang tejadi antar individu atau antar masyarakat yang satu dengan yang lainnya, dimana keduanya adalah unsur yang saling ketergantungan dan saling mempengaruhi. Faktor akulturasi kebudayaan ini memberikan penjelasan kenapa ada beberapa lingkungan masyarakat yang hampir sama dengan lingkungan masyarakat lainnya walau ada perbedaan jarak/lokasi.
  • Ibnu Khaldun, merupakan seorang pemikir dari bangsa Arab juga memberikan definisi/pengertian terhadap ilmu sosiologi. Menurutnya, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang solidaritas sosial.

Dari penjelasan definisi para ahli di atas dapat ditarik simpulan bahwa ilmu sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang seluruh seluk-beluk sosial, kehidupan sosial yang tejadi dalam tatanan hidup manusia, hubungan antara sesama yaitu manusia dengan manusia maupun manusia dengan kelompoknya serta kelompok dengan kelompok, hubungan kekeluargaan, kasta, rumpun, bangsa, atau agama, serta asosiasi kebudayaan, ekonomi, juga organisasi politik.

Secara keseluruhan tersebut merupakan pernyataan dari khalayak sosial. Dan manusia sebagai makhluk sosial merupakan peradaban panjang dari kehidupan sosial yang ada di dunia yang memberikan arti penting bagi sejarah dan perkembangan manusia di dunia, dan untuk itulah ilmu sosiologi muncul sebagai bagian dari pemahaman bagi pengetahuan manusia untuk memahami dirinya sendiri.